
Buk! Bruk!
"Akhhh!" semua orang tercengang tatkala melihat Nando tersungkur di atas lantai rawat inap VIP itu.
Rama tak kuasa menahan bogem mentah ke arah pria dewasa yang sekarang tengah memegangi sudut bibir kanannya yang berdarah.
"Kamu tak apa-apa sayanga?" tanya Riana khawatir dengan anaknya yang ditinju di depan matanya sendiri, ia kemudian menatap Rama tajam, tak terima.
"Kau! Jaga sikapmu! Kau tau siapa yang kau pukul ini hah?!" bentaknya emosi.
Naluri keibuannya datang, Nando menahan tangan ibunya agar tidak bergerak lagi. Nining juga menahan Rama yang akan bertindak lagi, ia menangis melihat Rama yang terbawa amarah itu.
"Aku tak perduli siapa kalian, kakakku celaka karena dia!" bentak Rama keras menunjuk Nando.
"Sttt! Sabar Rama," Nining memeluk Rama menahan seluruh pergerakan Rama dengan sisa tenaganya.
Nining dan Rama baru saja sampai di Jakarta dan langsung menuju rumah sakit. Ketika melihat bagaimana Feby terbaring tak sadarkan diri dengan selang infus dan beberapa balutan luka di wajahnya membuat Nining menangis, sementara Rama terpancing amarah dan menyalahkan Nando atas semua yang terjadi.
Nando belum sempat menjelaskan, tapi ia harus menerima tinjuan terlebih dahulu, sungguh malang. Apapun itu, Nando siap badan jika harus babak belur seluruh tubuh, ia merasa bersalah--sangat. Setidaknya luka hasil pukulan adik Feby mampu menebus kesalahannya, walau ia sadar bahwa itupun tak cukup. Ia gagal melindungi gadis yang ia cintai.
__ADS_1
"Tapi bukan anak saya yang buat gadis itu terluka. Bahkan anak sayalah yang menyelamatkannya, jika kamu bertindak seperti itu lagi saya tak segan membawa kamu ke kantor polisi," ancam Riana marah sambil menunjuk Rama.
"Cukup ma, ini salahku!" ucap Nando tegas, ia mencoba berdiri dibantu Riana.
"Maka aku akan balik menuntut anakmu itu!" jawab Rama masih diliputi amarah.
Fernan yang tadinya hanya diam mulai angkat bicara, ketika Riana ingin membalas ucapan Rama.
"Biarkan Nando yang mengatasinya Riana, kau tak perlu ikut bicara," ia menarik Riana menjauh, membiarkan Nando menghadapinya sendiri.
"Baik, kita harus membicarakannya baik-baik, maafkan saya sebelumnya karena telat mengetahui keberadaan Feby."
•••
"Belum lah!"
Kenzo tertawa hambar, "yah, belum tenang sebelum lo ngehalalin tuh cewek yah?"
Nando mendelik, ini sudah pukul 9 malam, ia belum beranjak dari kantor ketika Kenzo datang berkunjung. Tiba-tiba, Kenzo menyodorkan kartu nama. Hal itu membuat Nando menaikan satu alis, tanda tak mengerti.
__ADS_1
"Ustadz kondang, kali aja orang perfeksionis macam lo maunya konsultasi sama ustadz berkelas."
Nando mendengus, "kata siapa?"
"Tapi serius, lo bakal enjoy sama dia. Percaya deh, dia masih muda terus asyik orangnya, ceritanya gak cuma masalah surga neraka, tapi juga tentang kehidupan. Cerdas dan caranya menjelaskan logis banget," ujar Kenzo, membuat Nando sedikit mempertimbangkannya.
"Okey, nanti gue pikirin." Ia menyimpan kartu nama itu di laci meja kebesarannya, kemudian kembali berkutat dengan berkas-berkas.
"Lah lo udah nemuin dia?"
Kenzo menggeleng, "belum, tapi dateng ke kajian umumnya dia. Pokoknya lo harus ketemu sama dia. Okay?" ujarnya kemudian ngacir pergi.
"Jadi dia ke sini cuma gitu doang? Gak mutu banget!" gumam Nando melihat kepergian Kenzo.
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
__ADS_1
••• ••• ••• ••• ••• •••