
Alan sedikit terkejut, namun segera memulihkannya bersikap seperti biasa. Rencana yang ada di otaknya, tentu saja menjahili kakak sepupu yang selalu menindasnya. "Ternyata Erick cepat juga," batinnya yang memuji permainan dari kakak sepupunya yang hampir saja mencium bibir Dara.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu?" perkataan Erick tegas memperlihatkan aura membunuh yang seakan ingin mencabik-cabik Alan.
"Itu sudah menjadi kebiasaanku. Aku sarankan untuk kau menguncinya atau orang lain bisa melihat adegan tadi," goda Alan, sementara Dara memundurkan langkahnya menjauh dari dua pria yang bersepupu yang sangatlah menyebalkan.
"Kau," geram Erick menghampiri Alan, menahan keinginannya untuk tidak memukul wajah tampan milik adik sepupunya.
"Apa? Kau ingin memukulku? Temperamen mu sangat-sangat buruk."
"Damn."
Alan terus membuat Erick semakin kesal, perlahan dia menghampiri Dara yang sudah berada di tengah-tengah mereka. Secepat kilat dia menarik tangan gadis itu dan sengaja memeluknya untuk memanasi kakak sepupu yang belum juga mendapatkan gadis itu.
Dara hendak memberontak, tapi Alan memberikan sinyal kalau dia hanya berpura-pura untuk membuat Erick marah sekaligus membalasnya.
Diam-diam Dara menganggukkan kepala, kesal karena Erick juga menindasnya karena sebagai bawahan.
"Sial. Dia sengaja melakukan itu untuk memanasi aku dan membuat cemburu." Ucap Erick di dalam hati.
"Haha … baru begini saja kau sudah seperti seekor cacing kepanasan, bagaimana aku melakukan hal yang lebih. Ini hukuman karena kau selalu saja menindasku," batin Alan tersenyum jahil tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Dengan cepat Erick menarik tangan Dara agar terlepas dari pelukan yang di sengaja itu, namun sialnya Alan tidak putus asa. "Lepaskan dia, kau membuatnya takut."
"Benarkah? Aku kira dia nyaman di dalam pelukanku."
"Ck, itu hanya perasaanmu saja."
"Sekarang kau yang ikut berperan," itulah yang mengartikan tatapan Alan pada Dara.
"Apa yang di katakan Alan itu benar, aku nyaman."
Erick merasa sesak, hati dan juga pikirannya yang sudah tidak sejalan itu mendadak ingin melampiaskannya. "Jangan menyentuh wanitaku." Tegasnya yang memperlihatkan mata elang.
"Akan aku lepaskan." Alan langsung melepaskan pelukan itu dan tersenyum penuh kemenangan, kini Dara beralih dalam pelukan Erick.
__ADS_1
"Oh astaga … aku bukan mainan yang di perebutkan, aku masih manusia yang memiliki perasaan."
"Kau, keluarlah!" titah Erick melirik Alan sengit.
"Oke, aku pergi. Dara, kalau kau perlu pelukan lagi segera hubungi aku saja."
"Tidak akan dia lakukan, pergi."
"Ck, kau galak sekali." Alan mengumpat karena dirinya di usir dari ruangan itu dan melupakan tujuan awalnya.
Dara mendorong dada bidang agar tidak memeluknya erat, sangat menyesakkan. "Apa kau masih ingin menjadikanku pengasuh si kembar?"
"Tidak. Aku tidak ingin memberi Alan kesempatan untuk lebih dekat denganmu, mulai sekarang kau adalah milikku dan wanitaku. Tidak boleh seorang pria pun mendekatimu!"
Dara mengerucutkan bibir setelah niat Erick terungkap. "Kau ingin aku menjadi jomblo abadi? Aku butuh kekasih."
"Bagus. Sekarang kau adalah kekasihku, panggil aku 'Sayang'." Erick mengulum senyum karena dirinya sudah dekat dengan sang mantan yang dulu pernah menyakitinya. Dia sudah tidak peduli dengan taruhan masa lalu, perlahan hatinya mulai berdamai.
"A-apa?" Dara tidak menyangka jika dia sekarang adalah kekasih Erick, terbesit di pikiran apakah niat pria itu murni atau memang ada hal lain untuk membalaskan dendam.
