KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#22# KEKECEWAAN LICIA


__ADS_3

Di hari kedua, Leo memutuskan pergi ke tempat kepala suku Zaxin untuk memberikan obat perangsang yang kepala suku itu pesan. Dia trauma melihat obat itu karena semalaman penuh dibuat tak tidur oleh tingkah aneh Licia yang masih terpengaruh obat tersebut. Walaupun sudah dipingsangkan, Licia kembali sadar 5 menit setelahnya dan terus memeluk-meluk Leo akibat pengaruh obat perangsang yang belum hilang sampai akhirnya Leo terpaksa mengikat tubuh Licia di pohon apel. Di pagi hari dia pun meninggalkan Licia yang masih tertidur pulas seorang diri di dalam gua.


Saat tiba di balai desa suku Zaxin, Leo langsung dipersilakan masuk oleh istri pertama kepala suku. dia pun masuk dan menunggu di ruang tamu. Tak lama, kepala suku Zaxin keluar dari kamarnya. Pria tua berbadan besar dan berjenggot putih tebal itu datang sempoyongan menghampiri Leo.


" Wah ada perlu apa sampai pagi-pagi begini tuan muda datang ke rumah saya? " ujar kepala suku Zaxin bernama Yaro.


Leo kemudian menyodorkan kotak kecil berisi pil perangsang pada Yaro. " Ini pil pesananmu. Gara-gara aku lupa memberikanya, membuatku semalaman tak bisa tidur, "


" Ha!? Tuan meminum pilnya!? " kejut Yaro mengusap kedua bola matanya.


" Bukan aku, tetapi putri Licia yang tak sengaja meminumnya, "


Yaro langsung mendekat pada Leo saat mendengar Licia meminum pil itu.


" La-lalu apa yang terjadi!? Apa kalian melakukanya? " tanya Yaro memegang pundak Leo.


" Aku bukan orang yang gampang menodai seorang wanita tanpa ikatan pernikahan. Aku berusaha menahan hasratnya sampai terpaksa mengikatnya di pohon apel dalam gua, " tandas Leo menjauhkan tangan Yaro dari pundaknya.


Dengan rasa sedikit kecewa, Yaro kemudian duduk di kursi sebelah Leo. " Hhhhh tuan muda ini. Padahal mendapat kesempatan bagus tetapi tidak dimanfaatkan. Kapan lagi bisa melakukanya dengan wanita secantik putri Licia, "


" Aku tak sepertimu yang doyan hal mesum sampai beristri lima, " cetus Leo dengan tatapan sinis.


" Hahahahaha! Tetapi kami melakukanya karena suka sama suka selain itu aku juga bertanggung jawab dengan menikahi mereka, "


" Hhhhh terserah kau saja, aku mau kembali ke gua. Oh ya, kudengar produksi anggur suku Zaxin mulai meningkat bukan? "


" Ya, berkat bantuan tuan muda, ladang anggur kami berbuah tiga kali lipat dari tahun lalu, "


" Pasokan anggur merah di kota menipis karena pengiriman buah dari wilayah Aru mulai berkurang. Apa kau bisa memperbanyak produksi minuman itu? "


" Hmh tentu saja! Serahkan pada kepala suku ini! " balas Yaro percaya diri seraya menepuk-nepuk dadanya.


" Ku mengandalkanmu pak tua. Sampai jumpa lagi. " Leo menaruh kotak obat itu di meja Yaro lalu pergi kembali ke gua.


***


Sesampai di gua, dia meliha Licia yang masih tertidur pulas walau dalam keadaan terikat. Leo merasa iba dan tak tega jika terus mengikat gadis itu. Dia pun melepaskan ikatanya lalu membawa putri itu kembali ke dalam tenda. Sembari menunggunya bangun, Leo menyempatkan berlatih pedang lalu memasak jagung bakar untuk sarapan mereka berdua.


" Hmh Leo apa ini sudah pagi? " ucap Licia yang keluar dari tenda dan hanya memakai jubah milik Leo.


" Sudah bangun? Sana cuci wajahmu lalu segera makan, " balas Leo sambil meniup-niup api unggun.


Licia yang masih setengah mengantuk mengusap matanya. Dia berjalan menuju parit di dekat pohon lalu membasuh muka. Setelah rasa kantuknya hilang, gadis itu dikejutkan oleh dirinya sendiri yang dalam keadaan telanjang bulat dan hanya berbalut jubah milik Leo.


