Karyawan Spesial CEO

Karyawan Spesial CEO
Kawanan Omnivora


__ADS_3

Akhir bulan, seusai rapat Feby langsung berkutat pada tugasnya dan mulai menyelesaikan laporan. Membacanya berkali-kali untuk memastikan tidak ada yang salah--typo atau bagian yang terlewat. Setelahnya ia menyerahkan pada Mely untuk di serahkan ke Nando.


"Masa mamahnya pak Zach ke sini tadi, Pak Zach ketangkep basah ngundang cabe-cabean terus dimarahin habis-habisan Pak Zech," ucap Mely bercerita.


"Salah sendiri itu mah,"


Yah, begitulah Feby tak perduli dengan urusan pribadi Zach, pernah sekali ia mengingatkan Zach tentang dosa zina, tetapi ia malah diberi SP, setelah itu ia hanya menyindir dan berakhir dimarahi. Selanjutnya ia memilih bungkam.


"Kasian sih, udah gede masih diomelin emaknya," ucap Mely sembari melihat laporan Feby.


"Sttt! Jangan gosip!" tegur pak Hendra yang sedari tadi mendengarkan.


"Haha!" Mely dan Feby tertawa, hingga pintu terbuka kencang.


Brak! Semua menoleh ke arah pintu ruang Sekretaris--ruangan Pak Hendra dan Mely, yang dibatasi dengan kaca ke arah ruangan Devisi Kesekretariatan, yang di sana ada meja Feby. Ketiga orang di ruangan itu terkesiap dan langsung berdiri tegak menghadap ke arah Bos besar yang habis diomeli ibunya. Feby sudah menduga, saat ini moodnya sedang buruk.


"Laporannya mana?" tanyanya dingin.


Feby mundur, bersiap pergi ketika Nando kembali membuka suara, "saya minta laporan kamu Feb, jangan lari dari tanggung jawab!"


Feby langsung terdiam di tempat dan menunduk, sementara Mely menyodorkan laporan milik Feby.


Nando memeriksa beberapa lembar, "kenapa kamu pakai tanda elipsis di sini!?" tanyanya keras dan menyentak, seperti biasa.


Feby dengan tampang tenangnya, tersenyum tipis kemudian menjelaskan.


"Sebab ini penjeda kalimat pak. Pak Wawan pada saat rapat bulanan tanggal 27 lalu, memang menjeda kalimatnya, kemudain melanjutkan setelah monitor menampilkan slide berikutnya dari power point," ucapnya setenang mungkin.


Sebenarnya itu tidak penting, tapi Nando mencari kesalahan Feby agar ia bisa marah-marah padanya sekarang. Untuk melampiaskan kemarahannya saat ini.


"Kamu nyatetnya detail gak sih?!" tanyanya lagi ketika membalik lembar berikutnya.


Tak! Nando melempar laporan ke lantai dengan kencang, membut ketiga orang itu kaget.


"Se--seperti aturan dalam menulis notulen rapat, tidak detail namun intinya saja. Seperti yang bapak jelaskan 3 tahun lalu pada saya, tidak perlu mendetail yang penting isi dalam rapat itu bisa di tertangkap dalam tulisan," jawab Feby gugup.


"Kamu mau bilang saya pikun?" tanya Nando memincingkan mata.


Mata birunya menyorot tajam ke arah Feby yang masih tersenyum paksa, "em... Tidak pak, saya tidak ada pikiran seperti itu. Tolong maafkan saya!" ia menunduk lagi.


'Baperan banget nih orang, bukan lpikun pak, tapi faktor U!' ingin rasanya menjawab seperti itu.

__ADS_1


"Kamu banyakan alesan emang yah, kurang detail ini. Bulan depan di setiap rapat harus detail, saya gak mau tau!" ucap Nando lagi dengan mendengkus.


"Baik pak!" jawab Feby patuh.


Sementara itu Pak Hendra tersenyum penuh arti, 'gengsian kamu Nan!' ucapnya dalam hati.


•••


Bres! Hujan turun membasahi kota Jakarta. Sore hari yang sibuk, lalu lalang jam pulang kantor juga mewarnai halaman gedung tinggi ini. Banyak yang berlarian menghindari hujan, ada juga yang sudah siap payung dan jas hujan ke arah parkiran. Mobil dan motor mulai meninggalkan area kantor, sementara Feby yang baru saja keluar dari kantor langsung mengorek isi tas punggungnya.


"Jangan bilang aku lupa lagi!" gumamnya panik dan terus mengorek isi tasnya.


Setelah 5 menit berlalu...


