
Tidak ada badai atau hujan sekalipun, Aina dibuat kaget dengan kedatangan Ridho di rumahnya. Lelaki itu bahkan tak memberinya kabar apa pun, atau sekedar mengirim pesan.
Seminggu ini memang mereka tidak pernah berkomunikasi, Aina membatasi diri dengan memasukan nomer sang suami pada pesan yang diarsipkan. Ia muak saja selalu berurusan dengan Ridho, beruntungnya Abah dan Umi tidak sedikit pun curiga dengan keadaannya yang nyaris mati dulu.
Aina hanya mengatakan kalau ia jatuh dari sepeda, konyol bukan?
"Jadi, Ridho, mau bawa Aina pulang?" tanya Tino. Ridho mengangguk pelan.
"Iya, Bah. Kemarin sibuk sama urusan kerjaan di luar kota. Makanya baru hari ini bisa jemput Aina," ujar Ridho.
Tino manggut-manggut, percaya saja dengan Ridho. Padahal ia pergi dengan Tio untuk menyenangkan hati lelaki itu dan baru kembali semalam. Namun, siapa sangka ia dipaksa membawa kembali Aina oleh bundanya.
Sebenarnya ia sendiri tidak begitu paham alasan apa yang diberikan Aina pada Zulaika, hingga sang bunda membiarkan gadis itu kembali ke rumah orang tuanya.
"Dho, Abah ingin tanya sama kamu. Tolong jawab jujur?" Tino menatap Ridho lekat-lekat dan itu berhasil membuat menantunya tak bisa duduk nyaman.
"Tanya apa, Bah?"
"Apa kamu ngelakuin KDRT sama Aina?"
Sontak saja Ridho langsung batuk tersedak udara, pertanyaan Tino membuat ia langsung kehilangan napas. Cepat-cepat ia menggeleng. "Nggak, Bah. Aku nggak pernah sekalipun mukul Aina."
Aina yang menguping obrolan Tino dan Ridho juga sama terkejutnya, ia nyaris menjatuhkan nampan yang dia bawa berisi minuman untuk Ridho.
__ADS_1
"Tapi kenapa banyak luka di badan Aina, Dho?"
"Ridho nggak tau, Bah."
"Nggak tahu?!" Tino melotot ke arah Ridho. "Suami macam apa kamu sampai nggak tahu dengan keadaan istrinya, hah! Anak Abah kesakitan tiap malam, Dho!" bentak Tino. Kesal dengan sikap Ridho yang terkesan tak peduli pada Aina.
Ridho meremas ujung kaosnya takut dengan Tino yang naik pitam. "Maaf, Bah."
"MAAF? HANYA MAAF?! Gila kamu ya, Dho! Seharusnya kamu jagain Aina jangan sedikit pun dia lecet, tapi kamu malah nggak peduli!"
"Bukan nggak peduli, Bah. Tapi Aina memang nggak pernah cerita," bohong Ridho. Ya Tuhan jantungnya seperti mau copot mendapat bentakan dari Tino.
Aina tersenyum kecut mendengar jawaban Ridho, nggak tahu dan nggak pernah cerita. Kalau memang begitu semoga saja lelaki itu beneran buta dan tuli. "Kebohonganmu itu sempurna banget, Mas," gumam Aina semakin erat cengkramannya pada nampan.
"Iya, Bah. Maafin keteledoranku, aku siap dihukum. Tapi sebelum itu izinin aku ngecek sendiri luka di tubuh Aina," ujar Ridho.
"Iya, kalau perlu kamu bawa Aina ke rumah sakit. Selama ini Abah udah coba bicara sama dia tapi Aina keras kepala dan nggak mau cerita apa pun sama Abah," ujar Tino, tergambar jelas di raut wajahnya rasa kecewa pada sang putri, ia merasa bukan lagi ayah yang baik hingga Aina tak ingin berkeluh kesah padanya. "Selain itu apa alasan kalian bertengkar sampai pisah ranjang?" sambung Tino.
Ridho menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung juga harus alasan apalagi. "Mmm ... itu salah paham, Bah. Sebenarnya Aina merajuk untuk memperpanjang liburan kami di puncak. Tapi aku nggak bisa karena kerjaan yang menumpuk, apalagi akhir bulan kaya gini," tutur Ridho dan berhasil membuat Aina yang menguping menjadi naik pitam.
Lelaki gila kurang sekilo, seenak jidatnya menjadikan dirinya sebagai alasan. "Awas aja kamu, Ridho!" geram Aina, ia keluar dari persembunyiannya.
"Bukan Aina yang merajuk, Bah. Tapi Mas Ridho nggak paham sama keinginan istrinya, buktinya dia lebih sayang ke kerjaannya dibandingkan aku," ujar Aina seraya meletakkan secangkir teh di hadapan Ridho dan Tino.
__ADS_1
Ridho mendelik ke arah Aina, tidak terima dengan perkataan istrinya itu.
Aina tersenyum tipis, jangan pikir hanya Ridho yang bisa bermain sandiwara. Ia akan melakukan hal sebaliknya. "Abah bayangin aja, istri jatuh tapi suami nggak peduli. Sedikit aja Mas Ridho nggak pernah tanya kabar ke aku, dan baru seminggu ini dia balik lagi. Apa dikira aku ini boneka yang nggak punya perasaan." Sengaja Aina membuat suara dan mimik terdengar sedih, teraniaya persis seperti istri-istri di sinetron ikan terbang.
"Yang diomongin Aina bener, Dho. Seharusnya kamu nggak usah nunggu istrimu cerita tapi kamu sendiri harus paham dengan keadaan," ucap Tino.
"Bukan gitu, Bah—"
"Bah, bukannya kewajiban seorang suami melindungi istri? Terus gimana sama Mas Ridho yang bersikap kaya gitu, wajar dong kalau aku milih tinggal di sini. Di rumah ini ada pahlawan yang selalu bikin aku nyaman." Aina menyandarkan kepala pada bahu Tino, bergelayut manja seperti anak kucing.
Sial, mulut Ridho rasanya keluh untuk menjawab ucapan Aina. Bukannya mendapat pembelaan kini ia yang terpojok seperti tikus. Hanya bisa diam dan legowo.
"Melihat sikapmu yang kaya gini, Abah akan mempertimbangkan untuk Aina diajak pulang sama kamu."
Aina bersorak kegirangan dalam hati, setidaknya untuk beberapa waktu dia tidak perlu bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Lalu tinggal nunggu surat perjanjian itu habis dia akan bercerai dengan Ridho. "Alhamdulillah," batin Aina.
Perlahan Aina bangkit dari duduknya, mencium pipi Tino. "Selagi ada Abah, Aina lebih merasa aman di sini dibandingkan sama Mas Ridho," ucap Aina sinis.
Seperti mendapat tamparan, harga diri Ridho sebagai lelaki seakan diinjak-injak.
"Lebih baik kamu pulang, Dho, dan bilang sama ayahmu ... anaknya belum pantas dijadiin pemimpin."
"Iya, Bah," jawab Ridho pasrah.
__ADS_1
Aina melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan ringan, semua beban yang ia pikul akhirnya hilang juga.