Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bab 22


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, kini Aina kembali pada orang tuannya. Keputusannya meninggalkan Ridho sudah bulat, hanya saja lidahnya keluh setiap kali ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi di rumah tangganya.


Perkara Ridho menyimpang seakan masih menjadi aib dan kewajiban seorang istri untuk menutupinya, termasuk keluarganya. Namun sampai kapan?


"Ai, mau sampai kapan kamu tinggal di rumah Abah?" tanya Tino, mereka tengah sarapan bersama. Umaira, Dian, dan Dito hanya mendengarkan dengan seksama.


Sudah kebiasaan sepupu kembarnya, setiap seminggu sekali akan menginap di rumah Tino. Hal itu juga membuat pasutri yang tak lagi mudah seakan memiliki tiga orang anak.


"Bah, Aina kangen kalian, kenapa Abah selalu nanya aku kapan pulang," jawab Aina. Sedikitpun ia tidak selera untuk makan, ia sudah merasa kenyang dengan masalah yang ada.


"Ai, maksud Abahmu bukan gitu, Nak ... kamu ini seorang istri, nggak baik terus-terusan pisah ranjang sama suami. Apalagi pergi tanpa izinnya, malaikat akan melaknat perempuan seperti itu," nasehat Umaira lembut.


Aina bergeming, memang benar perkataan Uminya ia tidak akan membantah.


"Jelaskan sama Abah, apa masalah kalian, Ai? Kenapa juga Ridho tidak ke sini?" tanya Tino.


Embusan napas Aina terdengar berat, ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. "Nggak ada apa-apa, Bah. Aina cuma kangen kalian."


"Tapi ini seminggu, Ai! Pulanglah ke tempat suamimu, jangan jadikan dirimu istri durhaka. Dan mungkin kamu pikir Abah nggak tau apa-apa, sampai tega bohongin Abah."


"Bohong? maksud Abah?"


"Ai, kalau kamu merasa sungkan untuk cerita masalah rumah tanggamu pada kami, maka selesain semuanya dengan baik-baik. Jangan jadikan masalah itu berlama-lama, nggak baik, Nak." Kini Umaira yang berbicara.


Aina mengangguk. "Iya, Umi, Bah ... aku akan selesaikan masalah ini secepatnya, setelah aku tenang," jawab Aina, "kalau gitu aku izin mau keluar rumah, mau ke tempat Susi," sambungnya seraya bangkit meninggalkan ruang makan.


Tino dan Umaira mengangguk.


Dita juga beranjak pergi dari meja makan, ia mengekor di belakang Aina. "Kak, aku ketemu Aisyah kemarin, kasihan dia di rumahnya banyak masalah."


Seketika langkah Aina terhenti, ia memutar tubuh menghadap Dian yang lebih pendek darinya. "Terus gimana keadaannya?"


"Ya gitulah, dia keliatan kusut banget. Mungkin ini ada hubungannya Kakak di sini, apa nggak pulang aja dulu, lagian yang dibilang Bude ada benarnya."

__ADS_1


"Bukan nggak mau pulang, Dek, tapi aku belum siap."


"Kalau boleh tahu apa masalahnya?"


"Kamu anak kecil nggak akan paham."


"Ih gitu, nyebelin!" Dian cemberut seraya melipat tangan di dada. Aina tertawa pelan dan masuk ke kamarnya.


......................


Di rumah Susi.


Orang tua Susi sibuk mengurusi persiapan untuk tahlilan Haris dan juga aqiqah cucunya. Beruntung banyak tetangga yang mau rewang di tempatnya.


Sehari setelah Susi melahirkan, Haris ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sekitaran sungai tempat di mana Aina bertemu pria itu.


Susi terpukul, ia terus meraung, menangis kematian Haris. Bahkan ia juga sampai pingsan berkali-kali karena syok dan tidak terima. Hingga sekarang berimbas pada ASI nya yang tidak lancar.


"Bu, Susi ada di kamarnya?" tanya Aina saat sudah tiba di rumah Susi.


"Iya, Bu," jawab Aina.


Semua orang tua pasti sedih melihat keadaan anaknya, berusaha mengerti akan rasa kehilangan yang dirasakan Susi. Namun, hidup terus berjalan, tidak berhenti di satu tempat. Jika tidak berusaha mengikhlaskan maka jiwa akan kosong.


"Susi, aku masuk kamar, ya?"


