Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 17


__ADS_3

Dara membaringkan tubuh di atas sofa di dalam kamar sembari memainkan ponselnya, membaca novel online sudah menjadi hobi jika memiliki waktu luang. Saat serius membaca, tiba-tiba muncul notifikasi dan segera di cek. 


"Wah, ternyata alumni sekolah menengah atas membuat acara tahunan." Gumamnya tak percaya kembali di tambahkan ke dalam grup di aplikasi, pasalnya nomornya yang lama sudah lama tidak aktif. "Aku merindukan teman-temanku," sangat bersemangat juga antusias. Awalnya Dara berpikir mengenai siapa yang menambahkannya ke dalam grup alumni di sebuah aplikasi, tapi di tepis karena sangat merindukan teman-temannya. 


"Apa Erick juga ikut?" pikir Dara. "Tentu saja dia ikut, dia juga murid di sana. Hah, bodohnya aku." Monolognya menepuk kening pelan. 


Dara membuka lemari dan mencari pakaian yang akan di kenakan untuk acara alumni, memilah dan memilih gaun terbaik hingga seisi lemari dia keluarkan. Menghela nafas pasrah, hampir putus asa karena tak memiliki gaun terbaik. "Tidak ada yang cocok," keluhnya. 


Dara mengeluarkan dompet dan melihat sisa uang. "Ini tidak cukup aku membeli gaun baru." Rungutnya cemberut. "Ya sudahlah, pakai seadanya. Ini kan hanya pertemuan dengan teman-teman, bukan ajang pamer pekerjaan juga harta." Yakinnya, akhirnya permasalahan terpecahkan. 


Ponsel Dara tiba-tiba berdering, nomor baru yang menghubungi membuatnya penasaran dan mengangkat telepon itu. 


"Halo."


"Dara, benar ini kau? Ya Tuhan, aku tidak percaya bisa menghubungimu kembali. Mengapa nomor ponselmu yang lama tidak bisa di hubungi? Susah payah aku mencari nomor kontakmu dan sekarang aku mendapatnya di grup alumni." Jelas seseorang tanpa memberikan celah untuk Dara menjawab. 


Dara berusaha mencermati setiap perkataan, barulah sadar kalau itu suara sahabatnya di sekolah menengah atas.


"Gemini?" 


"Ya, ini aku. Kau tega sekali sudah melupakan aku, setelah sekian lama tak bertemu."


Terdengar suara lirih membuat Dara tak tega. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu." 


"Ya sudah, lupakan itu. Kau besok akan datang ke acara alumni 'kan?" 


"Tentu, aku merindukan semua teman-temanku termasuk kau, sahabat terbaikku." 


"Janji?"


"Ya, janji." 


Setelah selesai menelepon, Dara menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Aku pikir Gemini akan berubah setelah beberapa tahun putus komunikasi, tapi ternyata aku salah. Dia masih sama seperti dulu, aku sangat merindukannya. Eh, aku lupa bertanya padanya siapa yang menyelenggarakan acara itu." 

__ADS_1


Dara yang sudah selesai dengan tugasnya kembali menemui nenek Diana, tentu saja untuk meminta izin pergi ke acara malam besok. Namun merasa sungkan karena pekerjaan utamanya yaitu merawat nenek, tapi kenyataannya sering menghabiskan waktu di luar seperti bekerja ke kantor. 


Tak


Dara yang melamun berhasil terkejut, melihat paper bag yang ada di depan mata, seorang pria menatapnya datar. "Apa ini?" 


"Buka saja." 


Dara meraih paper bag dan melihat apa yang ada di dalamnya, kedua mata berbinar melihat gaun berwarna peach yang sangat indah. "Gaun ini__."


"Itu untukmu, pakailah malam besok." Erick melangkah pergi dan diam-diam tersenyum. 


Dara yang berpikir lambat mengapa Erick tiba-tiba memberikannya gaun indah itu. "Wah, tumben sekali dia memberikan hadiah." Tak sengaja melihat label tersembunyi, rasa penasaran menuntunnya untuk melihat. Alangkah terkejutnya dia dengan harga yang cukup menguras kantong. "Gaun seperti ini di berikan padaku cuma-cuma? the real sultan." 


"Harga hanyalah nominal saja, kau lebih bernilai di bandingkan gaun itu." Gumam Erick diam-diam memperhatikan Dara. 


