Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Melamar Aina


__ADS_3

Di kediaman Tino, debat panas antara Aina dan Abahnya tengah berlangsung sengit sejak siang tadi.


Mereka berdua sama-sama memiliki pendapat masing-masing mengenai perjodohan yang diatur Bambang.


"Aina bukan nggak mau nikah sama mas Ridho, Bah, tapi 'kan Abah tau Aina nggak deket sama mas Ridho," ucap Aina.


"Tapi, Nak. Ridho orang baik, bukan sekali dua kali Abah ketemu Ridho. Orang tuanya juga paham ilmu agama, pasti anaknya juga akan sama kaya bapaknya," ujar Tino sedikit penuh penekanan, "lagian juga, dari sekian banyak pria yang ngelamar kamu nggak ada yang cocok sama Abah dan Umi. Abah sering ngobrol sama Ridho, anak itu nyambung kalau diajak Ngobrol. Terus juga nggak neko-neko, nggak pernah liat Ridho main perempuan terus pergi ke club kaya anak sepantarannya," sambung Tino lagi.


Saat Bambang menghubunginya masalah perjodohan dengan Ridho, dia macam ketiban durian runtuh. Merasa menjadi orang yang paling beruntung karena pria terhormat seperti sahabatnya itu mau melirik putrinya. Padahal keadaan mereka sedikit jauh berbeda, jika Bambang berlian, dia hanyalah emas 24 karat.


"Bah, kasih Aina waktu buat kenal sama mas Ridho," pinta Aina memasang mimik muka memelas.


"Iya, Bah. Biarin Aina sama Ridho saling kenal dulu, sapa tau nanti nggak cocok malah bikin hal-hal yang tak diinginkan, loh, Bah." Umi Umairah merangkul pundak sang putri yang sudah merosot seakan mau jatuh ke lantai. Aina sangat tidak bersemangat membahas perjodohan kali ini. Rasa itu menguap begitu saja hilang diterbangkan angin.


"Niat baik jangan ditunda-tunda, Mi. Lagian Aina sama Ridho juga udah kenal lama kok, mereka udah barengan dari jaman SMA sampai kuliah. Masa sikap Ridho aja Aina nggak paham, wong Abah yang cuma ketemu nggak pernah lama aja bisa ngerti kalau Ridho itu orang baik," bela Tino tak mau kalah.


Hembusan napas pelan keluar dari bibir mungil pink milik Aina, gadis itu tak punya jawaban lagi untuk Tino. Rasanya semua buntu, pasrah satu-satunya jalan yang ia miliki saat ini dan semoga saja hubungan ini tak akan pernah mengecewakan. Aina hanya berharap, dia akan seperti putri dari negeri dongeng hidup bahagia bersama pangeran sampai akhir hayat.


"Nanti malam siap-siap! Keluarga Mas Bambang akan ke rumah," ujar Tino sambil nyelonong begitu saja.


Aina mendongak, ditatapnya wajah Umaira dengan sedih. "Umi," lirihnya.

__ADS_1


"Percaya sama abah, Ai. Umi yakin pilihan Abah jodoh terbaik yang dikasih Allah," ujar Umaira, Aina mengangguk.


***


Keputusan yang sama sekali tidak pernah disetujui Ridho, kini terpaksa dia terima saat Bambang mengancam akan membuat Tio menghilang selamanya dari dunia ini. Ketakutan terbesarnya jelas berpisah dengan Tio—lelaki triplek bangunan yang mengajarkan nikmatnya dosa dunia.


Maka dengan lengkungan bibir yang Ridho tarik paksa saat bertemu dengan calon mertuanya. Dia bersalaman serta menyapa hormat sebelum masuk ke rumah ini. Dalam hatinya selalu komat kamit membaca mantra agar Aina tak pernah setuju.


Dipandang dari kacamata lelaki normal, Aina Nur Laila adalah sosok bidadari yang dikirim Tuhan pada kaum jomblo ngenes. Sifatnya yang kalem, anggun, tatapannya yang teduh seperti mengaup di bawah pohon rindang, apalagi setiap gadis itu berbicara—melodi merdu dari gesekkan biola pun akan lewat. Macam bus malam antar provinsi yang ugal-ugalan dan berakhir celaka, tetapi perbedaan celaka disini sangatlah besar. Celaka yang diharapkan adalah jatuh ke dalam arus-arus indahnya surga dunia menggapai nirwana penuh lenguhan membakar gelora ketika malam pertama.


