
Seperti yang diperintah Nando, Feby selalu memberikan bekal tiap hari pada Nando, walaupun hanya seperti angin berlalu, menyerahkan bekal kemudian berlalu, selama pagi-pagi ia bisa mendengar suara dan melihat Feby di ruangannya, ia akan merasa lega, tenang dan fresh. Walau hanya beberapa detik sekalipun. Cinta? Ayolah, Nando tak semudah itu jatuh cinta, dan dengan gadis modelan Feby? Apakah dia sudah gila?
Setelah memberikan bekal pagi ini, Mely menghampiri Feby di ruangannya, mencari-cari kebenaran yang ia curigai sejak 1 minggu lalu, ketika Nando meminta Feby membuatkan sarapan setiap pagi.
"Feb," Feby menoleh ke arah perempuan bertubuh semampai itu yang tengah duduk di sampingnya.
"Kamu ngerasain gak, kalo sikap pak Zach itu berubah? Kayak lebih agresif gitu pas marahin kamu," tanya Mely memancing.
Dengan wajah polosnya, Feby menggeleng. Ia sama sekali tak menyadari hal itu, sebab ia sudah terbiasa dimarahi, diperintah dan diberikan tugas semena-mena oleh CEO mereka.
"Jadi lebih perhatian gitu sama kamu,"
"Heh!? Perhatian dengan marah-marah gitu? Serius?" tanya Feby menatap wajah Mely lekat-lekat.
"Ih!" ia mendorong pundak Feby pelan, "kamu gak pekaan banget sih jadi cewek!" Feby tersenyum kecut, apa salahnya?
"Feby yang baik dan buruknya, apa adanya! Huft... Gini yah, em... Pak Zach kayak sengaja buat kamu sering ketemu sama dia, kamu sadar gak sih? Di balik marah-marahnya dia, ada udang di balik bakwan!" ujarnya panjang lebar dan berbelit.
"Em... Hehe, aku gak suka udang, gatel dilidah!"
Mely melotot, bukan itu maksudnya. "Pak Zach suka sama kamu!"
"Hah?!!!" Feby langsung berdiri dan semua orang dalam Devisi Kesekretariatan menoleh, merasa terganggu dan kaget.
__ADS_1
•••
Sejak kejadian itu, Nando lebih sering menahan diri untuk tidak melihat Feby. Sudah selesai masa hukuman Feby yang memasakan makan siang untuk Nando, selama itu pula Nando tak perna protes dengan masakannya. Jelas, walaupun menunya tidak mewah, Feby selalu menghadirkan rasa yang membuat rindu, tanpa micin tentunya.
"Feb, pak Zach ke Amerika, katanya mau tunangan selama seminggu." ucap Mely ketika Feby menghampiri ruangannya.
"Oh ya? Berarti bentar lagi nikah dong," ucapnya senang.
Mely mengeryit bingung, "kok kamu malah seneng sih, kalo dia mau nikah?"
Feby ikut bingung mendapat pertanyaan itu, "memang aku harus gimana? Bagus dong kalo pak Zach nikah, artinya dia udah punya selingan, biar gak marah-marah terus sama karyawan." ucapnya semangat.
Mely mengelus dahinya pusing, "aduh kamu nih, emang prediksi dari mana setelah nikah dia bakal berubah?"
"Ya ampun Feb, polosnya kamu. Tapi sayangnya dunia ini penuh polusi--pemikiran jahat, kamu hati-hati yah? Kamu yang putih polos nanti bisa cemong kalo terpapar polusi yang kotor itu."
Feby tak mengerti apa yang dimaksud Mely, namun tetap terkekeh tanpa sekedar menghargai.
"Hehe, ngomong-ngomong itu cincin apa Teh?" menunjuk cincin di jari manis kiri Mely dengan hiasan mungil bunga sakura.
Tiba-tiba Mely mengalihkan gosipnya, dengan wajah malu-malu ia tersenyum dan menjawab.
"Aku udah dilamar sama Andi, 8 bulan lagi kami menikah!" ucapnya heboh, kemudian memeluk Feby erat.
__ADS_1
Pak Hendra yang baru masuk ruangan menggeleng maklum, anak muda. Feby ikut senang dan membalas pelukan itu,
"Alhamdulillah. Aku tunggu undangannya!"
•••
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
•••
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
••• ••• ••• ••• ••• •••
...Season 1 END📝...
...Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍...
...WA : 085718339983...
__ADS_1