
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, Rara tiba di rumah dukun yang pernah dia temui. Sebelum Rara masuk ke dalam rumah dukun tersebut. Dukun itu sudah berada di depan rumahnya menunggu kedatangan Rara. Seakan dukun itu tau kalau Rara akan mendatangi rumahnya.
Rara sedikit kaget melihat dukun itu berdiri di depan pintu rumahnya. Rarapun keluar dari mobilnya dan melirik ke segala arah untuk memastikan kalau tidak ada orang di dekatnya.
Perlahan Rara menaiki tangga rumah dukun tersebut dan berkata.
"Ki" Sembari memberi hormat
"Aku sudah menunggu kedatanganmu" Ujar dukun itu
"Ayo masuk" Lanjut dukun itu meminta Rara untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kau kelihatan begitu lelah" Ujar dukun sembari jalan dilorong rumahnya menuju ruang meditasi
"Kau sudah tau apa yang terjadi pada Ki, aku tidak tau harus berbuat apa" Ujar Rara sedikit memelas
"Duduklah" Ujar dukun meminta Rara duduk di depan sebuah meja.
"Tatap mataku Ra" Ujar dukun
"Iblis itu sudah semakin dekat denganmu" Ujar dukun itu
"Aku akan mencoba melawannya" Ujar dukun itu
__ADS_1
"Tetapi harganya tidak murah" Ujar dukun tersebut
"Kau butuh berapa Ki" Tanya Rara
"Aku butuh darahmu" Ujar dukun itu
Kemudian dukun itu mengambil pisau dan menggoreskannya ke telapak tangan Rara hingga meneteskan darah.
Kemudian dukun itu berdiri dari kursinya dan membacakan mantra sembari melipat tangannya layaknya orang yang sedang meminta mohon. Beberapa menit kemudian, lilin tiba tiba padam, dan benda benda yang ada di ruangan itu bergoyang. Hingga membuat Rara berteriak sedikit.
Beberapa menit kemudian sesosok makhluk hitam muncul di belakang dukun tersebut. Wujudnya tak kalah menyeramkan dari makhluk bertanduk dua yang menyerang Rara. Makhluk ini hitam, bermata satu dan seluruh kepalanya ditutupi oleh perban. Memiliki satu tangan bercabang 2 yang berada di sebelah kiri. Tangan kanannya berada di belakang tubuhnya memegang sebuah pedang bercabang dua dan terlihat seperti tanduk karena berada diantara kepalanya.
Makhluk itu adalah penjaga dari dukun tersebut. Makhluk tersebut akan melawan Iblis yang meneror Rara dan mencoba untuk mengusirnya dari kehidupan Rara.
Makhluk itu mendekati Rara dan menjilat darah Rara yang menetes ke meja menandakan kalau dia setuju untuk membantu Rara.
Makhlu tersebut kemudian pergi kearah dinding berkamuflase dengannya, menunggu Iblis yang mengganggu Rara datang.
Setelah beberapa menit, dukun itu berhenti mengucapkan mantra, tetapi tidak untuk Rara. Dukun itupun meraih kedua tangan Rara memintanya untuk ikut berdiri.
"Leiona aku membuka pintu untukmu" Ujar dukun itu
Rarapun mengikuti perkataan dukun tersebut. Semakin lama mereka semakin cepat mengucapkan kalimat tersebut. Hingga membuat semua benda yang ada di dalam ruangan bergetar dan meja mereka terangkat dan jatuh kembali, setelah beberapa detik semua benda diam tak bergera dan Merekapun berhenti mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
Pintu menuju ruangan meditasi dukun itu diketuk dengan sangat kuat
Bug Bug Bug Bug *Geduran pelan
Bug Bug Bug Bug *Geduran semakin kuat
Bug Bug *Bunyi geduran pintu hingga pintunya terbuka dengan lebar
"Dia datang, duduk Rara" Ujar dukun itu bergetar
Leiona datang menghampiri mereka berjalan dengan sangat pelan. Ketika suara langkah kaki itu semakin mendekat tidak ada seorangpun atau satu makhlukpun yang menghampiri mereka.
Makhluk pelindung dukun tersebut keluar dari kamuflasenya dan mengeluarkan pedang yang dia miliki dan menuju kearah dukun tersebut.
Leiona tepat berada di belakang Rara. Rara melihat tangannya begitu besar hingga membuat dia sangat ketakutan. Dukun itupun membacakan mantra pelindung untuk mereka sembari menutup matanya.
Tiba tiba Leiona berteriak kearah makhluk pelindung dukun yang berdiri di belakang dukun dnegan penuh amarah. Suaranya sangat mengerikan wujudnya juga sangat mengerikan ketika berteriak. Hingga membuat makhluk pelindung dukun itu hancur seperti debu.
Dukun tersebutpun terlempar hingga membentur dinding. Leionapun menarik tangannya dan pergi meninggalkan mereka.
Rara kemudian melihat dukun tersebut berlumuran darah dan mencoba membawanya ke RS. Naasnya dukun tersebut tidak selamat.
Rara mendengar kabar tersebut menjadi sangat ketakutan iapun meneteskan air matanya dan mencoba untuk tenang.
__ADS_1