
Dara mencoba menenangkan nenek Diana, mana mungkin dia tega membiarkan cucu dari pemilik mansion tidur di luar dan anehnya sang nenek hanya mengenalnya seorang. Bukan hal mudah membujuk wanita tua itu, sikap yang berubah-ubah akibat penyakit tua tiba-tiba kambuh.
"Nenek, mereka itu Erick dan Alan, cucumu." Dara berusaha meyakinkan nenek Diana.
"Cucuku? Aku tidak punya cucu seperti mereka." Bantah nenek Diana yang merasa dirinyalah yang benar dan mereka salah.
Sementara di luar mansion, beberapa pelayan dan penjaga hanya bisa menahan tawa mereka. Erick tampak berpikir bagaimana neneknya bisa melupakannya, walaupun pikun selalu bisa mengenalinya.
"Bagaimana nenek sampai tidak mengenaliku? Dan herannya hanya Dara yang dia kenal." Erick mengusap wajahnya kasar, tidak tahu harus bagaimana selain menerima.
Tiba-tiba Alan tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, rasa geli melihat kesialan juga menimpa kakak sepupunya.
"Kau kenapa?" tanya Erick mengerutkan dahi.
"Ini sangat lucu, bagaimana nenek bisa sampai tidak mengenalimu? Bukankah ini sangat menarik."
"Sialan, tutup mulut dan berhentilah tertawa." Umpat kesal Erick.
"Maaf, tapi aku tidak bisa mengabaikan ini. Setelah nenek mengenal Dara, kau malah terlupakan."
"Kau ingin mati ya," Erick sangat kesal mendengar setiap ocehan dari sepupunya.
****
Di pagi hari yang sangat menyibukkan, rutinitas Dara kembali ke awal. Menemani nenek Diana dan meminta cuti pada Erick demi mengabulkan permintaan wanita tua yang ingin jalan-jalan.
"Tapi Dara harus bekerja di kantor, Nek." Gusar Erick.
"Heh, dia temanku dan perawatku. Aku sangat bosan di gubuk mewah ini, dan butuh menjernihkan otak tuaku." Jelas nenek Diana menatap cucu sulungnya.
"Tapi, bagaimana dengan perusahaan ku?"
"Suruh orang lain saja, macam kau tak punya karyawan lain saja."
__ADS_1
Akhir perdebatan kecil itu di menangkan oleh nenek Diana, sekeras apapun Erick mencoba memperebutkan Dara. "Kemarin nenek baru pulang, apa itu masih belum cukup? Di usia nenek sekarang lebih baik tinggal di mansion saja."
"Lalu? Aku sangat bosan dengan suasana di sini dan butuh hal yang baru."
Sedangkan Dara menonton perbedaan pendapat dan keinginan itu, dia juga setuju mengajak nenek Diana jalan-jalan ketimbang bekerja di kantor dan kembali di persulit.
"Kalau nenek ingin jalan-jalan, kenapa kau melarangnya?"
"Karena aku cucunya." Erick tak terima dengan perkataan yang di lontarkan Dara padanya.
"Aku pasti menjaga nenek Diana sangat baik."
"Tapi__."
"Cukup, aku tetap ingin jalan-jalan." Celetuk nenek Diana mengakhiri.
Erick menghela nafas dan mengangguk pasrah, dia sangat mencemaskan kesehatan sang nenek dan bagaimana jika penyakit pikunnya kembali kambuh. Sedangkan Dara mengerti bagaimana kronologis sang nenek saat mereka bertemu, dia berpikir kalau wanita tua itu melarikan diri merasa tertekan oleh cucu sulungnya.
Erick menatap kepergian mereka yang mulai menjauh, segera mengeluarkan ponselnya menelepon seseorang.
"Perintah tuan akan kami laksanakan."
Rasa khawatir juga cemas memenuhi isi kepala Erick, namun dia tak bisa melihat neneknya bersedih dan kembali kabur seperti dulu. Tidak punya pilihan lain, dia bergegas pergi ke kantor, jadwal padat dan pertemuan penting dengan pemilik perusahaan asing.
