Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bab 21


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Aina kembali ke villa, Ridho sibuk wara wiri di lorong rumah sakit. tepatnya di depan ruang bersalin. Ia terus saja memandangi pintu besi putih dengan kaca di tengahnya. Perasaannya was-was berdebar tak karuan saat dokter dan teriakan Susi yang terus terdengar memekikkan telinga.


Entah apa yang dilakukan tim medis dengan Susi, mengapa proses persalinan begitu menegangkan sehingga dia yang hanya menunggu, seperti ikut tercabut nyawanya.


Ridho hanya seorang diri, suami Anggi dan Yanti memilih untuk mengikut tim SAR mencari keberadaan Haris dan dua orang lainnya.


Lalu kenapa Ridho hanya diam menunggu orang lahiran, kenapa ia tak khawatir dengan Aina? Jawabannya hanya satu, dia sudah tak peduli dengan gadis itu entah hidup atau mati. Racun yang diberikan Tio sudah mengalir hingga sel-sel tubuh dan darahnya, saat ini Ridho berpikir Aina sedang asik bersama kekasihnya.


Namun, tak dipungkiri ada rasa sakit di hati dan rasa tidak terima dengan sikap Aina. Mengapa pembalasan dendam gadis itu meninggalkan lara menyesakkan dada. Jika memang Aina mencintai pria lain, seharusnya istrinya bilang dari awal dan bukan diam-diam hingga menjadikan reunian sebagai alibi untuk memadu kasih.


Kesal dan lelah, Ridho mengempaskan tubuhnya dengan kasar ke kursi hingga kursi bergeser beberapa centimeter. Ia menyandarkan punggungnya seraya menarik napas dalam, setidaknya dengan begini rasa sesak di dada tak begitu terasa.


Mungkinkah ia mencintai Aina? Mungkinkah dia perlahan kembali ke fitrahnya sebagai lelaki? Jawabannya Ridho sendir tidak tahu.


"Oek, oek, oek!"


Tangisan bayi memecah lamunan Ridho, cepat ia bangkit dan melongok dari kaca jendela di pintu dan hanya tirai hijau yang ia lihat. Baru saja ia ingin kembali, gorden bergeser sedikit, sosok suster menyembul dengan bayi kemerah-merahan berselimut bercak darah.


Tanpa sadar sudut bibir Ridho tertarik membentuk senyum tipis, ada rasa haru melihat bayi mungil menangis dalam gendongan sang suster. "Selamat datang ke dunia, Bayi mungil," ucap Ridho lirih.


Menyadari akan hadirnya Ridho, sang suster membuka pintu lebar-lebar. "Silakan di adzanin, Pak!" pinta suster sambil menyerahkan bayi Susi pada Ridho.


Ridho menggeleng, dia menolak untuk melantunkan ayat suci pada telinga sang bayi, ia sadar akan keanehannya.

__ADS_1


Yanti datang tergopoh-gopoh, pakaiannya basah dengan keringat. "Sudah lahir, toh?" ujar Yanti seraya mengelus dadanya yang engap.


"Pak, silakan di adzanin biar setelah itu saya bersihkan," ucap suster lagi.


"Saya nggak bisa. Sus"


"Gapapa, Mas. sebaiknya di adzanin dulu. Biar nanti urusan Susi aku yang bilang," timpal Yanti seakan paham kerisauan hati Ridho.


Mau tidak mau Ridho mengambil bayi merah itu dari tangan suster, bukan hanya jantung tapi tangannya pun ikut bergetar hebat. Ini kali pertama dalam hidupnya melakukan hal demikian, Oh God—tenangkanlah!


"Bismillah ... Allahuakbar ...." Ridho mulai mengadzani bayi Susi di telinga kanan dengan lirih, lembut, dan penuh perasaan. Membayangkan jika ini adalah anaknya sendiri, entah apa yang akan ia rasakan.


Selesai mengadzani, kini Ridho berganti memberikan Iqomah di telinga kiri sang bayi. "Ini, Sus." Ia menyerahkan kembali anak susi pada suster. "Aku harus pergi," sambungnya seraya meninggalkan ruang bersalin.


