
Dion menatap kesal pada Erick yang berhasil menyingkirkannya, rasa dendam dan marah sudah mempermalukannya di depan orang lain. Kedua tangan terkepal kuat, tatapan tajam terhadap mangsa dan ingin mencabik-cabiknya.
"Dia belum tahu siapa aku," Dion yang kesal mulai membuat rencana pembalasan, memerintah beberapa orang untuk memberikan Erick pelajaran. "Lihat saja nanti," gumam sambil tersenyum devil penuh percaya diri, tidak tahu siapa yang sedang dia usik.
Semua orang sangat terkejut mengetahui Dara menjadi kekasih Erick, selain tampan juga sangat kaya raya. Mereka juga tidak menyangka, pria yang duduk seorang diri itu adalah pria yang sama selalu suka menyendiri dan juga cupu. Perubahan yang cukup drastis, mereka menilai kalau gadis yang akan menjadi kekasih pria itu akan menjadi gadis paling beruntung.
Semua orang mulai memuji kehebatan dan juga ketampanannya, Dara menatap tajam seperti menekan pria itu.
"Boleh aku pinjam kekasihku?" Erick tersenyum melihat ekspresi Dara seperti ingin menggantungnya, menatap beberapa detik pada gadis-gadis yang menganga tak percaya. Mereka heboh mendengar pernyataan langsung, membuat hati iri.
"Ish, kau ini. Bagaimana kalau mereka salah paham?" Kesal Dara memukul lengan Erick yang tersenyum.
"Biarkan saja."
Semua orang mengalihkan pandangan pada satu objek yang menjadi mc, menuntun berjalannya sebuah acara. Dara sangat penasaran siapa yang mendanai acara itu dan terkejut saat mc memanggil nama Erick Adelmo.
"Wow, kau sangat hebat bisa mendapatkan Erick, aku sangat iri padamu." Gemini menatap pria yang berdiri di hadapan semua orang takjub mendanai acara yang sangat mewah. Dia menyenggol lengan Dara untuk menggodanya, berharap dia menemukan tambatan hati.
"Kau tidak tahu saja Erick selalu menyulitkan aku," batin Dara yang mengulas senyum tak menjawab perkataan sahabatnya.
"Apa Erick punya teman kaya raya juga tampan?" bisik Gemini.
"Aku tidak pernah bertemu dengan temannya selain asistennya di kantor."
"Kalau ada segera beritahu aku yaa."
"Oke."
Setelah selesai semua acara yang berjalan lancar itu, Erick dan Dara sedang menuju ke mansion Adelmo.
Dara menatap lurus ke depan, jalanan tampak sepi hanya di hiasi lampu yang berjejeran. Suasana hening membuatnya tak tahan, apalagi laju kendaraannya seperti seorang yang baru belajar menyetir.
__ADS_1
"Bisa tidak menambah kecepatan mobil ini, seperti keong…sangat lamban."
Erick menghela nafas berat, melakukan semua itu agar menghabiskan waktu lebih lama. "Keselamatan itu nomor satu."
"Ngebutlah! Aku sangat lelah dan ingin beristirahat." Keluh Dara menutup mulutnya yang menguap.
"Kau boleh tidur lebih dulu." Erick kembali fokus ke depan. Sesekali dia menatap gadis yang terlelap di sebelahnya, suara dengkuran halus menandakan kalau Dara sangat kelelahan.
Erick langsung mengerem mobil secara mendadak, melihat seseorang tergeletak di aspal dan hampir saja ke lindas oleh mobilnya. "Sangat ganjal, aku harus hati-hati." Gumamnya yang mencium aroma kejahatan, memundurkan mobil dan berusaha menjauh.
Orang yang tergeletak itu bangun dan di tangannya memegang pisau lipat nan tajam, berlari mengejar mobil yang sudah di targetkan. Erick menghela nafas berat, seseorang yang berniat buruk padanya dan Dara tidak akan selamat. "Siapa yang menyuruh mereka?" lirihnya sambil menghitung para penjahat begal lengkap dengan senjata tajam di tangan mereka.
