
Hari ke-4, hari terakhir Nando dan Caka bertandang ke rumah Feby untuk berpamitan, namun kebetulan mereka bertemu kakek Feby yang sedang berkunjung ke rumah anaknya.
Pada akhirnya Nando dan Caka harus menghadapi kakek Feby yang sudah beruban itu.
"Nak, kalian berdua jauh-jauh dari Jakarta cuma buat plesiran (jalan-jalan) to?" tanya Supriatno, dengan santai setelah menyeruput tehnya.
Nando terkesiap ketika mendengar kata asing itu, ia sama sekali tak mengerti bahasa daerah. Kecuali 'ora', 'matur suwun', 'ambyar', 'lambe turah', 'tresno', 'mbuh', 'koe', ada dari daerah lain, namun sangat minim. Itu pun karena memang kata-katanya yang tengah viral di kalangan milenial.
"Hehe, mboten (tidak) mbah! Saya sama teman saya bermaksud menyelesaikan permasalahan, sebagai bos dari Feby, Zach ini melakukan kesalahan kepada Feby." ucapnya sopan.
Untung ada Caka yang mengerti bahasa Jawa, tidak sia-sia ia memberikan mobil sportnya, hanya untuk 1 minggu menemani misinya di tanah Jawa itu.
"Owalah, dadi koe cah, bose putuku? (jadi kamu nak, bosnya cucukku?)" tanyanya sedikit tak bersahabat.
Nando tiba-tiba gugup, ayolah ia biasa digertak tapi tidak di pelototi seperti sekarang ini, seperti kriminal.
"Iya mbah, saya mengakui kesalahan saya dan saya sudah keterlaluan. Sehingga saya meminta maaf pada Feby agar kembali lagi bekerja di kantor saya, mbah," ucapnya hati-hati.
Namun, Supri tak mengindahkannya malah berdiri dan menunjuk wajah Nando penuh amarah. Wajah tua berkulit sawo matang itu memerah, sementara Nando sudah menelan ludah, bersiap dengan kemungkinan terburuk.
"Ora! Pokoke Feby ora ulih kerja nang kantoran meneh, mbajuk koe wis nglarani ati putuku wedon! (Tidak! Pokoknya Feby gak boleh kerja di kantoran lagi, kurang ajar kamu sudah menyakiti hati cucuk perempuanku!)" ucapnya sedikit berteriak.
Caka dan Nando ikut berdiri dan kebingungan agar Supri tenang kembali, hal itu mengundang Nining, Feby dan Rama yang sedang di dalam rumah, keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ana(ada) apa pak? Ora usah kesuh, diomongena apik-apik kan bisa. (Gak usah marah, dibicarakan baik-baik kan bisa) Tenang," ucap Nining lembut sambil menuntun ayah kandungnya untuk duduk.
Supri menurut, namun raut kesal masih hinggap di sana. Nando dan Caka masih berdiri, takut dengan kemarahan Supri selanjutnya.
__ADS_1
"Udah duduk lagi nak, kita bicara baik-baik. Maaf yah bapak saya sudah tua, jadi kayak gini, hehe..." ujar Nining, mencoba mencairkan suasana.
Nando dan Caka menurut, dengan canggung mereka menatap meja kayu di depan mereka.
Tak lama, Feby dan Rama datang sehabis menyiapkan makan siang. Mereka membawa nasi dan berbagai lauk, akhirnya kemarahan Supri teralihkan.
Satu hal yang Nando sadari dari Feby, ia memiliki kelembutan terhadap keluarganya termasuk sang kakek. Wajar jika tadi Supri marah ketika mengetahui Nando telah membuat kesalahan pada cucu kesayangannya itu.
"Bi," Feby menoleh ke arah Supri,
"Nggeh ki (kaki \= kakek), ana apa?" tanyanya dengan senyum manis.
Melihat itu Nando meleleh, "ojo santek koe mbojo, ulih wong kaya kae! (Jangan sampai kamu nikah, dapet orang kaya dia!)" menunjuk Nando.
Nando yang sedang menyuap nasinya pun bingung, ada apa dengannya? Namun, Feby tak menggubris dan mengalihkan pembicaraan dengan meletakkan ikan asin balado di atas piring Supri. Hal itu membuat Supri sibuk dengan obrolan lain. Orang tua itu sudah kembali kepada masa kanak-kanak, perhatian, cinta, serta kelembutan adalah yang ia butuhkan.
"Ki, pak Zach itu bener marahin Feby. Kan pak Zach marah karena Febynya salah, masa gak salah di omelin kan gak baik, ki," ucap Feby membuka suara.
Supri melengos, persis seperti anak kecil. Sementara Nando dan Caka hanya diam melihat tingkah kakek itu. Rama terkikik sendiri, kakeknya memang selalu manja jika berhubungan dengan kakak sulungnya itu.
"Koe (kamu)!" ia menunjuk Nando, membuatnya yang di tunjuk terkesiap dan menatap Supri serius.
"Awakmu keker, duwur, akeh otote. Nek koe temen-temen njaluk ngapura meng putuku, koe kudu gelem mbuktekena, ora ukur omong tok! (Badanmu kekar, tinggi, banyak ototnya. Kalau kamu benar-benar minta maaf pada cucuku, kamu harus mau membuktikan, tidak cuma bicara saja!)."
*Awakmu \= Badanmu. Kalau di Kebumen dalam bahasa ngapak, 'awak' itu tubuh/body, kalau bahasa Jogja dan Solo mungkin 'awak' bisa diartikan diri/self.
Nando kebingungan, sampai akhirnya Caka menerjemahkan ucapan Supri dengan bisikan.
__ADS_1
"Gue di tantang nih?" tanya Nando pada Caka, sedikit gugup.
"Mampus lo, nan! Gue gak ikut-ikutan kali ini."
Nando mendelik ke arah Caka yang pura-pura sibuk dengan menatap ke arah lain.
"Baik mbah, kira-kira apa yang harus saya lakukan agar mendapat maaf dari mbah?" tanyanya pelan.
Feby menatap kakeknya harap-harap cemas, ia tak tega melihat jika bosnya itu diberikan tugas yang berat.
•••
Jreng!!!
Nando sudah berada di sawah bersama Supri, tidak ada sepatu boot atau pelindung lain, kaki putih panjangnya langsung masuk ke dalam lumpur sawah untuk pertama kali seumur hidup seorang Nando.
Terik matahari juga sepertinya tidak perduli, terik mentari malah seolah tertawa mendapat mangsa untuk digosongkan kulitnya melalui cahaya panasnya. Belum apa-apa keringat Nando sudah keluar semua, kaos yang dipakainya basah. Ia tipe bule yang tidak suka berjemur macam bule-bule di Bali. Dan situasi saat ini, membuatnya frustasi setengah mati.
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
"Aku..."
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1