Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 8 - Kembali bekerja di kantor


__ADS_3

Di sinilah Dara berada, ruangan CEO perusahaan induk yang pernah menjadi impiannya. Entah mengapa takdir mempermainkannya, padahal dia tak ingin terus terjebak pada mantan kekasihnya itu. Tatapan jengkel tampak pasrah saat pria tampan yang memimpin perusahaan besar tengah tersenyum angkuh, melemparkan sebuah berkas di atas meja kerja. 


"Kau kerjakan itu semua!" titah Erick. 


Dara menyeringai, melihat berkas di hadapannya seakan sangat mudah menerobos masuk ke dalam perusahaan. "Bukankah aku telah di pecat? Mengapa tiba-tiba kau menerimaku kembali?" 


"Kau jangan membawa perasaan, aku pikir akan sangat menyenangkan bila melihatmu kesulitan." 


"Oh ayolah, itu masa lalu dan percintaan main-main saja." 


Seketika raut wajah Erick berubah, beranjak dari kursi dan mengurung tubuh gadis itu. "Ya, karena kau hanya menganggapku dan hubungan itu sebagai sebuah permainan." 


Dara menahan nafas saat wajah Erick sangat dekat dengannya, ketakutan terlihat jelas. "Masa putih abu-abu dan percintaannya hanyalah cinta monyet, kau pasti tahu maksudku." 


"Ya, karena itu kau menjebakku. Andai saja aku tidak polos dan menolakmu." Erick sangat menyesal pernah menyukai Dara, cintanya saat itu hanya di anggap sebuah permainan. Dia terkenal kutu buku dan cupu, sikap menyendiri dan tak punya teman malah menjadikannya target. 


Erick yang polos tiba-tiba mendapatkan kejutan besar, salah satu gadis populer di sekolah tiba-tiba menyatakan perasaan cinta padanya. Dulu dia tak tahu berekspresi dan berusaha menghindar, gadis yang agresif terus mendekatinya dan menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Dia dan Dara memutuskan untuk menjalin kasih, perasaan keduanya tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi, kepercayaan dan rasa cintanya rusak saat tak sengaja mendengar obrolan yang menyakitkan hati. Ya, dia mendengar fakta bahwa dirinya di jadikan taruhan. 


Dara terdiam beberapa saat, merasa dirinya memang bersalah telah mempermainkan hati Erick yang tulus mencintainya. "Lepaskan aku," lirihnya pelan. 


"Tidak semudah itu." 


"Maaf, aku mengakui kalau perbuatanku padamu salah." 


"Sudah seharusnya kau bersalah, dari kalangan rendah saja berani mempermainku." Erick melangkah pergi meninggalkan tempat itu, dia sangat marah perasaan tulusnya di permainkan. 


Dara menatap kepergian mantan kekasihnya yang masih terluka karena ulahnya, sangat menyesal melakukan semua itu. "Maaf, aku tidak berdaya saat itu." Batinnya. 


****


Nenek Diana mencari keberadaan Dara yang tak ada di mansion, bagai ayam kehilangan induk. Penyakit pikunnya mulai kambuh, padahal jelas-jelas dia tahu kemana sang perawat pergi. 


"Nenek mencari siapa?" tanya seseorang berjalan mendekat, tak sengaja melihat nenek Diana yang terlihat linglung. 


Lantas nenek Diana menoleh dan tersenyum. "Kau siapa bisa berada di mansionku?" ketusnya membuat pria di hadapannya menghela nafas. 


"Nenek mengingat Erick tapi tidak denganku, cucumu bukan dia saja." Keluh Alan yang membawa neneknya duduk di sofa empuk tak jauh dari mereka.


Lama nenek Diana mengamati cucunya itu. "Kau siapa?" tanyanya yang semakin membuat Alan jengkel. 


"Alan Adelmo, cucumu dari anak perempuanmu yang bernama Nurika. Aku lihat nenek kebingungan, mau mencari siapa?" tanya Alan berusaha sabar menghadapi wanita pikun di sebelahnya. 

__ADS_1


Nenek Diana tak menjawab, beberapa menit kemudian dia menoleh ke samping. "Kau siapa dan mengapa bisa masuk ke mansionku?" 


Alan menahan kekesalannya dan menumpahkannya pada buah apel yang ada di hadapannya, mengunyah buah itu bak seorang yang kelaparan. "Ya Tuhan, aku tidak tahu bagaimana stok kesabaran Erick menghadapi nenek." gumamnya. Dia langsung mengeluarkan ponsel di saku celana dan membuka galeri untuk memperlihatkan foto sebagai bukti kalau dirinya juga cucu Adelmo. 


