
"Feb, yuk ke kantin!" ajak Mely pada gadis berpakaian syar'i formal yang tengah fokus ke arah tumpukan dokumen di mejanya.
Gadis itu menoleh ke arah Mely dan berkata dengan lembut, "aku bawa bekal Teh Mel, maaf yah?" ucapnya merasa bersalah.
Mely membalas dengan senyum ceria "santai, aku bareng yang lain kok. Sabar yah, semoga cepet selesai."
"Aamiin!"
February Asmara, itulah nama gadis yang saat ini tengah meraup wajahnya. Gadis itu sering telat istirahat, untung ia sudah sholat jam 11.45 WIB saat azan tadi. Perusahaan besar ini entah kenapa mau merekrut anak yang belum lulus kuliah saat itu. Sekarang Feby--sapaannya--telah lulus S1 dari jurusan Bisnis dan Management, genap tiga tahun ia bekerja di perusahaan elit ini. Banyak yang tidak terima saat Bos mereka merekrut Feby sebagai Notulis di bawah sekretaris 2, sebab gelarnya.
Semua yang diterima di perusahaan itu adalah mereka yang bekerja keras untuk bisa masuk ke sana, selain gelar perusahaan mematok kriteria di atas yang lainnya, seperti lulusan luar negeri misalnya. Feby adalah satu-satunya karyawan beruntung yang tidak memenuhi satupun syarat, tetapi ditempatkan di top 3 posisi paling kramat. Sebagai bagian dari 3 asisten Bos besar mereka.
Hingga saat ini belum ada yang menerimanya, kecuali Pak Hendra (Sekretaris 1), Mely (Sekretaris 2) dan Nita (Karyawan Humas). Mereka semua lulusan luar negeri, Pak Hendra S2 di University of Cambridge, Mely S2 Harvard, sementara Nita S1 University Of Malaya. Banyak juga dari karyawan yang terekrut dari berbagai universitas terkemuka di dunia. Feby merasa sangat bersyukur bisa ada di tempat itu sebagai karyawan, secara ia bisa mengenal orang-orang hebat. Tentang keanehan itu, ia sudah bertanya pada pak Hendra tapi tak pernah dijawab kenapa ia bisa diterima, yang ia dengar itu merupakan keputusan dari CEO sendiri.
Fernando Zach, CEO gagah nan rupawan itu adalah satu orang yang paling menjengkelkan bagi Feby. Feby selalu dijadikan pelampiasan akan semua kemarahan Nando, entah itu salah Feby atau bukan, baginya Feby adalah satu orang tersalah versi Nando. Awal masuk dan bekerja di sana, Feby langsung kena damprat gara-gara salah mengoreksi laporan, ketika itu ia baru training dan masih di bawah bimbingan Mely. Mely ingin membela tetapi tak biasanya Nando dengan mudah terpancing amarah dan hanya menyalahkan Feby seorang.
Besoknya Feby tetap berangkat, ia masih butuh pekerjaan dan keluarganya di kampung sangat berharap padanya, makanya ia mencoba tetap sabar dan berusaha menghadapi bos galaknya itu.
Brak!
"Astaghfirulloh!" Feby mendongak shock.
Lemparan sekotak bekal, tepat mendarat di atas dokumen yang ada di samping keyboard komputer.
Melihat siapa pelakunya, Feby langsung berdiri tegang dan menunduk.
"Maaf pak, saya akan berusaha menyelesaikannya 15 menit lagi," ucapnya tak berani menatap wajah Nando si Bos besar.
Nando yang masih berdiri menjulang di samping meja Notulisnya itu, mengeryit. Ia memegang sebotol air putih kemudian meletakkan di hadapan Feby yang masih menunduk.
"Siapa yang bahas soal dokumen rapat? Saya mau nyuruh kamu istirahat terus makan! Saya gak mau bayarin rumah sakit kamu lagi kalo usus buntu kamu kambuh!" ujarnya judes.
Feby sudah terbiasa, ia hanya mengangguk. Namun, Nando belum juga pergi dan hanya menatap Feby menunggu sesuatu. Hingga 2 menit berlalu, Feby melihat sekeliling, semua karyawan Devisi Kesekretariatan kosong melompong, hanya ada dia dan Bos galaknya. Ia menelan ludah susah payah, perlahan ia mendongak.
__ADS_1
Jreng!!!
