
Bugh
Dara yang terkejut itupun menendang tubuh Erick hingga terjerembab jatuh ke lantai, secepat mungkin menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tatapan kaget dan juga takut secara bersamaan, mengangkat tangan sebagai kode agar pria itu tidak mendekatinya.
"Jangan mendekat!"
Erick menghela nafas seraya berjalan menghampiri.
"Sudah aku bilang untuk tidak mendekat." Gerutunya.
"Kau aneh sekali, mengapa menutupi tubuhmu dengan selimut tebal?"
"Kau apakan aku semalam," tanya Dara penuh dramatis.
"Apa yang kau pikirkan?" Erick menyerngitkan dahi mencerna perkataan yang di lontarkan Dara, dan menyeringai tipis mengetahui.
"Ternyata kau pria mesum, bagaimana kau bisa berpikiran membawaku ke kamarmu."
"Aku membawamu ke tempat terdekat, jarak ke kamarmu cukup jauh." Sahut Erick enteng.
"Jadi aku ini berat, begitu maksudmu?" Dara bernafas dengan kasar dan tatapan tajam tak pernah terlepas dari pria itu, dengan kata lain Erick menyindirnya gemuk.
"Kapan aku mengatakan itu," ujar Erick pelan.
Dara kembali melemparkan bantal dan juga barang-barang yang ada di jangkauannya, sementara Erik menghindar. Keduanya bertengkar bagai kucing dan tikus, tidak ada yang mau mengalah dan membuat tempat itu seperti kapal pecah alias berantakan.
"Apa yang mereka lakukan di dalam?" pikir nenek Diana yang kebetulan lewat dan tak sengaja mendengar keributan di dalam, segera menepis rasa penasaran dan tersenyum geli. "Lebih baik aku pergi saja dari sini."
"Mau sampai kapan perang ini akan selesai?" keluh Erick sudah lelah menghindar dan memeluk tubuh Dara.
Deg
Jantung terasa bekerja dua kali lipat berdetak dengan sangat kencang saat Erick memeluk tubuhnya, seakan ada magnet yang mengikatnya. Pelukan hangat itu berhasil meruntuhkan keinginannya untuk menyerang, dan secara tidak sengaja dia menikmatinya.
"Jangan lakukan itu lagi," bisik Erick yang tidak suka kalau darah berhubungan dengan pria lain.
"Apa?"
__ADS_1
"Dekat dengan pria lain."
"Kau cemburu?"
"Aku…aku," Erick di buat gugup dengan pertanyaan itu dan melepaskan pelukan, berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Dara menatap kepergian Erick, wajahnya di tekuk dan mengerti kalau masih ada perasaan di antara mereka. "Maafkan aku yang menjadikanmu taruhan, sikap tulus dan cintamu membuka mataku. Tapi aku sadar, kalau aku tidak pantas menjadi kekasihmu lagi." Lirihnya menyeka bulir bening di sudut mata.
"Aku cemburu? Apa aku masih mencintainya?" Erick mengusap rambutnya kasar, tidak tahu mengapa reaksi nya sangat berlebihan bila menyangkut Dara.
Percintaan yang belum usai memang menyulitkan di masa depan, keduanya masuk ke dalam dilema dan bimbang akan perasaan mereka, tanpa di ketahui perasaan itu kembali tumbuh dan berkembang.
Hari ini Dara tak pergi ke kantor dan lebih memilih menemani nenek Diana jalan-jalan, tentu saja bentuk kompensasi karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Erick tak bisa memaksa, baginya sang nenek paling utama di atas segalanya. Namun tak serta merta membuatnya merasa aman, diam-diam menyuruh dua orang pengawal untuk memantau kegiatan dan melaporkan padanya.
Dara tersenyum saat mengeluarkan nafas perlahan, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah. Mendorong kursi roda membawanya mendekat ke danau hijau yang tidak terlalu ramai pengunjung.
"Wah, aku tidak tahu kalau ada tempat sebagus ini."
"Nenek senang?"
Nenek Diana mengangguk tersenyum, semenjak kedatangan Dara hidupnya bahagia. Tidak ada kesepian dan juga kebosanan, gadis itu sangat pandai membuatnya bahagia. "Kalau kau terus membawaku ke sini pasti sangat menyenangkan."