Deg!


"Beneran lupa, astaghfirulloh gimana bisa aku seceroboh ini?" gerutunya panik.


"Kenapa neng? Gak bawa payung?" tanya pak Toro--Satpam kantor.


"Enggak pak," jawabnya lesu.


"Saya bawa tapi kalo nanti malam hujan juga, saya bingung pulangnya," ucap pak Ardhi--Satpam kantor.


"Emang gak ada dokumen di tas kamu?" tanya sebuah suara yang baru saja keluar dari kantor.


"Ada, makan(ya)..." ucapannya terhenti ketika ia menoleh dan mendapati 30cm ke atas, wajah datar Nando terpampang.


Feby langsung menunduk tak melanjutkan bicara, sementara Nando meliriknya dengan tatapan sisnis. Sudah menjadi rahasia umum jika Feby terkenal sebagai tempat pembuangan amarah bagi Bos mereka. Sehingga tidak ada yang curiga tentang perasaan yang terselubung di sana. Sebab yang terlihat di luar adalah Nando yang selalu marah-marah pada Feby.


"Kasih aja payungnya, pak! Nanti dia buat alesan lagi kalo dokumennya basah!" ujarnya sarkas.


Pak Hendra yang mengerti langsung menyerahkan payungnya pada Feby yang terlihat canggung, "makasih pak, tapi nanti bapak gimana?" tanya Feby menatap Nando hati-hati.


"Saya pake mobil, ngapain pake payung?" jawabnya ketus.


Pak Hendra yang melihat situasi tak kondusif meminjam payung pada pak Ardhi dan menuju parkiran, mengambil mobil Nando. Feby mematung, ia hanya menatap halaman kantor yang sudah kosong.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Nando membuat Feby tersadar dari lamunannya.


"Ng..." ia menoleh ke kanan dan ke kiri, salah tingkah, "nungguin saya pulang?" sontak Feby menggeleng keras.

__ADS_1


Setiap gerakkan Feby diamati oleh Nando. Feby langsung membungkuk dan berlari menuruni tangga kecil, tetapi ia lupa bahwa sekarang sedang hujan. 'Gadis bodoh!' batin Nando menyeringai, sebenarnya ingin terkekeh seperti Pak Toro dan Ardhi di belakang, tapi gengsi.


Ketika hujan menerpanya, Feby kembali ke tempat awal berteduh dan membuka payung. Dan Feby lupa lagi, bahwa di sampingnya ada Nando yang masih berdiri tegak, ketika payungnya mengenai wajah Nando. Bug!


Pak Toro dan Pak Ardhi panik melihatnya, sementara Feby?


"Me... Maaf pak! Maaf! Assalamu'allaikum!" ia langsung kabur sembari memindah tas punggungnya ke depan.


"Febiiiiii.....y!!!!!!!" teriakan Nando menggema di halaman kantor, hingga Feby sampai ke ambang gerbang berlari menghindari amukan singa yang sedang mengamuk.


Oh tidak, wajah tampan Nando tertampar payung miliknya sendiri oleh Feby si karyawan spesialnya.


"Astagah!!!" geramnya.


Kebetulan Pak Hendra sudah siap di depan dengan mobil terparkir. Pintu belakang telah terbuka, sementara pak Hendra menghampirinya dengan payung, kemudian mempersilahkan Nando masuk.


•••


Dihapus untuk kepentingan penerbitan...


•••


"Saya emang keliatannya suka makan makanan mahal Feb, tapi gak selamanya saya makan makanan mahal. Jangan memandang orang sebelah mata, bahkan saya alergi sama seafood. Ibu saya gak membiasakan saya buat makan daging, walaupun saya doyan. Saya tetep dibiasakan makan sayur tiap hari. Selain itu saya doyan kok menu yang tiap hari kamu makan," penjelasan itu membuat Feby terenyuh, ia salah mengira.


Mely heran, 'menu yang dimakan Feby tiap hari? Bagaimana caranya pak Zach tau?' ia mulai curiga dengan sikap Nando kali ini.


"Maafkan saya pak, saya salah karena telah menyimpulkan tanpa tahu faktanya," ucapnya pelan dan menunduk.


Kali ini, Nando tak lagi memperlihatkan wajah garang melainkan datar. "Ck sudahlah, kamu kembali ke ruanganmu!" ucapnya kemudian beralih ke arah sekretarisnya.


••• ••• ••• ••• ••• •••


Bersambung...


••• ••• ••• ••• ••• •••


...Season 1 END📝...


...Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍...


__ADS_1


...WA : 085718339983...


__ADS_2