"Ini foto aku, nenek dan juga kakek saat perayaan ulang tahunku." 


"Jadi kau Alan, cucuku? Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" nenek Diana sangat antusias dan memukul pangkal lengan pria di sebelahnya. 


"Padahal aku sudah mengatakannya berulang kali." Lirihnya pelan. "Aku melihat nenek yang kebingungan, mencari siapa?" 


"Aku mencari Dara, kau lihat dia?" 


"Setelah selesai sarapan Erick membawanya pergi ke kantor." 


"Mengapa dia tidak minta izin padaku dulu?" terlihat raut wajah nenek Diana yang sedikit terkejut, penyakit tua yang selalu menghampiri menjadi kendala urusan terbengkalai. 


"Karena Nenek hanya diam saja. Wah, Nek…sepertinya Erick sengaja melakukan itu untuk memisahkan mu dari perawat cantik itu."


"Cepat kau hubungi dia!" titah nenek Diana. 


"Siap laksanakan, Bos." Alan mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan perintah, sudah lama dia tak melihat kemarahan neneknya pada kakak sepupunya. 


"Ada apa?" cetus Erick. 


Belum sempat Alan menjawab perkataan sepupunya, ponselnya di rampas. 


"Ini aku. Mengapa kau membawa Dara pergi tanpa persetujuanku, hah." Terlihat nenek Diana yang marah ulah cucunya itu.


"Nenek diam saja jadi aku menganggap telah mendapatkan persetujuan." 


"Kalau Dara ke kantor, maka siapa yang menemaniku?" 


"Nenek tenang saja, aku telah mengatur jadwalnya. Alan ada di sana untuk menemani nenek, setidaknya dia sedikit berguna." 


"Huff, baiklah." 


Setelah sambungan telepon terputus, Erick kembali mengingat masa lalu yang sangat buruk. 


****


Dara menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke mansion tepat waktu usai sepakat dengan nenek Diana, kini dia sangat sibuk dan bisa di katakan bekerja hampir dua puluh empat jam. 

__ADS_1


Beberapa karyawan melirik Dara heran, setahu mereka gadis itu sudah di pecat. Seseorang menepuk punggungnya membuatnya sontak menoleh. 


"Tita."


"Dara. Kau kembali bekerja?" Tita sangat tidak percaya, pasalnya CEO di perusahaan itu tidak akan pernah menerima seorang yang telah di pecat, sama saja menjilat ludah sendiri. Tapi dia sangat senang dan memeluk erat temannya itu dan menepis prasangkanya. 


Dara mengangguk. "Tuan Erick mempekerjakan aku kembali." 


"Selamat untukmu." Tita sedikit tahu mengenai kehidupan temannya itu. 


"Hem. Aku ingin menyelesaikan tugas ini." 


"Baiklah, nanti kita ke kantin." 


"Sesuai keinginanmu." 


Di kantin, Dara mendengar semua perkataan Tita dan mereka sesekali tertawa bersama. 


Tak sengaja Tita menatap seorang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Eh, ada seseorang yang memperhatikan kita." Bisiknya mencondongkan tubuh ke depan. 


"Siapa?" Dara segera menoleh menghilangkan rasa penasarannya. Dengan cepat Tita menahannya, dan  memberikan kode. 


"Jangan melihatnya." Larang Tita tapi terlambat karena pria yang di maksud sudah berdiri di dekat mereka. 


"Hei, apa aku boleh bergabung." Pria itu tersenyum seraya membawa nampan yang berisi makanan. 


"Silahkan." Jawab Dara yang acuh. "Auh." Kemudian meringis kesakitan merasa kakinya di injak oleh temannya itu. 


"Kau__" Belum sempat Tita menyelesaikan perkataannya pria itu sudah duduk di sebelahnya. 


"Perkenalkan namaku Arvan, anak baru di sini." Ucapnya tersenyum ramah. 


"Hei, aku Tita dan ini temanku Dara." 


Ketiganya makan dengan khidmat, mereka mengobrol dan menjadi akrab. Hal itu tersorot pada dua mata hazel nan tajam, kilatan rasa tidak suka. 


"Siapa pria yang bersama mereka?" tanya Erick penasaran. 


"Arvan, anak baru bekerja di perusahaan Tuan." Jelas asistennya. 


Ada sesuatu di hati tidak rela melihat Dara dekat dengan pria lain, dia pun memutuskan pergi dari kantin dan mengurungkan niatnya menemui Dara. 

__ADS_1


__ADS_2