Dara mencoba gaun peach itu yang sangat sempurna, ukuran dan sangat cocok di pakai olehnya. Tak lupa sedikit memoles wajahnya agar terlihat segar, mengambil tas tangan dan keluar dari kamar. Dia sangat bersemangat untuk menemui teman-temannya, namun langkah terhenti saat mendengar suara tapak sepatu. Pandangannya menyusuri sosok yang menuruni anak tangga, pria tampan dan sangat cool itu berhasil menghipnotis dirinya. 


Keduanya saling berkontak mata, pandangan takjub dan terpukau karena keduanya sama-sama memuji penampilan. Erick tak melepaskan tatapannya, sosok gadis cantik yang  memakai gaun yang dia berikan. 


"Dia cantik sekali," puji Erick di dalam hati. "Kita pergi bersama-sama!"


Dara yang merasa sungkan tentu menolaknya berbagai alasan, bukan Erick namanya jika tak bisa membujuk gadis itu pergi bersama. Lama keduanya terdiam, suasana hening tercipta hampir di sepanjang jalan. 


"Hem, apa kau tahu siapa yang menyelenggarakan acara alumni sekolah?" tanya Dara memecah kesunyian. 


Erick mengangkat kedua bahunya tak ingin menjawab, membuat Dara jengkel padanya. 


"Sombong sekali." Dara memandang pria di sebelahnya sinis dan segera mengalihkan perhatiannya.


Tibalah waktu dimana alumni sekolah SMA Nusa Bangsa mengadakan sebuah acara untuk pertama kali setelah sekian tahun, pesta yang sangat besar dan juga mewah tentu mengeluarkan biaya tak sedikit, tapi seseorang ingin mengingat masa lalu dengan menyelenggarakan acara. 


"Dara." Pekik seorang gadis cantik berlari menghampiri Dara dan memeluk erat. 

__ADS_1


Erick tak ingin mengganggu momen itu berjalan lebih dulu dan duduk di kursi seorang diri, meraih minuman sembari mengamati dari kejauhan. 


"Eh, siapa pria yang pergi bersamamu itu?" tunjuk Gemini antusias.


"Dia Erick, siswa di sekolah yang sama dengan kita." Jelas Dara. 


"Erick?" Gemini menggaruk kepala tidak gatal sambil mengingat siapa pria itu. "Tidak mungkin Erick yang itu." 


"Kau pikir Erick yang itu," tergambar jelas raut wajah tidak percaya, gambaran Erick di masa sekolah di kenal dengan pria introvert, kuti buku, dan sangat culun. Mengucek kedua mata, memicingkannya melihat dari jauh agar jelas. 


"Memangnya nama Erick ada berapa di sekolah seangkatan kita?" ada rasa kesal melihat sahabatnya memperlihatkan ekspresi berlebihan. "Tumben sekali sekolah mengadakan acara." 


"Itu bisa terjadi karena seorang kaya raya mendanai semuanya." Jelas Gemini. "Yang lain sudah menunggu, ayo!" 


"Ayo."


Dara sangat antusias menyapa teman-temannya, senyum dan tawa selalu terukir di wajah cantik itu. Seseorang datang menghampiri menyapa para gadis yang populer pada masanya karena kecantikan yang di miliki. 


"Hai, apa aku boleh bergabung?" tanya pria itu ikut duduk di sebelah Dara, mengulurkan tangan sebagai perkenalan diri. "Namaku Dion," ucapnya mengulurkan tangan, tersenyum penuh harap kalau gadis di sebelahnya merespon. 


Dara tersenyum membalas perkenalan itu, tatapan pria itu membuatnya sedikit risih dan mencoba untuk bergeser menjauh. 


"Aku salah satu pemujamu saat masa sekolah dulu, dan tidak menyangka kita bertemu di sini." Dion sangat antusias berkenalan dan bercerita panjang lebar, hal itu di tangkap oleh Erick yang duduk dari kejauhan sambil mengepal kedua tangannya dan berjalan menghampiri. 


"Menjauhlah! Apa kau tidak lihat dia risih berada dekat denganmu."


Dion menatap ke asal suara melihat seorang pria tampan yang tidak dikenalnya. "Siapakah yang berani melarangku?" jawabnya memberikan tatapan intens. 


"Tidak perlu kau tahu siapa aku, menjauh dari kekasihku." Tegas Erick menatap tajam. 


Dara yang mendengarkan langsung menatap Erick, namun dia mengerti dan menganggukkan kepala agar terbebas dari Dion yang membuatnya sangat risih.


"Kau berhutang padaku," bisik Erick setelah berhasil mengusir Dion, bibirnya lah mengulas senyum penuh arti. 

__ADS_1


__ADS_2