Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 22


__ADS_3

"Bukankah kau sedang di hukum?" 


Mendengar suara yang sangat di kenal mengalihkan perhatian, mereka segera menoleh ke sumber suara. Seorang pria tampan dengan tatapan elang bak memangsa dirinya, Dara menelan saliva dengan susah payah dan berusaha tersenyum. 


"Kau tidak ke kantor?" 


Erick tak mendengarkan alasan itu, menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi. Tapi terhenti, menoleh pada Alan yang menahan tangan Dara. 


"Jangan kasar pada seorang wanita." Arvan menatap sengit seperti ada kilatan di antara mereka. 


"Singkirkan tanganmu darinya!" balas Erick tatapan menusuk. 


"Tidak akan aku lepaskan." 


"Berani sekali kau, apa kau lupa sedang berhadapan dengan siapa." 


Dara menelan saliva dengan susah payah, melihat dua orang pria yang menarik kedua tangannya. "Ya Tuhan, mereka ini kenapa?" gumamnya di dalam hati. "Tidak perlu kalian merebutkan aku." 


"DIAM." Ucap Erick dan Arvan serentak tanpa menoleh. Sedangkan Dara terdiam dan pasrah dengan kondisinya yang di tarik ulur.


"Mau sampai kapan kalian menarik tanganku? Aku lelah." Keluh Dara tak bersemangat.


Kilatan petir di antara Erick dan Arvan yang tidak ingin mengalah, terus menarik tangan Dara. 


"Singkirkan tanganmu!" 


"Tidak akan." 


Erick menghela nafas berat, kesabarannya mulai menipis menghadapi Arvan yang tidak ingin mengalah. Tanpa banyak bicara, dia melayangkan pukulan tepat mengenai wajah tampan dari pria yang ada di hadapannya. "Aku sudah memperingatimu, jangan pernah kau dekati Dara." 


Dara sangat terkejut dan ingin membantu Arvan yang tidak bersalah, tapi lebih dulu tangannya di seret pergi meninggalkan tempat itu. 


"Erick, lepaskan aku." Dara memohon dan berlari kecil mengikuti langkah besar pria itu, pergelangan tangannya sakit di cengkram kuat. 


Erick tidak mengindahkannya, berjalan masuk ke dalam mobil dan melepaskan. Mencondongkan tubuhnya menatap dua mata indah di depannya dengan tajam juga menusuk, tidak suka kalau Dara mendekati pria lain. 


"Kau mau apa?" Dara mulai was-was, mereka sangat dekat hingga hembusan nafas saling bertukar. 


"Kau tertawa lepas padanya tapi kaku padaku, sengaja melanggar hukuman dan datang menemui pria itu." Kecam nya menyindir. 


"Menyingkirlah dariku." Dara kesal karena dia bukanlah mainan Erick yang selalu mematuhi, namun semakin keras berusaha terlepas semakin pria itu mengukungnya. 


"Ehem." 

__ADS_1


"Sial." Rungut Erick di dalam hati, hampir saja dia mencium bibir indah itu. 


Suara deheman berhasil meruntuhkan niat Erick, matanya mengarah pada sang supir tentunya di iringi kilatan petir kemarahan. Hei, kau mau aku pecat ya.' Begitulah arti tatapannya pada supir yang berani mengganggu. 


'Jangan pecat saya, tuan.' Sang supir mengerti itu pun menyatukan kedua tangannya, berharap mendapatkan pengampunan. 


Di sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, suasana menjadi hening seperti kuburan. Dara yang mendapatkan notifikasi ponsel langsung membukanya, melihat begitu banyak pesan dari Arvan. 


["Apa kau baik-baik saja?"] 


["Aku baik. Maaf, karena aku kau di pukul Erick."]


["Hanya luka kecil saja."]


Erick sangat penasaran siapa yang menghubungi Dara melalui pesan singkat, menggeser duduknya dan celingukan kesamping untuk mencari tahu. 


Dara yang mengetahui hal itu segera menjauhkan ponselnya, menatap Erick sinis akibat kekesalan yang belum terlampiaskan. "Apa lehermu tidak sakit?" cibirnya, seketika pria di sebelahnya mengembalikan posisi semula. 


"Kau percaya diri sekali." Jawab Erick angkuh. 


"Ck, tertangkap basah tapi tidak mengaku," rungutnya. 


"Kau mengatakan apa?" tanya Erick yang mendengar samar ucapan Dara. 


"Kau itu pria tampan tapi angkuh dan juga suka seenaknya." 


Dengan sengaja Erick menyentil kening gadis di sebelahnya. "Kau memujiku atau menghinaku." 