Wajahnya kembali memerah. Dia teringat malam tadi saat memeluk mesra Leo. " Le-Leo, ki-kita tidak melakukan itu kan? "


" Melakukan itu? Apa maksudmu? "


" I-itu kita tidak melakukanya kan? " Licia melirik ke dadanya yang sedikit terbuka.


Leo paham yang Licia maksud, dia tersenyum kecil lalu menjawab, " Tenang saja aku tak melakukan apa-apa kepadamu. Tetapi mungkin kejadianya akan berbeda jika aku tak segera menutup tubuhmu dengan jubahku. Benar-benar merepotkan, "


" La-lagi pula mengapa tidak bilang kalau itu obat perangsang!? " kesal Licia.


" Aku sudah mau mencegahmu Tapi justru kamu meminum langsung obatnya. Lain kali tanyakan dulu agar kejadian semacam ini tak terulang. Sekarang kemarilah, makan ini! " Leo menyodorkan jagung bakar dari kejauhan.


Licia berjalan mendekati Leo lalu mengambil jagung tersebut dan memakanya. Gadis itu dibuat kaget saat beberapa biji jagung masuk ke mulutnya. Dia merasakan kelezatan yang berbeda dari jagung bakar biasanya.


" E-enak! Bagaimana bisa jagung bakar seenak ini? " tanya Licia yang tak bisa berhenti memakan jagungnya.


" Aku menggunakan bubuk rempah-rempah, "


" Bubuk rempah-rempah? Bukankah rempah-rempah sangat langka di benua kita? "


" Di Valdia ada toko rempah-rempah milik seorang saudagar dari kerajaan Singaraja. Dia mengubah semua rempah-rempah mentah menjadi bubuk dalam botol. Lagi pula masakan lezat yang kamu makan di istana Valdia juga berkat rempah-rempah itu, "


" Apa aku bisa membelinya juga? "


" Kenapa tidak? Kamu bisa meminta Melina atau kak Thalia untuk menemanimu ke toko itu, " tandas Leo sambil membaringkan badan di rerumputan.

__ADS_1


" A-aku ingin kamu yang menemani, " ajak Licia malu-malu.


" Boleh saja tetapi mungkin minggu depan. Lebih baik sekarang kamu membersihkan badan di parit itu lalu melanjutkan meditasi, " balas Leo memiringkan badan pada Licia.


" Lalu bagaimana denganmu? "


" Aku mau tidur. Gara-gara dirimu yang tak terkontrol, aku tak bisa tidur semalaman, "


" Baiklah. Jangan mengintip ke parit atau kubunuh kamu! " ancam Licia dengan mata sinis tetapi pipinya masih terlihat merah merona karena ingatan tentang semalam masih terngiang-ngiang.


" Cih! Kurang kerjaan sekali aku mengintipmu. " sanggah Leo sambil menutup mata untuk mencoba tidur.


Sedangkan Licia mengambil bajunya lalu menuju parit untuk membersihkan tubuh. Beberapa saat kemudian setelah mengenakan pakaian, dia pun melanjutkan meditasi.


***


Saat senja mulai menyingsing, Leo terbangun. Dia melihat Licia masih bermeditasi di depan pohon apel. Kali ini meditasi Licia berjalan lebih lama dari sebelumnya. Gadis itu mulai sedikit bisa mengendalikan energi alam yang masuk ke tubuh.


Karena bosan hanya duduk diam mengamati Licia, Leo memutuskan untuk membersihkan badan. Setelah selesai, dia juga menyempatkan keluar gua untuk melatih sihir-sihir elemen esnya. Saat asik berlatih, tiba-tiba gua bergetar. Leo bergegas masuk kembali ke dalam. Sama seperti kemarin, Dia menyaksikan lonjakan energi alam di dalam tubuh Licia. Tanpa pikir panjang, pemuda rambut pirang itu menapak lagi perut Licia untuk mengeluarkan energi alam di tubuh gadis bermata merah tersebut.


" Ughuk! Ughuk! " Licia kembali tersadar dan sedikit mengerang kesakitan sambil memegang perut.


" Ini sudah kedua kalinya, " pungkas Leo.


" Masih bisa! Aku masih bisa! " kekeh Licia. dia kembali bersila mencoba bermeditasi lagi.


