
Erick sudah bersiap-siap dan terlihat sangat rapi dengan setelan jasnya, menuruni tangga seraya melirik ponselnya. Hari ini adalah pertemuannya dengan para pemegang saham, tentunya untuk mendapatkan keuntungan. Kedua matanya menangkap dua orang yang sedang bersenda gurau sambil menikmati teh, sangat akrab hingga tak menyadari kehadiran nya.
"Kalau kau tidak punya pekerjaan sebaiknya bantu aku bekerja di perusahaan," Erick melirik Alan sekilas, jam mahal di tangannya membuatnya terpaksa segera pergi dari sana.
"Aku bosan, bagaimana kalau aku membawamu ke suatu tempat?" ucap Alan seraya melirik sepupunya, tersenyum untuk memberikan pembalasan.
Langsung Erick menghentikan langkah kaki, mendengar perkataan Alan hendak membawa pergi Dara. "Dia tidak boleh keluar tanpa seizinku." Tuturnya datar.
Alan menyeringai tipis. "Kau bukan suaminya, jangan sok mengatur kehidupan orang lain."
Sontak Erick membalikkan badan, tatapan tajam mengarah pada adik sepupunya yang selalu membuatnya kesal dengan memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. "Dia bekerja padaku, jadi wajar aku melarangnya."
"Benarkah? " Alan semakin memanasi sepupunya, memberikan sedikit pelajaran pada Erick yang angkuh.
"Tentu." Jawab Erick bangga dan angkuh bersamaan.
Alan menertawakan kakak sepupunya. "Kau lupa, Dara bekerja mengasuh nenek." Ejeknya tersenyum kemenangan.
Dara diam menjadi penonton kedua sepupu itu, memang benar berawal dia bekerja untuk mengasuh nenek Diana, entah mengapa Erick yang pernah memecatnya itu kembali memintanya bekerja.
Erick tak memiliki jawaban dan memutuskan untuk pergi, melupakan kedekatan sepupu laknatnya yang sudah membuatnya kesal di pagi hari.
"Mengapa kau mencari masalah dengannya?"
"Kau tenang saja, aku yang akan menanggung dan kau tinggal duduk diam saja." Alan melangkah pergi, tersenyum berhasil membuat sepupunya itu kesal. "Ini baru awalnya saja, kau akan panas dingin melihat aksiku berikutnya." Gumamnya tersenyum jahil.
"Sial…aku tahu Alan pasti sengaja mempermainkan aku, akan aku balas kau." Umpatnya kesal di sepanjang perjalanan menuju kantor, membuka jendela mobil membiarkan semilir angin menerpa wajahnya, sedikit menenangkan pikiran.
Di kantor, Erick melamun memikirkan kejadian tadi pagi. Merepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Tuan, sepuluh menit lagi rapat akan segera di mulai." Lapor asisten Ibnu yang menyelonong masuk ke dalam ruangan, hal itu malah membuat Erick semakin jengkel dan ingin sekali mencekiknya.
"Hei kau, aku potong gajimu lima persen. Sekali lagi kau mengingkarinya, aku pasti melemparkanmu dari gedung ini!" ancamnya memperlihatkan tatapan tajam.
"Maaf Tuan, aku terlalu ceroboh dan lain kali tidak akan terulang."
"Siapkan semuanya, aku akan menyusul." Erick menghela nafas berat mencoba untuk meredakan kemarahan juga emosi yang tidak baik, karena rapat ini sangatlah penting demi meraup keuntungan besar.
"Permisi Tuan." Asisten Ibnu keluar tak ingin menjadi pelampiasan kemarahan dari atasan yang diam-diam masih menyimpan rasa namun tak berani mengungkapkannya.
Di ruangan rapat konsentrasi Erick terpecahkan, separuh pikirannya ada di mansion dan melihat jelas bagaimana kedekatan antara Alan dan Dara. Segera dia menyingkirkan pikiran itu dan kembali fokus karena tak ingin ada masalah atau kendala apapun, semuanya harus sempurna.
Beberapa lama kemudian, Erick keluar dan seperti biasa di ikuti oleh asistennya dan memberikan beberapa laporan penting padanya.
"Sebelumnya aku minta maaf, di ruang rapat Tuan tampak tak bersemangat." singgung Ibnu perlahan, takut kalau tuannya berubah galak.