"Hah, aku merasa hidupku selalu terkekang."
"Karena Erick sangat menyayangi Nenek. Sudahlah, mengapa harus bersedih? Kita nikmati pemandangan ini."
"Ya, kau benar."
Dara merasakan hal yang sama-sama kesepian dan sebatang kara, bahkan kehidupan orang lain jauh lebih baik. Menggenggam liontin yang melingkar di leher, benda satu-satunya yang dia miliki dari orang tua kandungnya.
"Dara, aku lapar."
Lamunan Dara terpecah saat mendengarnya, menatap sang nenek yang memegang perutnya. "Baiklah, aku akan mengambil makanan di mobil. Nenek tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Ucapnya seraya berlari menuju mobil tak ingin meninggalkan sang nenek terlalu lama seorang diri.
Beberapa saat kemudian, Dara membawa makanan khusus dan tersenyum. Namun semua makanan itu jatuh dan tumpah, kedua mata yang terbelalak kaget, ketakutan menyerang dirinya saat tak melihat nenek Diana tak berada di kursi roda.
"Nenek…nenek dimana?" pekik nya histeris, berusaha tetap tenang agar bisa berpikir jernih. "Ya Tuhan, ini salahku. Kemana nenek Diana?"
__ADS_1
Dara berlari menyusuri tempat itu, memanggil nama sang nenek berharap dia menemukannya. Pikiran mulai kalut tak menemukan nenek Diana, mencoba bertanya pada pengunjung lain.
"Maaf, apa kalian melihat nenek yang rambutnya sebatas bahu dan tadi duduk di kursi roda." Desaknya tidak punya banyak waktu, harapannya jatuh melihat para pengunjung yang di tanyakan satu persatu tidak melihat nenek Diana.
Brak
Erick melempar vas bunga di meja kerja, mendengarkan laporan dari pengawal yang telah lalai menjaga nenek tercintanya yang sekarang menghilang, terpaksa memundurkan jadwal bertemu pemilik saham dan rela kalau kerja sama di batalkan.
"Menjaga nenekku saja mereka tidak becus." Erick bergegas keluar dari kantor dan menuju danau hijau, dalam kemarahan membuat emosi tidak stabil dan bahkan mengemudi dengan kecepatan tinggi. "Ini salah pengawal bodoh itu dan juga Dara, dia yang paling bersalah."
Dara yang hampir berputus asa terus mencari, hingga suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Apa nenek ini nenekmu?"
"Nenek Diana?" Dara sedikit acuh dan langsung memeluk nenek, merasa bersalah karena lalai dalam bekerja.
"Dara?" sapa pria yang sudah membawa nenek Diana kembali.
Dara yang merasa namanya terpanggil itu menoleh. "Arvan." Ucapnya mengerutkan dahi.
"Aku menemukan nenek berjalan seorang diri dalam keadaan linglung, dia memintaku untuk mencari seorang gadis dengan menyebutkan ciri-cirinya saja karena lupa nama. Aku tidak menyangka ternyata itu kau," jelas Arvan panjang lebar.
"Terima kasih, kau telah membantu nenek Diana."
"Sama-sama." Arvan tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi, terlihat tampan dan mempesona membuat Dara hampir terbuai.
"Tidak seharusnya aku meninggalkan nenek sendiri," Dara memegang kedua tangan keriput itu dan merasa sangat bersalah.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Dara penasaran, menatap Arvan menghela nafas berat dan menggelengkan kepala. "Kenapa?"
"Aku sudah di pecat."
"Di pecat?"
"Jangan membahasnya lagi, ini kartu namaku dan datanglah ke cafe milikku." Arvan menyerahkan kartu namanya dan dengan senang hati Dara menerima juga menyimoan di saku.
Dara membawa nenek Diana dan Arvan membantunya, keduanya mengobrol. Namun seseorang mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan yang sangat tidak di sukai, berjalan mendekat dengan emosi yang menyelimuti pikirannya.
__ADS_1
"Berani sekali dia!" tekan Erick yang sudah tidak tahan melihat pemandangan itu di tambah lagi dengan amarah kalau Dara juga lalai menjaga neneknya.