
Dua minggu telah berlalu semenjak kepulangan raja Karl. Di Valdia, Leo sudah disibukkan lagi oleh pembangunan ruang bawah tanah rahasia. Kesibukan makin bertambah dengan adanya perombakan pasukan di setiap divisi militer Valdia. Bahkan saking sibuknya, dia tak sempat untuk kembali ke istana walaupun di sana Licia selalu menunggu untuk mengajaknya bicara.
Dia menghabiskan hari-hari di dalam proyek pembangunan ruang bawah tanah yang dikelilingi rapat oleh benteng kayu dan dijaga lebih dari seribu pasukan. Selain para pekerja, pasukan Yurei, dan Leo, tempat itu haram dimasuki oleh orang lain. Thalia bahkan Licia sempat memaksa masuk tetapi mereka justru dihadang oleh indra. Sempat terjadi pertarungan tetapi tak berlangsung lama karena memang kemampuan indra jauh di atas mereka berdua.
Sempat juga muncul kecurigaan dari Licia tentang pembangunan rahasia itu. Tetapi, itu hanyalah kecurigaan ringan yang hilang dari ingatanya seiring berjalanya waktu.
***
Setelah 17 hari berlalu, Leo akhirnya kembali ke istana. Dengan baju kotor penuh debu dia berjalan santai memasuki aula istana di mana Licia dan Thalia sudah menantikan kehadiranya.
" Kalian? " kejut Leo melihat Licia dan Thalia di aula.
" Lama sekali! Apa yang kamu lakukan di sana? Seharusnya kamu– " belum selesai Thalia bicara, datang 3 orang pekerja yang membawa sebuah kotak panjang menghampiri Leo.
" Tuan, " ucap salah satu pekerja sembari menyodorkan kotak panjang tersebut.
" Sudah jadi ya? Oke ikut aku ke kamar, " sahut Leo berjalan begitu saja melewati Thalia dan Licia.
" Leo! Setidaknya sapa dulu putri Licia! " sela Thalia.
" Maaf kak, aku ada urusan penting. " balas singkat Leo menaiki tangga dan meninggalkan 2 wanita cantik itu.
" Hhhh maaf Licia aku sepertinya tidak bisa membantumu, " ucap Thalia.
" Jika bukan kakek yang menyuruhku berkencan denganya, aku juga tak akan mau mengajak orang itu berkencan! " kesal Licia yang gagal memenuhi keinginan raja Karl. Dia melampiaskan kekesalan dengan menghentakkan kaki berkali-kali sembari memandang sinis pada Leo.
" Bukanya kamu mengharapkan kencan itu juga? " tanya Thalia sedikit menggoda.
Wajah Licia memerah, " Ti-tidak, siapa yang yang mengharapkannya? "
" Dasar munafik. Setiap malam saat kamu tidur selalu mengigau memanggil-manggil nama Leo, " balas Thalia yang makin membuat Licia malu.
" Aaaaaa! Dari mana kamu tahu ituuu!? "
" Hey gorila putih. Setiap malam aku menyempatkan ke kamarmu untuk memastikan tak ada pembunuh bayaran yang mengincarmu. Jadi wajar aku tahu itu, "
" Setidaknya bangunkan aku jika kamu masuk ke kamar! Sudahlah, aku mau keliling kota, " Licia melangkah menaiki tangga.
" Kota ada di luar, mengapa kamu malah naik ke atas? "
" Aku mau mengajak Melina, "
" Kenapa tidak mengajakku saja? Aku bisa menemanimu juga loh, " goda Thalia.
" Cih, siapa sudi mengajak gorila macam dirimu. Lebih baik aku bersama Melina. Lagi pula, kulihat ada banyak kertas laporan yang membutuhkan tanda tangan dari anak paman Aiden. Tetapi anehnya, yang dimintai tanda tangan malah bersantai, " sindir Licia dengan senyum jahat.
" Kenapa pula kau mengingatkan itu dasar gorila!, " geram Thalia. Telinganya panas mendengar sindiran wanita berambut perak itu.
" Sudahlah. Sana lanjutkan pekerjaanmu. "
Licia pun pergi menuju dapur di lantai dua tempat Melina dan Sely sedang belajar memasak. Sedangkan Thalia, dia kembali ke ruang kerja karena memang ada ratusan kertas laporan yang harus dia tanda tangani.
***
" Kupikir pengerjaan senjata ini bisa sampai berbulan-bulan, tapi tak kusangka bisa selesai secepat ini, " Leo mengambil kotak panjang yang diberikan oleh para pekerja.
" Walaupun sudah jadi, Tetapi kami belum bisa mengujinya karena sisa batu energi sihir di tempat kerja sudah terpakai semua tuan, " pungkas salah satu pekerja.