"Bukan urusanmu, lakukan pekerjaanmu saja!" sahutnya yang tidak peduli apakah para pemilik saham menyukai tindakannya yang tidak bersemangat. Tapi di sisi negatif pasti bersembunyi sisi positif.
"Jadi Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan informasinya?" Ucok seseorang yang mengenakan jubah hitam menatap para bawahannya.
"Sudah Tuan, nona Dara ada dimension Adelmo, Erick memberinya hukuman untuk tidak keluar dari mansion tanpa seizin darinya.
Bugh…bugh
"Kalian semua bodoh dan tidak berguna, mengurus satu orang saja kalian tidak bisa. Pergilah dari hadapanku atau aku akan lupa dan gelap mata membunuh kalian semua."
Mendengar sebuah ancaman membuat bulu kuduk mereka merinding, ketiga pria suruhan itu segera pergi meninggalkan atasannya yang melampiaskan kemarahan dengan menghancurkan barang yang ada di dalam ruangan itu.
Sementara di sisi lain, Dara merasa bosan ada dimension setelah mengurus nenek yang sudah tertidur, dia ingin sekali keluar ke toko buku tentu saja dengan mencari novel menghilangkan kebosanan.
__ADS_1
"Apa aku harus menghubungi pria gila itu?" pikir Dara yang merasa itu adalah hal yang aneh. "Untuk apa juga aku melapor padanya, aku kan perginya sebentar saja." Gumamnya mengindahkan ucapan Erick.
Dara tersenyum lebar melihat banyaknya deretan buku novel yang tersusun rapi, kebahagiaan itu sangat sederhana, namun orang sekarang masih saja gengsi untuk mempercayai hal sepele.
"Aku membeli beberapa buku saja," monolog Dara membawa lima buah novel tebal dengan semangat menuju kasir.
Namun di saat dia berbalik tak sengaja menabrak seseorang dan dengan cepat meminta maaf. "Sorry, aku tidak sengaja."
"Tidak apa-apa," jawab pria tersenyum menampakkan dua lesung pipi yang semakin membuatnya menawan dan tampan.
"Arvan. Kau? Wah, sangat kebetulan kita berada di tempat yang sama." Dara sangat antusias melihat keberadaan dari mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan milik Erick.
"Buku apa yang kau cari?" Arvan melihat lima buah buku yang ada di tangan Dara dan tersenyum. "Love story."
Dara tersipu malu ada segera memalingkan wajahnya, takut kalau pria itu membaca ekspresinya saat ini. "Ya, begitulah." Jawabnya cengengesan.
"Aku tidak mengira hobi kita sama, aku juga mengoleksi novel romance." Ujar Arvan bersemangat sambil memperlihatkan buka yang telah dia beli, Dara menganga tak percaya melihat seorang pria seperti Arvan menyukai novel romance.
"Bagaimana kalau kita ke cafe terdekat? Aku yang mentraktirmu." Ajak Arvan.
"Kebetulan sekali aku haus, ayo!"
Keduanya saling bercengkrama dan berbagi cerita novel yang pernah di baca, mulai dari penulis terkenal dan yang tidak. Dara yang mendapatkan minat yang sama semakin membuatnya lupa waktu, keasikan mengobrol ada seseorang yang terlihat uring-uringan.
"Kalian semua aku pecat!" ucap Erick meninggikan suara, beberapa kali dia mencoba menghubungi ponsel Dara tapi tidak di angkat semakin membuat perasaannya kalut.
"Ma…maaf Tuan." Jawab salah satu dari mereka.
"Kalau sampai kalian memperlihatkan wajah kalian itu, tidak segan-segan untuk menguliti kalian dengan kejam juga sadis." Erik yang sangat marah itu tiba-tiba mendapatkan notifikasi pesan masuk dari asisten Ibnu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Dara berada di satu cafe, pergi tanpa meminta izin padanya. Lebih menyakitinya, melihat jelas bagaimana interaksi dari sang mantan kekasih dan juga mantan karyawannya sedang bersama juga terlihat akrab.
"Dara, kau selalu saja membuatku marah. Apa begitu mudahnya mengobrol dan berteman dengan banyak pria? Akan ku beri kau pelajaran nanti, tunggu aku." Gumamnya yang segera menyusul.