
Jarak begitu dekat kembali membuat debaran hari, jantung berpacu dengan sangat cepat membuat posisi intim itu segera di akhiri. Dia hendak keluar dari suasana tidak nyaman dan canggung itu, tapi belum sempat dia melakukannya pria itu lebih dulu menahannya dengan cara memeluknya sangat erat. Hembusan nafas halus dari pria itu membuat suasana semakin canggung dan risih, berusaha melepaskan pelukan itu sekuat tenaganya.
"Biarkan seperti ini." Lirih Erick menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya, rasa tertinggal jauh di lubuk hati terdalam yang selama ini tersimpan dan menganggapnya sebagai dunia mimpi.
"Kita harus pulang, ini sudah larut." Perlahan Dara melepaskan tangan pria yang sudah di pengaruhi alkohol, bau khas yang terhidup.
"Aku tidak ingin kemanapun." Erick semakin bicara melantur dan pelukannya melonggar.
Dara menghela nafas dan segera berdiri, meluruskan pinggangnya yang terasa nyeri akibat dekapan erat itu. Menutup pintu mobil dan berjalan ke sisi lain, lalu ikut menyusul dan mengemudikan mobil menuju mansion Adelmo.
Pikiran Dara di penuhi pria di sebelahnya yang terus meracau tidak jelas, satu hal yang di tangkapnya bahwa pria itu merasakan trauma mendalam setelah perbuatannya di masa lalu. "Kau tidak bisa berdamai karena perbuatanku dulu, aku mengerti mengapa sikapmu buruk dan selalu menyulitkan aku." Batinnya, ingin sekali mengatakan sebenarnya namun sekarang bukan waktu yang tepat.
Sesampainya di kediaman Adelmo, Dara menopang tubuh Erick dan perlahan masuk ke dalam mansion. Menopang tubuh yang bebannya melebihi bobot di tubuhnya sangatlah menyulitkan, dengan terpaksa meminta salah satu penjaga.
"Terima kasih." Ucap Dara tulus kepada penjaga yang membantunya.
"Sama-sama, saya kembali."
"Hem." Dara mengangguk dan mengalihkan perhatiannya, merasa sangat bersalah dan tidak tahu kalau hal itu semakin memburuk. Wajah tampan yang terbaring di atas ranjang, dia membuka sepasang sepatu yang melekat di kaki Erick. Setelah itu, dia duduk dan memperhatikan wajah tampan dengan seksama, rambut yang kurang rapi itu membuatnya risih dan menyingkapnya. Tak sengaja dia menyentuh dahi bosnya dan merasakan suhu panas, hingga dengan cepat dia menarik tangannya kembali. "Astaga, dia demam."
Dara sangat khawatir dengan kondisi Erick dan berlari mengambil kompres, berharap suhunya semakin turun.
__ADS_1
Malam semakin larut, hawa dingin menusuk kulit hingga terasa menusuk ke tulang. Beberapa kali Dara menguap, rasa kantuk tak tertahankan membuatnya terlelap dalam posisi duduk terjaga.
Erick hendak ke kamar mandi, pandangannya menangkap seorang gadis yang terlelap. "Eh, mengapa dia tidur di posisi seperti ini? Pasti sangat tidak nyaman." Segera beringsut dan menggendong tubuh ramping itu dan meletakkannya di atas tempat tidur, tersenyum kecil saat melihat wajah polos juga dengkuran halus seperti cuit-cuitan burung.
Tangannya menyentuh pipi Dara, melihat tangan gadis itu yang memegang handuk kecil juga baskom kecil berisi air. "Jadi dia semalam tidak tidur hanya untuk menjagaku?" sungguh tidak percaya, perhatian kecil itu sedikit meluluhkan hatinya yang beku.
Erick berlalu pergi ke kamar mandi, memegang kepala merasakan sakit luar biasa seperti di hantam palu. Tak lupa dia mencuci wajahnya di wastafel dan menatap dirinya ke cermin. "Astaga, aku minum terlalu banyak." Berharap dia tak bicara yang tidak-tidak, apalagi saat ini Dara bersamanya.
