
"Sepertinya aku gegar otak." Cetus Alan yang memegang bekas hantaman bisbol.
Dara semakin cemas, berulang kali dia meminta maaf tapi tak di gubris. "Apa kamu tega membalasnya?" ucapnya yang mengerlingkan kedua mata, berharap pria itu mau memaafkan kesalahannya.
"Akan aku maafkan, asal..." Seru Alan bersemangat di kala memikirkan sebuah kompensasi.
"Asal apa?" sela Dara cepat sambil menelan saliva yang tersangkut di tenggorokannya, menatap pria di hadapannya dengan perasaan tidak enak.
"Kau mau menjadi penangkal."
"Kau pikir aku ini semacam jimat."
Alan menganggukkan kepala, keinginan besar untuk menghadapi keempat kekasihnya diperlukan pawang penangkal. "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku masih tidak mengerti."
"Sedikit aku perjelas, aku memiliki empat orang kekasih dan kau akan membantuku di masa sulit saat menghadapi mereka."
"Dasar playboy." Dira menyipitkan kedua matanya.
Alan tersenyum bangga akan prestasinya itu, wajah tampan nan rupawan menjadi jurus ampuh menaklukkan beberapa wanita cantik juga keluarganya sangatlah terpandang. Menyandarkan punggung di sisi kepala ranjang dan selonjoran, dia tersenyum dengan kompensasi itu.
"Bagaimana? Kau setuju?"
Lama Dara terdiam memikirkan segala sisi. "Baiklah, aku setuju." Tuturnya yakin dan berpikir kalau pria itu hanya memerlukannya sesekali saja.
"Dan kau juga harus patuh pada perkataanku."
"Hei, itu tidak ada di dalam kesepakatan kita."
"Aku sudah mengatakannya, setuju?"
"Tidak." Dara melengos pergi dari kamar yang ditempati, menghela nafas jengah karena dirinya semakin terlibat di keluarga sang mantan kekasih.
"Aku belum mengetahui namamu." Teriak pria itu yang menatap punggung sang gadis yang melukai kepalanya.
"Dara."
__ADS_1
"Nama yang indah, namaku Alan." Sahutnya berseru, tersenyum menyukai mainan baru. "Dia pasti istimewa, kalau tidak mengapa bisa tinggal di mansion Adelmo. Tapi sebelum itu aku akan mengejutkan nenek tua itu," monolognya tersenyum jahil.
Alan keluar dari kamar yang di tempati Dara, diam-diam menyelinap masuk ke ruangan sang nenek yang selalu menghabiskan waktunya yaitu di dalam kamar. Dia memastikan keberadaan nenek Diana yang ternyata tengah menonton televisi, mengomentari sebuah drama yang di tonton.
"Hah, nenek tidak berubah." Gumam Alan hendak memberikan kejutan.
"Kau ingin membuatku serangan jantung dan mati?" perkataan nenek Diana berhasil merusak rencara kejutan dari Alan, pria itu kini menganga tak percaya.
Alan membuka pintu kamar dan masuk menemui neneknya, raut wajah masam. "Bagaimana Nenek tahu ada orang?"
Nenek Diana tak menjawab, melihat penampilan cucunya itu yang bertelanjang dada. "Bahkan tukang kebun di mansion lebih baik darimu." Cibirnya.
"Ini semua juga karena Nenek yang memblokir semua kartuku, dan lihatlah cucumu ini persisi seperti gelandangan." Jawab Alan membuat dirinya semakin menyedihkan. "Tidak seru, harusnya aku mengejutkan Nenek dan bukan sebaliknya."
Nenek Diana tertawa beberapa detik dan mulai serius. "Karena di dalam darahmu mengalir darahku, ikatan batin bukan pada ibu dan anak melainkan nenek dan juga cucunya."
Walau usaha Alan gagal, dia tetap senang dengan pertemuan itu. Datang menghampiri wanita tua dan memeluknya erat, terkenal akan kejahilannya bukan berarti dia tak menyayangi neneknya, hanya saja cara mengungkapkannya sedikit berbeda dari yang Erick lakukan.
"Sekian lama aku tidak pulang Nenek semakin cantik saja, awet muda." Puji Alan tersenyum menggoda.
