
Aina beringsut turun dari ranjang, langkahnya pelan menuju kamar mandi. Nyeri di bagian intinya tidak sebanding dengan harga diri yang ia junjung tinggi. Perlakuan Ridho begitu menjijikan, jejak-jejak percintaan mereka begitu jelas saat Aina menggosok tubuhnya dengan sabun.
Tubuh Aina merosot di lantai kamar mandi, tangisnya pecah tersamarkan dengan air yang mengalir. Tidak ada lagi mimpi indah, semua kini telah berubah. Angan-angan mengakhiri pernikahan ini, kini takan terjadi.
"Aku benci kamu, Mas! Kamu lelaki yang paling berengsek! Demi Allah, aku tidak pernah iklas di jamah kamu!"
Pukulan demi pukulan terus ia gencarkan di tubuhnya sendiri, terutama pada bercak merah di dada.
"AAAHKKK!"
Sementara itu, Ridho bukan tidak mendengar semua yang Aina katakan. Di balik pintu kamar mandi, ia termangu tanpa ekspresi. Ada sesal menyusup ke dalam hati, tapi untuk melangkah masuk dan meminta maaf rasanya sulit.
Ridho memunguti pakaian yang berserakan di lantai, memakainya cepat dan segera keluar kamar. Untuk saat ini, ia tidak siap bertatap muka dengan Aina.
Umi Umairah yang baru selesai sholat, mengeryit heran melihat Ridho tergesa-gesa menuruni tangga.
"Dho, kamu mau ke mana?"
Bukannya menjawab, Ridho malah bertanya balik, "Umi, belum tidur?"
"Belum, kamu mau kemana malam-malam gini? Aina udah tidur emangnya?"
"Ridho mau ada perlu, Umi. Ketemu sama klien."
"Tapi malam-malam gini? Apa nggak bisa besok pagi aja. Lagian kamu juga baru mau nginep di sini loh."
"Maaf, Umi. Nggak bisa, mungkin lain kali aja." Ridho langsung menyalami tangan Umairah dan pergi setelah mengucapkan salam.
Umairah langsung mengunci pintu begitu mobil Ridho keluar dari halaman rumah, sayang sekali ia sangat berharap kalo menantunya tinggal. Padahal ia sudah susah payah tadi membujuk Tino.
Keesokan paginya, semua orang sudah berkumpul di meja makan termasuk si kembar Dion dan Dita, mereka makan pagi dalam keheningan. Tidak ada gelak tawa dari si kembar, atau ceramah dari Tino. Pikiran mereka tertuju pada satu 'ada apa dengan Aina?'
__ADS_1
Tidak biasanya Aina keluar kamar dengan keadaan berantakan. Apalagi ia hanya memakai mukena tadi pagi selepas sholat subuh. Namun, dari semua hal tersebut mata Aina yang bengkak menjadi hal utama di kesunyian itu.
"Ada apa, Ai?" Tino buka suara.
"Tidak ada apa-apa, Abah," jawab Aina asal. Ia terus melanjutkan makan, meski perutnya sudah menolak sedari tadi. Pantang di rumah ini, menyisahkan makanan.
Tino meletakan sendok begitu saja, kedua tangannya menopang dagu sambil mengamati gerak-gerik Aina. Tidak ada suara hanya gerakan mata saja, itu berhasil membuat putrinya tidak nyaman.
Aina terus menghindari tatapan Tino, melakukan gerakan tidak penting seperti menata piring atau menggeser gelas.
Prang
Semua orang terjingkat kaget menatap serpihan gelas di lantai, Dita lebih dulu menyadari keadaan tidak baik-baik saja lekas menyeret Dion dari meja makan.
"Maaf, aku nggak sengaja. Ta-tadi tangan—"
"Mau sampai kapan kamu bohong sama Abah, Aina?" potong Tino cepat.
Tino menghela napas kasar sambil bersandar di bangku. "Apa yang Ridho lakuin ke kamu? Abah dari semalam sudah punya filing kalau Ridho bakal nyakitin kamu dan sekarang terbukti 'kan? Seharusnya Umi kamu nggak izinin Ridho tidur di sini, jadi gini hasilnya?"
