Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 15


__ADS_3

Di malam hari yang indah, Dara berjalan menuju balkon, menggenggam besi putih dengan erat sambil menengadahkan kepala ke atas, melihat banyaknya bintang yang bertaburan menghiasi langit. Di telantarkan sejak umur lima tahun membuatnya menjadi kepribadian kuat dan gadis mandiri, bahkan menyimpan seluruh beban dan permasalahan hidup seorang diri.


Dia terkejut melihat orang lain berada di sebelahnya, memberikan secangkir teh. "Ambillah!" ucap Alan menawarkan. 


Dara merasa aneh dengan sikap baik Alan, bukankah pria itu tak suka padanya? Tapi sikap itu bisa di salah artikan olehnya. Melihat secangkir teh dan menjadi ragu untuk menerimanya.


"Teh ini bersih." Alan seakan tahu isi pikiran Dara yang curiga kalau teh berisi pelet atau racun. 


"Terima kasih." Dara menyeruput teh itu, begitupun Alan juga menyeruput secangkir teh di tangannya. "Apa kau tidak punya pekerjaan lain?" 


"Aku butuh bantuanmu." 


"Apa?" 


"Salah satu kekasihku sudah mengendusku berada di sini, walau keamanan di mansion ketat tak mungkin aku selalu bersembunyi di sini. Kau pasti tahu betul maksudku, buatlah kekasihku itu segera mengatakan putus." Pinta Alan. 


"Kau mengkambing hitamkan aku." 


"Keempat kekasihku bukanlah orang sembarangan dan salah satunya adalah anak dari mafia, salah melangkah maka aku bisa terkena timah panas." Alan memperlihatkan raut wajah menyedihkan, berharap mendapatkan bantuan.


Dara memutar kedua bola matanya jengah. "Kau menggali lubangmu sendiri." 


"Aku tahu…aku tahu, tidak perlu menyudutkan." Kesal Alan yang mengakui kebodohannya.


"Seberapa besar kekuasaan keempat kekasihmu? Dan bagaimana mereka tidak tahu kalau kau itu playboy sampai memacari mereka." Tanya Dara layaknya seorang detektif penyelidik kasus tersulit. 


"Kekayaan mereka hampir setara dengan keluargaku, dan salah satunya melebihi kekayaan Adelmo." Jelas Alan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


Dara terdiam beberapa saat, membantu pria itu sama saja mencari masalah, apalagi dia tak punya kekuasaan apapun. "Ini cukup sulit, bagaimana kalau salah satu di antara mereka tidak terima lalu menuntutku, minimal menjadikan aku musuh." 


"Aku akan berada di belakangmu dan membantu kesulitanmu, ini janjiku." 

__ADS_1


Dara tak punya alasan untuk menolak permintaan Alan, mengangguk pelan seraya menghela nafas. "Baiklah." 


Alan bersorak gembira dan hampir memeluk tubuh gadis di sebelahnya, terhalang tubuh Erick entah sejak kapan pria itu berada di sana dan mendengarkan obrolan mereka. 


"Ck, dasar pengganggu." Umpat kesal Alan memajukan bibirnya beberapa sentimeter. 


"Nenek memanggilmu." 


"Tumben sekali," Alan menggaruk kepala yang tidak gatal. "Mengapa nenek memanggilku?" tanyanya penasaran, sedangkan Erick membalasnya dengan mengangkat kedua bahu. 


"Aku pergi dulu." 


"Hem." 


Dara kembali berbalik dan menatap indahnya malam, semilir angin menerpa wajahnya. Erick tersenyum tipis berhasil menyingkirkan Alan, hampir saja sepupunya itu memeluk sang mantan kekasih.


"Hembusan angin terlalu kencang, masuklah ke dalam." Tutur Erick memperingatkan.


"Masuklah ke dalam!" tegas Erick tak ingin gadis itu sakit. 


"Kau bukan kekasihku yang bisa mengaturku." 


"Aku tidak mengaturmu hanya memberikan peringatan." 


"Biarkan aku di sini sebentar saja." Dara tetap tak bergeming membuat Erick gusar, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terangkat dan semakin menjauh dari balkon. "Hei, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekiknya memukul punggung pria itu, berusaha terlepas dari pria yang menggendongnya. 


