
"Apakah kalian memiliki perjanjian, barang jaminan yang akan diambil jika nunggak cicilan?" Nando mulai mengeluarkan sikap tegasnya, "apakah ada berkas perjanjian dengan jaminan barang? Dimana dokumennya?" tanya Nando marah.
Nandez mendekati adiknya memintanya diam, tapi melihat tampang licik itu membuat Nando tambah marah dan mengabaikan Nandez.
"Hehe, barang-barang itu bahkan tidak cukup membayar hutangnya," pria itu melirik Nandez merendahkan, "jadi untuk apa ada surat? Kita akan tetap menang dalam hukum karena barang-barang ini masih tak bernilai." ia menepuk-nepuk barang antik yang ada di tangan tukang di sampingnya.
"Sialan kau!" bentak Nando menunjuk wajah pria itu, "berapa?! Biar aku yang bayar!"
"Nando hentikan!" teriakan Nandez tak didengar oleh Nando, adiknya itu dengan amarah membara berlari ke arah pria menyebalkan itu dan menerjangnya dengan satu tinjuan.
Bruk!
"Nando!" Nandez dan Feby berteriak memanggil namanya.
Hampir saja Nando melayangkan tinju lagi kalau tidak ditahan oleh anak buah pria itu dan Nandez yang mengejarnya.
"Aku bilang hentikan, bodoh!" bentak Nandez menarik Nando menjauh. "Kau tak tau apapun, jangan menambah masalah dengan kemarahanmu itu!" bentak Nandez ada Nando sambil mendorongnya keras.
"Ah, ini drama yang sangat mengharukan. Lihat bagaimana anak tengik sepertimu menyelesaikan masalah saudaramu itu, kalian terlihat mirip."
"Tutup mulutmu, brengsek!" bentak Nando masih diliputi amarah.
__ADS_1
"Nando aku bilang diam!" Nandez kembali memperingati, tapi Nando malah mengeluarkan smartphonnya dan menelpon seseorang.
Ia melirik tajam ke arah pria menyebalkan itu yang mendapat luka lebam di pipi kirinya. "Berapa nominalnya?"
"Nando! Apa yang kau lakukan?" Nandez mendelik ke arah adiknya sementara Nando mengalihkan pandangannya ke arah pria menyebalkan itu.
"Tiga miliar," pria itu seperti mendapat angin segar, tersenyum penuh kemenangan.
Nando tak menyngka nominalnya sebesar itu padahal Nandez sudah membayarnya lebih dari setengah hutang pokok.
"Long Ze kirim pak Ten ke sini, bawa sekalian cek dan uang tunai 3 miliar."
"Ada apa sebenarnya?" Long Ze malah bertanya.
"Ok..."
Tut!
"Kembalikan semua barangnya, orangku sedang menuju ke sini," perintah Nando pada pria yng masih setia menyeringai itu.
"Kau kira aku bodoh? Kau mau menipuku?"
__ADS_1
"Bangsat kau! Baj..."
Belum selesia mengumpat, Feby menggenggam tangannya, ia tak tau kapan Feby di sampingnya tapi ia tengah berusaha menahan tangisnya. Nando baru menyadari istrinya ada di sana, ia hampir mengabaikannya. Tangan Feby bergetar, ia sangat ketakutan dan Nando tau itu. Ia mengencangkan pengangan tangan Feby dan beralih menatap Nandez yang sedang menenangkan istrinya yang masih menangis.
"Aku tak mengerti kenapa ada orang kaya tapi saudaranya punya banyak hutang. Tapi aku tak perduli, yang penting urusan kita selesai." orang itu membual.
Hampir saja Nando bergerak akan mengumpat, tapi Feby menahannya. "Please, tahan! Aku di sini, tahan." bisik Feby penuh penekanan, ia mencekal lengan Nando sangat kencang, takut jika Nando hilang kendali.
Mereka masih berdiri menunggu pak Ten datang. Setelah 10 menit berlalu, pak Ten muncul dengan tergopoh membawa seorang sopir. Pak Ten dan sopir itu membawa masing-masing satu koper. Ditambah, ada tas punggung yang dibawa pak Ten.
"Kau lama sekali!" Nando kembali ke mode kurang ajar ketika marah.
•••
Dihapus untuk kepentingan penerbitan
Dihapus untuk kepentingan penerbitan
••• ••• ••• ••• ••• •••
Bersambung...
__ADS_1
••• ••• ••• ••• ••• •••