"Keduanya. Berhentilah menyentil keningku!" 


"Aku menyukai bagian itu," jawab Erick tanpa menoleh, diam-diam tersenyum sangat tipis. Kemarahannya muncul dengan cepat dan pulih dengan cepat pula kalau berhadapan pada orang yang di cintainya.


Kediaman Adelmo


"Keluar!" titah Erick yang kemudian keluar dari mobil masuk ke dalam mansion meninggalkan Dara. 


"Ck, dasar pria tidak jelas. Terkadang dia baik, jahat, dan menyebalkan menjadi satu paket komplit." Kesal Dara yang terdengar oleh supir.


"Wanita memang tidak bisa di mengerti," batin sang supir menggelengkan kepala. 


Baru beberapa langkah Erick masuk ke mansion sudah di perlihatkan dengan keadaan yang sangat berantakan bagai kapal pecah, dirinya yang begitu mencintai kebersihan tak sanggup melihat dan ingin mengumpat. 


"Apa aku salah masuk mansion?" pikirnya, pasalnya baru pertama kali melihat kediaman Adelmo sangat berantakan seperti di terjang tornado. 

__ADS_1


"Pelayan…pelayan!" panggil Erick memenuhi ruangan, seketika beberapa pelayan berkumpul sambil menundukkan kepala.


Erick kembali di kejutkan, beberapa pelayan di mansionnya juga sangat berantakan. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" 


Belum sempat pelayan itu menjelaskan apa yang terjadi, sebuah semprotan air berwarna mengenai Erick. 


"Damn. Siapa pelakunya?" menyusuri tempat itu dan melihat dua anak kecil tengah bersembunyi sembari menertawai kejahilan mereka. "Jadi dua tuyul itu bersembunyi di sana?" gumamnya seraya menghampiri. 


"Oho, jadi kalian bersembunyi di sini?" Erick yang ada di belakang dua bocah yang hendak kabur segera menahan mereka. 


"Ka…kak, bagaimana Kakak tahu?" ucap salah satu bocah itu.


"Susah aku duga kalau kalian pelakunya, mengapa kalian menjadikan mansion ini seperti kandang ayam, hah?" 


Kedua anak kecil itu sedikit takut, mereka saling menatap satu sama lain mempunyai ide gila di benak mereka. Dengan cekatan keduanya menggigit tangan Erick dan kabur saat mendapat kesempatan emas. 


"Ayo kejar kami, Kak." Pekik salah satu bocah yang menjulurkan lidah mengejek Erick. 


Erick yang sudah sangat kesal di hari ini semakin kesal di buat kedua keponakan kembarnya. "Kemarilah, dasar anak nakal." Balasnya mengejar dua anak-anak, sementara para pelayan menahan tawa melihat majikan mereka di kerjai oleh dua bocah. 


Dara masih mengumpat kesal, dan dirinya hampir saja terjatuh karena tak sengaja di tabrak. Menundukkan kepala dan segera menolong anak kecil yang sangat tampan. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. 


Bocah itu mengelus bokongnya yang sakit dan melihat siapa yang membantunya, seketika terbengong melihat wanita dewasa. "Aku tidak apa-apa." 


"Akhirnya kau ku dapatkan." Erick memegang tangan bocah itu dan ingin memberikannya hukuman. 


"Ini bukan ideku tapi, tapi ide Dicko." 


"Tidak peduli itu ide siap, kau dan kembaranmu itu aku hukum." Ucapnya menjewer telinga Dicki pelan, gemas dengan tingkah keponakannya.


"Kau ini kasar sekali pada anak kecil," Dara membela Dicki dan berusaha melindunginya dari kemarahan Erick. 


"Kak Alan." Pekik Dicki mengadu. 


"Jangan melampiaskan kemarahanmu pada adikku!" Alan berjalan mendekati mereka dan melihat bagaimana Erick menjewer adiknya.


"Dia dan kembarannya membuat aku kesal, selalu saja mengerjai orang lain." 


"Memang aku akui kalau dua adik kembarku sangat nakal, tapi dia juga adikmu."


"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memiliki adik sepupu yang sangat menyebalkan." Erick memijat kepalanya yang pusing, hati ini benar-benar menguras emosinya. Sementara Alan bertos ria dengan adiknya, berhasil mengerjai kakak sepupu mereka. 


"Good job boy," Alan mengacak-acak rambut adiknya. 

__ADS_1


"Kakak merusak tatanan rambutku," kesal Dicki cemberut. 


Dara terkekeh melihat hiburan gratis, rasa kesalnya langsung di bayar kontan lewat anak itu. 


__ADS_2