Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 13


__ADS_3

Erick, Alan, dan Dara menunggu kedatangan nenek Diana di bandara. Mereka sudah tidak sabar dan memberikan perayaan kecil sebagai kejutan penyambutan yang tentunya ide dari sang pengasuh sendiri. 


Alan diam-diam mengamati ekspresi dari dua orang di dekatnya itu, masih belum terima jika sepupunya mendapatkan gadis cantik seperti Dara. Lain hanya dengan Erick berusaha untuk mendekati gadis itu, tapi sayangnya tidak berhasil dan malah semakin menghindarinya. 


"Kau menghindariku?" 


"Siapa yang menghindarimu?" elak Dara. 


Erick menyeringai tipis. "Bahkan anak kecil saja tahu kau tengah menghindariku."


"Itu hanya perasaanmu saja." 


"Yap, dan aku masih berada disini." Sela Alan yang tak di anggap, bagai seekor nyamuk pengganggu.


Erick mendecih, sepupunya itu selalu merusak momen. "Tidak perlu mengabsen." 


"Aku cuma menunjuk kehadiran saja." Alan terdiam melihat tatapan tajam ke arahnya. "Aku benci tatapan itu," gumamnya pelan. 


"Mengapa kau menghindariku?" Erick tak menggubris, kembali mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Bukan apa-apa." Elak Dara gugup. 


"Itu karena kalian tidur satu ranjang yang sama." Celetul Alan. 


Sontak hal itu membuat keduanya terkejut, semantara Alan mengangkat kedua bahu dengan acuh. 


"Eh, itu…itu aku gak sengaja tidur di ranjang mu. Maaf." Dara bahkan gugup dan berusaha mengatakan hal sebenarnya, namun dia mengerutkan dahi melihat Erick tertawa. "Mengapa kau tertawa?" tanyanya malu.


"Jadi kau mengira naik ke atas ranjang saat tertidur pulas? Aku terbangun dan melihatmu duduk di lantai, posisi duduk saat tidur sangat tidak nyaman."


"Ja-jadi kau yang menggendongku?" tanya Dara hati-hati. 


Erick mengangguk dan tersenyum tipis. "Siapa lagi jika bukan aku. Semalaman kau merawatku, terima kasih untuk itu." 

__ADS_1


Dara tersipu malu, sosok yang pernah dia sakiti ternyata masih bersikap baik padanya. "Sama-sama." 


Alan muak melihat dua orang itu, lagi-lagi dirinya tak di anggap sama sekali dan memutuskan untuk pergi memberikan ruang pada mereka. 


"Kapan nenek Diana sampai?" tanya Dara penasaran, celingukan memandang satu persatu orang yang berlalu lalang di tempat itu. 


"Sepertinya kita terlalu bersemangat, masih ada waktu setengah jam lagi. Bagaimana kita berjalan-jalan dulu, waktu akan cepat berlalu." 


"Boleh." Dara mengangguk setuju menerima ide Erick. 


Keduanya berjalan dan berkeliling di sana, rasa canggung masih tetap ada dan berusaha untuk menepisnya. Dara memperhatikan Erick, masih tidak percaya kalau pria itu bersikap baik sangat berbeda saat pertama kali bertemu setelah sekian lama. 


"Mengenai masa lalu." 


"Sudahlah, tidak perlu diungkit lagi." Sela Erick cepat tak ingin luka itu. 


Dara terdiam, momen kebersamaan mereka membuat keduanya bernostalgia. 


"Apa kau tidak bosan membaca buku setiap hari? Dan selalu menyendiri." Tanya Dara berterus terang. 


Erick membenarkan kacamata tebalnya dan menatap gadis yang duduk di sebelahnya, sangat terpesona dengan kecantikan gadis itu dan dia tahu jika Dara adalah salah satu gadis populer di sekolah dan di sukai oleh banyak orang. Pendekatan pertama berhasil memikatnya, dan pertama kalinya merasakan jatuh cinta. 


"Kau melamun? Astaga, kalau kau seperti ini bisa-bisa hantu penunggu pohon bisa merasukimu. Oh ya, aku belum mengatakan namaku. Namaku Dara, dan kau?" sangat antusias, melemparkan senyuman manis semakin membuat si kutu buku menyukainya. 