"Mau sampai kapan kau selalu mengabaikan kesehatan? Tidak pernah berubah." Akhirnya Erick mengeluarkan ultimatumnya menatap tegas pada Dara, perilaku gadis itu yang tidak pernah berubah selalu membuatnya cemas, entah mengapa tiba-tiba dia melakukannya.


"Jangan bersikap seolah-olah kau kekasihku, aku hanya ingin waktu sendiri setelah seharian bekerja." balas Dara menatap tajam.


Erick kesal mendengar perkataan menohok keluar di mulut Dara, berjalan semakin mendekat dan mengurung Gadis itu menggunakan kedua tangannya. 

__ADS_1


Gleg


Dara menelan saliva yang tersangkut di tenggorokan, tidak ada jarak di antara mereka bahkan hembusan nafas beraroma mint itu tercium olehnya. "Kau menekanku." Lirihnya berusaha menjauhkan tubuhnya, semakin gugup dan tak mengerti mengapa Erick mengurungnya.


"Sebaiknya kau batalkan misi mu dan Alan!" ucap Erick memerintah, niatnya baik agar gadis itu tak terlibat oleh keempat kekasih sepupunya yang mempunyai kekuasaan. 


"Aku sudah berjanji padanya." 


"Batalkan saja."


"Tidak perlu mencampuri urusanku, aku sudah memikirkan konsekuensinya." Jawab Dara yakin. 


Erick tak juga melepaskan kurungannya, dia hanya tidak ingin Dara terlibat terlalu jauh mengenai urusan sepupunya yang rumit. Perlahan dia mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan menatap bibir indah merona yang seakan terus memanggilnya. Jakunnya naik turun melihat godaan ada di hadapannya, tak tahan hingga mencium bibir indah sangat lembut. 


Dara sangat terkejut bibirnya di cium, ciuman pertamanya berhasil di renggut oleh sang mantan kekasih. Entah keberanian dan kekuatan dari mana hingga dia berhasil mendorong dada Erick, sangat marah atas perbuatan sang mantan kekasih. 


Plak


Dara menatap dalam kemarahan, menunjuk wajah Erick dengan berani. "Berani sekali kau merenggut ciuman pertamaku, dasar pria bajingan." Umpatnya meninggikan intonasi. 


Erick sangat terkejut bukan karena kemarahan dari sang mantan kekasih melainkan ungkapan kalau itu adalah ciuman pertamanya, ada rasa yang aneh menyelinap di hatinya, diam-diam senyuman tipis terukir di bibirnya walau tidak disadari oleh orang lain. 


Dara sangat marah menghapus bekas bibirnya yang menyatu dengan pria itu, segera berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya. "Bagaimana dia bisa berpikir untuk menciumku. Ya Tuhan, ciuman pertamaku harus di curi olehnya. Bagaimana dengan nasib suamiku kelak yang mendapatkan bibir bekas." Berulang kali dia menggosok bibirnya, cuman itu masih saja terbayang olehnya. Raut wajah yang gusar dan rasa heran karena tidak mengerti mengapa Erick menciumnya, jelas-jelas pria itu tidak menyukai keberadaannya namun beberapa hari ini mereka tampak dekat. 


Lain halnya Erick yang menyentuh bibirnya, seakan tidak percaya apa yang baru saja terjadi. "Ciuman pertamanya?" kemudian dia tersenyum dan melangkah pergi dari sana. 


Di dalam kamar Erick tak bisa tidur membayangkan ciuman tadi, kembali menyentuh bibirnya yang masih tertinggal bekas bibir sang mantan kekasih yang pernah dia cintai dan ini juga ciuman pertamanya. Degup jantung yang berdetak cepat, dia memegang dadanya sambil mengulas senyum merekah. 


"Bukan hanya aku yang merenggut ciuman pertama mu, Dara. Tapi kau juga mengambil ciuman pertamaku, sekarang kita impas." Batinnya seraya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, tidur dalam posisi tertelungkup membenamkan kepalanya ke dalam bantal.


Malam teramat panjang bagi dua orang yang sama-sama tak bisa tidur, ciuman itu bisa di katakan kecupan singkat di bibir. Mereka tak bisa tidur, mata tidak bisa terpejam saat pikiran masih jalan di tempat. 

__ADS_1


"Sial, cukup sulit menghilangkan pikiran itu." Geram Dara serata memukul bantal menjadikan tempat pelampiasan kemarahannya.


__ADS_2