Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bab 20


__ADS_3

Bu Ijah dan Pak Kasim—sepasang suami istri yang sudah renta begitu ringan tangan. Rela membagi makanan yang tidak seberapa untuk dirinya. Bahkan meminjamkan baju gamis punya sang anak yang tengah merantau di luar kota.


Rasa haru tak pernah lepas dari bibir Aina, kehidupannya di kota sana sangat baik berbanding terbalik dengan keluarga ini. Ika sang cucu Bu Ijah yang baru duduk di bangku SD kelas enam pun begitu ramah dan sopan. Sungguh didikan yang luar biasa.


Setengah hari Aina berada di rumah Bu Ijah, ia lalu diantarkan kembali ke villa setelah menceritakan kronologis semua kejadian yang menimpanya. Meski memakan waktu sekitar satu jam setengah dengan berjalan kaki dan setengah jam menaiki kendaraan umum. Namun, Aina tidak sedikit pun merasa lelah baginya semua kejadian ini ada hikmah tersendiri.


"Adu Gusti, Neng Aina!" Istri Mang Dasmin langsung memeluk Aina saat ia membuka pintu. "Ke mana aja, Neng? Semua orang khawatir pada nyariin, tapi Alhamdulillah, sekarang udah pulang." Bu Nur mengecek setiap inci tubuh Aina, memutar perlahan seraya memindai dari atas sampai bawah.


"Iya, Bi. Aku baik-baik aja, nggak ada yang kurang satu pun." Senyum simpul terpatri di wajah Aina, begitu juga matanya berkaca-kaca. Merasa terharu dengan sikap Bu Nur yang begitu peduli padanya, padahal ia bukan siapa-siapa. Beruntung karena Aina dipertemukan dengan orang-orang baik.


"Masuk, Neng. Istirahat dulu, biar nanti Bibi bikinin teh anget." Bu Nur menuntun Aina ke dalam, lalu memintanya duduk di ruang tamu. Selepas itu beliau pergi ke dapur.


Sementara Pak Kasim beliau mengobrol dengan Mang Dasmin di depan villa, dari apa yang dilihat sepertinya mereka saling kenal satu sama lain.


"Gimana ceritanya sampai Neng itu menghilang?" Bu Nur meletakkan secangkir teh hangat di meja, kemudian beliau duduk di lantai.


"Bibi ngapain duduk di lantai, di kursi aja sini, Bi." Aina menepuk tempat kosong di sebelahnya, Bu Nur pun gegas pindah.


Setelah Bu Nur duduk di kursi, Aina mulai menceritakan semua kejadian di air terjun dan keinginan Susi untuk meminta Haris kembali ke air terjun sampai sebab ia bisa menghilang semalaman.


Mata Bu Nur membelalak seraya menutup mulut, kepalanya menggeleng pelan. Sulit dipercaya penuturan Aina, bagaimana bisa fa orang yang begitu jahat. "Terus gimana lagi, Neng?" tanya Bu Nur.


"Bi, Mas Haris sama Mas Ridho gimana keadaannya?" Aina teringat pertemuannya dengan Haris semalam tadi, berharap tidak sesuai perkiraannya. Namun, melihat gelagat Bi Nur yang terlihat sedih ....


"A Ridho baik-baik aja, Neng. Tapi suaminya Susi sampai sekarang belum—"

__ADS_1


"AINA!"


Suara Ridho menggelegar hingga seluruh ruangan, sontak Aina dan Bu Nur menoleh ke ambang pintu. Sorot mata lelaki itu tajam menusuk tepat ke Aina.


"Mas ...."


"Dari mana kamu semalaman, Ai?" tanya Ridho dingin.


"A-a-aku ...." Aina takut untuk menjawab pertanyaan Ridho sebab tatapan pria itu sangat menakutkan. Selama ia berada di samping suaminya, baru kali ini dia mendapati lelaki itu terlihat marah.


"Jawab aku, Ai!" bentak Ridho karena Aina hanya diam saja.


Bu Nur beringsut bangun, dengan gerakan cepat kilat ia berlari ke belakang. Sama sekali tidak mau tahu urusan suami istri.


