Karyawan Spesial CEO

Karyawan Spesial CEO
Karyawan Spesial


__ADS_3

"Sa... Saya tidak bisa kembali lagi pak, saya merasa bahwa saya harus berada di dekat keluarga saya, terutama ibu saya. Selama ini ia bertani dan berdagang sendirian, saya ingin menebus waktu yang hilang saat saya merantau. Lagi pula saya memang tidak berkompeten dalam tugas-tugas di kantor anda, pak. Kantor dimana seluruh pegawainya memiliki kriteria di atas rata-rata dan saya?" ia menunduk.


"Saya hanya karyawan yang direkrut dengan kebetulan, sudah lama sebenarnya banyak yang menginginkan saya keluar, tidak adil jika saya bukan lulusan luar negeri tetapi bisa masuk ke kantor anda dengan mudah." ucapnya panjang lebar.


Nando jadi bingung sendiri menanggapinya, apakah ia harus jujur di depan keluarga Feby?


"Kamu tidak percaya diri dengan kemampuan kamu? Bahkan dua kali kamu menyelamatkan perusahaan saya, jika kamu tidak menyelidiki kasus korupsi, dua kali ini, perusahaan saya bisa bangkrut kapan saja. Tentu saja kamu tidak kalah bagus dalam kinerja dan jasa kamu di kantor saya Feb. Apapun kata orang, mereka tidak tau siapa yang membongkar kasus korupsi kemarin, apakah perlu saya katakan pada semua orang jika kamu adalah orang yang mendapatkan semua bukti dalam kasus korupsi itu?"


Feby langsung mendongak, ia sama sekali tak mau telibat dengan kaum kapital, walaupun secara tidak langsung ia telah terlibat saat pertama kali menyelidiki kasus itu sendiri. Ia gelagapan, mengatupkan bibirnya kencang, gugup dan bingung menanggapi apa.


"Em... Saya mohon jangan pak."


"Tapi kamu jadi krisis percaya diri seperti ini hanya karena anggapan orang lain, saya tentu ingin bantu kamu menyelesaikan hal yang menghalangi kamu untuk merasa nyaman bekerja di kantor saya. Ibu..." ia menoleh ke arah Nining, "saya bersungguh-sungguh ingin meminta Feby kembali bekerja di perusahaan saya. Saya ingin menebus kesalahan saya juga padanya," tatapan itu sangat tulus, Nining menghela nafas.


"Saya menyerahkan semua pada Feby, jika memang ada kesalahan maafkan Feb, jangan dipendam. Apa yang membuat kamu sakit hati atau marah, ungkapkan. Biar nak Nando gak bingung, kamu sukanya diam-diam kalo ada apa-apa, kan orang lain jadi gak enak sama kamu," nasihatnya membuat Feby menunduk.


"Apakah kamu masih sakit hati dengan ucapan saya di telpon waktu itu?" tanya Nando tak sabar mendengar jawaban Feby.


Feby menggeleng, "saya hanya merasa jadi penyebab kemarahan bapak, setiap pak Zach berhadapan dengan saya, bapak pasti marah. Saya menyimpulkan bahwa penyebabnya memang saya," jawab Feby tak berani menatap Nando.


"Maaf yah bu," ia menatap Nining yang masih meendengarkan percakapan itu, sementara yang lain diam karena merasa belum paham dengan situasinya.


"Saya gak marah sama kamu Feb, saya hanya gak tau gimana caranya bicara baik-baik sama kamu di depan karyawan lain. Takut kalau saya gak bisa profesional kalau bicara baik-baik sama kamu," wajahnya memerah menahan greget, susah juga membujug Feby.


"Tapi sama yang lain?" Feby kehilangan sikap formalnya.


"Justru itu, saya gak tau kenapa, intinya kamu gak sama seperti karyawan lain." Nando baru sadar apa yang ia ucapkan.


Sementara ia dihujani tatapan terkejut dari semua orang di ruangan itu, termasuk Caka. 'Waduh, ganteng-ganteng gak bisa jaga image?' batin Caka memijit pelipisnya.


Sementara itu Rama yang greget dengan keadaan, akhirnya angkat bicara lagi.


"Kamu nganggep kakak saya apa kalo beda sama karyawan lain, apakah ini karena dia lulusan lokal?" tanyanya sinis.


"Mas," kini Farid menegur kakaknya, "maksud mas Zach, mba Feby adalah karyawan spesialnya pak Nando, mas Rama gak dengerin ceritanya dari tadi atau gimana sih?" ucapnya jadi ikut kesal dengan sikap kakaknya yang protektif pada saudari perempuan satu-satunya itu.


Rama diam saja melengos lagi, sementara semua orang menatap Nando meminta penjelasan dari kata-katanya tadi, Farid buka suara lagi.


"Ya kan mas Zach? Mba Feby spesial kan?" pertanyaan itu sontak membuat semua orang terkejut, sementara yang ditanyai menelan ludah.

__ADS_1


Apakah secepat ini ia mengatakan bahwa spesialnya Feby tuh, berkaitan dengan perasaan?


