Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 6 - Si pencuri mesum


__ADS_3

Dara tersenyum di balik pintu dan menutupnya, membiarkan nenek Diana beristirahat. Baru beberapa langkah meninggalkan kamar itu, ponselnya berdering dan melihat nomor baru tanpa nama menghubunginya. 


"Pasti orang iseng." Dara malah mematikan panggilan masuk itu dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, tanpa dia ketahui seseorang tengah mengumpatnya kesal.


"Berani sekali tidak mengangkat teleponku." Seorang pria sangat kesal karena sebelumnya tidak ada yang pernah melakukan hal itu selain adik sepupu laknatnya. 


Erick menghela nafas mengontrol emosinya, kembali menghubungi Dara dan ingin sekali mengomeli nya. "Hah, tersambung." Ucapnya bersemangat.


"Hei orang tidak di kenal, jangan hubungi saya lagi karena sangatlah menganggu." 


Ya, belum sempat Erick memarahi gadis itu lebih dulu mengomelinya lewat telepon, rasa tak terima lantaran telinga yang panas. 


"Kalau bukan karena nenek, kau sudah aku pecat." 


"Eh." 


"Kau tak mungkin lupa mengenali suaraku. Aku meneleponmu karena ada berkas tertinggal, cepat kamu antarkan!" serunya memerintah. 


"Aku bukan pelayanmu, ambil saja sendiri." 


"Sial." Lagi-lagi Erick mengumpat kesal saat panggilan teleponnya terputus secara sepihak, padahal dia sangat membutuhkan berkas itu dan mau tak mau harus mengambilnya sendiri. 


Di mansion Adelmo, Erick mencari berkasnya di sebuah laci meja kerjanya dan tersenyum saat berkas penting sudah berada di tangannya. Bergegas menuruni beberapa anak tangga dan kembali ke kantor karena tak memiliki banyak waktu lagi. 


Brak


Tak sengaja Erick menabrak sesuatu, menatap siapa yang menjadi dalangnya. 


"Aku selalu sial bertemu dengan mu." 


Dara segera bangkit, menatap tajam ke arah pria yang selalu saja berkata buruk padanya. "Kau menabrakku, Tuan." 


"Kalau sudah aku katakan maka itulah seharusnya. Sudahlah, aku tak punya banyak waktu meladenimu." 

__ADS_1


"Heh, aku juga tak ingin membuang waktu berharga menjadi sia-sia." Dara hendak berlalu pergi, dua orang yang dulu saling menyayangi tapi dimasa sekarang seperti anjing dan kucing tak pernah akur bila bertemu. 


Erick mendecak kesal, bahkan di saat pergi keduanya menuju ke arah yang sama hingga belum beranjak dari sana. Dia sangat geram dan sedikit mendorong tubuh gadis itu untuk menyingkir dari jalannya. 


"Dasar pria menyebalkan." Umpat kesal Dara menatap punggung Erick yang semakin menjauh. 


****


Seorang pria tampan berperawakan blasteran itu hampir setiap detik melirik jam mahalnya yang melingkar di tangannya, wajah yang tadinya sumringah menjadi masam. Menoleh kiri dan kanan menyusuri tempat itu, sudah lama dia menunggu di bandara namun tak melihat jemputan. 


"Aku seperti anak ayam, mengapa Erick belum menjemputku?" monolognya kesal, mengeluarkan ponsel terbaru edisi terbatasnya dan mencari nama sang kakak sepupu di pencarian kontak lalu menghubunginya, tapi tak tersambung dan itu membuatnya semakin jengkel. 


Alan menghela nafas jengah, sudah dua jam dia berada di bandara mencetak rekor sejarahnya paling lama menunggu. "Aku tak punya pilihan lain." Ucapnya pada diri sendiri, kalau tahu akan terjadi seperti ini dia tak akan mau menunggu berjam-jam lamanya. Sambil menyeret kopernya keluar dari bandara mencari taxi, sudah membayangkan memberikan kejutan untuk sang nenek. 


"Walau nenekku seperti gerandong, tetap saja dia nenekku." Alan terkekeh sambil menatap fotonya bersama nenek Diana, mengusap lembut. Dia mengalihkan perhatiannya keluar dari jendela, melihat bangunan yang sudah banyak berubah dan entah berapa lama dia tidak pulang ke negaranya. 


"Wah, tempat ini banyak sekali perubahan. Semakin menarik." Lirih Alan. 


****


Dara dan nenek Diana semakin dekat saat mereka saling menuangkan perasaan masing-masing, kesendirian dari keduanya menjadikan kekuatan di saat bersama. 


"Mungkin aku terlalu banyak bicara, bagaimana kalau kau berkeliling mansion." Tawar nenek Diana. 


"Baiklah." 


