
@Kamar Pengantin
Tengah malam dan pasangan yang baru halal itu tak bisa tidur. Setelah sholat sunnah dan akan tidur mereka selalu gagal untuk tertidur. Gugup menyelimuti, hingga Nando memberanikan diri bicara.
"Belum tidur?" Feby menggeleng, ia masih memakai pakaian syar'i.
Nando tak mengerti situasi tersebut, ia juga membalas senyuman itu.
"Aku nyanyi, kamu mau dengerin gak?" tanya Nando awalnya Feby hanya diam, tapi akhirnya mengangguk.
"Mau!" ujar Feby semangat, jarang-jarang kan lihat Bos besar nyanyi. "Tapi emang kamu bisa nyanyi?"
Nando beranjak dari kasur dan menuju sudut ruangan, ada gitar yang tersandar masih di dalam wadahnya.
"Bisa dong, kok kamu kayak gak yakin gitu?" tanya Nando sambil sibuk mengeluarkan gitar dari wadahnya.
"Nggak gitu, kan kamu si workaholic. Gak nyangka aja kalo bisa nyanyi, trus bisa main gitar!" Feby sedikit terkagum.
"Yes aku bisa, and ini cuma khusus buat kamu kok, sayang!" ia mengedipkan sebelah matanya genit.
Feby menggeleng tak habis pikir, perubahan sikap Nando sangat pesat, sangat berbeda ketika mereka belum menikah. Bahkan selama resepsi Nando selalu menanyakan, 'apa kamu capek?', 'istirahat yuk!', 'bosen?', atau 'jangan senyum kalo sama cowok!' posesif sekali, Feby tersenyum mengingat hal itu.
Feby tak menyangka jika Nando sudah menyiapkan gitar, apa-apaan ini ia tak tau jika Nando bisa memainkan alat musik itu. Feby tak henti-hentinya tersenyum melihat Nando mengambil posisi duduk di bangku belajar milik Feby, memposisikan seperti artis yang akan bernyanyi dan di sanalah Fernando Zach, menyanyi secara khusus untuk istri tercintanya.
"Em... Pak!"
Nando yang sedang mengencangkan senar-senar gitar langsung terkejut dipanggil seperti itu.
"Aku nikahin kamu bukan buat jadi bapak kamu loh, sayang. Panggilannya yang mesra dong!" ujar Nando menggoda Feby.
Feby langsung menutup mulutnya, "panggil apa kalau gitu?" tanyanya menunduk malu.
"Ayang, cinta, beb, atau habibi?" Nando menaik turunkan alisnya.
"Mas aja yah?" tanya Feby.
"Gak mau, kamu manggil satpam sama OB juga, mas. Aku gak mau samaan sama orang lain loh pokoknya, harus khusus!" ucapnya sok merajuk.
Feby mengusap wajahnya, apa-apaan Nando malah sok manja gitu.
"Ya udah abang?"
"Aku bukan tukang bakso, sayang!" tolak Nando berbelit.
"Terus?" tanya Feby yang sudah angkat tangan menanggapi perkara kecil itu.
"Sayang, biar samaan. Sayangku!" ujarnya membuat Feby bersiap menolak, namun...
Jreng!
Nando memetik gitarnya, membuat Feby tak jadi protes.
Intro berjalan, kemudian...
__ADS_1
🎤Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Feby menutup pipinya dengan kedua tangannya malu, namun ia tak mengalihkan tatapan dari suaminya yang masih menyanyi. Suara Nando tak sebagus penyanyi aslinya, tapi tidak terlalu buruk untuk didengar.
🎤Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
🎤**Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
🎤Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang ku tahu
Kuingin disayangmu(melamarmu**)
**🎤Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
🎤Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
🎤Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin disayangmu(melamarmu)
__ADS_1
🎤Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
🎤Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh, satu yang kumau
Kuingin disayangmu(melamarmu**)
Feby tak berhenti tersenyum, mimpi apa dia dinyanyikan lagu romantis di malam pernikahannya.
"Ini khusus buat kamu aja, gimana? Suamimu ini cocok jadi penyanyi kan?" tanya Nando percaya diri.
Feby terkekeh tak menjawab, "iyain aja deh yah," ia masih saja terkekeh.
Berakhir saling lirik, Nando juga merasa kegugupan yang sama walau tidak seketara Feby.
"Ngomong-ngomong, gak ganggu nih malam-malam malah nyanyi-nyanyi gitu?" tanya Feby memecah keheningan.
"Gak perduli, ini hari spesial kita. Kita jadi raja dan ratu, jadi bebas dong!" jawaban santai Nando membuat Feby cemberut.
"Issh..." dengusnya.
•••
Uh... So sweet!
Nando mendekat dan mencium keningku agak lama, ia mengelus hijabku lembut dan tersenyum sangat manis. Lesung pipi di kedua pipinya terlihat imut menurutku, entahlah cinta itu mulai membuatku melihat setiap icin dari dirinya. 'Oh ini to yang buat para gadis berteriak histeris kalau ada dia? Ternyata memang ganteng, aku saja yang gak memperhatikannya secara detail.' Mata birunya itu menatapku dalam, sampai aku tenggelam dalam pesonanya.
"Aku berangkat dulu, kalau ada apa-apa calling-calling yah? Jangan lupa kangenin aku," ia menggerakkan tangannya seperti orang menelpon, sekaligus senyum menggodanya dengan kedipan mata genitnya.
Aku tersenyum melihatnya, menyodorkan tas dan ia meraih tas yang ada di tanganku itu sembari melempar senyum manis lagi padaku sebelum pergi, hingga masuk ke dalam mobil pun masih melambaikan tangan dan memberikan kiss udara. Aku terkekeh melihatnya dan ikut melambaikan tangan mengiringi kepergiannya. Alhamdulillah, aku telah menjadi istri seutuhnya untuk Nando. Allah Swt telah beriku kesempatan untuk itu.
•••
Dihapus untuk kepentingan penerbitan!
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
••• ••• ••• ••• ••• •••
Season 1 END📝
Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍
__ADS_1
WA : 085718339983