Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
The end


__ADS_3

Semua sudah di persiapkan dengan matang, hari pernikahan yang di gelas sangat mewah. Dekorasi mewah dan elegan, sesuai dengan tamu undangan yang datang dari rekan bisnis, kolega penting dan orang-orang lainnya. 


Kini Dara terpaku di cermin besar melihat penampilannya yang sudah mengenakan gaun pengantin putih, membuatnya sangat cantik. Leher yang jenjang dan mulus terlihat jelas saat model rambutnya di cepol indah, di hiasi beberapa aksesoris pendukung untuk penunjang penampilan.


"Wah, Nona terlihat sangat cantik." Puji si penata rias. 


"Benarkah?" Dara masih ragu, tapi tak bisa di pungkiri kalau dirinya sangat berbeda sekarang, seperti bukan dirinya. 


"Benar sekali." 


Dara segera menoleh saat mengenal suara itu, suara dari nenek Diana yang masuk untuk menemuinya dan di temani oleh Alam yang bekerja mendorong kursi roda, maklum … usia nenek yang selalu mengeluh sakit lutut terpaksa menggunakan kursi roda. 


"Wow, kau sangat-sangat cantik. Tapi sayangnya kau akan menjadi kakak iparku bukan istriku," guyon Alan yang membuatnya mendapat hadiah dari sang nenek. "Nenek kasar sekali, aku hanya bercanda saja." 

__ADS_1


"Kau itu, selalu saja begitu. Masih untung hanya telingamu saja aku tarik," omel nenek Diana yang memarahi cucunya, beberapa saat kemudian dia tertawa membuat yang lainnya ikut tertawa.


"Aku sangat yakin kalau Erick tidak akan mengenalimu, kau menjadi sangat berbeda." Puji nenek Diana. 


"Beda apanya? Aku melihatnya sama saja. Hanya karena Dara memakai riasan dan juga gaun itu … gaunnya sangat indah, seleranya bagus juga." Ucap Alan tersenyum, jujur saja dia kesal mengapa wanita yang mengenakan gaun putih sebentar lagi menikahi kakak sepupunya, sekarang dia harus rela. "Ini membuat hatiku terluka, tapi di kehidupan selanjutnya aku berharap menjadi suami Dara." Batinnya tersenyum. 


Plak


Lamunan Alan langsung ambyar saat nenek Diana memukulnya menggunakan sandal yang di kenakan, tertawa melihat nasib sang cucu. "Aku yang merekomendasikan gaun itu, dan berhentilah melamun. Dasar cucu tidak berguna!" 


"Tapi itulah kenyataannya, tidak ada prestasi yang di banggakan darimu." 


Dara menggelengkan kepala, inilah ciri khas keluarga Adelmo. Satu sama lain selalu saja bertikai, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama dan semuanya kembali seperti semula. 

__ADS_1


"Sudahlah. Sebaiknya kita turun ke bawah, kakak sepupuku itu sudah tidak tahan ingin melihat mempelai wanitanya." 


Dara menuruni anak tangga satu persatu, semua orang menyorot karena penampilannya yang sangat mewah juga cantik bak bidadari. 


Semua mata tertuju pada Dara, begitupun Erick yang terpaku kagum melihat kecantikan istrinya di hari sakral mereka. 


Semua acara berjalan lancar dan khidmat, kedua mempelai sangat bahagia. Namun di hati Dara masih merasakan takut bagaimana akhir dari pernikahannya, namun dia berdoa semua lekas membaik. 


Setelah sah menjadi suami istri, semua orang memberikan ucapan selamat. Dicko dan Dicki sangat bersemangat sampai mereka menarik tangan Dara dan Erick untuk ikut bergabung dan mengambil foto keluarga. 


Dara dan Erick, tatapan mereka saling bertemu dan tersenyum bahagia. Sesuai keinginan nenek Diana yang sangat-sangat bahagia kalau salah satu cucunya sudah menikah, itu tandanya dia sudah siap menyerahkan semua tanggung jawab sepenuhnya pada cucu sulungnya. 


Nenek Diana tak peduli pada anak-anaknya yang tidak hadir dalam acara sakral, dengan begitu memudahkannya memindahkan hampir semua aset keluarga Adelmo pada Erick. Tapi dia tidak akan lupa membaginya pada Alan, dan Dicko Dicki setelah sudah bisa bertanggung jawab nantinya. 

__ADS_1


"Mari semuanya, tersenyum." Teriak nenek Diana membuat yang lainnya menyunggingkan senyuman terbaik mereka. 


Kenangan yang di abadikan dalam sebuah ikatan pernikahan, kesalahpahaman di anatara Dara dan Erick telah usai. Mereka akan melangkah untuk membangun masa depan bersama-sama. 


__ADS_2