Erick terdiam beberapa saat, uluran tangan sebagai perkenalan mereka dan membalas dengan mengulurkan tangannya. "Erick." Ucapnya singkat tanpa berbasa-basi.


"Berteman?" 


Erick mengangguk dan tersenyum, sangat senang mendapat teman seperti Dara. 


Sejak saat itu keduanya dekat, mereka sellau bersama dan menjadi akrab, perasaan semakin berkembang satu sama lainnya. Erick sangat terkejut Dara menyatakan perasaan cinta padanya, apalagi di saksikan oleh beberapa siswa menjadi momen yang sangat indah, andai dia bisa mengabadikan momen indah itu. 


"Setelah lama kita dekat, aku sangat menyukaimu." 

__ADS_1


Yap, satu kalimat membuat hati Erick di kala itu sangat berbunga-bunga. Terasa seperti mimpi dan tak ingin mimpi itu berlalu terlalu cepat, setiap detiknya sangat berharga. Pernyataan perasaan Dara meningkatkan rasa kepercayaan diri, hingga dia juga mengakui perasaannya yang lebih dulu mencintai gadis itu. 


Keduanya resmi menjadi pasangan kekasih, perlahan Erick mengubah penampilannya dan membuat orang lain takjub bahkan Dara sampai tak bisa berkedip melihat perubahan drastis dari kekasihnya. Namun perjalanan cinta mereka harus di akhiri, karena pria itu mengetahui niat dari sang kekasih yang ternyata mendekatinya hanya sebuah taruhan.


Dara mencoba untuk menjelaskan semuanya, tapi terlambat saat Erick tak ingin menemuinya dan selalu menghindar, bahkan memutuskan untuk pergi ke luar negeri setelah lulus sekolah menengah atas. 


"Mengapa kau melamun?" tanya Erick menjentikkan jarinya di hadapan Dara. 


Seketika Dara tersadar dan pikirannya kembali ke masa sekarang. "Bukan hal yang penting." Sahutnya cepat. 


"Tidak penting tapi kau sampai melamun." 


Setengah jam kemudian, mereka bertiga kembali. Tak lama melihat seorang wanita tua datang bersama beberapa pengawal, demi keamanan dan juga keselamatan sang nenek. Pasalnya, beberapa musuh perusahaan yang kalah bersaing dengan perusahaan milik keluarga Adelmo memicu konflik berkepanjangan, jadi Erick memerintahkan beberapa pengawal untuk neneknya. 


Erick merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan sang nenek, tapi perkiraannya salah karena pelukan pertama jatuh pada Dara sementara dirinya dan Alan menganga tak percaya. 


"Kamilah cucu kandung Nenek, mengapa orang lain yang mendapatkan pelukan pertama, sangat tidak adil!" sewot Alan yang pastinya iri. 


"Sepertinya Nenek punya cucu kesayangan baru, dan yang lama dilupakan." Tutur Erick memperlihatkan raut wajah sedih, bukan terlihat menggemaskan tapi sangat aneh di mata Alam juga Dara. 


"Maaf, Nenek lebih mendahulukan Dara." Nenek Diana lantas memeluk kedua cucunya itu penuh kasih sayang sepersekian detik lalu melepaskannya. Dia celingukan mencari sesuatu membuat ketiganya merasa bingung juga penasaran. 


"Nenek lihat apa?" tanya Alan menggaruk kepala yang tidak gatal. 


"Mana sambutan untukku?" 


"Semua di persiapkan di mansion, Nek." sahut Dara yang sangat bersemangat juga antusias. 


"Ayo, aku sudah tidak sabar." Nenek Diana juga sangat antusias, menarik tangan Dara dan berjalan lebih dulu. 


Erick dan Alan merasa perhatian sang nenek teralihkan oleh seorang gadis yang pernah menolongnya, hanya bisa menghela nafas sabar seraya mengikuti mereka dari belakang. 


Sesampainya di kediaman Adelmo, hal yang membuat mereka terkejut ialah sang nenek tiba-tiba penyakit pikunnya kambuh, tidak mengingat mengenai Erick dan Alan hingga kedua pria malang itu terpaksa tidur di luar. Kejadian tak terduga, banyak penjaga di sekitar untuk memantau mereka agar tidak masuk ke dalam dan akan memberikan konsekuensi hukuman berat dari sang nenek. 

__ADS_1


__ADS_2