
Dara tidak menyangka kalau Erick merasa tidak bersalah, matanya sangat di nodai dengan pemandangan yang tidak seharusnya di lihat olehnya sampai masa yang di tentukan.
"Erick sialan, sekali lagi dia memperlihatkannya aku pastikan memukulnya dengan keras." Umpat kesal Dara.
****
Dara mulai berpikir apa pekerjaan yang sebenarnya, terlalu banyak profesi di geluti olehnya, mulai dari menjaga nenek Diana, bekerja di kantor Adelmo, dan di tambah lagi menjaga si kembar Dicko dan Dicki. Ingin rasanya dia menguliti Erick, tentu saja pria itulah yang bertanggung jawab karena sudah mempersulit dirinya.
Dara menghela nafas panjang, mengontrol emosi agar tetap stabil. Namun perintah mengenai pekerjaan barunya semakin membuat kesabarannya mengikis, terlihat jelas kedua tangan yang di kepal erat, andai tidak melihat posisinya sekarang sudah pasti memberi bogeman mentah pada pria itu.
"Apa kau tidak merasa keterlaluan? Maksudku dengan memberikan banyak pekerjaan dalam satu waktu, apa kau ini masih waras?" Dara menatap lekat mata Erick intens, merasa kalau ini sudah kelewatan.
"Tidak."
"Apa aku boleh memukulnya?" batin Dara bertanya-tanya, jawaban singkat yang membuatnya sangat geram. Wajah angkuh dari sang mantan kekasih sekaligus atasannya itu, terdengar bisikan dari sebelah kanan juga sebelah kiri.
"Ayolah Dara, pukul saja Erick kampret itu, bukankah selama ini dia menyulitkanmu?" bisik altar jahat di sebelah kiri.
"Jangan dengarkan altar jahat itu, seburuk apapun Erick dia pernah menjadi cintamu."
"TIDAK." Sontak Dara memukul meja dengan sangat keras di iringi tubuhnya yang ikut berdiri. Lalu, dia tersadar masih berada di dalam ruang kerja sang mantan sekaligus bosnya itu. "Maaf, aku kelepasan." Ucapnya cengengesan sembari menahan malu.
"Kau ini kenapa?" langsung saja kedua mata Erick berkedut melihat reaksi yang sangat berlebihan itu.
"Ha … itu tadi reaksi yang tidak sengaja, atau sering di sebut kelepasan."
"Jadi maksudmu kau ingin menolak tawaranku tadi?"
"Tawaran yang mana?" sejujurnya Dara tahu namun berpura-pura tidak tahu apapun.
Dara tersenyum tipis seraya mendekati Erick, membenarkan dasi berusaha untuk membujuk. "Kau sangat mengenalku rupanya, bagaimana kalau kau carikan saja pengasuh untuk si kembar? Aku hanya punya dua tangan dan dua kaki, tidak mungkin bisa menangani segalanya sendirian."
"Lagipula kau bekerja di kantor juga santai-santai, apalagi menjaga nenek. Tambah satu pekerjaan lagi tidak masalah," jelas Erick enteng.
__ADS_1
Dara sangat kesal menatap Erick sengit, dia tidak percaya kalau pria itu masih memendam dendam pribadi. Dengan sengaja Dasi di ikat erat membuat pria itu tercekik. "Hem, rasakan." Ucapnya di dalam hati, tentunya tertawa jahat.
"Auh, kau ingin membunuhku?" Erick sedikit meninggikan suaranya.
"Bukan hanya membunuh, aku pastikan juga tubuhmu menjadi pakan buaya sungai Amazon." Tentu saja Dara mengatakan hal itu di dalam hatinya, jika mengungkapkannya hanya akan menimbul perkara baru yang semakin berbelit-belit untuk diselesaikan. "Karena terlalu bersemangat memasangkan dasi untukmu, maaf."
Erick semula kesal berubah surut dan tersenyum tipis, menarik pinggang ramping dan memeluknya. Aroma tubuh Dara yang sangat dia rindukan sejak dulu, aroma tubuh yang tidak berubah sama sekali sampai saat ini.
"Aroma tubuhnya masih sama, mungkinkah perasaannya padaku masih sama seperti dulu lagi? Tapi, apakah dulunya dia tulus mencintaiku?" gumamnya di dalam hati, kenangan saat bersama dulu sungguh manis.
