
Mobil mewah dengan design yang cantik berwarna merah terang, berhenti tepat di depan rumah keluarga Feby.
Nining yang sedang melayani pembeli pun menghentikan aktivitasnya, melihat siapa yang akan keluar dari mobil mewah itu. Dua ibu-ibu pembeli itupun ikut penasaran dengan pemilik mobil.
"Bu Ning kenal sama mobil itu?"
Nining menggeleng, kemudian keluar dari warungnya dan bergabung bersama 2 ibu-ibu itu, menunggu keluarnya orang dari dalam mobil.
Tak lama, seorang laki-laki berpakain hitam khas sopir keluar dari jok kemudi. Kemudian berjalan ke bagian melakang dan membukakan pintu untuk seseorang di balik sana.
Ketiga ibu-ibu itu menatap dengan tegang, ketika sebuah sepatu hight hils merah keluar dan menapak di atas aspal ciut itu. Kaki putih nan jenjang membuat ke 3 ibu-ibu itu terperangah, mereka heboh sendiri menanti siapa si pemilik kaki itu.
Maka, keluarlah seorang wanita berambut pirang gelap dengan tubuh bak model, ditambah dandanan mewah dan kacamata hitam bertengger di atas hidung bangirnya.
Dari mulai tas, jam tangan, baju, rok selutut dan sepatunya menggambarkan latar belakang yang jauh dari kata biasa. Bibir merah dan make up di balik kacamata itu memperlihatkan fitur wajah yang cantik bak bintang iklan. Walau tampilannya mewah, ia masih tau tempat dan mengenakan pakaian sopan.
__ADS_1
Anehnya, ia berjalan mendekati ketiga ibu-ibu yang tanpa sadar mengagumi tampilannya. Lihatlah cara berjalanannya saja anggun, padahal di atas kerikil dan rumput Jepang yang ada di pelataran rumah keluarga Feby. Rambutnya disanggul kecil di belakang.
Sampai-sampai Nining kembali melihat dirinya yang hanya memakai daster batik, ditambah sandal jepit dan hijab kecil berwarna coklat muda. Jauh!
"Permisi ibu-ibu," sapanya dengan senyum ramah.
Nining dan 2 ibu lainnya terbangun dari lamunannya dengan suara lembut itu. Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan tersenyum indah di balik bibir merahnya.
Ketiga ibu-ibu itu kembali terpesona melihat wajahnya yang benar-benar seperti bintang iklan. Walau sudah terlihat usianya 50an, tidak ada kerutan sama sekali. Namun, buru-buru Nining tersadar dari lamunannya.
Awalnya ia takut jika wanita bule itu tak bisa menggunakan bahasa Indonesia, andai Feby ada di sana mungkin bisa membantu. Tapi setelah mendengar sapaannya, ia yakin wanita itu bisa bahasa Indonesia.
"Saya mencari ibu Nining, apakah benar ini rumahnya?" tanyanya masih dengan senyum ramah.
Nining dan ke 2 ibu-ibu itu terkejut, "benar, saya yang bernama Nining."
__ADS_1
Ia agak ragu namun tetap mempersilahkan untuk masuk.
"Silahkan masuk dulu bu," ia mempersilahkan dan membuka pintu, masuk terlebih dahulu.
Kedua ibu itu sibuk bergosip, melupakan belanjaan mereka dan tertinggal.
•••
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
Nando sedang berbunga setelah mendengar rencana ibunya pagi tadi, ia tak sabar menanti hari itu. Namun, ia teringat pesan ustadz Furqon.
"Jangan terlalu ngarep, nanti kalo dia nolak. Kamu bisa aja kayak telor yang di lenpar ke langit trus jatuh. Pecah, lebur, remuk dan hancur. So... Harus siap dengan dua hal. Ditolak atau diterima. Optimis harus, tapi kalo gak inget kemungkinan kedua bisa depresi nanti. Kamu harus niatkan semua karena Allah Swt, dan kembalikan hasilnya pada Allah dan berusaha karena Allah. Okey?"
Nando berdzikir dalam hati, kemudian kembali berkutat pada kecintaannya, 'berkas-berkas kantor'.
__ADS_1
•••