
@Ruang CEO
Feby izin ke toko sepatu Glory selama 1 jam, maka 1 jam berlalu ia sampai di kantor. Satu yang ia tuju adalah ruangan CEO, ketika Mely bertanya kenapa Feby ke ruangan Nando, Feby tak menjawab dan terus memantapkan langkahnya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" suara dari dalam langsung menjawab.
Ceklek! Feby melihat ada pak Hendra sedang berdiskusi dengan Nando, kemudian menoleh ke arahnya. Melihat ekspresi Feby yang tak biasa, datar dan penuh ancaman.
"Ada apa, Feb?" tanya Nando mengerutkan kening.
Feby masih diam, meredam semua kekesalannya, membuka smartphonnya kemudian memperlihatkan foto sepatu kedua adiknya. Hal itu membuat Nando merubah ekspresinya menjadi tersenyum manis.
"Itu hanya sedikit yang bisa aku berikan pada adikmu, anggap saja itu hanya bentuk rasa terima kasih karena sudah memperlakukanku dengan baik ketika masih di kampung halamanmu," ujar Nando masih tersenyum manis, lain halnya dengan Feby yang masih kesal.
Pak Hendra yang melihat situasinya pamit pergi, namun dicegah oleh Feby.
"Tolong temani kami pak, situasinya tak seperti biasanya," ujarnya memohon pada pak Hendra.
Orang tua itu menatap Nando, kemudian mendapat persetujuan melalui anggukan kepalanya. Mereka bertiga akhirnya duduk di sofa, Nando masih cemas dengan ekspresi Feby yang terlihat tak biasa.
"Saya akan mengembalikan 2 sepatu itu pada anda pak, kami tidak menerima sesuatu tanpa ada hajat yang jelas. Jika memang benar pemberian tersebut adalah bentuk terima kasih, anda telah mengucapkan terima kasih pada kami sewaktu anda di kampung, anda juga telah mengapresiasi saya dengan memberikan sebuah rumah. Tapi, tolong jangan buat kami merasa tidak ikhlas karena harus menerima balasan atas bantuan kami pada anda," ucapnya serius dan tegas.
Baiklah, kali ini Nando tak bisa santai lagi, ia juga harus serius.
"Okey, aku minta maaf, tapi jangan kamu kembalikan. Aku benar-benar ingin memberikannya pada adikmu, apakah itu hal yang salah?" tanya Nando bernegosiasi.
"Tidak, tapi anda salah orang. Harusnya anda memberikan sepatu-sepatu itu pada anak-anak kurang mampu, dimana sepatu mereka sudah tak layak pakai untuk sekolah. Bukan adik-adik saya, mereka masih memiliki sepatu yang layak pakai dan saya ingin melatih mereka untuk hidup sederhana walau sebenarnya saya mampu membelikan mereka sepatu yang baru," Feby tak habis pikir dengan olah pikir seorang Nando.
__ADS_1
Nando mengusap wajahnya, pasrah.
"Baik, aku salah. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya. Tapi please, jangan marah dan jangan kembalikan sepatu itu lagi."
Pak Hendra sedikit terkejut, memang belum ada yang tau pasal lamaran Nando pada Feby waktu itu. Ini permintaan maaf perdana seorang Fernando Zach pada seorang karyawan spesialnya. Dan lagi, sebutan 'aku'?
Feby kemudian bertanya, "alasan anda memberikan sepatu kepada adik saya? Karena apa?" tanyanya dingin.
Nando merasa bahwa ia telah membangunkan singa yang tertidur, emosi Feby sama sekali tidak terduga.
"Cinta..." Feby dan pak Hendra terbelalak, namun buru-buru Nando meralatnya, ia keceplosan.
"Karena aku ingin saja, please jangan mengembalikan sepatu itu. Sudah yah, Feb. Saya sibuk, silahkan kamu bisa keluar!"
Feby dan pak Hendra tercengang dengan sifat ganda Nando. Bagaimana bisa dalam satu deret ucapan bisa berisi dua sebutan 'aku dan saya'. Dengan 2 makna pula, 'aku' untuk orang terdekat dan 'saya' sebagai profesionalitas sebagai bos dan pegawai.
Nando salah tingkah dan beranjak dari duduknya, menuju kursi kebesaran di balik meja kerjanya. Sementara pak Hendra masih mengumpulkan seluruh analisisnya, ia ketinggalan berita. Ketika itu pula Feby beranjak dengan perasaan tak menentu, ia sedang kesal.
Setelah kepergian Feby, Nando melepaskan nafas lega, ia sempat kelimpungan saat melihat Feby yang terlihat marah.
"Apa yang terjadi?" tanya pak Hendra yang sedari tadi hanya bisa menebak-nebak.
Nando menyandarkan punggung dan kepalanya pada kursi yang langsung mengikuti dorongan punggungnya, posisi tidur.
"Aku melamarnya."
Pak Hendra super shock, ini berita langka tapi kenapa situasinya jadi rumit?
"Dia menolakku, tapi...
__ADS_1
•••
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
•••
@Eperan Mushola
"Nona Feby?" tanya seorang pria berpakaian sopir.
Feby yang baru selesai memakai sepatu fantofelnya pun mendongak, "iya, ada perlu apa yah pak?" tanyanya tersenyum tipis.
"Maaf sebelumnya," pria itu tersenyum sopan, "saya sopirnya bu Riana, ibu dari tuan muda Zach. Saya diminta untuk memanggil anda, karena beliau ingin bertemu dan bicara dengan anda," jelasnya hati-hati.
Mendengar nama itu disebut, Feby merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun, kabur bukan pilihan terbaik, justru ia akan semakin buruk di mata Riana.
'Bismillah!' batinnya.
•••
@Mobil
Riana dan Feby duduk di dalam mobil, Riana selalu menggunakan tatapan tajam pada Feby yang tengah menunduk itu.
"Beri tahu saya, apa yang bisa saya lakukan agar kamu menjauhi anak saya!" ujarnya to the point.
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
__ADS_1
••• ••• ••• ••• ••• •••