Karyawan Spesial CEO

Karyawan Spesial CEO
Lamaran


__ADS_3

Semua kembali normal, Feby sudah sembuh dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi.


Nando juga masih sibuk dengan pekerjaannya, tapi anehnya ia tak lagi berani berhadapan dengan Feby terlalu lama. Entah mengapa, hanya tidak ingin melibatkan perasaan. Sosoknya berubah dingin, lebih dingin dari biasanya, sedingin-dinginnya. Dunianya seakan kosong, ingin melupakan Feby, sementara itu ia mengamati sebuah kartu warna hijau daun dengan paduan hijau toska. Kartu nama yang kata Kenzo, milik ustadz kondang yang akan membuat kita enjoy dengan pembahasa Islam dengan cara logis.


Nando ragu, pikirnya agama membuat orang jadi kolot dan kaku. Terkekang dan kehilangan kebebasan, tapi ia pun ragu dengan hidupnya. Apakah benar bahwa kebebasan adalah kunci dari kebahagiaan, sementara ia sudah mendapatkan itu, tapi hatinya masih kosong dan gersang tak tersentuh.


'Apakah pemikiranku yang salah?', ia tak tau. Tapi dengan yakin ia membawa jempol kanannya mengetik 12 digit nomor di iPhone mahal, dengan ruang penyimpanan 512GB itu.


Entah kenapa ia merasa gugup, ada sebagian dirinya yang menyatakan untuk membatalkan panggilan, ada yang menyatakan untuk melanjutkan.


Namun, ia tetap melanjutkan panggilan itu, hingga suara laki-laki dewasa dan renyah, menyapanya dengan salam.


"Assalamu'allaikum, saya Furqon Cahyono, dengan siapa dan ada perlu apa?" tanya sapaan dari sebrang.


Nando terdiam sejenak, "wa--wa'allaikumsalam, bisakah kita bertemu?" What? Pertanyaan macam apa itu, tetapi suara dari sebrang membuat Nando tersadar.


"Hehe, maaf dengan siapa dulu, jangan buru-buru," ujarnya dengan kekehan kecil.


"Saya, Fernando Zach. Anda bisa memanggil saya Zach atau Nando. Saya..." belum sempat melanjutkan.


"Masyaa Allah, saya merasa terhormat ditelepon oleh pengusaha terkenal. Kira-kira kenapa anda ingin bertemu dengan saya?" tanya dari sebrang, masih dengan nada menyenangkan.

__ADS_1


"Anda tau saya?" tanya Nando terkejut.


"Alhamdulillah, hampir setiap minggu anda masuk dalam time line berita bisnis di Indonesia. Kebetulan saya juga mengikuti berita bisnis."


"Oh seperti itu rupanya," Nando menarik nafas, ia tak pandai bicara santai.


"Saya akan jelaskan alasan mengapa saya ingin bertemu dengan anda, ketika kita bertemu nanti. Bagaimana kalau hari senin jam 1 sampai jam 3?" tanya Nando melirik jadwal di tambletnya.


"Saya ada jadwal kajian untuk satu jam, dari jam 1 sampai jam 2. Mungkin bisa hanya setengah jam saja, dari sehabis mengisi kajian sambil menunggu waktu asar. Nanti setelah asar bisa disambung ada waktu satu jam."


Nando berfikir lagi, setengah 4 ia harus meeting dengan klien. Akhirnya ia rela menggeser waktunya, untuk menemui sang ustadz.


•••


@Ruang CEO


Dihapus untuk keentingan penerbitan...


"Jadi kamu yang namanya Feby? Si anak yang waktu itu diculik trus masuk rumah sakit?" tanyanya beruntun.


Feby menelan ludahnya sendiri, "benar bu!" jawabnya menunduk.

__ADS_1


"Mom, dia diculik juga karena perusahaan. Gak usah ungkit-ungkit lagi!" ucap Nando menahan marahnya.


"Belain aja terus Nan, kamu dipelet yah sama dia?" sinis.


Feby terkejut, ia menatap Riana tak mengerti, kenapa jadi pelet-pelet segala sih?


"Please mom, jangan mancing!" peringatan keras dari Nando.


"Mancing gimana sih Nan? Kamu itu harus pergi ke optik kayaknya. Apa yang kamu lihat dari gadis sepertinya? Apa yang kamu lihat darinya sampe kamu berniat ngelamar dia segala?" omel Riana tak puas.


Wanita asli Amerika itu menatap Feby tajam, jelas si gadis mungil yang pendiam itu ketakutan dengan situasinya. Namun, ia tetap memberanikan diri memperjelas.


"Maaf bu, tapi apa yang terjadi kenapa ibu bilang saya melet pak Zach, dan siapa yang sebenarnya mau dilamar pak Zach? Kenapa saya terlibat di sini?"


"Kamu gak usah sok polos deh!" Riana dengan ketus membalas.


"Mom!" Riana diam, kemudian Nando beralih menatap Feby yang kebingungan.


"Maafkan saya Feb, saya memang punya niatan untuk melamarmu menjadi istriku, tapi..." Nando menghentikan ucapannya ketika melihat ekspresi Feby yang datar dengan tatapan kosong.


"Feb!" panggil Nando menyadarkan Feby dari lamunannya.

__ADS_1


__ADS_2