Kau Di Genggamanku

Kau Di Genggamanku
Bab 26


__ADS_3

Nenek Diana membenarkan posisi kacamatanya, melihat dua orang yang ada di hadapan mata dengan intens. Pasalnya dia melihat pemandangan yang sangat langka, Erick dengan posesifnya terus memegang jemari lentik Dara. 


"Apa aku salah melihat?" 


"Tidak. Ada yang ingin aku sampaikan dan ini berita penting." Tutur Erick tersenyum secerah hatinya.


"Apa?" 


Dara mengkode Erick agar tidak mengungkapkan keinginan sepihak itu, bagaimana dia bisa berpikir untuk menikah sementara dirinya belum ingin terikat pada pernikahan itu sendiri. 


"Aku dan Dara akan menikah, Nek."


"Wow, itu berita luar biasa. Apakah ini berita benar atau kau hanya mengarangnya saja." Selidik nenek Diana.


"Apa wajahku terlihat berbohong, Dara dan aku sekarang sudah menjadi pasangan kekasih. Aku tidak ingin menundanya lagi, walau dia tidak ingin menikah terlalu cepat." Jelas Erick yang terlihat sedih. 


"Hah, Dara yang malang." Gumam nenek Diana sambil menyandarkan punggungnya, raut wajah sedih terlihat jelas di wajahnya yang keriput.


"Apa maksud Nenek aku ini pembawa sial?" Erick yang mendengar gumaman sang nenek merasa tidak terima. 


"Akhirnya kau sadar juga, kau membawa kesialan bagi Dara." Sela Alan yang baru saja datang, dia bersemangat saat melihat Dara.


"Diam kau." Erick kesal, mood nya seketika berubah saat melihat kedatangan Alan, sudah bukan rahasia umum lagi. "Mengapa kau selalu saja mengacau." 


"Eits, santai Bung. Aku tidak mengacau, aku melihat Dara dan membuatku langsung kesini."


"Ck, kau tidak boleh mendekati Dara." 


"Why?" 

__ADS_1


"Karena Dara calon istri Erick," bukan Erick yang menjawab melainkan nenek Diana.


"What?" betapa terkejutnya Alan dan hampir saja kedua matanya terlepas dari tempatnya, mengarahkan pandangan pada kakak sepupunya yang sedang tersenyum kemenangan seperti mengejeknya. "Hah, ingin sekali aku menjahit mulutnya agar tidak bisa tersenyum mengejekku." Tentu saja kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya. 


"Kenapa kau menatapku begitu? Masih tidak percaya? Mulai sekarang kau tidak boleh mendekati calon istriku dan harus mengambil jarak satu meter di saat perlu." 


"Ck, kemarin kau menyulitkannya dan sekarang malah bersikap posesif." 


Dara dan nenek hanya duduk diam mendengar pertikaian yang tak berujung, perdebatan tidak pernah ada habisnya bagai anjing dan juga kucing. 


Nenek Diana melirik Dara dan memberikan kode agar mereka segera pergi meninggalkan dua orang yang masih saja berdebat, bukan untuk menggodanya melainkan dirinya ingin mengobrol. 


"Nenek, bagaimana kalau mereka menyadari kita tidak berada di sana?" bisik Dara yang menahan tawanya. 


"Biarkan saja, mereka selalu saja membuatku pusing bahkan si kembar semakin membuat aku stres dengan tingkah mereka setiap harinya. Ingin sekali aku memiliki cucu perempuan, tapi takdir malah menuliskan padaku yang harus menerima keempat cucu laki-laki." Ungkap nenek Diana berkeluh kesah, sementara Dara menggelengkan kepala tersenyum melihat tingkahnya.


Seluruh pandangannya di alihkan menatap kamar milik nenek Diana, tidak ada yang tahu mengapa waktu berjalan dengan sangat cepat. Pernyataan perasaan itu ternyata di ungkapkan Erick, hingga sekarang dia terjebak. 


"Aku perhatikan kau sedang melamun, semenjak Erick mengatakan padaku untuk menikahimu, di saat itulah kau sering melamun." Nenek Diana mengunci untuk menatap lawan bicaranya sangat intens, dia ingin tahu hal apa yang mengusik pikiran gadis di depannya. 


