Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 9 - Jadilah penangkalku


__ADS_3

Kali ini Dara sedikit bosan berada di mansion Adelmo, pasalnya nenek Diana berkunjung ke rumah salah satu anaknya dan ada urusan tak bisa di wakilkan. Pandangan lurus ke depan, kakinya di masukkan ke dalam kolam renang, sangat menenangkan pikiran dan rasa lelah setelah seharian berada di kantor. 


Menadahkan kepala menatap bintang bertaburan di langit, berkelap-kelip dan sangatlah indah tapi tak seindah jalan hidupnya. 


"Aku ingin bertemu kedua orang tuaku." Gumamnya, ingin bertanya mengapa mereka sangat tega membuangnya ke panti asuhan, apa yang di perbuatnya hingga mereka tak pernah menjemputnya. Genangan air mata di seka, sejak usia lima tahun di paksakan hidup mandiri. 


"Bintang itu sangat indah." Ucap seseorang membuyarkan lamunan Dara, menoleh menatap pria tampan berperawakan blasteran. 


"Hem." Jawabnya mengangguk pelan tak bersemangat. 


Alan duduk di sebelah gadis itu, ikut memasukkan kaki ke dalam kolam renang. Keduanya terdiam saling menatap langit yang di penuhi oleh bintang yang berkelap-kelip. 


"Bagaimana kau bisa seakrab itu dengan nenek ku? Erick selalu mencari orang untuk merawat nenek, tapi nenek tidak menerimanya." Tanya Alan penasaran, karena nenek Diana tidak ingin di rawat oleh orang asing. 


"Mungkin karena nasib kami sama hanya berbeda alur saja." Jawab Dara tersenyum sekilas, sedangkan Alan mulai mengerti dan menatap dengan penuh simpati. 


"Jangan menatapku seperti itu." Dara bangkit dari duduknya, hembusan angin malam kian menusuk tulang. 


"Walaupun aku playboy, bukan berarti tak berperasan. Apa kau tidak mencoba menghubungi keluargamu?" 


Dara sedikit tersinggung, menatap intens pria yang sudah membahas kehidupan pribadinya. "Aku sudah bahagia dengan diriku sendiri, dan aku mohon agar kau tak membahas ini lagi." Ucapnya bernada tak suka, bergegas pergi dari sana menuju kamarnya. 


Lama Alan menatap kepergian Dara, menghela nafas dan berlalu pergi. Seseorang di lantai dua tepatnya di atas balkon melihatnya dari awal, perasaan yang bercampur berubah menjadi satu. 


"Apa yang mereka bicarakan?" monolog Erick seraya meneguk minuman dingin di tangan. 


Di pagi hari, Dara bersiap-siap dengan segudang pekerjaannya. Menjadi pengasuh seorang nenek tak menghalanginya tetap bekerja di kantor, itu sangat bagus untuk mendapatkan uang tambahan. Dia menatap cermin besar di hadapannya, melihat dirinya sendiri yang sudah cantik setelah di poles sedikit.


Terdengar suara pintu yang di ketuk mengalihkan perhatiannya, berjalan mendekat dan membukakan pintu. Seorang pria yang tengah mengatur nafas yang tersengal-sengal, mengerutkan dahi heran melihatnya. 


"Gawat." Alan sangat kesulitan mengontrolnya, nafas yang terasa sesak. 


"Ada apa?" 


Alan segera meraih tangan Dara dan memohon kepadanya, cepat atau lambat dia akan di ketahui keberadaannya oleh para kekasihnya, karena para wanita yang di kencaninya bukanlah orang dari kalangan biasa. 


"Bantu aku, mereka semua mengetahui keberadaanku." Setelah bersusah payah mengontrol pernafasannya, Alan tersenyum memohon segenap hati.

__ADS_1


"Kau yang berbuat dan harus bertanggung jawab." Dara acuh dan menghempaskan tangan itu, hendak menerobos pergi. 


Alan mencoba membujuk Dara, menjadi playboy sangatlah melelahkan. "Ku mohon!" lirihnya memperlihatkan dua manik mata berbinar sangat cerah. 


"Baiklah." Dara merasa kasihan dan menerimanya. 


"Ayo ikut aku!" Alan menarik tangan Dara yang pasrah. 


Erick yang sudah rapi mengenakan jas secara tak sengaja melihat dua orang masuk ke dalam kamar, hal itu menyulut emosinya, berpikir telah berbuat hal di luar batas. "Dua orang di dalam kamar? Selain menghancurkan hati orang, apa dia juga berprofesi memuaskan hasrat orang lain?" batinnya, menyusul dua orang yang menjadi target.