Tidak ada jawaban dari dalam maka Aina langsung membuka pintu kamar Susi. Wanita yang selalu berpakain modis kini terlihat berantakan—hijab pasmina yang tersemat di kepala kini terlepas terlihat rambut panjang terurai berantakan.


Aina merasa prihatin wajah Susi terlihat sendu, mata cekung, lingkar hitam, dan bengkak menandakan sahabatnya selalu menangis sepanjang waktu. "Sus, aku bawain martabak ketan hitam sama teopoki kesukaan kamu, loh."


Namun Susi masih bergeming, pandangannya kosong menatap foto pernikahan ia dan Haris. Susi seperti mayat hidup, hanya ada raga tapi tak ada jiwa.


"Aku ingin bicara mengenai Mas Haris," ucap Aina sambil merah telapak tangan Susi.

__ADS_1


Mendengar nama suaminya disebut, Susi melirik ke Aina tanpa bicara. Namun Aina paham, dari matanya Susi ingin ia bercerita.


"Aku ketemu Mas Haris di hutan, saat aku menghilang semalaman. Aku nggak pernah ngira itu sosok lain yang menyerupai Mas Haris, karena aku ngobrol sama dia lancar, meski ada beberapa yang buat aku ngerasa aneh."


Sengaja Aina tidak melanjutkan perkataannya, ia ingin melihat reaksi Susi terlebih dulu. "Terus ...," jawab Susi setelah beberapa saat.


Aina mengulum senyum dan mengangguk. "Mas Haris minta aku ambilin ini." Aina mengeluarkan plastik biru dari tasnya, bukan tak ingin memberi sebelumnya, melihat kondisi Susi ia memilih urungkan niatnya.


Susi melihat plastik di tangan Aina dengan mata berkaca-kaca, sebab benda itulah suaminya meninggalkan dia selamanya. Kembali rasa menyesal menghinggapi di hatinya. "Aku nggak mau itu, Aina! BUANG BARANG ITU!" hardiknya.


Reflek Aina melepaskan plastik tersebut hingga jatuh ke lantai karena terkejut, ia tak menyangka akan reaksi Susi. Padahal saat di puncak sahabatnya memaksa untuk diambilkan. "Itu Mas Haris yang minta aku ambilin, Sus."


Susi yang tadinya mulai tenang kini menangis tersedu-sedu. Ya Tuhan, Aina jadi bingung apa yang harus ia lakukan.


"Sus ...," panggil Aina, ia berusaha menyentuh Susi, tetapi tangannya ditepis kasar oleh sahabatnya.


"Aku benci benda itu, Ai, aku benci keegoisanku. Seharusnya aku dengerin kalian ngomong tapi aku malah nggak peduli ... mas Haris dia pergi ninggalin aku, keluarganya benci aku dan bilang kalau aku wanita pembawa sial," ujar Susi.


"Astagfirullah, kamu bukan pembawa sial. Kita nggak tahu umur manusia sampai kapan, stop nyalahin dirimu sendiri."


Gila, kenapa bisa ada orang-orang bermulut tajam yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. Bisa-bisanya keluarga Haris mengatakan hal buruk tentang menantunya, bukan merangkul dan menguatkan satu sama lain ini malah menenggelamkannya dalam rasa bersalah. Tidak sadarkah mereka dengan kondisi Susi yang baru melahirkan belum waktunya dan sebagai istri yang kehilangan sandaran hidup?


Ya Tuhan, Aina tak sanggup berkata-kata lagi.


"Sus, kamu harus kuat, abaikan omongan keluarga mertuamu. Ada anak yang butuh sosok ibu, butuh perhatian kamu dan juga mas Haris pernah bilang tentang nama anak kalian. "


"Apa ...?"


"Azam Aflahul Athar, beliau ingin nama anaknya itu."


Kini Susi berhenti menangis, ia langsung memeluk Aina dengan erat.


Kejadian yang dialami Aina di hutan, entah itu apa. Namun, di sini ia merasa beryukur karena sudah menyampaikan amanat dari orang yang sudah tiada.

__ADS_1


"Semoga kamu tenang di alam sana, Mas. Maafkan atas kesalahanku yang tidak patuh menjadi istri. Aku berjanji akan membesarkan anak kita menjadi anak sholeh, menjadikannya laki-laki tangguh seperti kamu, Mas Haris," batin Susi.


__ADS_2