" Baiklah, kalian boleh melanjutkan pekerjaan. Aku akan menguji coba senjata ini di markas Yurei. Dan untuk batu energi, besok akan dikirim ke tempat kalian, "
" Baik tuan. Kami izin kembali bekerja. " Ketiga pekerja itu kembali ke ruang bawah tanah istana tempat mereka bekerja.
Sedangkan Leo bergegas menuju markas Yurei untuk menguji coba senjata di dalam kotak yang dia bawa. Pengujian dilakukan di markas Yurei karena semua batu energi sihir sudah dipindahkan ke markas itu demi menjaga keamanan dan kerahasiaan.
Di perjalanan menuju markas Yurei, Leo sempat berpapasan dengan Licia dan Melina. Tetapi Leo tak menghiraukanya. Antusiasmenya terhadap senjata di dalam kotak membuat putra marquis itu seakan tak mengenal dua gadis yang berpapasan denganya. Melihat tingkah Leo yang acuh, Licia mulai merasa tercampakkan. Namun Melina terus menyemangati dan meminta agar Licia berpikir positif terhadap kakaknya.
***
Ketika sampai di markas Yurei, Leo langsung menuju ruang bawah tanah ditemani Indra dan beberapa kapten divisi Yurei lainya.
" Indra tolong ambilkan serpihan kecil batu energi, " pinta Leo sambil membuka satu per satu kunci gembok yang menyegel kotak. Indra sendiri pergi menuju ruang penyimpanan batu energi sihir untuk mengambil yang Leo perintahkan.
__ADS_1
Setelah semua kunci gembok terlepas, Leo membuka kotak kayu itu dan dibuat terpesona saat melihat isi dalam kotak.
" Tuan? " ucap Indra yang kembali dari ruang penyimpanan dan melihat Leo terdiam.
" Indra, dengan adanya senjata ini kita bisa lebih menjamin keamanan Valdia, " Leo mengambil isi dari kotak tersebut.
Saat dikeluarkan, seluruh mata anggota Yurei yang di ruang bawah tanah langsung terperanga. Mereka terkagum-kagum melihat sebuah senjata api berlaras panjang di mana digagang senjata ada sebuah lubang kecil yang tertutup kaca.
" Senjata api? " tanya Indra lirih.
" Senjata api membutuhkan bubuk mesiu untuk menggunkanya, dan senjata ini hanya perlu sebutir kecil batu energi, " pungkas Leo memandangi senjata yang ia pegang.
" Bubuk mesiu sendiri harganya mahal sekali jadi denga kita punya ini, Kita bisa menghemat biaya dan tak perlu membeli bubuk mesiu, " sambung Leo seraya mengambil serpihan batu energi pemberian Indra. Batu itu dimasukkan ke lubang kecil di gagang senjata api.
...Booooom...!...
Setelah pelatuk ditarik, senjata tersebut mengeluarkan tembakan sihir yang meledakkan tembok ruang bawah tanah markas Yurei. Saking kerasnya suara ledakan, sampai menggetarkan markas Yurei dan sekitarnya. Selain itu, suara tersebut juga terdengar hingga luar dan membuat sedikit kepanikan penduduk.
" I-ini!? " kejut Indra melihat tembok bekas tembakan hancur.
" Ini baru serpihan kecil dari batu energi dan hebatnya energi sihir di serpihan masih sangat banyak padahal sudah kutembakkan, " sahut Leo kegirangan setelah melihat hasil uji coba senjatanya. Ia juga melihat serpihan batu itu masih mengeluarkan cahaya yang menandakan masih ada energi sihirnya.
" Senjata ini bisa menjadi ancaman bagi luar bila mereka tahu tuan. Kita harus merahasiakanya, " sela Lambert ( kapten divisi 1 Yurei ).
" Ya, aku tahu itu. Masih ada dua ratus senjata seperti ini lagi yang belum selesai. Jika semua senjata sudah diselesaikan, aku akan membentuk pasukan baru khusus untuk penggunaan senjata ini, " balas Leo yang menyimpan kembali senjata api itu ke kotaknya.
" Sisanya tinggal meriam dan kapal terbang. Aku makin bersemangat! " lanjut Leo penuh percaya diri.
" Tuan, anda sudah beberapa minggu ini tidak istirahat. Pembangunan kapal terbang masih butuh waktu lama karena para pekerja harus merancang ulang di kertas sebelum membangun. Selain itu, mereka juga harus mempelajari penggunaan batu energi sihir untuk bahan bakar kapal, " pungkas Indra menasehati Leo yang kalap dalam ambisinya.
" Ahahaha kau benar. Tetapi untuk istirahat sepertinya tak mungkin. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, "
" Sudahlah tuan. Tugas patroli dan pembangunan biar kami yang mengawasi. Anda lebih baik istirahat dulu. Musim depan tuan sudah tinggal di ibukota jadi kami ingin tuan benar-benar menjaga kesehatan sebelum berangkat, " sahut Keanu ( kapten divisi 7 Yurei ).