Sontak Umairah mendelik ke arah Tino, tak terima kalau dia jadi penyebab Aina murung.
"Loh, kok, jadi nyalahin Umi? Gimana sih, Abah!"
"Ya terus mau nyalahin siapa? Dion, Dita? Bocahnya aja udah kabur duluan, makannya aja nggak dihabisin, semua karena Umi! Pokoknya Abah nggak mau tahu, Umi harus habisin makanan dua bocah itu!"
"Nggak bisa gitu dong, Abah! Kalau badan Umi tambah melar gimana? Abah jahat, ih!"
"Kan emang udah melar, orang tiap malam Abah tidur aja nggak perlu pake kasur!"
Tanpa sadar keributan kecil Tino dan Umairah berhasil membuat Aina tersenyum tipis. Hal itu juga membuat mereka menghentikan perdebatan tersebut.
__ADS_1
"Meski kamu udah menikah, bukan berarti Abah sama Umi nggak peduli lagi sama kamu, Ai. Dan bukan berarti kamu harus memendam masalahmu sendiri, kami sebagai orang tua sedih kalau kamu bersikap kaya gitu." Umair sudah pindah posisi di samping Aina.
Aina mengangguk kecil, ia lantas memeluk Umairah erat. Keluarganya sangat harmonis, ia sangat beruntung karena Allah menempatkan ia menjadi anak Tino dan Umairah.
"Sekarang kamu mau cerita sama Umi dan Abah, masalah kamu sama Ridho?"
Embusan napas berat keluar dari mulut Aina. Ia masih ragu mengatakan jika Ridho Gay, sedangkan semalam ia merasakan bagaimana jantannya lelaki itu di atas ranjang. Tidak, semua ini tidak ada hubungannya dengan perkara biologis yang baru saja ia rasa. Hanya saja, Aina menjadi ragu benarkah jika Ridho gay?
"Aina baik-baik aja, Umi, Abah. Cuma lagi nggak enak badan aja, mungkin masuk angin." Bohong seakan-akan menjadi andalan Aina saat ini.
"Benar cuma karena itu? Bukan hal lain? Soalnya semalam Umi liat Ridho pergi buru-buru gitu."
Ridho pergi?
Kening Aina mengkerut mendengar hal ini. Pantas saja setelah ia keluar dari kamar tidak didapati suaminya, padahal saat itu Ridho masih terlelap atau pura-pura terlelap.
"Iya, kalian nggak perlu khawatir. Pokoknya kalau ada apa-apa, Aina pasti bilang sama Umi, Abah juga."
Setelah perbincangan tadi, Aina memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Hari ini ia tidak akan berangkat kerja, dan meminta izin pada Pak Broto.
Di kamar, Aina berbaring di kasur sambil membuka laptopnya dan menyusuri pencarian tentang kaum LaGiBeTe melalui semua akun media sosialnya. Jujur, ia penasaran bagaimana pandangan mereka dengan lawan jenis, gejala serta ketertarikan mereka. Sejauh yang ia tahu, kalau mereka jika sudah mencintai sesama tidak akan tertarik dengan lawan jenis, tapi untuk kasus Ridho lain.
Setiap judul artikel tidak pernah luput dari matanya, ia tidak ingin ada yang terlewat meski hal kecil. Sampai kursornya terhenti pada kelainan seksual yang menyukai semua hal, wanita maupun lelaki.
"Ya Allah, apa mungkin Mas Ridho golongan seperti itu? Kalau benar, pasti dia bukan hanya gay?" Aina membekap mulutnya, tidak percaya dengan semua itu.
"Terus aku harus gimana? Apa Aisya juga tahu kalau Ridho bukan cuma suka sama lelaki aja?" Demi membunuh rasa penasarannya, Aina beranjak dari depan laptop dan melangkah ke meja rias.
Deg
Perasaan Aina mendadak tidak enak saat rentetan pesan yang dikirim Aisya bermunculan saat ia menghidupkan data seluler. Bukan hanya itu, orang tua Ridho juga sama mengirimnya banyak pesan dan panggilan.
__ADS_1
Aisya : Mbak, gawat! Mas Ridho di bawa polisi!