"Berhentilah menggodaku, kau ini."
"Siapa gadis cantik di mansion Nek?"
"Dia Dara, bertugas untuk menemaniku. Aku wanita tua yang malang, hanya bisa menunggu kematianku seorang diri tanpa anak dan juga cucu-cucuku." Ungkap nenek Diana dramatis.
"Hah, mulai lagi." Gumam Alan menghela nafas jengah.
Di malam hari, Dara terdiam dan fokus pada makanan di atas piringnya. Sedikit canggung makan malam bersama mantan kekasih dan juga pria yang telah dia pukul menggunakan tongkat bisbol, keringat di dahi menandakan dia sangat gugup. Kedua pria itu menatapnya secara bersamaan, menjadikannya bagai seorang tersangka pelaku kriminalitas.
"Nenek sudah menceritakan bagaimana pulang, mengapa bisa ceroboh begitu." Erick membuka suara melirik adik sepupunya yang duduk di sebelahnya.
Alan menyenderkan punggung sambil menghela nafas, membalas lirikan itu dan meringis dengan nasib malangnya. "Kau masih bisa menyalahkan aku? Aku sudah memintamu untuk menjemputku di bandara, dasar bermuka tebal." Umpatnya.
"Jangan mengumpatku, pekerjaan kantor membuatku lupa."
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Itu sangat memalukan."
__ADS_1
"Hem."
"Apa keluarga Adelmo memang seperti ini?" batin Dara yang menonton secara live, sesekali menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Namun hal itu berhasil di tangkap oleh Erick, menatap tajam gadis yang baru berada di mansionnya.
"Apa yang kau pikirkan."
"Tidak ada." Jawab Dara tak ingin berdebat.
"Eh, sepertinya Erick tidak menyukai keberadaan gadis cantik itu. Mereka tampak akrab, apa mereka saling mengenal?" pikir Alan tersenyum tipis, kembali mendapatkan hal menarik.
"Dan kau menatapku begitu?" cetus Erick melirik sinis adik sepupunya.
"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya, apa aku melewatkan sesuatu? Kau dan Dara…" goda Alan.
"Hei kau! Berhenti memikirkan yang tidak-tidak, aku tidak mengenal gadis itu."
"Kau sensitif sekali. Syukurlah kalau kalian tidak saling mengenal, itu berarti aku masih memiliki peluang."
Perkataan Alan membuat Erick tak suka mendengarnya, sebagai seorang pria yang memahami pikiran pria lain. Lain halnya Dara yang berusaha berpura-pura tidak mendengar pembahasan keduanya.
Alan semakin yakin jika ada sesuatu di antara Dara dan kakak sepupunya, mainan menarik di hadapannya tak mungkin di lewati begitu saja. Dia segera beranjak dari kursi dan berpindah tempat ke sebelah gadis cantik, mengembangkan senyuman khas yang biasa dia lakukan untuk menggoda para wanita cantik.
"Apa kegiatanmu setelah menjaga nenek?" tanya Alan.
"Tidak ada."
Alan tersenyum lebar sambil menjentikkan jarinya ke udara. "Kebetulan sekali, bagaimana kalau kita jalan-jalan. Aku sudah lama tidak kembali ke sini dan kota ini berubah cukup drastis hingga aku lupa beberapa tempat yang menarik."
"Dia tidak bisa ikut denganmu, dia bekerja denganku di kantor." Sela Erick tanpa menoleh, fokusnya ada pada makanan di atas piring yang hampir habis.
Dara mengerutkan dahi, belum sempat dia menjawab tawaran Alan tapi pria yang pernah singgah di hatinya malah menyela. "Jangan lupakan kalau kau sudah memecatku." Ketusnya masam.
"Aku sudah mempertimbangkan kau harus bekerja di kantor."
"Wah…wah, ada apa di antara mereka?" ucap Alan di dalam hati, rasa penasaran yang besar. "Sangat mendadak sekali." Sindirnya.
"Diam kau. Kau bisa berjalan-jalan kemanapun tapi tidak bersama Dara."
__ADS_1
"Ini sangat menarik, aku yakin mereka memiliki hubungan di masa lalu. Akan aku balas semua perbuatanmu padaku, Erick." Batin Alan tersenyum licik.