"Iya begitu dek, spesial atas dedikasinya di kantor saya. Saya bahkan berniat akan memberikan penghargaan jika Feby mau bekerja lagi di perusahaan saya." ucap Nando setelah menemukan alasan yang tepat.


Namun, ucapan itu membuat semuanya lega, begitupun Feby yang mulai mengangkat wajahnya lagi.


"Kalau tidak berkenan, juga saya tidak bisa memaksa. Bagaimanapun itu keputusan Feby. Saya hanya bisa mengungkapkan saja, dan jika memang Feby sudah memutuskan untuk resign, saya akan mengumumkan jasa kamu sebagai orang yang menemukan semua bukti itu pada seluruh karyawan kantor. Setidaknya kamu pergi dengan meninggalkan hal baik, agar namamu bersih dan kamu nyaman setelahnya. Sebab ini menjadi teka-teki bagi seluruh karyawan tentang kasus ini, tidak ada yang berani berasumsi," ucapan Nando membuat Feby semakin bingung harus berbuat apa.


"Jangan katakan pada seluruh karyawan pak."


Terpotong oleh Nando, "dan membuat semua orang menganggap kamu terlibat dalam korupsi ini, sebab kamu keluar sehari sebelum saya memecat direktur keuangan itu?"


Deg! Feby menahan nafasnya beberapa detik, namanya tercoreng?


"Kamu gak bisa keluar dengan nama yang tercoreng itu Feb," ucap Nining menggenggam tangan Feby.


"Tapi bu, aku mau di rumah aja!"


"Saya siap jadi tameng kamu kalo kamu ragu buat masuk kerja lagi, Feb!" balasnya membuat Feby dilema, kenapa Nando berubah-ubah seperti itu?


"Mungkin anak saya butuh waktu, nak." ucap Nining diangguki oleh Nando yang tersenyum.


Lihatlah Nando mulai menggunakan suap untuk merayu karyawan spesialnya itu, "mba Feby gak pernah naik pesawat," ujar Rama seperti sudah luluh dengan kesungguhan Nando.


"Baik, kereta bisnis." ia tersenyum lebar.


"Tapi... Saya belum tentu kembali lagi pak!" ucap Feby menampakkan wajah datar.


"Saya tunggu Feb, masih 6 hari lagi, 7 hari terhitung dari sekarang!" Nando tak kalah ngeyel.


Nando optismis bahwa Feby akan kembali ke perusahaan. Feby menghela nafas, ia kesal. Sikap bossy Nando tak bisa dibantah lagi.


Tiba-tiba dari arah pintu...


Brak!


"Assalamu'allaikum!" sapa remaja laki-laki dengan ceria memasuki rumah.


Semua orang menatap remaja itu dengan terheran, remaja itu menggunakan pakaian biasa dengan lumpur di seluruh tubuhnya, membawa sekantong plastik yang basah. Dan baunya amis khas sawah.

__ADS_1


"Kres!" panggil Feby yang malu dengan kelakuan adik bungsunya itu.


Kresna--remaja itu--menoleh dengan wajah polos, namun berubah terkejut ketika melihat ada bule di ruang tamunya. Detik berikutnya, ia ngacir pergi ke dalam rumah dengan sekantong plastik itu dan meninggalkan bekas becek di lantai.


"Maaf yah nak bagus, itu anak bungsu saya. Memang masih SMP jadi kelakuannya masih kekanakan."


Caka dan Nando mengangguk tersenyum.


Sebenarnya bagi mereka sikap Kresna lucu, hingga Feby beranjak dari duduknya dan pamit ke dalam untuk menghampiri Kresna.


@Dapur


Feby melihat Kresna meletakkan belut-belut itu ke dalam baskom untuk dicuci.


"Mandi dulu sana, bau sawah kamu!" ucap Feby mengambil baskom dari tangan Kresna dan mencuci belut-belut itu.


"Biasanya juga gini, ngomong-ngomong di luar itu siapa? Calonnya mba?" tanya Kresna penasaran.


"Bosnya mba, makanya sana mandi nanti gabung buat makan siang bareng." ujarnya langsung dituruti oleh si bungsu.


•••


Dihapus untuk kepentingan penerbita...


"Mas suka sama mba Feby?"


Deg!


Nando terkesiap, sementara Rama mulai menurunkan senyum, dan menatapnya penuh intimidasi.


•••


Nando terkejut, "bagi kami, tiada jaminan cinta sebelum akad!" tegas Rama membuat Nando kembali diam.


"Apapun yang kamu rasakan, pembuktian itu ada pada pernikahan. Saya harap siapapun yang menjadi suami mba Feby, adalah dia yang tulus dan memiliki Islam sebagai pondasi hidupnya. Cukup itu saja." lagi, kelanjutannya membuat Nando ragu untuk maju.


Sejauh itukah Feby dalam jangkauannya? Sebegitu tidak pantasnya dia? Bahkan ia tak tau do'a-do'a sholat.


•••

__ADS_1


__ADS_2