" Pasukan Yurei dibentuk untuk meringankan pekerjaan tuan. Jadi tuan jangan memaksakan diri, " sahut Indra tersenyum dan menepuk pundak Leo.
Leo merasa yang dikatakan para bawahanya benar. Dia pun menganggukkan kepala menuruti keinginan mereka. " Baiklah-baiklah semua tugas kuserahkan pada kalian, "
" Sekarang tuan lebih baik berjalan-jalan menikmati kota dengan nona Melina atau yang lain, " ucap Indra.
" Mengapa anda tidak ke pemandian air panas? Kuyakin anda butuh penyegaran setelah bekerja keras, " usul Lambert.
" Malas. Pasti pemandian-pemandian air panas sedang ramai sekarang, "
" Ramai? Sebentar, tuan memangnya belum tahu ada kolam air panas di istana? " sahut Indra.
" Ha? di mana? Memangnya ada di istana? "
" Hhh wajar jika tuan tak menjumpai karena memang tempatnya sedikit tersembunyi. Kolamnya berada di bawah istana. Tepatnya sebelah kanan dari pintu tempat ruang kerja rahasia. Padahal nona Thalia sering mandi di sana, apa dia tak pernah memberi tahu anda? "
" Mungkin dia lupa. Lagi pula akhir-akhir ini kami jarang berinteraksi. Yasudah aku mau ke tempat yang kau maksud. Kuserahkan sisanya pada kalian. " Leo bergegas meninggalkan markas Yurei. Dia penasaran dengan kolam air panas yang dimaksud Indra.
***
Sampai di istana, tanpa basa-basi Leo langsung menuju ruang bawah tanah. Benar saja dia menemukan pintu yang dimaksud Indra. Sebuah pintu bercorak naga emas tepat di ujung lorong yang tak jauh dari pintu menuju ruang kerja rahasia yang dijaga 4 prajurit.
Leo mendekati pintu tersebut lalu membukanya. Dia terpukau melihat kolam air panas besar nan mewah. Seluruh ruang bercat putih dilapisi corak-corak emas yang menambah kesan kemewahannya. Sedangkan air panasnya sendiri ternyata air panas buatan yang dipanaskan di dalam gentong pemanas ciptaan mendiang ibundanya.
Pemuda rambut pirang itu menutup rapat pintu pemandian dan tanpa pikir panjang melepas semua pakaian lalu masuk begitu saja ke kolam.
" Fyuuuuuh..., Segar sekali... " Seketika beban fikiran Leo terhempas begitu saja saat masuk kolam. Dia merasa lega dan nyaman.
" Le-Leo!? "
Terdengar suara lembut seorang wanita yang tak asing di telinga Leo. Dia tersentak sembari menoleh ke segala arah mencari keberadaan sumber suara dibalik asap-asap tipis yang membatasi pandanganya.
" Licia! " Leo kaget ketika menoleh ke kanan, ternyata ada Licia yang juga sedang berendam.
Wajah Licia memerah. Dia melipat kedua tangan menutupi tubuhnya yang terendam air. " Mengapa kamu ada di sini? "
" Aku juga tidak tahu kamu ada di sini! Kupikir kolamnya kosong! " Leo salah tingkah sambil memejamkan mata. Pipinya memerah karena sedikit melihat belahan dada Licia.
__ADS_1
" Ka-kalau begitu aku akan pergi dan menunggumu selesai mandi saja! Jangan menengok kearahku karena aku sedang telanjang. " sambung Leo mencoba keluar dari kolam walau telanjang bulat.
" Ti-tidak perlu! I-ini kolam air hangatmu ja-jadi tetaplah di sini! Ta-tapi kita saling membelakangi saja, " ucap Lica malu-malu. Dia memang sejak awal ingin berbicara lebih lama dengan Leo tetapi tak pernah terwujud. Dan kali ini dia memberanikan diri walau di tempat yang kurang tepat.
" Tidak! Aku akan keluar dan menunggumu! Jika aku ketahuan mandi dengan seorang gadis sudah pasti ayah akan menghukumku! " balas Leo tersipu malu.
Saat mau berjalan, Leo dikejutkan oleh tangan Licia yang memegang kaki kanannya. " Te-tetaplah di sini! "
" Licia jangan memegangi begitu atau aku bisa ja– " Belum selesai memperingatkan, Leo pun terjatuh ke kolam karena tangan Licia menarik kakinya.
...Byuuur...!...
" Sudah kubilang jangan memegangi kaaaa...! " Sekali lagi Leo dikejutkan oleh wajah Licia yang tiba-tiba berada tepat 10 cm di depan wajahnya.
