Karyawan Spesial CEO

Karyawan Spesial CEO
Resign SEASON 1


__ADS_3

Di sisi lain Feby baru saja kembali dari mushola selepas sholat 'asar, ponselnya berdering dan menampilkan nomor pribadi Nando.


Menggunakan via WhatsApp, ia segera duduk dan menerima telpon itu dengan hati-hati.


Klik! Belum sempat menyapa, dari sebrang sudah menyembur duluan.


"Dari mana saja kamu?!" tanya Nando galak.


"Habis sholat 'asar pak, apakah ada yang bisa saya bantu?" jawabnya hati-hati.


"Gak usah bantu saya, tanggung jawab kamu, koreksi data keuangan yang bakal dikasih ke calon investor, kenapa bisa salah?!" bentaknya membuat Feby terkejut.


Beberapa karyawan Devisi Kesekretariatan menoleh, penasaran siapa yang sedang bicara dengan Feby, sebab Feby menyebutnya 'pak' sudah dipastikan bahwa itu Nando. Mereka berbisik-bisik dan menatap Feby merendahkan.


"Saya sudah serahkan ke Devisi Keuangan, saat ini masih dikerjakan, saya juga sedang mencocokan data keungan itu pak..." ucapannya terpotong.


"Jadi kamu mau nyalahin Devisi Keuangan sekarang?" tanyanya terlihat menodong.


Feby panik, "tidak pak, sama sekali tidak ada maksud begitu. Namun, data yang tidak sesuai tersebut memang dari data keuangan, makanya hari ini akan coba kami selesaikan bersama."


"Kamu sadar gak sih kalo kesalahan itu ada sama kamu? Kenapa berkas bisa sampai pada saya ketika ada data yang tidak balance di sana? Kenapa?! Kamu gimana koreksinya?!" bentaknya lagi.


Bukankah urutannya konfirmasi pada Mely dahulu selaku penerima data dari hasil koreksi Feby? Mely juga ikut mengoreksi, dan kelalaian itu bukan hanya kesalahan Feby.


Feby menarik nafas, mencoba tetap tegar.


"Maaf pak, saya salah karena tidak teliti..." terpotong lagi.

__ADS_1


"Kamu sadar gak sih, ketidak telitian kamu sudah keterlaluan! Saya kehilangan calon investor karena satu orang bebal model kamu!" omel Nando lagi, beserta makian.


"Saya akan perbaiki pak,"


"Sampai kapan Feby? Sudah 3 tahun kamu masih melakukan kesalahan, kamu mau tanggung jawab pada devisi keuangan, emang kamu tau apa tentang data keuangan mereka? Kamu gak bisa apa-apa, kamu pikir saya cuma ngurusin kesalahan kamu doang?! Saya capek harus marah-marah terus sama kamu Feb, kamu selalu menyebabkan masalah dalam proyek besar, saya capek ngadepin kamu Feb. Selalu mengulang kesalahan yang sama. Apa kamu gak capek dengerin saya marah terus?! Kamu mikir dikitlah!" marah, lagi, lagi dan lagi.


'Selalu menyebabkan masalah? Capek pak, saya capek hati, capek pikiran juga dengerin kemarahan bapak. Apalagi ketika itu bukan kesalahan saya,' ia terdiam, mempertahankan diri agar tidak menangis.


"Kenapa diam!? Gak bisa jawab kan?!" lagi, membentaknya.


Feby tak sanggup lagi, "lalu apa yang harus saya lakukan pak?"


"Pikir sendiri!" tuh kan, mana bisa seperti itu?


"Saya akan coba bicara pada Devisi Keuangan, saya akan membantu mereka juga pak," balasnya bergetar.


Hening sejenak, tapi masih menyambung, terdengar helaan nafas dari sebrang.


"Saya muak Feb, liat kerja kamu seperti ini! Saya bahkan gak bisa liat muka kamu lagi saat pulang 3 hari ke depan, kepala saya bisa pecah kalo kayak gini terus!"


Ini pertama kalinya walau hinaan sudah biasa. Tapi kata 'muak' atau 'gak bisa lihat muka kamu lagi...' ini pertama kalinya.


"Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan dalam data ini pak, say..."


"Kamu bisa apa? Gaji kamu aja cuma 5 jt! Gak bisa mengatasi hal ini, nilai investasi ini ratusan juta, kamu bisa apa?" nadanya rendah namun seperti sudah final.


Feby diam lagi, kali ini dia benar-benar ingin menangis. Ia tak punya jalan keluar, usahanya tidak disetujui, lalu apa yang harus ia lakukan. Matanya berkaca.

__ADS_1


"Saya muak sama kamu, Feb!" geraman dari sebrang kembali mencubit hati Feby.


Feby diam, kemudian mematikan sambungan telepon. Setelahnya Nando menghubunginya lagi. Namun, Feby tengah menuju ke lantai bawah untuk mengecek data yang bermasalah tadi dan meninggalkan ponselnya. Ia bertemu dengan pak Hendra, sampai 3 jam kemudian ketika data itu kembali bermasalah. Pak Hendra telah bicara pada Nando untuk membuat laporan baru dengan data sebenarnya. Jam 6 sore, semuanya selesai dan sudah diserahkan pada calon investor.


Melihat data itu, Feby kembali menduga bahwa ada yang korupsi dan memalsukan data.


"Maaf pak, bukannya saya lancang yah, saya curiga dan saya perlu bukti. Saya akan berusaha sebelum pak Nando kembali, saya akan buktikan padanya." tekadnya di hadapan pak Hendra.


Pak Hendra tersenyum dan mengangguk, ia sudah menganggap Feby seperti putrinya sendiri, tekad dan ketabahan Feby, ia bangga pada anak itu. "Kalau perlu bantuan, hubungi saya," Feby mengangguk.


•••


Dihapus untuk kepentingan penerbitan...


••• ••• ••• ••• ••• •••


Bersambung...


••• ••• ••• ••• ••• •••


...Season 1 END📝...


...Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍...



...WA : 085718339983...

__ADS_1


__ADS_2