Aina juga berdiri, ia menghampiri Ridho dengan tertatih. Kakinya yang terkilir sudah tidak sesakit pertama tapi tetap saja rasa nyeri masih tersisa. "Mas, aku akan jelasin. Tapi kamu jangan kaya gini," pinta Aina.


Kalau kamu mau balas dendam dengan sikapku yang seperti kurang menghargai kamu, tolong sekali ini aja, Ai. Buat aku tenang, jangan nambah beban aku lagi." Ridho mengatupkan tangan di dada. Memohon ke Aina yang sama sekali tidak dipahami gadis tersebut.


"Maksud kamu apa si, Mas?! Aku nggak paham!"


"Haruskah aku kasih liat semuanya, Ai?" Ridho mengeluarkan ponsel dari dalam saku, lalu membuka aplikasi hijau dan melihatkan gambar ke Aina. "Ini kamu, kan?"


Aina menatap layar tersebut, dahinya membentuk kerutan. "Ini bukan aku."


"Nggak usah ngelak, Ai. Kalau tujuan kamu mau balas dendam denganku, silakan saja. Aku sama sekali tidak cemburu, apalagi peduli tapi kamu harus ingat kondisinya." Selepas mengatakan hal tersebut Ridho berlalu pergi, "ya dan satu lagi, mungkin ada baiknya mulai detik ini kamu jangan pernah libatkan aku dalam hal apa pun. Termasuk menemani orang melahirkan, aku muak dengan itu!" sambungnya lagi.

__ADS_1


Aina luruh di lantai, rasa sakit di tubuhnya saja belum benar-benar reda kini harus di tambah dengan tudingan Ridho yang tak beralasan. Dan siapa wanita yang ada di dalam foto yang suaminya tunjukan, jelas itu bukan dirinya meski dari bentuk tubuh dan pakaian itu adalah dia. Ya Allah kapan semua ini berakhir? Sungguh dia lelah.


***


"Saya kan sudah bilang untuk bunuh wanita itu, kenapa dia masih hidup?!" tanya pria yang sedang memakai blazer.


Sang pesuruh menunduk, ia bingung harus menjawab apa sedangkan pekerjaannya semua sudah rapih dan beres. Tapi mengapa gagal?


"Bos, aku yakin dia sudah masuk ke jurang. Aku liat dengan mata kepala saya sendiri," tutur pesuruh.


"Tapi mana buktinya, dia balik dan nggak ada yang lecet sedikit pun!" bentaknya kesal. "Saya nggak mau tahu, kamu harus singkirkan dia dan jangan tinggalkan bukti."


Pesuruh mengangguk, lalu ia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja. Ada baiknya ia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini daripada nanti dia tidak dapat bayaran.


Sang pria yang melihat anak buahnya pergi langsung memasukan kembali pakaiannya dalam koper. Untuk seminggu ke depan dia mulai mengajar fitnes di salah satu daerah di Indonesia—mengajar seorang mahasiswi cantik anak sultan.


Gadis yang akan menjadi muridnya sungguhlah seksi, memiliki ukuran buah pepaya 38B dengan bokong padat berisi. Terlebih saat gadis itu berjalan, persis seperti Entog betina akan goyang kanan goyang kiri.


Suara pintu kamar terbuka, pria lain masuk dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang. Embusan napas langsung membangunkan si otong yang terlelap. "Gimana? Itu dia, kan?"


"Ya, aku nggak nyangka di balik kerudung lebarnya dia begitu munafik. Seharusnya aku nggak ragu untuk ikut kamu ke Bandung, tapi karena aku percaya dia bukan wanita seperti itu sampai-sampai buat kamu harus mundur dari jadwal."


"Seenggaknya kamu udah tahu, pada dasarnya wanita sok alim itu sama buruknya dengan kita. Tapi kita terang-terangan kalau kita belok."


"Hemm, kita masih sembunyi-sembunyi dari orang tuaku dan kalau sampai ketahuan lagi aku nggak jamin aku masih bisa hidup."

__ADS_1


"Ada waktunya untuk meyakinkan mereka tentang kita." Tio menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum yang mengerikan.


__ADS_2