
Tio melenggang masuk ke kantor Ridho begitu saja, tak ada yang curiga apalagi menghentikannya. Semua orang di gedung ini sudah tahu siapa dia—instruktur Ridho.
Ya, hanya itu. Tak ada yang sadar sisi gelap di antara dua manusia sesama terong ini. Tio memamerkan deretan giginya yang putih, tanpa menunggu Ridho mempersilakan duduk, ia sudah mengambil tempat di pangkuan Ridho. "Aku kangen," rengeknya.
Ridho melingkarkan tangan di pinggang Tio, sejurus keduanya berpelukan melepas rindu sesekali saling mengecup.
Andai mereka sadar, ada dosa yang dicatat oleh Malaikat Atid. Pastilah keduanya sudah bertaubat jauh-jauh hari. Namun, inilah bentuk Allah menghukum para manusia dengan mencabut rasa malu mereka. Tidak ingat dengan kelakuan mereka yang sudah membuat murka langit dan bumi.
Suara petir yang menggelegar, membuat mereka sontak melepaskan pelukannya. Ridho tanpa sadar mendorong Tio hingga lelaki itu berdiri dengan alis bertaut. "Ada apa?" tanya Tio heran.
Ridho menggeleng cepat, ia menunjuk sebuah sofa di depan meja kerjanya. "Kamu duduk di situ aja!"
"What? Biasanya juga aku dipangku kamu, kok!" Tio tidak terima jika dia duduk berjauhan dengan Ridho, enak saja main nyuruh-nyuruh gitu aja.
"Takut ada Om Burhan tiba-tiba masuk. Nggak enak kalau diliat lagi posisi kaya gitu."
Meski hatinya dongkol setengah mati, Tio menurut saja. Dia mendaratkan bokongnya di single sofa seraya menyilangkan kaki. "Udah!"
Ridho mengacungkan jempol, kembali fokusnya tertuju pada layar monitor di depannya. Berkas-berkas dari Angkasa Jaya baru saja masuk ke email-nya, Om Burhan meminta ia untuk mempelajari semua berkas yang ada dan datang ke kantor Angkasa Jaya siang ini.
Burhan Saputra, beliau adalah adik bontot dari keluarga Bambang. Sayangnya menikah selama dua puluh tahun tidak diberi kepercayaan untuk memiliki momongan oleh Sang Maha Kuasa, sebagai gantinya Ridho diangkat jadi anaknya. Meski sama-sama memiliki hubungan darah antara Bambang dan Burhan. Tipikal sifat mereka berbeda, Om nya lebih kekinian, berpikir maju dan realistis.
Ridho sendiri lebih nyaman mengutarakan isi hatinya pada Burhan daripada Bambang, karena Om nya akan selalu mendukung apa pun keputusannya. Namun, masalah ia dan Tio—Ridho tidak pernah tahu, sebab beliau hanya mendesah panjang dan pergi begitu saja. Ketika Ridho bercerita hubungan terlaknat mereka.
"Aku ingin ke puncak, Sayang. Lama kita nggak jalan-jalan," ucap Tio, bosan mulai menghinggapinya sebab Ridho fokus dengan laptopnya.
"Nggak tau, Aina ngajakin ke puncak juga," tutur Ridho, masih sibuk dengan laptopnya tanpa menoleh ke arah Tio.
"Mau apa orang sok alim itu ngajakin kamu ke puncak!" Tio selalu naik pitam mendengar nama Aina, pikirnya gadis berhijab itu sudah menghancurkan istana indahnya. Menjadikannya gubuk bambu tak ternilai, andai tak ada hukum di negeri ini—sudah pasti dia akan membunuh Aina, termasuk Bambang atau siapa oun penghalang hubungan mereka.
"Nggak usah marah-marah! Dia minta aku nemenin ke reunian nya—"
__ADS_1
"Alah, itumah modus! Dasar aja cewek ganjen, pengennya digaruk ... alasan pake reunian!" potong Tio cepat.
"Ya gimana dong? Aku harus nurutin kalau enggak Ayah bakal ngamuk lagi. Kapok aku dihajar Ayah sampai babak belur."
"Au ahk!" Tio merajuk, cemberut—bibirnya maju ke depan seperti bebek pengen nyosor orang. Dan andai itu perempuan akan terlihat manis dan menggemaskan, tetapi ini ...
