
Tiba-tiba Dara merasakan hawa negatif di belakangnya, memegang tengkuk leher dan bergidik ngeri. "Eh, aku merasa ada yang menatapku." Gumamnya di dalam hati. "Perasaanku tidak enak," gumamnya mengabaikan perkataan Arvan.
"Kau kenapa?" tanya Arvan penasaran.
"Bukan apa-apa." Jawab singkat Dara, berusaha untuk berpikir positif.
"Bukannya menjaga nenek kau malah sibuk berpacaran dengan kekasihmu," sindir seseorang yang datang menghampiri, segera Dara mengerti mengapa tiba-tiba merinding yang ternyata kedatangan bosnya.
"Astaga, ternyata perasaan ku tidak salah." Batinnya menyiapkan mental. "Tiba-tiba kau datang dan menuduhku sembarang, siapa yang berpacaran?" kesal Dara yang tidak suka di tuduh.
Erick tak menggubris perkataan Dara, tatapannya fokus melirik sengit Arvan. "Dia sedang bekerja menemani nenekku, sebaiknya kau tidak perlu mengganggu saat jam kerjanya." Setelah memberikan peringatan, dia mendorong kursi roda milik sang nenek dan pergi menjauh. Amarah di hati semakin bertambah melihat sang mantan kekasih bersama pria lain, bahkan tidak merasa bersalah kehilangan nenek.
"Keterlaluan sekali."
Nenek Diana diam tidak membela Dara, penyakit pikun mulai kambuh membuatnya tak berdaya.
"Apa dia tahu kalau tadi nenek Diana sempat menghilang?" pikir Dara, melihat kemarahan Erick semakin membuatnya yakin, punggung pria itu mulai menghilang dari pandangan mata yang sudah menjauh. "Aku harus pergi!" ucap nya berpamitan dan berlari untuk menyusul.
"Dara, Tunggu!" pekik Arvan menghentikan tapi tidak di gubris membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang dan beranjak dari kursinya. "Aku baru mendekatinya, tapi perasaan itu tidak bisa berkembang karena pria itu." Gerutunya sedih tak bisa mendekati Dara karena selalu ada yang menghalangi. Nasibnya juga sial karena di pecat dengan tidak masuk di akal, sekarang tahu penyebabnya kalau mantan bosnya juga menyukai Dara, kemudian dia tersenyum tipis dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Erick, tunggu aku!" pekik Dara yang mengejar mobil yang sudah meninggalkannya bahkan mobil yang membawanya tadi juga tidak ada, lelah mengejar membuatnya beristirahat lebih dulu. "Aku akui aku salah, tidak perlu meninggalkanku disini." Keluhnya bermonolog sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal. "Dia tega sekali," ringisnya.
Di mansion Adelmo, Dara yang baru menginjakkan kaki sudah mendapatkan tatapan tajam menusuk. Menelan saliva susah payah seakan tersangkut di tenggorokannya di sertai cegukan.
"Cukup berani kau datang ke mansion setelah meninggalkan nenek dan menghilang." Aura gelap memenuhi ruangan itu, tampak Erick menatapnya tajam penuh penyelidik seakan ingin menerkam mangsanya hidup-hidup.
Deg
Dara diam tak berkutik, dirinya yang bersalah lalai dalam tugas. "Maaf," lirih nya pelan menundukkan kepala, tidak sanggup melihat wajah Erick yang sangat marah padanya.
"Aku akan memotong gajimu dua puluh persen." Tegas Erick.
"Apa?" Dara langsung mendongakkan kepala menatap Erick. "Jangan memotong gajiku, ku mohon." Bujuknya tak menyerah.
"Ayolah, apapun hukumannya tali tidak dengan memotong gajiku." Dara menyatukan kedua tangannya dan memasang raut wajah sedih.
"Apa masih kurang jelas? Karena kau sudah lalai, kau tidak boleh keluar dari mansion dan membawa nenek tanpa seizin ku." Kecam Erick.
Dara sangat terkejut dan hanya bisa pasrah, menghela nafas berat. Hukuman yang diberikan sangat berat, merasa dirinya di masukkan ke dalam penjara. Melihat tatapan tajam membuatnya tak bisa berkutik, berjalan menghampiri nenek Diana dan meminta maaf. "Nek, sekali lagi aku minta maaf." Ucapnya menyesal.
__ADS_1
Nenek Diana tersenyum dan mengelus pucuk kepala gadis itu. "Kau tidak salah sepenuhnya, beberapa hari ini aku melupakan apapun."
"Jangan membelanya Nek, dia bersalah sudah meninggalkan nenek seorang diri dan malah berpacaran." Erick meninggikan suaranya mengejutkan Dara. Ada perasaan tidak tega sudah memarahinya, namun semua itu untuk memberikan pelajaran agar tak terulang.
"Kau sudah salah paham. Aku tidak sengaja bertemu Arvan, dialah yang menolong nenek."
Dara terus memohon tapi malah di acuhkan, menatap kepergian bosnya membuatnya meringis.
"Kau kenapa?" tanya Alan yang baru saja masuk ke dalam mansion, melihat drama baru usai.
"Apa sepupumu selalu begitu? Suka menindas rakyat kecil sepertiku."
"Jangankan kau, bahkan aku selalu tertindas olehnya. Biar aku tebak kalau Erick sedang marah." Tebak Alan yang langsung di anggukkan kepala oleh Dara. "Dia memang seperti itu, biarkan saja nanti juga akan membaik dengan sendirinya." Terangnya tersenyum licik dengan rencana membuat kakak sepupunya terbakar api cemburu.
"Seperti ada yang tidak beres," batin nenek Diana menyipitkan kedua matanya menatap Alan.
"Bagaimana caranya?" tanya Dara penasaran.
Alan menarik dua sudut bibirnya ke atas, rencana yang sudah tersusun rapi. "Kau akan mati berdiri dengan rasa cemburu mu, Erick Adelmo." Batinnya yang senang menjahili kakak sepupunya. "Membuat pria angkuh itu cemburu."
__ADS_1
"APA?" Dara terkejut dan merasa rencana Alan tak akan berhasil.
"Kau meragukan aku? Serahkan semuanya padaku." Alan menepuk dadanya bangga.