Alan memperlihatkan foto dari keempat kekasihnya yang ternyata sudah berada di kota yang sama, sangat cemas akan ketahuan karena para kekasihnya bukanlah orang biasa. 


"Kau harus membantuku, jadilah penangkal ku." Bujuk Alan. 


Dara berpikir beberapa saat, andai waktu itu tidak gegabah pastinya pria itu tak memanfaatkan kelemahannya. 


"Aku akan membayarmu." 


"Setuju." 


"Uang sangat penting, kau bisa melakukan apapun." Balas Dara tak peduli. 


"Ck, aku tidak menyangka gadis sepolos mu ternyata sangat matre."


"Harus jelas untung dan ruginya, mengambil resiko besar membutuhkan pengorbanan." 


"Kau memukul kepalaku dengan tongkat bisbol." 


"Kau tidak akan jatuh miskin." Sindir Dara. 


Alan mengusap rambutnya kasar mendapati seorang gadis yang pertama kali memeras nya. "Setuju." 


Pintu yang terbuka lebar mengalihkan perhatian keduanya, menyorot seseorang entah sejak kapan berdiri di sana. 


"Erick." 


"Ini waktunya ke kantor." Tutur Erick dingin tanpa ekspresi, kemudian oergi dari tempat itu. 

__ADS_1


"Aku harus pergi atau kakak sepupumu itu mencari-cari kesalahan ku." Dara berlari mengejar Erick yang sudah menjauh, sementara Alan menatapnya. 


"Masuklah ke dalam!" celetuk Erick yang berhenti mendadak, Dara yang berlari mengikuti langkah kakinya malah menabrak punggungnya. 


"Tumben sekali." 


"Jangan banyak tanya, masuklah ke dalam!" ucap Erick semakin meninggi. 


"Hem." Dara ragu dengan niat Erick yang terkadang baik dan juga buruk padanya, hal itu kembali membuatnya berpikir mengapa masih memperdulikannya, apalagi dulu dirinya memang bersalah. 


Di dalam mobil tidak ada obrolan dan sangat canggung, Dara menatap keluar jendela untuk merubah suasana hatinya. 


****


Dara memutuskan untuk mengunjungi panti asuhan, dia sangat merindukan ibu panti yang sudah membesarkannya. Tak lupa membawa buah tangan dan juga mainan untuk anak-anak panti, inilah caranya berbalas budi. 


"Aku sangat merindukan Ibu dan juga anak-anak panti." Dara memeluk wanita paruh baya dan menganggapnya seperti ibu kandung.


"Ibu juga, bagaimana keadaanmu?" balas wanita paruh baya. 


"Aku baik. Bagaimana dengan Ibu dan anak yang lain?" 


"Semuanya baik, mereka pasti merindukanmu. Bermainlah dengan mereka Ibu akan memasak dulu." 


Dara mengangguk patuh dan berjalan menemui anak-anak panti, di sinilah dia di besarkan. Panti asuhan muara kasih yang menjadi saksi bisu perjalannya, memecut dirinya untuk mandiri di usia lima tahun. 


Tak terasa air mata menetes tanpa di sadari, melihat sekelompok anak-anak tengah bermain bersenda gurau. Dia menjadi salah satu orang yang tidak beruntung, tidak tahu bagaimana rasanya di sayangi oleh kedua orang tua kandung. 


"Mengapa mereka sangat egois? Untuk apa aku di lahirkan kalau di telantarkan? Bukan hanya aku, di luar sana juga banyak bernasib sama. "Ya Tuhan, jika kedua orang tuaku masih hidup tolong pertemukan kami, jika mereka sudah tiada maka tunjukkan di mana kuburnya." Batin Dara sedikit terisak, segera menyeka air mata dan tersenyum saat menghampiri anak-anak yang bermain. 


"Hai semuanya." Sapa Dara mengalihkan perhatian anak-anak, mereka sangat senang dan berlari mengerubungi nya. 


"Kak Dara, kami merindukanmu dan berpikir tidak akan kesini lagi." Ucap salah satu anak perempuan yang menundukkan wajahnya. 


Dara menghampiri gadis kecil itu dan memberikannya sebuah pelukan hangat, mengusap kepala lembut. "Tidak mungkin kakak melupakan kalian dan tempat ini, di sini adalah rumah kakak." 


Gadis kecil itu tersenyum, mereka bersorak dengan kedatangan Dara. 

__ADS_1


__ADS_2