"Tidak, aku duduk di sini saja." Dara menjadi canggung juga gugup, bagaimana dia bisa duduk di paha pria itu, sangatlah tidak nyaman.
"Apa salahnya mengatakan iya, kemarilah." Langsung saja Erick menarik tangan Dara dan memaksa untuk duduk di pangkuannya. "Nah, ini jauh lebih baik."
"Kau tidak sedang merencanakan pembalasan dendam bukan?" Dara menatap pria di hadapannya penuh menyelidik, kedua mata yang di sipitkan berusaha untuk melihat kebenaran di kedua manik mata milik Erick.
"Tidak. Aku sudah melupakan masa lalu, perasaan ku masih sama seperti dulu."
"Tapi aku sudah menyakitimu."
"Aku anggap itu sebagai ujian cintaku."
"Apa kau tidak ingin mendengarkan alasanku, ada hal yang harus kau ketahui."
"Hem. Katakan!"
__ADS_1
"Awalnya aku di minta dan bertaruh dengan teman-teman karena membutuhkan uang, mereka memintaku untuk menjadikanmu kekasihku selama waktu yang di tentukan. Sebenarnya sudah lama ingin aku ungkapkan masalahku, karena kau begitu baik dan cintamu saat itu murni dan tulus. Aku tidak tega dan merasa bersalah hendak mengungkap kebenarannya padamu, tapi kau sudah tahu lebih dulu."
Akhirnya Dara menceritakan semua yang terjadi di masa lalu, mengapa dia melakukan hal keji pada Erick.
"Saat itu aku merasa amat bersalah, tapi kau sudah membenciku." Ungkap Dara yang sedih sambil meneteskan air mata.
Erick terdiam mendengar semua perkataan Dara, dia tidak menyangka kalau taruhan itu demi mengatasi kesulitan. Andai saja dia tahu lebih awal pasti sudah membantu kesulitan dari kekasihnya, tapi semua itu ada hikmahnya, dimana mereka bisa menjadi pasangan kekasih yang ternyata saling mencintai. Dia akui, jika gadis itu tidak mendekatinya mungkin dia tidak tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya yang dalam.
"Mengapa kau tidak katakan dari awal, aku pasti menolongmu. Apa kau lupa kalau kekasihmu ini orang kaya tujuh turunan." Erick menyeka air mata di pipi mulus milik Dara dengan lembut.
Suasana seharusnya sedih malah di buat ngakak oleh perkataan Erick, Dara tidak jadi sedih melainkan tertawa.
"Kau pintar sekali mengubah suasana hatiku," ingin sekali dia mencubit pinggang kekasih barunya dari cinta lama yang bersemi kembali.
"Kita lupakan semuanya dan mulai membuka lembaran baru, aku ingin mengenalkanmu pada nenek ku."
"Tapi aku sudah mengenal nenekmu."
"Memang, tapi nenek tidak tahu kalau kau sekarang adalah kekasihku juga calon cucu menantunya."
Seketika kedua pipi Dara bersemu merah, tidak menyangka mereka kembali menjadi pasangan kekasih. "Apa kau tidak ingin menyulitkan aku lagi?"
"Hah, aku sangat menyesal dengan sikap kekanak-kanakan ku tanpa mencari tahu kebenarannya."
"Jadi?"
"Kau adalah calon istriku, bagaimana kalau kita menikah minggu depan?"
"Kau bercanda? Kita baru saja resmi menjadi kekasih."
"Memangnya kenapa? Kita bahkan sudah mengenal dan menjadi pasangan kekasih sebelumnya, aku juga tidak ingin kalau sampai Alan si tengil itu mengganggumu." Jelas Erick tanpa rasa bersalah, menganggap semuanya mudah.
"Aku belum siap," lirih Dara yang berkata jujur, dia tidak ingin terikat dalam sebuah hubungan. Tentu saja trauma dengan masa kecilnya yang tidak memiliki orang tua.
"Kau tidak serius mencintaiku?"
__ADS_1
"Bukan itu, aku belum siap memegang komitmen melangkah ke jenjang pernikahan. Aku berharap kau mengerti dengan keputusanku, mohon jangan tersinggung."