****
Dara mendorong kursi roda nenek Diana, wanita tua itu ingin sekali menghirup udara segar namun kaki tak akan sanggup berjalan-jalan. Dia membawanya ke taman bunga yang dipenuhi oleh anak-anak bermain dan para lansia yang sedang menghabiskan waktu bersama.
Pemandangan yang baru pertama kali dia rasakan setelah bertahun-tahun lamanya, tekanan dari Erick yang selalu tak membiarkannya keluar dari mansion dengan dalih kesehatan sang nenek, apalagi penyakit pikun tiba tanpa tahu waktu juga tempat.
Nenek Diana tersenyum di wajahnya yang mengeriput, pemandangan yang sangat indah dan juga banyak para lansia di sana. Melihat anak-anak bermain memunculkan satu keinginan kecil, di usianya yang bisa kapan saja malaikat memanggil memutus nyawa, dia sangat ingin melihat cicitnya. Dia tertawa membayangkan mempunyai cicit dan bermain bersama, mansion akan lebih berwarna dengan suara tangisan, kejahilan, dan tertawa anak-anak.
Dara menangkap hal itu, berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. "Apa Nenek suka? Maaf, aku membawa Nenek ke sini." Ucapnya menanyakan pendapat.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, pemandangan seperti inilah yang aku cari, bukan harta benda." Jawab sang nenek fokus pada anak-anak yang bermain.
"Sepertinya Nenek tertarik dengan anak-anak di bandingkan teman seusia Nenek."
"Hah, kau bilang apa?" tanya nenek Diana yang tak mendengarnya.
"Nenek lebih menyukai anak-anak."
"Kau tahu, usiaku ini sudah termasuk bonus dan tidak akan lama lagi ajal menjemput. Tapi sebelum itu, aku ingin melihat seorang keturunan Adelmo junior, ingin melihat semua cucuku menikah dengan pasangan yang tepat dan memiliki anak. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar memberikan ku umur yang panjang, mempunyai kesempatan bermain dengan cicit." Ungkapnya seraya menyeka air mata, hal yang tidak pernah dia katakan pada anak dan juga cucunya. Bagaimana tidak? Kedua anaknya selalu sibuk dengan urusan mereka, juga cucunya. Masa tua membutuhkan keluarga bukan materi lagi, tapi tak ada yang memahaminya.
"Aku berdoa supaya keinginan Nenek terwujud."
Nenek Diana meraih tangan lentik Dara, menaruh harapan besar pada gadis itu.
"Nenek butuh sesuatu?"
Nenek Diana mengangguk pelan. "Sudah banyak yang aku lihat dan memahami asam garam kehidupan, kau gadis yang sangat baik yang pernah aku temukan."
"Jangan memujiku begitu Nek," Dara menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. "Bukankah kita harus saling tolong menolong, aku hanya menerapkan ajaran dari ibu panti."
"Aku juga harus memuji ibu pantimu, berhasil mendidikmu menjadi gadis yang baik hati juga tulus."
"Nenek bisa saja."
Nenek Diana tersenyum sambil menatap Dara cukup lama, terbesit di hatinya untuk menikahkan salah satu cucunya dengan gadis penyelamatnya. "Gadis ini harus menjadi cucu menantuku, dia sangat baik dan bahkan tak pernah memandang orang juga niatnya tulus." Batinnya.
Dara kembali berdiri dan mendorong kursi roda menuju anak-anak yang sedang bermain juga menyapanya.
Aura yang di miliki olehnya berhasil memikat anak-anak dan salah satu dari mereka menyeret tangannya dan membawanya ikut bermain bersama, sedangkan nenek Diana tertawa riang melihat tingkah anak-anak yang menggemaskan.
Beberapa orang mengawasi mereka memberikan laporan pada bosnya, diam-diam mengambil foto dan mengirimkannya.
Senyum manis terlihat di wajah Erick, melihat neneknya yang sangat bahagia. "Akhirnya kecemasanku menghilang." Gumamnya seraya memasukkan kembali ponsel mahalnya. Dia menyadari kalau kehadiran Dara membuat neneknya bahagia karena tahu apa yang di inginkan oleh sang nenek.
__ADS_1
Erick membuka laci kerja dan mengambil kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin. "Andai saja waktu itu kau tidak menyakitiku, cincin ini sudah tersemat di jarimu." Batinnya kembali menyimpan benda itu.