"Sayang, jangan marah dong. Kamu kalau marah jelek loh!" bujuk Ridho lembut, ia sampai harus meninggalkan laptopnya yang berisi laporan Angkasa Jaya. Ia menekuk lututnya di depan Tio, dagunya mendarat di paha kekasih pelan. Tatapan sayu yang mendambah, sengaja ia perlihatkan pada Tio. Biasanya cara ini berhasil untuk meluruhkan amarah Tio.
Tio masih bergeming dengan tangan yang menyilang di dada. Gemuruh di hatinya sudah mencapai puncak siap meletuskan lavanya.
"Sayang ...," panggil Ridho lirih.
"Oke, tapi aku ikut!" pungkas Tio cepat.
Ridho terkesiap, lalu diam dan berpikir. "Um, itu ... gimana ya?"
***
Jam makan siang sudah lewat waktunya, tetapi Aina sama sekali belum ingin makan. Perutnya masih terasa kenyang atas kebodohannya tadi pagi. Entengnya dia mengajak Ridho intuk ke puncak, padahal niat awal tidak ingin ikut.
"Kamu kenapa, Ai?" tanya Ridwan.
"Kenapa apanya?" Aina malah berbalik tanya.
Ridwan memutar mata malas, ekspresinya sedikit kesal. "Aku perhatiin dari tadi kamu itu uring-uringan. Makan siang kelewat, sekarang muka kaya baju belum di setrika," ujar Ridwan. "Kamu nggak ada masalah sama suamimu yang tajir itu kan?"
"Nggak ada!" jawabnya singkat.
Semua orang di kantor selalu menjadikannya bahan gosip atau ledekan, sebab menikah dengan orang tajir melintir seantero Jakarta. Namun, tidak pernah sekali oun terlihat Aina diantar jemput oleh Ridho.
Mereka selalu mengolok-olok jika pernikahannya hanya sandiwara dan itu memang benar! Menyebalkan bukan?
__ADS_1
Ingin membalas hujatan mereka dengan semua bukti yang valid—berisikan dokumentasi momen manis dia dan Ridho, tetapi hanya angan-angan saja.
Belum lagi saat mendengar berita perceraian Aina dan Ridho, pastilah kantor ini makin memojokannya.
"Ai, emang bener ya suamimu itu gay?" tanya Ridwan.
Aina menoleh, ditatapnya wajah Ridwan lekat-lekat. "Maksudmu apa?"
"Tempo hari, Niken ngeliat suamimu mesra-mesraan sama cowok di kafe."
Belum selesai masalah reunian, kini bertambah satu lagi pasang mata yang melihat sikap menyimpang Ridho. Dan hal terburuknya Niken yang melihat itu, gadis tersebut memiliki kecepatan mulut seperti cahaya. Setiap omongannya akan menjadi buah bibir dan dipercaya oleh seantero kantor.
"Bener, Ai. Suamimu gay?" ulang Ridwwan.
"Kalau dia gay, nggak akan dia nikah sama aku!" ketus Aina.
Tak ingin mendapatkan pertanyaan yang aneh-aneh, Aina memutuskan beranjak untuk ke toilet.
Di dalam toilet, sesak yang memenuhi dada sedari tadi kini tumpah juga. Aina menangis dalam diam seraya menutup mulut. Kemungkinan-kemungkinan yang lain memenuhi otaknya. Tentang Ridho yang akan diketahui semua orang. Bukankah pribahasa berkata 'sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga' sama halnya kebohongan Ridho. Entah sampai kapa Allah begitu baik menutupi aib yang sangat besar ini.
Beberapa orang masuk ke dalam toilet, mereka asik bergosip dan tertawa. Aina ingin keluar dari bilik, tetapi suara Niken berhasil membuatnya membatu.
"Yakinlah! Mataku ini masih awas untuk melihat orang, meski jauh juga,' ucap Niken congkak.
"Tapi, Ken," timpal seseorang, "kalau beneran itu suami Aina, berarti pernikahan mereka--"
"Palsu! Paling juga untuk nutupin aib suaminya itu," cetus Niken.
Aina kembali duduk di atas closed, perkataan Niken ibarat anak panah yang menghujam tepat ke arah jantungnya. Meski semua itu benar, tetapi sedikit jauh di lubuk hatinya ia tidak terima.
"Kasihan ya Aina ... padahal cantik, malah punya suami kaya gitu."
__ADS_1
"Alah! Nggak perlu dikasihani perempuan kaya dia mah."
Aina memejamkan mata sesaat, menenangkan semua gejolak di dada kemudian ia akan keluar. Memberikan mulut pedas Niken pelajaran yang tidak akan dilupakan gadis itu.