Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 10 - Perasaan tertinggal


__ADS_3

Di pagi hari yang indah, Dara terbangun dari tidur lelapnya. Senyuman manis terukir indah di wajahnya yang cantik dapat memikat siapa saja, tidur yang nyenyak menandakan bebannya sedikit berkurang. 


Kerinduan pada orang tua kandung dapat tergantikan dengan ibu panti yang membesarkannya, masih bersyukur masih memiliki kesempatan itu.


Dara beranjak dari ranjang berjalan menuju pintu jendela, melihat pemandangan dari luar sana menyejukkan mata. Dia sangat membenci orang tua kandung yang tega menelantarkannya, namun tak bisa di pungkiri jika di hati kecilnya masih menaruh kerinduan. Usia lima tahun membuatnya lupa wajah sang ibu, saat itu berjanji akan menjemputnya setelah menyelesaikan semua urusan tapi lama menunggu tak pernah sekalipun melihat batang hidungnya muncul, bak hilang di telan bumi. 


Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, menyentuh liontin yang selalu dia bawa tapi tak pernah di pakai. Liontin adalah benda terakhir dan satu-satunya peninggalan dari orang tua kandungnya, sebelum dirinya di lantarkan ke panti asuhan. Bulir bening menetes dengan sendirinya, ingin sekali membuang liontinnya tapi itu satu-satunya akses untuk mengetahui siapa orang tua kandung dan akan menanyai mereka terperinci bila nasib mempertemukan. 


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, segera Dara menyeka air mata yang membasahi kedua pipi. Berbalik badan dan menatap seorang pria yang sudah rapi mengenakan pakaian casual. 


"Sebelum masuk ketuk pintunya terlebih dulu." Kesal Dara.


"Sudah aku lakukan dari tadi tapi kau tak menyahut." Alan berjalan mendekat mendapati dua mata indah selesai menangis. "Kau tidak apa-apa?" 


"Aku baik." 


"Benarkah? matamu sembab."


"Aku kelilipan."


"Biar aku bantu." Dengan sigap Alan mendekat, meniup mata Dara memberikan pertolongan. 


Tidak ada jarak di antara mereka, siapa saja yang melihatnya pasti mereka mengira sepasang kekasih romantis. Dara sedikit canggung, mundur selangkah dari pria itu. 


Alan tersenyum sangat menyukai tingkah gadis itu yang terlihat sangat menggemaskan, tahu isi pikiran yang menyebabkannya menjauh.


"Ayolah, aku hanya membantumu. Tidak perlu merasa canggung begitu." 


"Terima kasih kau sudah membantuku." 


"Eh, kalimatmu itu seperti mengusirku dari sini." Alan menggoda gadis itu, entah mengapa sangat tertarik pada awal mereka bertemu. 


"Kau tersinggung? Aku ingin membersihkan tubuhku, dan bahkan belum mencuci wajah." 


"Tapi kau terlihat sangat cantik alami dan aku menyukainya." Alan terus menggoda Dara, ingin melihat reaksi gadis itu.

__ADS_1


Dara menghela nafas, meraih bantal di dekatnya dan melemparnya mengenai pria itu. "Keluar dari kamarku." Akhirnya dia memperlihatkan sifat aslinya. 


"Kau tampak seperti landak." Tutur Alan langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan Dara, sedikit membuat bulu kuduknya merinding. 


"Sabar Dara, kau harus bisa mengontrol emosi. Hah, ternyata keturunan Adelmo sangat-sangat menyebalkan dan sialnya aku terjebak di antara mereka." Gerutunya bermonolog sendiri, dua pria sepupuan keluarga Adelmo cukup menguras mental kewarasannya. 


Kedekatan Alan dan Dara berhasil menyulut emosi Erick yang sedari tadi mengintip, awalnya dia hanya lewat tapi melihat sepupunya ada di kamar sang mantan membuatnya sangat penasaran. 


Dara menatap lurus seperti menantang pria di hadapannya, satu atap dengan sang mantan membuatnya terasa sesak. Begitu pula pada Erick yang membalas tatapan tajam dan sengit membuat suasana di pagi hari mencekam. Sementara Alan menangkap sinyal keduanya, tersenyum jahil bila tahu apa yang ada di pikiran kakak sepupunya. 


