
Sebulan kemudian ….
Hari pernikahan Ridho dan Aina kini resmi digelar di kediaman mempelai wanita. Dekorasi pernikahan yang dibuat sesuai adat mereka yaitu Jawa, terlihat begitu kental. Ditambah dengan iringan musik sinden membuat suasana kian terasa khidmat.
Sementara Aina masih terdiam di kamarnya ditemani adik sepupu kembarnya Dita. Dia terus saja melihat pantulan dirinya di cermin, Kanigaran yang ia pakai terlihat sempurna membalut tubuh ramping Aina.
Warna hitam beludru yang mengkilap sangat elegan saat ia memakainya. Apalagi kain dodotan hijau bercorak batik yang menjuntai ke bawah, terlihat indah saat Aina menyampirkannya di tangan. Dia bak putri keraton yang berbudaya. "Menurutmu, penampilan Mbak gimana, Dit?" tanya Aina.
Dita membentuk jarinya menjadi huruf O. "Perfect, ayune kaya bidadari turun dari kayangan. Aku jamin Mas Ridho ngeliat Mbak Aina bisa keplek-keplek, matanya keluar mau lepas," ujar Dita sambil terkekeh.
Aina menanggapinya hanya dengan gelengan kepala. "Ya ndak begitu juga, Dit. Mana ada orang matanya melotot mau lepas."
"Ada, Mbak. Umiku kalau lagi marah matanya kaya mau copot ngeliatin aku sama Dion. Persis tuh kaya emak-emak di kartun," balas Dita. Gadis itu begitu geli saat mengingat ibunya setiap kali marah.
"Heleh, kamu iku, Dit. Masa Umine sendiri diledek, dosa loh," ucap Aina. Meski dia juga mengiyakan apa yang dikatakan Dita, Bibinya itu setiap kali marah pasti melotot sampai mau lepas bola mata dari tempatnya.
Sekali lagi rasa gugup menghampiri Aina tak kalah ketukan pintu terdengar. Pasti itu uminya yang meminta turun, karena mempelai pria sudah datang. "Iya, Umi!" sahutnya.
"Biar Dita aja, Mbak." Dita melangkah ke pintu, lalu membiarkan Umairah masuk.
"Kamu udah siap, Ai?" tanya Umaira lembut. Aina mengangguk.
Sementara di ruang tamu yang disulap menjadi panggung pengantin, Ridho tak henti-hentinya mengutuk dalam hati. Dia merasa kecewa dengan Bambang tapi tak bisa berbuat apa pun, nekat seminggu setelah acara lamaran pemaksaan tersebut, Ridho memutuskan minggat dari rumah. Namun, sialnya Bambang dengan entengnya membawa Tio dengan kondisi babak belur dan mengancamnya agar kembali ke rumah.
"Nak Ridho, udah siap?" tanya penghulu. Ridho mengangguk kecil.
Tino dan Ridho berjabat tangan, kerasa sekali telapak tangan Ridho begitu dingin dan basah. Dia begitu gugup—gugup akan salah sebut nama dan berakhirnya hubungan cinta terlarang antara ia dan Tio, menambahkan deretan dosa yang akan ditulis oleh malaikat.
__ADS_1
Sama halnya dengan Tino, menikahkan putri semata wayangnya juga membuat dia gugup dan takut. Sebagai seorang ayah tak tega jika kelak Aina mendapatkan luka hati akibat perkawinan ini, meski semua itu akan datang untuk menguji ikatan pernikahan. "Astagfirullah," ucap Tino dalam hati. Dia menarik napas panjang, menembusnya perlahan.
Setelah penghulu memberi kode, Tino pun langsung mengucapkan kalimat sakral penuh makna. Suaranya yang lantang semakin menggema dengan mikrofon yang ia pegang di tangan kiri. "Saya nikahkan dan kawinkan Muhamad Ridho Saputra bin Bambang Saputra dengan putri saya Aina Nur Laila binti Tino Pradipta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang lima juta rupiah, dibayar tunai!" Tino menghentakan pelan jabat tangan mereka, memberi kode agar Ridho membalas ijabnya.
"Saya terima nikah dan kawinya Aina Nur Laila binti Tino Pradipta dengan seperangkat alat sholat dan uang lima juta rupiah , dibayar tunai!" balas Ridho tak kalah lantang, cepat dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu sambil melihat tamu undangan.
"SAH!" Teriak semua orang yang berada di ruangan termasuk Aina di dalam kamar.
Tanpa sadar buliran bening menetes di pipi porselennya, perasaan haru bercampur bahagia memenuhi dadanya. Detik ini, Aina sudah sah menjadi seorang istri, wanita muslimah yang lengkap. "Umi …," lirihnya sambil memeluk Umaira.
"Alhamdulillah." Umaira mengecup puncak kepala Aina. "Sekarang kamu turun, nemuin suami kamu, Nak." Nada suara Umaira bergetar. Aina mengangguk.
