Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 11


__ADS_3

Langkah kaki Erick yang panjang tak sanggup di ikuti oleh Dara, dengan terpaksa berjalan tergesa-gesa. 


"Itu sudah sangat lama sekali, apa kau belum memaafkan aku?" 


"Ini kantor, urusan pribadi kita bahas di luar." Balas Erick yang masuk ke dalam lift. 


Dara mengikuti atasannya dan menatap kesal. "Kau sendiri yang mengungkitnya." Masih ingat sang mantan kekasihlah lebih dulu sampai memecatnya. 


Erick tak menggubris, segera keluar dari lift dan masuk ke dalam ruang CEO yang membesarkan namanya itu. Dara menghela nafas pasrah dan kembali berbalik masuk ke dalam lift, nasib menjadi bawahan dan bekerja dengan orang lain pasti mendapatkan nasib tertindas. 


Ting..


Pintu lift terbuka, Dara melangkahkan kaki keluar tak bersemangat. Hilangnya fokus membuatnya tak sengaja menabrak orang lain, seorang wanita hampir paruh baya. 


"Maaf, aku tidak fokus." Dara meraih ponsel wanita itu yang terjatuh di atas lantai. 


"Astaga, apa yang kau lakukan?" setak wanita yang mengenakan setelan formal itu meraih ponselnya, mengecek apakah data di dalam benda pipih. Kekhawatiran menyelimuti wajahnya, pasalnya ponsel itu menyimpan beberapa informasi penting.


Dara sangat menyesal, berulang kali meminta maaf. "Aku sungguh menyesal." 


Wanita itu menghela nafas lega, menatap seorang gadis tampak khawatir. "Syukurlah ponselku tidak rusak, lain kali fokuskan pandanganmu ke depan." 


"Tentu, sekali lagi aku minta maaf." 


"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku memaafkanmu karena ponselnya tidak rusak dan datanya masih tersimpan." 


Dara sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf, menatap kepergian wanita itu. "Hampir saja." Lirihnya pelan. 

__ADS_1


Wanita yang mengenakan pakaian formal itu berbalik sekilas, merasa ada ketertarikan pada gadis yang menabraknya tadi. Tak mendapati gadis itu, langkahnya kembali di lanjutkan menuju keluar dari kantor. "Gadis itu seperti magnet." Batinnya kemudian menepis pikirannya. 


Erick sudah berupaya melupakan kejadian masa lalu, namun hal itu semakin menghantuinya menimbulkan rasa dendam di hati. 


"Kenapa aku tidak pernah bisa melupakannya?" Erick memukul dinding melampiaskan emosinya, tak peduli sela-sela jari mengeluarkan darah segar. Bagai momok menakutkan, cinta pertama malah menjadi kesan yang sangat buruk. Trauma itu membuatnya tak ingin lagi mengenal yang namanya cinta, namun takdir berkata lain di saat dia melupakannya malah Tuhan kembali mempertemukan mereka. 


Waktu terus bergulir, matahari yang tenggelam meninggalkan momen panorama sangat indah, membuka jendela dan membiarkan semilir angin menerpa wajahnya. Pandangan lurus ke depan, tanpa tahu apa tujuannya. "Aku pastikan membuatnya kesulitan." Monolognya menyeringai, mengeluarkan ponsel di dalam saku celana menghubungi Dara. 


"Halo."


"Ada apa?" 


"Sopanlah, kau harus menambahkan kata-kata 'Tuan'." 


"Eh, mengapa tiba-tiba." 


"Aku bosmu dan kau juga bekerja menjadi pengasuh nenek, ingatlah batasan juga posisimu."


"Kau dimana?" 


"Di luar kantor hendak pulang ke mansion mu, hari ini nenek pulang dan aku butuh beberapa persiapan kecil untuk menyambutnya." 


"Tidak perlu. Kembalilah ke kantor!" 


"Apa? Tapi aku sudah menyelesaikan pekerjaanku." 


Erick sangat menyukai nada terkejut itu, sudah cukup dia baik pada gadis yang tak tahu malu itu. 

__ADS_1


"Asistenku akan memberikanmu tugas tambahan." Ucapnya seraya memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa perlu mendengar kalimat protes dari Dara. Meneguk minuman beralkohol untuk mengurangi beban di pikiran juga di pundaknya, menjadi teman saat tak bisa mencurahkan dan berbagi perasaannya pada orang lain. 