"Kau belum makan apapun, ini roti selai coklat untukmu." Alan meletakkan dua lembar roti yang sudah di baluri selai, meletakkannya di atas piring Dara. 


Perhatian Dara teralihkan, berpikir mengapa Alan yang baik padanya. "Apa maksudnya itu?" batinnya mendumel. 


"Dia tidak suka selai coklat." Celetuk Erick tanpa menoleh, meletakkan sandwich di atas piring Dara. 


"Eh, apa lagi ini?" ucap Dara di dalam hati, mendapatkan perhatian dari dua orang pria sangat tidak nyaman. 


"Wow, sekian tahun lamanya dan kau masih mengingat kesukaan Dara." Sindir Alan. 


Erick mengalihkan fokusnya menatap ke sumber suara, lalu menyeringai tipis. "Badan sekurus itu masih ingin diet?" 


"Aku tidak kurus." Batah Dara. 


"Jangan mengganggu Dara, dia tidak kurus melainkan kurang makan." Sela Alan. 


Seketika raut wajah Dara masam mendengar penghinaan fisiknya, memang dia sedikit kurus tapi masih ideal untuknya. "Aku ideal." Ucapnya meninggikan suara dan berdiri dari duduknya. 


"Ideal ya? Kalau begitu kau makan sandwich itu!" ujar Erick. 


Dara pasrah dan kembali duduk, menggigit sandwich hingga habis." Sudah habis." Ujarnya memperlihatkan piringnya yang sudah kosong, sementara Erick mengangguk dan diam-diam mengulas senyum tipis yang tak terbaca oleh orang lain.


"Hello, aku masih disini." Celetuk Alan merasa dirinya tak terlihat. 


"Lalu?" Erick menatap sepupunya datar, beranjak dari kursi makan mengingat sudah waktunya berangkat ke kantor. 

__ADS_1


"Andai dia orang lain pasti sudah aku beri pelajaran, sialnya dia menjadi sepupu ku…sepupu laknat." Gumam Alan mengeluarkan kekesalan yang tertanam di hatinya. 


"Aku sudah selesai." Dara juga pergi meninggalkan Alan seorang diri. 


"Tunggu." 


Dara berbalik badan menatap ke asal suara. "Ada apa?" 


"Aku mendapatkan informasi jika salah satu kekasihku mengetahui persembunyianku, jadi aku ingin kau menolongku." 


"Mengapa tidak kau putuskan saja? Sangat merepotkan sekali." 


"Itu sebagai timbal balik karena kau memukulku menggunakan tongkat bisbol. Apa kau pikir itu tidak sakit?" cetus Alan mengingat momen sialnya, untung gadis itu sangat cantik jadi dia masih bisa memberikan kompensasi. "Untung cantik, kalau jelek sudah aku eksekusi." Batinnya. 


"Terserah kau saja. Satu hal yang penting, aku tidak ingin berurusan dengan sepupumu itu." 


"Tenang saja, aku tidak akan menyeret kera itu." 


"Hem." 


Tetdengar suara klakson mobil yang berbunyi beberapa kali, sangat merusak indra pendengar. Dara berlari ke arah mobil yang terparkir di luar, meninggalkan Alan di meja makan. Dengan nafas tersengal-sengal, tatapan tajam bak ingin menerkam mangsanya saat ini. 


"Terlambat tiga detik." Erick melirik jam tangan mahalnya dan kembali fokus pada gadis itu. 


"Hanya tiga detik, kau bisa pergi tanpa perlu membawaku." Sungguh, Dara sudah muak atas sikap dari pria yang seenaknya saja memerintahnya. 


"Masuk." Erick tak ingin memperpanjang permasalahan dan fokusnya tertuju pada benda pipih di genggamannya. "Aku minta kau yang mengatur makananku!" 


Dara tersingkap mendengarnya. "Tidak, sebaiknya kau cari orang lain saja seperti ahli gizi." 


"Sangat terlihat jelas kalau kau menghindariku." 


"Tidak begitu." Bantah Dara. 


Erick mendekat, dua pasang manik mata saling memandang cukup lama. Terasa desiran yang tersengat listrik, jantung berpacu dua kali lipat dan membuatnya mengembalikan posisi awalnya. 

__ADS_1


"Aku tidak boleh jatuh dalam perangkapnya, cukup sekali dia mempermainkanku." Batin Erick seraya membenarkan jasnya. 


__ADS_2