
Hari yang ditunggu telah tiba, tatkala Feby harus pulang dan manyiapkan mental untuk mempertimbangkan seseorang.
"Mba Feby!" Farid menghampiri Feby yang tengah melamun.
"Ngapain bengong? Kesurupan baru tau rasa!" ujar Farid yang memiliki sifat santai itu.
Feby hanya melirik ke arah adiknya, kemudian kembali menatap pemandangan sawah di belakang rumah kakek mereka. Farid membawa 2 gelas es teh manis yang baru saja dibuat oleh Bibi Ayu, adik ipar Nining dan istri dari Widodo--adik kandung Nining. Ia kemudian duduk di samping kakaknya dan menyerahkan satu gelas pada Feby.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Feby asal, ia menerima gelas dari tangan Farid.
"Nemenin mba yang lagi menyepi. Lagian yah..." Feby menoleh sinis, kemudian menatap pemandangan lagi.
"Biasanya orang yang mau dilamar itu seneng, bahagia, berbunga. Lah ini, malah galau, nyepi, lesu, lunglai. Kenapa emangnya sih mba?" tanya Farid kepo.
Feby malah tersenyum mendengar ocehan adiknya yang cerewet itu, "mba hanya belum siap aja, mungkin takut jika orang itu gak menerima semua kriteria mba dalam mencari pasangan hidup," ia mengaduk-aduk es teh dengan senyum tipis dan tatapan sendu.
Farid berhenti menyedot es tehnya ketika melihat situasi yang jauh dari kata baik-baik saja, atau bahkan bahagia.
"Pernikahan adalah perjalanan seumur hidup Rid, mba ingin memiliki pendamping yang selalu mendukung dakwah, memprioritaskan Allah Swt dalam hidupnya, sehingga nantinya keluarga kami akan menjadikan aqidah sebagai pondasi. Bukan sekedar cinta yang bisa pudar oleh waktu. Mba juga gak tau siapa orang yang besok akan datang ke rumah. Yang pasti, mba harus bersiap, mungkin lebih fokus ke kata-kata untuk menolak atau menerima."
Kemudian ia menyedot es tehnya pelan, seperti tak menikmati.
"Udah istikhoroh?" tanya Farid.
__ADS_1
Feby mengangguk, "belum ada jawaban."
"Semoga apapun itu, aku berdo'a yang terbaik buat mba. Aku sih ngarepnya, dia laki-laki yang tepat buat mba, apalagi ibu udah ngebet banget pingin punya cucu. Kemarin pas lebaran haji, ibu gendong si Jasmin anaknya mba Ajeng, ibu bilang pingin banget gendong cucu. Hehe!" ia menjeda, "tapi semua kembali ke mba Feby, karena mba Feby yang menjalani, aku dan ibu cuma bisa do'ain," ujarnya tersenyum.
Feby tersenyum, sungguh ia belum siap. Tapi, waktu ia mengikuti kajian ibu-ibu menyindir para jomblo.
Dan ustadzah Reni bilang, "jika kita nunggu siap, kita gak bakal siap. Liat aja ketika dulu kita memutuskan berhijab, pasti kita banyak alasan untuk menunda. Tapi di zaman yang keras ini, kita butuh teman untuk mengarungi kehidupan dan menjaga kita. Maka dari itu, seperti kata ustadz Felix bahwa 'kesiapan itu hadir setelah action, bukan sebelum action!' nanti kalo udah nikah juga siap gak siap harus siap! Yah, nikah itu sunnah tapi sistem kapitalis membuat nikah itu jadi kewajiban dalam beberapa kasus. Coba aja kalo kalian jomblo, eh di deket kalian ada pasangan halal lagi mesra-mesraan, ada sih yang gak baper. Tapi masa kalo tiap hari disuguhi pemandangan begituan, gak baper?" Feby tersenyum mengingat itu.
"Yeu, tadi murung sekarang senyum-senyum, jangan bilang udah kerasukan yah mba?" ujar Farid meledek.
Feby langsung cemberut, "apaan sih!" ia mendengus kemudian beranjak meninggalkan Farid.
"Gitu tuh, cewek. Tiba-tiba murung, tiba-tiba nelangsa, udah dihibur...udah tenang, nah lanjut senyum-senyum gak jelas. Udah senyum-senyum, ditinggalin nih adeknya yang berbaik hati menghibur! Gue apaan sih mba bagimu?" gerutu Farid dramatis.
"Awas kau Kres! Aku do'ain bakalan dapet kakak ipar tajir!"
Farid, Farid... Entah itu umpatan atau do'a, tapi apakah dia dalam keadaan teraniaya sehingga do'anya akan dikabulkan? Tidak, dia hanya berlebihan menyikapi sesuatu.
•••
Esok harinya, Feby telah didandani dengan dandanan yang lebih baik dari biasanya. Ia sempat berdebat dengan Lilis sahabat baiknya, yang mendandaninya ala pengantin. Tapi, Feby tetap menang debat untuk mendandaninya sederhana. Semua keluarga besar, kerabat, tetangga, juga teman-teman Feby datang.
Padahal bukan acara pernikahan, tapi banyak yang penasaran dengan kabar lamaran itu. Jam 8 tepat, deru suara 2 mobil berhenti di depan rumah keluarga Feby.
__ADS_1
Hal itu membuat Feby deg-degan setengah mati, melihat siapa yang datang. Ia menunggu di ruang tamu bersama keluarganya, menyambut rombongan yang ditunggu-tunggu.
"Assalamu'allaikum!" sapa seorang laki-laki paruh baya yang memiliki wajah tegas tapi senyumnya sopan mengembang.
"Wa'allaikumsalam!" jawab semua orang kemudian muncullah orang lain di belakang laki-laki itu.
"Pak..." seolah suaranya tercekat dalam tenggorokannya, berlanjut ia menatap sekeliling dan ia melihat ekspresi ibunya biasa-biasa saja, Farid dan Kresna yang pura-pura sibuk dengan duanianya.
Namun, Feby terlanjur kesulitan mengungkapkan keterkejutannya dan menurut saja ketika Nining menggiringnya ke sofa ruang tamu. Semua duduk di sana, saling berhadapan dan saling bertegur sapa, basa-basi.
"Ibu kok gak bilang?" tanya Feby panik.
"Serpresss sayang!" ujarnya enteng.
Sementara pandangan Feby beralih ke arah laki-laki yang akan melamarnya itu, sok manis, padahal memang manis. Gimana dong! Diabetes melanda! Feby memejamkan mata sejenak, meresapi apa yang tengah terjadi.
Dihapus untuk kepentingan penerbitan...
Season 1 END📝
Kalau kalian ingin baca season 1, kalian bisa beli novelnya!😍
__ADS_1
WA : 085718339983