"Eh, aku tidak melamun." Elak Dara gugup membuat nenek Diana tersenyum menggelengkan kepala. 


"Kau tidak bisa berbohong pada orang yang lebih berpengalaman darimu. Walaupun aku sering lupa dan pikun tak membuatku bodoh dengan tidak memahami seseorang dari ekspresi wajahnya. Sama halnya orang-orang berpengalaman, asam garam kehidupan telah di cicipinya."


Dara diam sejenak, berpikir apakah dia akan mengatakan sejujurnya mengenai rasa yang mengganjal di hati. "Aku belum siap menikah," katanya seraya memainkan jari jemari dan mengalihkan perhatian. 


"Bukankah kalian saling mencintai? Mengapa kau tidak ingin menikah dengan Erick? Apa dia menyakitimu? Kau bisa mengatakan langsung padaku." 


Dara langsung meraih tangan keriput itu, merasa bersalah mengenai kata-kata kejujurannya. "Bukan begitu Nek, aku tidak ingin menjalin ikatan pernikahan. Apalagi hubungan ini baru saja di mulai." Perasaan takut dan trauma nya di masa lalu, dimana dirinya di telantarkan di panti asuhan. Dia merasa dirinya hanya sendiri, menuntutnya mandiri di usia yang masih sangat kecil. Tidak ingin kalau kejadian itu terulang kembali kepada anaknya kelak, bagaimana jika dirinya berpisah dan tanpa sengaja meninggalkan anak seorang diri dan keadaan memaksanya untuk lebih mandiri. 

__ADS_1


"Berdamailah dengan masa lalu, ku pasti bisa. Jika kau masih terjebak, maka selamanya kau tidak akan maju di dalam hidupmu." Tutur nenek Diana tersenyum hangat, dialah yang paling bahagia mendengarkan kabar pernikahan itu. Sifat Dara membuatnya terkesan, keluguan dan kepolosan hati memenangkan kepercayaannya begitu cepat. Bahkan dia lebih mempercayai Dara di bandingkan cucu-cucu kandungnya.


"Aku tidak bisa memastikannya, Nek. Keputusan Erick menjadikan beban di hatiku." 


"Kau pasti bisa, dan aku percaya itu." 


Setelah kepergian nenek Diana, Dara mulai memikirkan perkataan dari wanita tua itu. Ada benarnya, tapi tak semudah membalikkan telapak tangan. Kini dia terpaku menghadap keluar jendela, setelah melamun cukup lama memutuskannya untuk pergi ke dapur karena perutnya yang lapar ingin segera mengisinya.


Dara membuka lemari es dan melihat beberapa macam sayuran juga daging, tersenyum saat memikirkan makanan apa yang akan di masaknya. 


"Mari kita mulai," gumamnya bermonolog sendiri, mencepol tinggi  rambutnya dan memulai berkutat di dapur. 


Ya, aroma masakan tercium membuat siapa saja tergiur untuk mencobanya. Dara yang sibuk di dapur tiba-tiba terkejut oleh sepasang tangan yang melingkar di pinggang rampingnya, dia menoleh dan ternyata itu ulah dari kekasihnya. 


"Jangan menggangguku memasak, pergi sana!" 


"Kau mengusirku?" dengan sengaja Erick memperlihatkan raut wajah sedihnya. 


"Bukan begitu. Jangan menunjukkan kemesraan di sini, bagaimana kalau Dicko dan Dicki melihatnya? Bagaimana kalau nenek dan Alan juga melihat?" 


"Biarkan saja nenek dan Alan melihatnya, terutama pria itu." 


"Dia sepupumu, bukan musuhmu."


"Siapa tahu dari sepupu menjadi musuh, bisa saja dia menusukku dari belakang dan merebutmu dariku." 


Cara menghilangkan nafas panjang mengingat sikap Erick yang semakin posesif memeluknya erat. "Bagaimana dengan si kembar? Mereka masih kecil tidak sepantasnya melihat ini."


"Kau tenang saja, banyak alasan yang bisa diberikan untuk mereka." Ucap Erick yang begitu yakin.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?" 


Sontak keduanya menoleh dan melihat Dicko dan Dicki menatap mereka dengan polos, Dara yang panik tanpa sengaja menyikut perut Erick yang membuat pria itu meringis kesakitan. 


__ADS_2