......................


Dengan langkah secepat kilat, Yanti masuk ke dalam vila begitu tiba. Pandangannya mencari-cari sosok Aina.


Mendengar suara mobil, Bu Nur gegas menghampiri majikannya. Ia juga menceritakan kejadian yang menimpa Aina. Yanti nyaris tak percaya, bagaimana bisa ada orang yang begitu tega sedangkan gadis itu sama sekali bukan wanita pembuat onar.


Yanti menaiki tangga dengan keras, setiap pijakannya menimbulkan suara yang lantang menggema di seluruh ruangan. Samar-samar ia mendengar suara menangis dari kamar sudut, Yanti tahu itu kamar Aina. Akan tetapi kenapa gadis itu masih menangis.


Perlahan Yanti membuka pintu, ia hanya melongok untuk memastikan jika Aina benar-benar baik saja. Mengingat ia sendiri sering kali salah dengar. "Ai ...."

__ADS_1


Aina duduk dengan menekuk lutut di lantai samping kasur, gadis itu membenamkan wajahnya di antara dua kaki. Bahunya bergetar hebat dengan suara isakkan.


Gegas Yanti menghampiri Aina, ia berjongkok di hadapan sahabatnya. Tangan kananya baru terulur dan mulut yang baru saja terbuka—Aina langsung memeluknya dengan erat.


"Yan, aku harus gimana?" Nada suara Aina terdengar parau dan serak. Banyaknya beban membuat gadis ini semakin rapuh, padahal ia sama sekali tidak pernah menangis. Namun, pernikahannya dengan Ridho seperti jalanan berbatu yang dipenuhi kerikil dan duri-duri tajam.


"Kenapa, Ai? Kamu baik-baik aja 'kan?" Yanti berusaha menenangkan Aina dengan mengelus lembut punggung sahabatnya.


"Yan, aku ingin cerai tapi abah sama umi nggak mungkin terima begitu aja. Apalagi abah yang udah percaya banget sama Ridho," tutur Aina panjang lebar, meski berkali-kali ia menyeka cairan bening yang keluar dari hidungnya.


"Astagfirullah!" Yanti sontak melepaskan pelukan Aina, ia fokus menatap manik sahabatnya yang mulai bengkak. "Kenapa cerai, Ai? Sebenarnya ada apa, cerita semua sama aku!" sambungnya menuntut.


Pernikahan yang belum ada seumur jagung, tetapi sudah mendapatkan kabar tak enak. Jika memang tidak cinta, mungkin bisa dipertimbangkan. Namun, masalah apa hingga harus berakhir perceraian.


Biar bagaimanapun perceraian ialah suatu yang dibenci Allah SWT.


"Aku lelah, Yanti! Pernikahan ini gila, nggak sehat. Ridho menyimpang dari fitrahnya sebagai lelaki dan aku merasa dibohongin, semua keluarganya tahu. Tapi sedikit aja Ridho nggak bisa paham sama aku! Aku cuma ingin menjalankan persyaratan yang ada dengan baik, tapi sikapnya begitu menjijikan. Aku muak! Aku harus gimana!" Panjang lebar Aina mengutarakan perasaannya, kini sedikit ada rasa lega di hatinya. Setidaknya semua ini bukan hanya dia yang memendam luka.


Yanti terhuyung ke belakang saking kagetnya, Ridho Saputra—pria dengan sejuta talenta dan tampan rupawan memiliki semua kesenangan dunia, dibesarkan oleh keluarga taat agama malah menyimpang. Lalu apa kabar dengan manusia yang jauh dari Tuhan?


Mungkinkah akhir dunia sudah dekat?


"Kamu yakin itu, Ai?"

__ADS_1


Aina mengangguk pelan, tak ada kata yang bisa ia ucapkan lagi.


Yanti tak bersua, ia diam dan menerawang jauh ke luar jendela. Apa yang ada dalam pikirannya hanya dia dan Tuhan yang tahu. Namun, pasti satu hal semua kejadian ini telah menjadi benang kusut yang tak berujung.


__ADS_2