
Di pagi buta, Dara hendak meraih gelas yang berada di atas nakas. Melihat teko dan gelas yang kosong membuatnya menghela nafas, tenggorokan yang sangat kering memaksanya beranjak dari ranjang empuk itu menuju dapur.
Berjalan gontai menuju dapur untuk mendapatkan segelas air pelepas rasa dahaga yang tak tertahankan, namun tak sengaja matanya menangkap sekelebat bayangan hitam.
"Astaga, apa itu tadi?" ucapnya terkejut seraya menggosok kedua mata. "Apa mansion ini ada hantunya?" lirihnya bergidik ngeri.
"Kau sedang apa?"
Dara menjerit ketakutan mendengar suara berat seseorang, langsung mengalihkan perhatiannya dan berbalik. "Hantu." Pekiknya yang terdengar seisi mansion.
Pletak
Ternyata yang di sebut hantu adalah Erick, sedikit kesal jika wajah tampannya di samakan dengan hantu dan menyentil kening gadis itu. "Itu hukuman untukmu sudah menyamakanku dengan hantu."
"Aww…kau mengagetkanku." Gerutunya.
"Kau sedang apa?"
Dara menunjukkan teko kosongnya. "Mau mengambil air minum ku sudah habis, dan kau apa yang kau lakukan?"
"Berjalan-jalan saja." Jawab Erick setengah kebenaran, tak mungkin dia mengatakan kalau ciuman itu membuatnya tidak bisa tidur.
"Erick, tunggu!" pekik Dara menyusul.
"Ada apa?" tanya Erick penasaran.
"Hah, mungkin ini bukan waktunya yang tepat." Ucap Dara di dalam hati, mengurungkan niat berbicara mengenai masa lalu. "Hah, aku lupa ingin bicara apa." Ujarnya cengengesan.
Erick menghela nafas dan melengos pergi dari tempat itu. "Hem."
"Lain kali aku akan mengatakan kebenarannya padamu," lirih nya menatap kepergian pria itu. "Eh, mengapa aku kesini?" Dara mulai berpikir keras alasan dia berada di dapur, tidak tidur semalaman membuat otaknya tidak bekerja dengan baik.
****
Di kantor, seperti biasa Dara fokus mengerjakan tugasnya dan beruntung tidak ada yang mengganggunya, setidaknya dia memiliki waktu luang sendiri. Dia menggeliatkan tubuh dan menyandarkan punggung ke kursi, memijat tengkuk leher supaya pegal sedikit berkurang.
Jam di dinding menunjukkan waktunya istirahat, bertepatan perut yang terasa lapar. "Aku lapar sekali." Gumamnya memegang perut, baru saja berdiri dari kursinya sudah di buat terkejut kedatangan Arvan.
__ADS_1
"Ingin ke kantin bersamaku?" tawar pria itu tersenyum ramah.
"Kebetulan sekali, ayo!" ucap Dara menyetujui, keduanya melangkah menuju kantin.
Dua pasang mata tak sengaja menangkap hal itu, salah seorang mengepalkan tangannya dan menatap tajam.
"Tuan tidak apa-apa?" tanya asisten Ibnu merasa ada sesuatu melihat kebersamaan Dara dan juga karyawan baru.
Erick melangkah pergi lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia sangat kesal melihat Dara bersama dengan pria lain.
Arvan memesan makanan, tersenyum melihat gadis yang berada di hadapannya.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Bukan apa-apa, apa aku boleh meminta nomormu?"
"Tentu." Keduanya saling bertukar nomor telepon, mengobrol ringan dan sesekali tertawa.
"Ini membuat aku kesal saja," Erick diam-diam mengikuti Dara itupun sangat jengkel melihat kedekatan mereka, langsung berjalan menghampiri. "Ternyata kau di sini."
"Ada apa?"
"Salam Tuan Erick," sapa Arvan ramah, berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan.
Erick tak menggubris karena pandangannya hanya tertuju pada Dara, menyeret gadis itu untuk menjauh dari karyawan baru.
"Jangan memaksanya, Tuan." Tekan Arvan menghentikan langkah kaki Erick.
"Kau tahu sedang berbicara dengan siapa?"
"Maaf kalau saya lancang, Tuan."
"Jangan mencampuri urusanku kalau tidak ingin di pecat." Ancam Erick pergi sambil menyeret Dara.
"Kau ini kenapa? Lepaskan tanganku." Pekik Dara memberontak.
Erick melepaskannya, tatapan menusuk seperti memangsa gadis di sebelahnya. Tampak berpikir untuk mencari alasan mengapa dia menyeret gadis itu menjauh dari karyawan baru, tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya dia sangat cemburu.
__ADS_1
"Mengapa kau diam?"
"Hari ini pemeriksaan nenek yang rutin setiap bulannya, tanggung jawab nenek ada padamu dan aku sekedar mengingatkan." Akhirnya Erick mendapatkan alasan logis.
"Lalu, bagaimana pekerjaanku?"
"Jangan pikirkan urusan kantor, kesehatan nenek adalah yang terpenting."
"Baiklah."
Diam-diam Erick tersenyum tipis, untuk saat ini berhasil memisahkan Dara dan si karyawan baru yang sepertinya ingin mendekati sang mantan kekasih.
"Semuanya baik. Kesehatan nyonya Diana sangat baik, dan harus di kontrol setiap bulannya. Pastikan juga untuk selalu minum vitamin yang sudah di resepkan." Jelas dokter.
"Kau lihat! Aku baik-baik saja. Sekali sebulan aku harus kontrol," celetuk nenek Diana tidak suka hal berbau rumah sakit.
"Demi kesehatan Nyonya." Ujar dokter tersenyum ramah. "Perhatikan juga makanan yang di konsumsi nyonya Diana, pastikan semua yang di sarankan ahli gizi di jalankan demi hidup sehat."
"Aku benci rumah sakit, aku mau pulang!"
Dara membantu nenek Diana dan keluar dari ruangan itu, sementara Erick masih mengobrol dengan dokter.
"Apa penyakit pikun nenek bisa di hilangkan?"
Bugh
Belum sempat dokter menjawab, sebuah sendal melayang mengejutkan mereka. Melihat sang pelaku tak lain nenek Diana melotot tajam ke arah cucunya sambil bertolak pinggang. "Tuhan masih baik padaku, memperlihatkan wajah aslimu. Beruntung aku kembali dan mendengar semuanya."
Dara berusaha membujuk nenek Diana yang sensitif untuk tidak membuat keributan, memberikan kode mata supaya Erick sesegera mungkin meminta maaf.
"Maaf, aku hanya ingin Nenek sembuh."
"Aku tidak sakit hanya pikun saja. Apa itu merepotkanmu?"
"Aku hanya bertanya saja, jangan tersinggung Nek."
"Hem." Nenek Diana berlalu pergi, sedangkan Dara dan dokter menahan tawa mereka.
__ADS_1