Senyum khas melihat gadis itu masih saja mendengkur halus dan terus memperhatikannya.
Kedunya berada dalam satu ranjang, Erick tak ingin mengacaukan mimpi gadis itu dan membiarkannya tidur di sebelahnya. Namun kedua matanya terbuka lebar, tangan Dara memeluk tubuhnya sangat erat untuk mencari kehangatan. "Dia pasti kedinginan." Gumamnya seraya meraih remote control AC dan mematikan nya, kemudian membalas pelukan itu.
Alan merasakan ada hal mengganjal tak melihat keberadaan dari kakak sepupunya juga Dara semalaman, dia nekat membuka pintu kamar sang sepupu untuk memastikan kalau semuanya aman terkendali.
"Astaga, pemandangan ini menodai mataku yang suci. Pagi hariku terasa muram melihat mereka sangat dekat, bagaimana dengan aku yang mulai tertarik pada Dara?" gumamnya meringis, hatinya sakit namun segera menepis perasaan itu karena memikirkan keduanya tak kunjung pulang dan mengira sepupunya itu sudah mati tertabrak.
Dara terbangun setelah pintu kamar tertutup, hal pertama yang di lihatnya adalah wajah tampan dari sang mantan kekasih. Wajah tampan nan mempesona bahkan lebih menarik di kala tidur, bulu mata yang lentik serta hidung mancung menghanyutkannya beberapa detik kemudian kembali sadar akan realita.
"Ya ampun, bagaimana aku bisa tidur di ranjangnya? Bukankah aku tidur dalam posisi duduk sambil menjaganya?" batin Dara sangat terkejut dan segera beranjak dari sana. Tapi belum sempat dia pergi, tangannya langsung di peluk oleh pria itu yang semakin nyaman tidur.
Perlahan Dara melepaskannya dan berlari keluar dari kamar Erick, dia tidak mau menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Pasti secara tidak sadar aku naik ke ranjangnya, untung saja dia belum bangun." Dara menghela nafas jengah dan belum menyadari kalau semua itu karena ulah Erick yang mindahkannya.
"Semalam kau kemana?" tanya seseorang yang berada di belakangnya.
Soontak Dara berbalik dan melihat Alan tengah menatapnya penuh penyelidikan. "Aku bekerja lembur." Jawabnya jujur.
Alan menyeringai, berpikir kalau gadis itu berbohong. Jelas-jelas dia mendapati nya berada satu ranjang dengan kakak sepupunya dan sangat-sangat mesrah. "Benarkah? Tapi aku melihat kalian berpelukan diranjang." Tiba-tiba dia menanyakan hal itu secara terang-terangan seperti seorang kekasih yang cemburu.
"Eh…itu, aku dan dia tidak melakukan apapun. Kami pulang larut malam, Erick minum terlalu banyak dan mabuk."
"Bagaimana kronologisnya?"
Dara risih dengan pertanyaan itu, seakan-akan dirinya gadis murahan yang tidur dengan atasannya sendiri. "Sudahlah, aku tak ingin menjelaskan apapun. Sebaiknya kau tanyakan langsung pada sepupumu itu." Dia melengos pergi meninggalkan Alan, masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Apa itu hal yang wajar?" Alan sangat kesal memikirkan kejadian tadi.
Sementara Erick terbangun dari tidurnya, mencari-cari keberadaan Dara yang tiba-tiba saja menghilang. "Eh, kemana dia pergi?" monolognya, lalu senyum khas menawannya itu kembali terlihat. "Mungkin saja dia malu."
Dara duduk di pintu kamar sambil mengusap wajahnya kasar. "Astaga…mengapa aku sangat ceroboh sekali?" tentu saja dia menyalahkan dirinya, tak berpikir jauh jika itu ulah Erick.
"Oke Dara, sudah cukup memikirkannya dan sekarang fokuslah untuk memberikan sambutan atas kepulangan nenek Diana." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri, kemudian bayangan memalukan kembali terbesit di pikirannya, dengan cepat berlari ke atas ranjang menutupi wajahnya dengan bantal.
__ADS_1