Erick nekat keluar dari mobil, berhadapan langsung dengan lima orang begal tanpa kenal takut. Sorot mata yang tajam di mainkan mata elang, menatap mangsa empuk sebagai makanan. "Di jalanan ini tidak pernah memiliki kasus kriminal, siapa orang yang menyuruh kalian?"
"Berisik, kau harus celaka." Pekik salah satu penjahat.
"Sudahlah, aku tak punya banyak waktu. Katakan berapa bayaran yang kalian terima, aku akan membayar kalian tiga kali lipat."
Erick tersenyum miring, melempaskan uang sesuai kesepakatan mereka. Bisa saja dia menghajar para penjahat itu, tapi dirinya tak ingin egois dengan mengorbankan keselamatan Dara yang tertidur di dalam mobil.
"Siapa yang memberi perintah pada kalian?"
"Tuan Dion yang menyuruh kami untuk mencelakai anda."
"Hem, sekarang kalian akan bekerja padaku. Akan aku berikan cek bernilai puluhan juta asal kalian memberi pria itu pelajaran, bagaimana?"
"Wah, kita lebih baik mengikuti perkataan pria itu." Diskusi para penjahat berbisik.
"Setuju."
"Baiklah, kami setuju dengan tawaran anda, Tuan." Ucap mereka kompak menarik sudut bibir Erick.
__ADS_1
"Bagus. Sekarang menyingkirlah!" Erick berjalan masuk ke dalam mobil, wajah sombongnya berhasil membalikkan keadaan. "Hanya kecoa saja berusaha main-main denganku, Dion kau akan menyesal menyuruh mereka menyerangku."
Mobil berhenti tepat di hadapan bangunan mewah, Erick tersenyum sambil membelai wajah Dara yang sangat cantik telah membuatnya sulit move on. Kenangan di masa lalu juga cinta pertama yang tidak bisa dia lupakan.
"Sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakanmu, walau kau hanya menjadikan aku sebagai taruhan." Lirihnya meringis tersenyum sinis, perasaan tertinggal dan perjalanan cinta yang belum usai.
Erick menggendong tubuh Dara dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, tersenyum dan menyusup berbaring di sebelah gadis itu. "Sangat nyaman." Batinnya mengeratkan pelukan yang sangat nyaman.
Sementara di tempat lain, Dion sudah menunggu orang suruhannya memberikan Erick pelajaran karena telah mempermalukannya. Senyum sumringah menunggu kabar dari anak buahnya, sudah tidak sabar mendengar hasilnya.
Tak
"Tuan, kami mengembalikan uang darimu. Kita sudah tidak memiliki hubungan anak buah dan atasan lagi." Sala satu penjahat melempar uang pemberian Dion yang tidak seberapa di bandingkan pemberian Erick yang dermawan.
"Apa semua ini?" Dion mengerutkan dahi dan sangat penasaran.
"Bukankah semua sudah jelas, lebih gepatnya kami bekerja dengan tuan Erick."
"Dasar pengkhianatan." Dion maju untuk memberi pelajaran, tapi para penjahat itu mengeluarkan senjata tajam menggertak mantan majikannya. "Kalian gila ya!"
"Bau uang bisa menyesatkan, jadi maaf kami harus melukai anda, tuan Dion." Ujar salah satu penjahat menyeringai tipis dan maju menghajar Dion.
****
Di pagi hari, Dara membuka kedua matanya dan merasakan berat di pinggangnya. Melihat sebuah tangan melingkar entah sejak kapan, tertidur membuatnya tidak menyadari itu. Dia segera berbalik badan dan tersentak melihat Erick di hadapannya, menatap sekeliling berbeda di kamar yang dia tempati.
"Astaga, mengapa aku bisa tidur disini dan bersama Erick. Eh, ternyata dia tamoan juga saat tidur." Sesaat kemudian Dara tergoda akan ketampanan sang mantan kekasihnya, menyentuh hidung mancung juga alis mata yang lebat sangat sesuatu baginya.
"Apa kau sudah puas bermainnya?"
Dara berteriak sekaligus malu, ternyata pria itu mendengar perkataannya. "Sejak kapan kau bangun?" tanyanya guguo, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti udang rebus.
__ADS_1
"Sejak kau masih bergulat di dunia mimpimu." Erick menyembunyikan senyum gelinya, di matanya Dara sangatlah menggemaskan.