Nando menatapnya tajam, membuat Feby menunduk lagi. "Ada yang bisa saya bantu pak? Atau..."
"Tiga tahun kamu di sini, saya nyuruh orang-orang ngajarin kamu tapi kamu gak pinter-pinter, itu karena mereka yang kurang pinter ngajarin atau kamunya yang bebal?!" tanya Nando meninggi.
"Jadi saya harus bagaimana, pak?" tanya Feby bergetar.
"Makan lah, temen-temen kamu udah keluar semua kamu di sini sendirian. Dikira robot? Gak nyadar diri kalo kamu punya penyakit," nada kesal lagi, dibumbui bon cabe, pedas!
Feby yang baru paham dengan maksud Nando langsung membawa kotak bekal yang dilempar oleh Nando, beserta botol air mineral. Sebelumnya ia membungkuk dan keluar ruangan dengan terbirit-birit seperti dikejar setan.
Setelah kepergian Feby, Nando tertawa ranyah. Tiada yang tau tentang tawa itu, bahkan tiada yang menyadari betapa Nando memperhatikan gadis yang baru saja keluar ruangan dengan terbirit-birit, yah kecuali pak Hendra dan Allah Swt tentunya.
Langkah Nando membawanya ke tempat duduk milik Feby, bersandar dengan gaya bossy, menatap layar komputer yang masih menyala, menampakkan dokumen Ms. Word yang sedang diedit. Ia meneliti semua barang milik Feby di atas meja ukuran sedang itu. Pandangannya mulai tertuju pada salah satu foto berbingkai kayu, terlihat foto Feby, ibunya dan ketiga adik laki-lakinya.
Ini sudah 3 tahun ia menabrak semua aturan yang dibuatnya sendiri, demi memasukkan seorang gadis yang ia temui 6 tahun yang lalu, di perusahaannya.
Seminar diadakan di salah satu SMK di kota provinsi Jawa Tengah, seminar digelar untuk menghadirkan para pembicara hebat dalam dunia bisnis. Saat ini para pembicara telah menduduki panggung di aula besar sekolah. Di antara 4 pembicara hebat itu, sosok Fernando Zach terlihat paling bersinar dengan kacamata bacanya. Usianya 24 tahun, ia sedang libur semester saat itu dan mendapat undangan untuk mengisi seminar, memotivasi murid kelas 12 untuk mendapat beasiswa ke luar negeri.
Hal biasa bagi Nando mengisi seminar, walaupun usianya terbilang muda, ia sudah berhasil menyabet gelar Master di luar negeri. Itu pencapaian luar biasa di usia muda, ditambah lagi fisiknya dengan campuran darah Barat adalah nilai plus yang membuat semua orang berdecak kagum melihatnya. Saat ia mengisi dan berbicara, aula menjadi sangat sepi dan hanya suara Nando yang memantul kesegala penjuru. Andai diawal Nando tak memperingati mereka untuk tenang, mungkin mereka akan terus berteriak bak fans girl yang meneriaki idola mereka. Ia paling tidak suka diganggu ketika sedang berbicara.
Di tengah seminar, saat istirahat 10 menit tiba. Nando menerima telpon dari ibunya, yang mengatakan agar Nando segera pulang sebab Nandez-- kakaknya pergi dari rumah, permintaan itu ditolaknya sebab ia masih harus menyelesaikan acara itu. Ia akan langsung kembali ke Jakarta setelah seminar selesai. Dengan sedikit kesal ia melangkah menyusuri koridor yang sepi, menuju ke aula ketika pengumuman dari speaker di seluruh kelas dan koridor menggema.
"Assalamu'allaikum warohmatullohi wabarokatuh, mohon maaf kepada bapak/ibu guru yang sedang mengajar, serta anak-anak yang sedang belajar di kelas. Pengumuman ditunjukan kepada siswi bernama February Asmara kelas 12 Administrasi Perkantoran 4, harap menuju ruang TU sekarang juga."
Nando tak memperhatikannya, namun sosok gadis mungil berhijab lebar dengan seragam sederhana keluar dari aula, terburu-buru. Wajahnya terlihat panik sampai ia tak menyadari tali sepatunya terlepas.
Nando sedikit terusik dengan pemandangan itu. Ia bukan sosok yang perduli pada orang lain, selain pada yang berkepentingan, tetapi kali ini ia menatap sosok itu yang sama sekali tak menyadari keberadaannya. Sosok itu terus berlari melewatinya, ketika beberapa detik berlalu, sebelum Nando kembali masuk ke dalam aula, ia mendengar suara.