Dara pergi meninggalkan nenek Diana, berjalan-jalan untuk mengetahui tempat itu. Beberapa kali dengan menatap kagum dan juga takjub melihat dekorasi indah bernuansa mewah arsitektur yang sangat unik yang bertemakan Eropa klasik, baru pertama kali menginjakkan di tempat itu terasa seperti mimpi.


"Tempat ini sangat luas bahkan waktu satu hari tidak akan cukup untuk berkeliling di istana Adelmo." Batinnya. 


Tak sengaja pandangannya teralihkan, melihat seorang pria berperawakan bak model sangat mencurigakan. Bagaimana tidak? Penampilan telanjang dada tanpa mengenakan pelindung kaki seperti sepatu maupun sandal tengah mengawasi keadaan Mansion. Dara yang sangat penasaran segera bersembunyi dan mengintip. 


"Mengapa dia terus celingukan seperti itu, tampak seperti pria mesum yang depresi." Gumam Dara yang terus memperhatikan gerak-gerik pria yang bertelanjang dada tanpa alas kaki. "Akan aku beri dia pelajaran, sepertinya dia mengincar sesuatu disini." Pikirnya dan sangat kebetulan melihat tongkat bisbol, segera meraihnya dan menggenggam erat menggunakan kedua tangannya. "Pencuri, aku datang." 

__ADS_1


"Pertama aku sampai sudah sial dan berlangsung sampai sekarang." Alan terus menggerutu dan memantau mansion Adelmo, ingin sekali dia masuk ke dalam tapi melihat dirinya sendiri yang kehilangan style. 


Alan sedikit ceroboh dan tidak tahu kalau dirinya telah menjadi korban aksi pencopetan, seluruh uang cash, kartu, berkas penting mengenai dirinya hilang. Baru menyadari saat akan membayar jasa supir taksi, dengan terpaksa menyerahkan pakaian atasan dan sepatu sebagai bayaran. 


Bugh


"Aarghh." Alan merintih kesakitan sambil memegang kepalanya yang dihantam oleh sebuah benda keras, belum sempat berbalik badan tubuhnya langsung ambruk. 


Senyuman terukir di wajah Dara dan merasa seperti pahlawan, mengomentari penjagaan di hari itu lalai hingga seorang pencuri bisa menyelinap masuk ke dalam. Senyum kian sirna saat melihat seorang pria yang wajahnya pernah di lihat di sebuah album keluarga Adelmo. Sontak tangannya menutup mulut, sangat terkejut. 


"Habislah riwayatku, ternyata dia salah satu anggota keluarga Adelmo. Tapi mengapa penampilannya seperti orang tidak waras?" monolog Dara sangat cemas, bagaimana kalau sampai Erick tahu akan hal ini. Bisa-bisa pria menyebalkan itu kembali menyeretnya ke dalam penjara atas tuduhan penganiayaan keluarganya. 


Dara menggigit jemari nya memikirkan solusi dari permasalahannya, sang mantan kekasih pasti tak tinggal diam selalu mencari-cari celah untuk menyalahkannya. Dia menghindari beberapa pelayan untuk mencari aman, menyeret tubuh pria tampan itu masuk ke kamarnya. Lama dia menatapnya berharap pria itu segera sadar dan ingin meminta maaf karena kesalahannya. 


"Kenapa dia belum sadar juga? Ayolah segera sadar. Aku tak mau Erick sampai tahu masalah ini," gumam Dara cemas.


"Uhh, aku dimana?" pria itu membuka mata sambil memegang kepala yang sakit. Dia melihat seorang wanita cantik tengah menatapnya cemas. "Apa aku sudah berada di surga?" lirihnya. 


"Hah, syukurlah kau sudah sadar. Tolong maafkan aku," ucap Dara tulus. 


"Eh, aku belum mati?" Alan mengerutkan kening heran, sedangkan Dara tersenyum cemas. 


"Ah itu, a-aku yang memukul kepalamu. Tolong maafkan aku. Aku pikir kau itu pencuri mesum," ucap Dara berterus terang membuat Alan berkedut tak percaya. 


Alan menatap Dara dengan seksama, gadis cantik yang sangat sesuai dalam daftar gadis impiannya. "Wanita ini sangat cemas, ini sangat menarik." Batinnya tersenyum tipis saat mendapatkan sebuah ide. 


"Maaf."


"Kau harus menerima hukuman dariku." 


"Apa kau juga akan memukul kepalaku?" tanya Dara polos, sangat takut kalau pria itu melakukan hal yang sama. 


"Gadis ini sangat menarik." Batin Alan yang tersenyum tipis berniat menjadikan gadis di hadapannya untuk menjadi kekasihnya ke lima. 

__ADS_1


 


__ADS_2