
"Kau sudah besar tapi masih bertingkah seperti anak kecil." Omel nenek Diana menggelengkan kepala sambil menyusuri pandangannya.
"Nenek salah paham. Ini ulah dua bocah tuyul yang berani mengerjai ku."
"Bocah tuyul? Siapa itu?"
"Siapa lagi kalau bukan si kembar adiknya Alan yang menyebalkan itu."
"Maksudmu Dicko dan Dicki?"
"Memangnya siapa lagi kalau bukan mereka."
"Hah, aku bahkan hampir gila di buat oleh mereka. Belum satu hari di sini sudah menjadikan mansion seperti kandang ayam." Nenek Diana menghela nafas beras, mengingat bagaimana ibu dari Alan datang berkunjung dan menyerahkan si kembar.
"Mengapa mereka di sini dan kemana bibi Starla?" tanya Erick penasaran, sejujurnya dia tidak ingin kalah si kembar ada di mansion yang hanya bisa membuat kekacauan setiap harinya.
"Dia menitipkan Dicko dan Dicki karena ada urusan penting." Ungkap nenek Diana.
Erick menyeringai, dia tahu betul bagaimana bibinya itu. "Nenek percaya begitu saja? Aku yakin kalau bibi Starla pusing dengan tingkah Dicko dan Dicko makanya menitipkan kemari."
Nenek Diana tersenyum, setidaknya mansion akan semakin ramai dan dia tidak sendiri lagi. "Sudahlah, aku tidak ingin mansion seperti kuburan. Dengan adanya mereka suasana di sini pasti lebih hidup."
Erick menghela nafas jengah dan berlaku pergi. "Hilang sudah ketenanganku."
Dara mendekati kedua anak kembar yang cukup sulit di kendalikan, kenakalan mereka membuat orang sekitar menyerah.
"Kalian sangat menggemaskan, berapa usia kalian?" tanya Dara menyamakan tinggi dengan cara berjongkok, mencubit gemas kedua pipi bocah itu secara bergantian.
"Aku Dicko dan adikku Dicki. Kami berusia dua belas tahun."
"Manis sekali, namaku Dara. Kalian bisa memanggilku apa saja, senyamannya." Dara tersenyum penuh arti, menggunakan kedua anak kembar itu untuk melawan Erick yang selalu mengekang nya. "Hehe …. setidaknya anak ini bisa membantuku, aku lihat pria angkuh itu kalah."
Dicko dan Dicki saling menatap satu sama lain, mereka tidak mudah dibodohi maupun di tipu, tentu saja membaca isi pikiran Dara melalui ekspresi. "Sepertinya Kakak mempunyai ide buruk, kami tidak akan menjadi pion." Seru salah satunya.
"Eh, bagaimana kalian bisa tahu apa yang aku pikirkan?"
__ADS_1
"Karena ekspresi Kakak yang menunjukkan segalanya."
"Wah, ternyata mereka bisa membaca raut wajahku. Kalau begitu aku harus hati-hati agar tidak bernasib sial seperti Erick, sangat cerdik." Batin Dara tak mewaspadai dirinya.
"Mengapa Kak Dara ingin menjadikan kami pion?" tanya Dicko menyelidik membuat Dara mati kutu.
Dara tersenyum kaku berusaha untuk menutupinya. "Kalian salah sangka, aku tidak berniat begitu, tapi menyukai tindakan kalian tadi. Kau tahu, kakak kalian yang satu itu sangatlah menyebalkan," ungkapnya separuh dari kebenaran.
Keduanya mengangguk ber 'oh' ria saja, kemudian pergi untuk membuat kekacauan berikutnya.
"Fiuhh …. hampir saja, mereka sangat pintar." Dara berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Erick mengelap tubuh dan juga rambutnya yang basah, handuk putih melingkar di pinggangnya memperlihatkan perut sixpack membuat siapa saja ingin menyentuhnya. Menatap dirinya di depan cermin sambil mengagumi diri sendiri, namun perhatian nya tertuju pada pantulan di cermin, melihat pintu kamar sedikit terbuka.
"Perasaan aku sudah menutup pintu kamar, mengapa sekarang terbuka?" pikirnya yang melangkah menuju pintu dan menutupnya. "Ahh, perasaanku menjadi tidak enak." Gumamnya memegang tengkuknya yang terasa dingin. Benar saja, di saat dia berbalik melihat dua bocah tengah tersenyum penuh arti dan tentunya dia sangat paham apa yang terjadi selanjutnya.
