Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 27


__ADS_3

Kabar pernikahan tersebar dengan sangat cepat, Dara hanya bisa menerima tanpa bisa menolaknya. Sudah berulang kali dia memperingatkan Erick agar tidak mengumumkan pernikahan mereka di kantor, karena dia ingin hidup dengan tenang. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, banyak karyawan yang shock tidak percaya kalau gadis biasa akan di persunting seorang pangerang, kisah yang hampir mirip dengan cerita dongeng Cinderella. 


Dara selalu saja di hampiri oleh karyawan dan tentunya mencari muka agar pekerjaan dan jabatan mereka tetap aman, tak khayal salah satu karyawan yaitu seniornya bernama Raras juga mendekatinya. 


"Semua orang tiba-tiba baik padaku, ini pengaruh Erick. Bisakah aku hidup seperti biasa?" pekik Dara di dalam hati, dia sudah tidak tahan dengan orang-orang bermuka tebal. 


Dara memutuskan untuk menghampiri kekasihnya, tanpa menunggu waktu langsung mendobrak ruang kerja. 


"Kenapa kau melakukan semua ini?" 


Erick menaikkan sebelah alisnya, tentu saja dia tidak mengerti dengan pikiran dari kekasihnya yang terlihat marah. Segera menghentikan aktivitas dan datang menghampiri, menarik oelan lengan Dara untuk duduk di sofa empuk sambil mengeluarkan semua keluh kesah. 


"Sekarang kau ceritakan, apa yang membuatmu marah?" 


Dara mengatur nafasnya terlebih dulu, bisa-bisanya Erick bisa sesantai itu dan bahkan menatapnya tak bersalah. "Karena kau mengumumkan pernikahan kita di hadapan publik, aku tidak bisa hidup nyaman seperti dulu semua orang mendekatiku. Aku risih." 


"Itu biasa terjadi."

__ADS_1


"Ck, kau sangat menyebalkan. Bagaimana dengan kehidupan normal yang sudah kau renggut itu?" 


"Anggaplah sebagai pelatihan mental mu, karena sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Erick Adelmo." 


"Apa aku boleh mencakar wajahnya?" ucap Dara di dalam hatinya, dia segera menerima panggilan dari nenek Diana. 


"Halo nek, ada apa?" 


"Dua hari lagi pernikahanmu, berhentilah bekerja di perusahaan dan suruh Erick untuk mengantarkanmu ke butik."


"A-apa? Dua hari lagi?" 


Setelah sambungan telepon selesai, Dara menatap Erick tajam dan menusuk. Bisa-bisanya kekasihnya itu mempercepat pernikahan dari waktu yang di tentukan, hal ini semakin membuatnya tak habis pikir. 


Erick tersenyum tipis melihat kekasihnya yang terkena serangan kepanikan, dia tidak ingin sang kekasih di rebut oleh pria lain. 


"Kau tersenyum setelah melakukan semua ini tanpa perlu memberikannya padaku?" Dara bertolak pinggang dan berusaha meredam emosinya. 

__ADS_1


Erick terkekeh dan mencium bibir Dara dengan sangat lembut, karena dirinya yang tidak sabar untuk segera memiliki cintanya sepenuhnya. 


"Tenang lah, kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kita akan segera menikah dan persiapkan dirimu saja. Semua telah diatur, mulai sekarang kau beristirahat di dalam kamar kediaman Adelmo, sekaligus__."


Dara bergidik di saat jemari Erick memainkan rambutnya, bahkan di leher jenjangnya. 


"Sekaligus apa?" 


"Sekaligus mempersiapkan dirimu untuk malam pertama kita, Sayang."


Sontak kedua mata Dara terbuka lebar, bahkan pikirannya belum sampai kesana. 


"Ya Tuhan … malam pertama pasti rasanya sakit, aku akan mencari akal agar Erick menundanya dulu." Batin Dara sungguh tak siap. 


Semakin dia terdiam semakin Erick bersemangat membahas mengenai malam pertama yang seperti apa yang dia inginkan, hal yang sangat tabu membuat Dara ingin sekali pergi dari sana.


"Jangan membahas itu."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Sebentar lagi kita akan menikah, tentunya aku ingin malam pertama kita menjadi malam panjang nan romantis."


"Stop." Buru-buru Dara berlari keluar dari tempat itu, sebelum telinganya ternodai.


__ADS_2