Melihat tingkah lucu Leo, Licia tersenyum dan tertawa kecil. Tawanya sangat manis sampai-sampai membuat Leo terperanga dan menatap kosong wajah cantik gadis itu. Jantungnya berdegup makin kencang diselingi fikiran yang mulai melayang membayangkan kisah cintanya dengan Licia.
" Hey, mengapa malah melamun? " tanya Licia mencubit pipi Leo.
" A-ah maaf, " sahut Leo yang sudah mulai tenang.
Ucapan Leo mengakhiri percakapan. Merekapun berendam bersama tetapi saling membelakangi. Sebenarnya mereka berdua ingin saling membuka percakapan tetapi kecanggunganmengalahkan niat mereka.
" Ku-kudengar dari Thalia, kamu tidak tahu tempat ini.Tapi bagaimana bisa kamu sampai di sini? " tanya Licia gugup. Dia akhirnya memberanikan diri memulai percakapan.
" Aku diberitahu bawahanku. Karena penasaran, aku memutuskan datang ke sini untuk menghilangkan stres, "
" Setelah kakek pulang, kamu mulai sibuk ya? Padahal aku ingin berbicara lebih lama denganmu, " Licia langsung menutup mulut setelah berkata. Dia tak sengaja keceplosan mengeluarkan keinginan hatinya.
" Lu-lupakan soal perkataanku itu! " lanjut Licia panik. Pipinya makin memerah.
" Kakak Thalia sudah punya kesibukanya sendiri dalam menyelesaikan pendidikanya. Sedangkan ayah kondisinya kian hari makin memburuk. Karena itu, sebisa mungkin aku akan menggantikan pekerjaan mereka sementara waktu setidaknya sampai kakak Thalia lulus dari akademi, " jawab Leo.
Licia sebenarnya tahu alasan kesibukan Leo. Tetapi dia tak puas jika tak mendengar langsung dari orangnya. " Begitu ya? Aku tak menyangka kamu bisa berubah seperti ini, "
" Semua berkat pengobatanku di Taiyoria. Mungkin jika aku hanya diobati di sini, tak akan ada perubahan pada diriku bahkan aku bisa saja jadi gila karena traumaku, "
" Boleh aku tanya sesuatu? "
" Tentu saja, kenapa tidak? "
" Bagaimana caramu mengevolusikan elemen sihir? "
" Soal itu ya? Aku hanya iseng mencoba bermeditasi untuk mengumpulkan energi alam seperti yang diajarkan kakekku kepadaku. Kamu tahu sendiri kan orang-orang timur membangkitkan sihir mereka dengan menyerap energi alam. Aku pun meniru cara tersebut untuk memperbanyak kapasitas energi sihirku. Tetapi, banyaknya energi alam yang kuserap justru mengevolusikan elemen sihirku, "
" Segampang itu...? "
" Evolusi sihirku tak lepas dari energi sihir kegelapan dalam tubuhku. Kamu tahu sendiri bukan, darah dan kekuatan Valdius mengalir pada nadi keturunanya? "
" Hmh, " Licia menganggukkan kepala lalu perlahan menenggelamkan bibirnya karena merasa iri pada Leo yang lahir dari keluarga Valdius.
" Tapi sebenarnya tak menutup kemungkinan bagi orang awam untuk mengevolusikan elemen sihir dengan cara itu karena dahulu kaisar es juga bisa berevolusi menggunakan cara yang sama, "
Ucapan Leo menggugah harapan Licia. Dia memang sangat menginginkan evolusi elemen sihir tetapi dengan cara yang normal tanpa harus meminum pil pembangkit energi sihir.
" A-apa aku bisa melakukanya? " tanya Licia.
" Mau mencobanya? "
" Eh? " Licia tak menyangka mendapat ajakan dari Leo.
" Ada tempat yang ingin kudatangi dan di sana sangat cocok untuk menyerap energi alam. Jika kamu mau ikut, setelah mandi kita langsung berangkat, "
" Ta-tapi bukanya kamu sibuk? "
" Sisa tugas sudah diambil oleh bawahanku. Jadi aku memiliki banyak waktu luang sampai masuk akademi, "
" Ba-baiklah aku ikut! " Licia dengan semangatnya menerima ajakan itu.
" Kita akan di tempat itu tiga hari. Jadi persiapkan perbekalanmu sebelum berangkat, "
" Kalau begitu aku mau mempersiapkan semuanya sekarang dan menunggumu di gerbang istana, " Licia yang penuh semangat keluar dari kolam untuk memakai handuk dan langsung pergi meninggalkan pemandian.
__ADS_1
Leo hanya tersenyum kecil. Dia teringat masa kecilnya dengan wanita berambut perak itu di mana Licia selalu menunjukkan semangatnya untuk berlatih. Sebuah semangat yang dulu sering membuat Leo iri.
^^^To be Continue.^^^