Cup
Erick mencium bibir Dara setelah melepaskan pelukan, hal itu membuat sang korban merasa tidak adil.
Dara hendak melayangkan tamparan, tapi gagal, Erick berhasil menahannya dan mengunci pergerakan tangannya.
"Mau menamparku? Oh tidak bisa." Goda Erick tersenyum puas.
"Kau juga tidak akan bisa menendang alat vitalku." Cibir Erick senang. "Biar aku tunjukkan permainan baru untukmu."
Dara menelan saliva dengan susah payah yang seakan tersangkut di tenggorokannya, mendengar penuturan itu membuatnya menjadi lebih waspada. Tidak bisa dipungkiri kalau tubuhnya sudah dikunci Erick, tidak bisa membuatnya berkutik.
"Lepaskan aku!"
"Tidak. Kak cepat berani untuk memberiku pelajaran aku akan mengapresiasi mu dengan sebuah hadiah," Erick tersenyum licik dan mengambil kesempatan sebaik mungkin.
Dara berusaha memberontak tapi usahanya itu sia-sia saja, kedua matanya terbuka lebar saat Erick mencium bibirnya semakin dalam dan memainkannya.
"Kau ingin membunuhku ya," kini kalimat itu mengarah kepada Erick, Dara sangat kesal ciuman itu membuatnya kesulitan menghirup oksigen. Beruntung pria itu melepaskan ciumannya, atau dia bisa pingsan sesak nafas.
Erick mengusap bibir indah Dara dan tersenyum puas. "Sangat manis."
"Kembali ke topiknya saja, aku menolak menjaga si kembar. Mereka sudah besar dan tidak butuh pengasuh." Tolaknya berterus-terang. "Hah, itu pasti sangat merepotkan. Aku bekerja dua puluh empat jam, oh no. Aku bukan robot tapi manusia yang butuh istirahat." Gumamku di dalam hati.
__ADS_1
"Siapa bosnya di sini?"
"Kau." Jawab Dara polos.
"Jadi aku berhak memerintahmu."
"Eh, mana bisa begitu. Kau memang bosku tapi tidak berhak mengenai urusan pribadiku, aku sendiri yang akan memilih bukan kau."
"Kau tetap jadi pengasuh Dicko dan Dicki, suka ataupun tidak."
Dara menghela nafas berat, pertemuannya dengan Erick menjadi malapetaka untuknya sendiri. Andai saja dia tidak pernah bertemu lagi dengan makhluk yang bernama mantan kekasih.
"Ck, mentang-mentang kau penguasa malah ingin menguasaiku. Jangan harap aku memenuhi perkataanmu itu, aku tetap menolaknya."
Erick geram dengan penolakan itu, sengaja mengangkat tubuh ramping yang terlihat seksi.
"Apa kau ingin menjadi pusat perhatian?"
"Apa maksudmu?" tanya Dara yang dahinya berkerut.
Erick melirik tubuh Dara yang sangat feminim, baju yang terlihat ketat dan terbuka membuat jakunnya naik turun.
"Bagaimana bisa kau berpenampilan seperti ini ke kantor?"
"Aku berpenampilan seperti biasanya hanya saja pakaian ini sedikit kekecilan, sudah cukup kau mengurusi kehidupanku jangan berkomentar apapun mengenai pakaian ini." Dara sudah lelah berdebat tiada ujung lebih baik dia mengalah dan mundur secara perlahan.
"Cepat ganti pakaianmu Apa kau ingin para pria di kantor melihatmu bagai binatang buas!"
Dara memutar kedua bola matanya jengah sifat dari sang mantan kekasih yang berubah posesif sangatlah tidak nyaman. "Berarti kau juga salah satu binatang buasnya." Ada kebahagiaan dirinya dapat membalas perkataan dari atasan yang suka memerintah seenaknya.
Erick yang tidak terima kembali menarik tubuh Dara mendekat padanya, baru saja dia ingin menciumnya tiba-tiba pintu terbuka dan melihat Alan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Momen yang seharusnya romantis malah dikacaukan oleh adik sepupunya.
"Sial." Gumamnya berdecak kesal sangat tahu persis kalau Alan sengaja mengganggu momen indahnya bersama wanita yang dia cintai.
__ADS_1