Tegukan tiap tegukan di gelas kecil membuatnya semakin tidak sabar, dengan setengah kesadaran melemparkan gelas kecil di tangannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Dia meraih botol minuman dan meneguk langsung di sana, rasa yang begitu kental membuat tenggorokannya terasa panas namun tak menghentikan aksinya itu. 


"Dara…kau membuatku tidak percaya lagi dengan cinta, wajahmu yang lugu itu ternyata sangatlah licik." Racau Erick sedih dan tertawa kemudian dengan nasib sialnya di permainkan oleh orang dari kelas rendahan. "Lihat saja, mulai sekarang kau tidak akan bisa kabur dari genggamanku." Dia menggenggam tangannya erat dan kembali meneguk alkohol itu, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, kesadaran yang mulai hilang memutuskan untuk mengakhirinya dan kembali ke mobil yang terparkir.


Sedangkan Dara hanya bisa mempertebal kesabaran, banyak rencana tertunda setelah dirinya di pertemukan dengan sosok di masa lalu. Pandangan fokus ke depan, jemari lentik memainkan keyboard juga mouse, berharap pekerjaannya terselesaikan cepat. 


Suara detakan jam yang menempel di dinding membuatnya terpacu untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi rasa kantuk juga selalu menyerangnya. Terbukti kalau beberapa kali Dara menguap, menandakan hari semakin larut. 


Pekerjaannya terhenti sejenak, mendengar suara tapak sepatu yang semakin jelas terdengar. "Siapa itu? Apakah dia asisten Erick? Pasti datang untuk mempersulitku, lakukan apapun yang dia inginkan karena aku tidak peduli. Dia pria kekanak-kanakan!" racau nya seraya melanjutkan pekerjaan yang sejenak tertunda. 


Brak


"Apa yang terjadi?" Dara merasakan senam jantung mendengar suara meja yang di pukul cukup keras. Sontak menoleh ke belakang saat merasakan hawa seorang manusia yang menyamar sebagai zombie. "Erick. Dia mabuk?" batinnya menatap pria itu dengan kesedihan. 


"Mengapa kau jahat, apa aku seburuk itu hingga kau mempermainkan cintaku? Mengapa kau diam saja, JAWAB!" bentak Erick menekan kata di akhir perkataannya. 


Dara tak peduli dan terus menerima kalimat kebencian, sengaja menutup telinga dan membawa pria mabuk itu pulang. 


"Kau gadis yang sangat lugu, mengapa kau melakukan itu padaku. Kau sela__." Entah apa yang di katakan oleh Erick, racauannya semakin tidak jelas dan yang pasti mengeluarkan seluruh beban di pundaknya. 


Dara terdiam beberapa saat dan memutuskan menyudahi tugas tambahan dari pria itu, segera beberes dan membawa Erick masuk ke dalam mobil. "Ayo, kita pulang."


Erick menyeringai melepaskan tangan lentik. "Apakah perbuatan, sikap, perhatian yang selama sekolah menengah atas itu tak berarti dan membuatmu terkesan? Pernahkah sekali saja kau menyukaiku? Mengapa kau mengkhianatiku dan menjadikanku sasaran empuk sebuah pertaruhan? Kenapa kau melakukan itu padaku, Dara?" 


Dara terdiam dan juga merasakan kesedihan pria itu, tak pernah ada terbesit di hatinya untuk melukai perasaan pria itu. "Maaf," ucapnya merasa bersalah, aku tidak berdaya waktu itu." 

__ADS_1


Ya, Dara terpaksa menyetujui tantangan dari temannya dengan menjadikan Erick si cupu sebagai kekasihnya dan sebagai imbalan dia mendapatkan uang. Semakin mengenal pria itu semakin menumbuhkan benih-benih cinta dan merubah isi pikirannya, namun dia harus melakukan itu demi kesembuhan ibu panti yang saat itu masuk ke rumah sakit dan membutuhkan biaya yang sangat besar. 


Perlahan Dara membantu Erick masuk ke dalam mobil, bobot tubuh pria itu sangatlah berat hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas dada bidang pria itu. 


__ADS_2