Ridho masih mengamati dua orang tua laki-laki di depannya mengobrol, mereka sesekali membahas kenangan lama mengingat masa muda yang telah lama berlalu. Beruntungnya Aisya tak ikut, kalau tidak mulut kaleng adiknya itu akan menambah riuhnya acara lamaran ini.


"Aku terserah Aina aja, Mas. Yang ngejalanin nanti Aina." Tino berbicara dengan nada datar, tetapi beribawa.


Siapa sangka hal itu malah dianggap candaan oleh keluarga besar Tino, mereka tertawa dengan ringannya seperti bukan masalah besar dan lumrah. Jika orang tua menjelek-jelekkan sang anak di depan orang lain. "Mas Bambang ini jangan gitu, sama aja kaya Aina, keliatannya aja kalem. Tapi kalau udah ribut sama adek sepupunya, ramenya pasar aja kalah," timpal Umaira selaku Umi Aina.


"I-iya, Mbak," jawab Zulaika kikuk, sedangkan Bambang hanya mengulum senyum sesekali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Salahkah dia karena berbohong dengan keadaan Ridho, tapi ini juga untuk kebaikan sang putra agar kembali ke jalan yang lurus. Semoga saja Allah berkenan mengampuni dosanya yang menumpuk. "Jadi gimana, Aina?" tanya Bambang ke Aina.


Gadis berkerudung kuning itu mengangguk kecil sambil tersenyum. "Insyaallah, aku siap menerima Mas Ridho jadi imamku," jawab Aina.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Semua orang langsung mengusap telapak tangan ke muka masing-masing. Raut bahagia terpancar jelas di wajah kedua keluarga ini, Bambang bahkan tak hentinya berucap terima kasih pada Aina, Tino, dan Umaira. Ia seperti mendapatkan lotre ribuan dollar.


"Jadi acaranya kapan ya, Mas?" tanya Tino.


Ada jeda sebelum Bambang menjawab, dia sedang memikirkan hari baik yang bagus untuk acara nikahan. Maklum saja adat istiadat setempat masih dijunjung tinggi olehnya. "Menurut Mas Tino enaknya kapan, saya dari pihak lelaki ngikut aja," ucap Bambang setelah lelah mikir.


"Kalau saya pribadi pengennya lebih cepat lebih baik, Mas. Tapi itu juga harus ngehubungin keluarga besar dulu di Semarang, cari tanggal yang pas," jawab Tino. Bambang manggut-manggut mengerti.


"Yaudah, kita makam malam aja dulu, Mas, Mbak. Aku udah siapin soto ayam sama es jeruk. Terus ada Lumpia Semarang, aku bikin sendiri tadi," ujar Umaira, dia beringsut bangun mempersilakan para tamu agar mengikutinya ke meja makan.


"Ayo, Mas, Mbak, Ridho. Sampai lupa nawarin saking asiknya bahas pernikahan Aina sama Ridho." Tino pun turut bangun, lalu disusul oleh keluarga Bambang dan Aina.


Selama makan malam keluarga Aina dan Ridho memilih tidak ikut. Ridho sendiri enggan, perutnya sudah terasa kenyang dengan rasa kecewa dan lara yang diubek menjadi satu. Menyesakkan, menyedihkan!


"Mas, nggak ikut makan?" tanya Aina. Dia berusaha berbasa-basi dengan calon suaminya. Setidaknya jika sudah sah tidak akan kaku-kaku amat.


Ridho melirik sekilas ke arah Aina lalu kembali melihat ikan yang asik berlalu lalang di atas air kolam buatan, mereka seakan hidup dengan damai tanpa memikirkan peliknya kehidupan. Andai saja, dia lelaki normal pada umumnya mungkin dan mungkin saja tidak akan seperti ini. "Nggak, udah kenyang!"


Nada suara Ridho terdengar ketus di telinga Aina, padahal ini pertama kali mereka mengobrol. "Mau minum nggak, Mas. Kalau mau aku ambilin?"


"Kamu nggak denger ya, aku bilang kenyang!" pungkas Ridho.

__ADS_1


Aina sedikit terkesiap, menelan ludah. kepalan tangan Ridho di daun pintu terlihat lebih erat. Lelaki itu terlihat sekali sangat murka. "Permisi!" Ridho melalui Aina begitu saja hingga menyenggol bahu kecil gadis itu yang berdiri di dekatnya tadi.


"Kok, Mas Ridho kasar sih," batin Aina.


__ADS_2