Diapit oleh Dita dan Umaira di sisi kanan dan kiri, langkah kaki Aina begitu pelan dan hati-hati saat ia berjalan. Iringan musik gendingan-gendingan jawa semakin membuat suasana semakin khidmat dan syahdu.
Tibanya di panggung, Aina menekuk kedua lututnya ke belakang. Mencium telapak tangan Ridho penuh hormat dan haru, ada debaran yang sulit diartikan dirasakan Aina saat kulit sang suami menyentuh bibirnya. Ridho pun membalas dengan mencium kening sang istri.
Pikiran Ridho berkecamuk tentang Tio yang saat ini pastilah terluka mengetahui kabar buruk ini. Belum lagi, pesan-pesan yang ia kirimkan sama sekali tak ada balasan kecuali centang satu.
"Mas, kamu mau mandi dulu enggak?" tanya Aina ragu-ragu. Berduaan dengan lelaki satu ruangan sebuah hal asing, apalagi Ridho sama sekali terlihat acuh, semakin menambah dingin suasana kamar ini.
Ridho menoleh, kembali ia melihat layar ponselnya. "Nanti aja," jawabnya singkat.
Aina mengangguk, dia mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Umaira dan Zulaika di atas kasur dan gegas masuk ke kamar mandi.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Tio masih memeluk guling. Sisa-sisa cairan bening masih tertinggal di pelupuk matanya. Rasa sesak menyelimut lubuk hati terdalam, saat Aisya mengirimnya sebuah gambar Ridho dan Aina di pelaminan.
"Ahk! Brengsek. Ridho sialan berani-beraninya lo khianatin gue. Bambang tua bangka gak punya hati, gue sumpahin lo mati ketimpuk sendal!" raung Tio, dia terus memukul kasur, meluapkan semua emosi.
Tio masih ingat, saat dia mendapat kabar dari Ridho kalau lelaki itu menunggunya di depan bandara. Mereka memang sudah berencana kabur, itu pun karena Tio yang memaksa dan mengancam akan lompat dari pohon mangga. Kalau tidak, Ridho tak akan punya nyali sebesar itu untuk meninggalkan keluarga gila itu.
Namun, siapa yang menyangka hal tersebut berakhir naas untuknya. Bambang dan anak buahnya menemukan Tio, padahal serapi mungkin ia melakukan penyamaran bahkan memakai baju wanita. Alhasil—mampuslah ia dihajar habis-habisan oleh ajudan Bambang.
"Gue nggak bisa cuma nangis, cukup udah si Bambang tua itu merasa menang. Gue akan ambil yanh seharusnya jadi milik gue, Ridho Saputra!"
Dengan secepat kilat, Tio sudah memakai kaos polo merah dan celana levis hitam menutupi boxer pink hello kitty-nya. Tidak lupa juga dia menyisir rambut, menyemprotkan wewangian agar Ridho mau mengikuti perintahnya.
Jika dipandang dari luar, Tio sosok lelaki tampan nan gagah. Tubuhnya tegap dengan lengan otot yang kekar, apalagi perut kotak-kotaknya yang menggoda iman para hawa. Namun, dibalik penampilan yang karismatiknya itu tersembunyi penyimpangan moral yang luar biasa.
Tuhan memanglah baik menutup aib seseorang hingga sempurna, tanpa celah sedikit pun. Namun, tidak sedikit dari manusia itu sendiri yang mengumbar keburukannya pada khalayak ramai.
Motor Sport keluaran terbaru melaju kencang di jalanan, memecahkan kesunyian malam Ibu Kota Jakarta. Tio bal pembalap Moto GP yang tengah bertanding di sirkuit, ban kuda besinya meninggalkan jejak kehitaman saat Tio melakukan manuver berbelok ke arah kanan.
Tidak butuh waktu lama bagi Tio sampai di rumah Aina, karena memang jarak yang ditempuh tidaklah jauh. Dengan semangat 45 Tio melangkah masuk ke perkarangan rumah yang masih ramai dengan orang-orang bergadang.
"Loh, Masnya siapa ya? Ada kepentingan apa malam-malam datang ke sini?" tanya kerabat Aina.
"Saya mau ketemu Ridho atau enggak Aina, Pak," jawab Tio, ekor matanya terus mengamati ruang tamu yang sedang dibongkar hiasan mantennya.
"Oalah, kalau Aina sama Ridho mah nggak tidur di sini, mereka udah pulang ke rumah orang tuanya Ridho. Mungkin besok siang baru balik ke sini lagi." Kerabat Aina tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang kuning akibat rokok atau jarang sikat gigi. Setelah mendapatkan jawabannya, Tio langsung lergi begitu saja tanpa permisi.
Dasarnya anak tak tahu diri, tidak menghormati orang yang sudah sepuh, Saudara Aina hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengurut dada melihat kelakuan Tio.
__ADS_1
Tio yang sudah sampai di depan rumah Ridho segera membuka blokiran nomer kekasih haramnya tersebut. Lalu, mengirimkan pesan singkat melalui whatsApp
...Tio : Aku sudah di depan rumahmu, mau aku masuk atau kamu keluar sendiri....