Bruk! Sontak Nando melirik dan ia melihat sosok gadis tadi tergeletak di lantai dengan mengenaskan, yah sudah bisa ditebak kalau gadis itu tersandung tali sepatunya sendiri. Ia tak perduli, hanya tersenyum miring. Siapalah yang bisa membasahi hati kering kerontang milik Nando? Bahkan jika ia melihat ada orang dianiaya di depannya, ia tak akan perduli, karena bukan bagian dari kehidupannya.
Nando memasuki aula, ketika tepat 10 menit waktu istirahat dan ia teringat dengan panggilan dari speaker juga gadis yang keluar dari aula tadi. Sudah pasti gadis tadi adalah Fabruary Asmara, gadis yang dipanggil melalui speaker.
__ADS_1
"Paling belum bayar SPP tuh anak," bisik seorang gadis di antara sekumpulan gadis peserta seminar.
Yah, Nando harus melewati barisan peserta jika akan menuju ke panggung lagi. Ia tak menghiraukan pujian receh dari samping kanan kirinya, ia hanya mendengar ucapan dari gadis yang membicarakan temannya. Lagi-lagi ia tak acuh dengan sekitarnya, ia hanya diam dan kembali melangkah ke atas panggung.
•••
Dua tahun berlalu Nando memimpin perusahaan milik keluarganya--setelah Nandez melepas jabatannya, alasannya ia tak mau berkecimpung di dunia bisnis. Maka selama setahun perusahaan mengalami perkembangan pesat di bawah pimpinan Nando, peraturan pun diubah. Banyak PHK dan perekrutan baru, dengan standar terbaru pula. Namun, pada hari terakhir interview Nando melihat data seorang dari SMK yang 3 tahun lalu ia datangi, kemudian ia melihat kembali foto si pelamar dan menyadari wajah yang tidak asing. Terlintas dalam benaknya gadis yang tergeletak memalukan di atas lantai, telah beranjak dewasa. Ia bahkan tak melihat bahwa gadis itu baru saja masuk semester 2, artinya tidak masuk kriteria calon karyawan.
Beberapa jajaran Corpration menentang seorang karyawan itu, tetapi dengan sikap otoriter Nando, ia tetap mengangkat gadis itu menjadi Notulis pribadinya. Padahal tugas Notulis bisa saja dipegang oleh kedua Sekretaris Nando, tapi ia membuat satu posisi baru untuk orang baru ini. Saat itu, Nando juga tak mengerti dengan dirinya sendiri, mengapa begitu menginginkan gadis itu bekerja di sisinya. Entah mengapa ia bertekad dan melawan semua kriteria yang telah ia bangun dengan kokoh, hanya untuk seorang Karyawan pemula yang bahkan belum memiliki gelar Strata satu.
Gejolak itu terjadi 5 bulan berturut-turut, penolakan pemberontakan, bahkan ia harus berhadapan dengan ayahnya sendiri. Sebulan cukup untuk meyakinkan ayahnya sehingga para jajaran pun tak berkutik, 3 bulan cukup untuk membungkam semua karyawan agar tunduk dengan satu keputusan final.
"Jika kalian tak setuju, lebih baik kalian mengajukan surat pengunduran diri. Saya tak peduli berapa lama kalian berdedikasi, pangkat dan Strata yang kalian miliki selama di sini. Yang saya tau, tidak ada yang pantas merendahkan seorangpun hanya karena status sosial. Karena sikap itu menggambarkan pola pikir anda, setua apapun anda jika tidak memiliki sikap dan pemikiran dewasa, untuk apa saya pertahankan? Ini pilihan, jadi pikirkan baik-baik. Mengenai Komisaris Utama--ayah saya, beliau sudah setuju," ia menyodorkan surat persetujuan lalu menampilkannya di layar monitor ruang rapat utama itu.
Seluruh petinggi Zach Corporation bungkam dan berakhir sampai 3 tahun lebih, tidak ada yang berani mengusik keputusan seorang Nando, atau balasannya PHK.
Flashback Off
Kelanjutannya dihapus untuk kepentingan penerbitan...
••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
...Season 1 END📝...
...Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍...
...WA : 085718339983...
__ADS_1