"Bagaimana kalian bisa masuk ke dalam kamarku?" bentaknya tidak suka.
"Dengan menggunakan ini," Dicko tersenyum jahil, memperlihatkan kode kamar yang berhasil dia pecahkan.
"Dasar setan kecil, kemari kalian!" Erick mengejar Dicko dan Dicki membuatnya luoa saat ini hanya mengenakan handuk penutup bagian penting dari masa depannya.
"Bantu kami Kak." Bujuk mereka yang sudah lelah berlari, apalagi Erick meminta bantuan beberapa pengawal untuk mengejar mereka.
"Untuk apa aku membantu kalian," sahut Dara yang ingin membalikkan keadaan, tentunya melakukan yang terbaik pada nasib mujur.
"Kami akan membantu Kak Dara setelah membantu kami agar tidak di temukan kak Erick, kalau dia menemukan kami? Maka, tamatlah riwayat."
Dara tersenyum mendapat kan tawaran menggiurkan, setidaknya menjadikan kedua bocah itu di kemudian hari untuk membantunya sebagai timbal balik. "Baiklah, aku setuju."
Tampak kedua bocah itu tersenyum dan mengikuti langkah kaki Dara, mendapatkan perlindungan agar terhindar dari amarah dari kakak sepupunya.
Setelah berhasil menyembunyikan si kembar, Dara hendak keluar dari ruangannya. Tak sengaja melihat Erick yang hanya mengenakan handuk saja, sontak membuatnya sangat terkejut.
"Mengapa kau berkeliling mansion hanya menggunakan handuk?" pekiknya menutupi wajah menggunakan kedua tangan, dengan cepat berbalik badan.
__ADS_1
Erick juga tidak menyadari kekonyolannya dan menutupi dada. "Apa yang kau lakukan kesini?"
"Tidak ada."
"Apa kau melihat Dicko dan Dicki?" tanya Erick yang sudah sangat kesal di kerjai oleh adik sepupunya.
"Aku tidak lihat mereka."
"Benarkah?" Erick melempar tatapan penuh menyelidik, menyipitkan kedua mata melihat punggung sang mantan.
"Benar."
Erick tahu benar kalau Dara berbohong, berjalan mendekat agar mereka berhadapan. Dengan paksa menyingkirkan tangan yang melindungi wajah cantik dari sang mantan.
"Kau tidak ahli dalam berbohong, katakan dimana mereka."
Dara menghela nafas, pasrah dirinya dan mengakui di mana persembunyian kedua bocah itu. Namun dia juga mempertahankan benteng agar tidak terbuai dengan perut kotak-kotak yang di miliki mantan kekasihnya.
"Singkirkan tangan itu dari wajahmu!" titah Erick.
"Tidak."
Terjadi aksi di antara keduanya, Erick yang memaksa itu berhasil. Namun naas, saat handuk putih yang melikit di pinggang malah terjatuh kelantai. Dara sangat terkejut melihat sesuatu benda berbahaya tengah bergelayut di antara kedua pangkal paha.
"Pria mesum, kau menodai mataku." Pekik Dara kembali berbalik badan.
Segera Erick mengenakan handuk. "Yang melihat senjata keramatku termasuk salah satu orang yang beruntung." Ucapnya dengan bangga, namun di dalam hati mengumpat kebodohannya yang sangat memalukan.
"Beruntung katamu? Kau malah menodai mataku yang suci," Keluh Dara.
"Sudahlah, jarang-jarang kau melihat rudalku nan sakti apalagi tengah mengamuk." Erick menyukai ekspresi lucu yang di tunjukkan Dara, semakin membuatnya bersemangat untuk menggoda.
"Apa kau sudah menutupnya?"
"Untuk apa aku menutupnya?" goda Erick tersenyum lebar. "Apa kau takut akan kehilangan akal nantinya?"
__ADS_1
"Ternyata predikat mu bukan hanya angkuh, tapi juga pria mesum cap minyak sinyongnyong." Umpat kesal Dara berlari sekuat tenaga agar terhindar dari godaan Erick, walau sebenarnya dia memang tergoda dengan perut sixpack milik sang mantan.
"Dia lucu sekali," ucap Erick di selangk tawa menggelitik. "Baru melihatnya kau sudah kabur, bagaimana jika yang lainnya? Pasti kau pingsan." Gumamnya menatap punggung Dara yang mulai menghilang dari pandangannya, hal itu malah membuatnya lupa pada tujuannya memberikan pelajaran oada dua kembar.