" Hentikan Licia! Jangan melakukanya lagi! Itu sangat berbahaya! " sela Leo memegang bahu kanan Licia.


" Kenapa? Aku sudah merasakan energi alamnya! Aku yakin sedikit lagi bisa mengendalikanya! " sahut Licia penuh percaya diri.


" Hhh aku lupa mengatakanya kepadamu. Energi alam itu bagaikan hewan buas yang berkeliaran di alam semesta. Hewan buas sendiri akan jinak jika menemukan penjikannya, begitupula dengan energi alam. Mereka akan jinak dan dapat dikendalikan oleh orang yang mereka kehendaki. Tetapi jika tidak, itu hanya akan menjadi siksaan bagi yang memaksa menyerap energi alam. Hanya ada tiga kali kesempatan saja untuk menyerap energi alam, jika tiga kesempatan gagal berarti energi alam menolak menyatu dalam tubuh. Dan jika dipaksa, energi itu akan terus masuk ke tubuh lalu meledak. " jelas Leo.


" Aku masih punya satu kesempatan bukan? Aku akan mencobanya! " sahut Licia kembali.


" Baiklah-baiklah, jika meditasi terakhir ini gagal jangan pernah melakukanya lagi. Paham? "


" Kamu sudah makan? " tanya Leo.


Licia mengehela napas membatalkan meditasinya dan menjawab, " aku sudah memakan apel yang kusimpan kemarin. Selain itu tadi aku juga sempat makan satu apel lagi. "


" Baiklah. silakan lanjutkan meditasimu. Aku mau mencari kayu bakar, " Leo berjalan keluar gua untuk mencari kayu bakar sebelum langit mulai gelap.


***


Baru 2 jam dia keluar mencari kayu bakar sembari melihat-lihat sekitar, lagi-lagi gua itu bergetar. Leo sontak berlari kembali ke gua. Getaran kali ini bukan hanya sekali tetapi 3 kali berturut-turut.


Saat baru masuk beberapa langkah di dari mulut gua, Leo langsung dikejutkan oleh sambaran petir yang untung saja dia sigap menggunakan sihir perisai angin. Saat melirik kearah Licia, seketika pemuda itu terkejut melihat Licia yang sudah tergeletak dan mengeluarkan aura sihir diselingi percikan-percikan petir kecil.


" Ini gawat! " ucap Leo yang melihat Licia.


Licia sendiri sedang dalam keadaan tak sadar. Tubuhnya terkuasai oleh energi alam yang sudah melebihi batas masuk ke dalam tubuh hingga membuat kesadaran gadis itu lenyap sementara. Leo perlahan mendekatinya. Walaupun sambaran-sambaran petir terus mengarah padanya, Tetapi berkat sihir perisai angin dia bisa menetralkan petir tersebut dan terus berjalan ke depan.


" Liciaa...! Liciaaa...! " teriak Leo mencoba menyadarkan gadis berambut putih perak tersebut. Teriakan Leo justru membuat sambaran petir makin kuat. Energi alam yang terserap Licia makin tak terkendali.


Setelah berusaha menahan sambaran demi sambaran, Leo akhirnya sampai ke dekat Licia. Pemuda rambut pirang itu mengeluarkan aura energi sihirnya demi menekan energi alam yang diserap Licia.


" Maafkan aku Licia, tapi ini cara satu-satunya, " Leo menyandarkan tubuh Licia di pohon lalu menggigit lehernya.


Dia menyerap energi alam dari tubuh Licia. Saking banyaknya energi alam yang terhisap, membuat aura energi sihir Leo makin membesar. Perlahan suhu udara di gua menurun. Rumput-rumput dan air di parit sedikit demi sedikit mulai membeku. Tetapi pohon apel itu tak terpengaruh karena memang di dalamnya terkandung energi sihir yang melindungi pohon tersebut.


Tubuh Leo sendiri juga mulai terlapisi es. Lapisan es itu mulai menyelimuti kedua tangan dan pinggiran wajahnya. Selain itu muncul sepasang sayap es di punggung pemuda tersebut.


Merasa energi alam pada tubuh Licia sudah terserap semua, dia pun melepaskan gigitanya. Tak lama, Licia pun terbangun dalam keadaan lemas.


" A-apa yang terjadi? " pungkas Licia mencoba memfokuskan pandanganya yang buram.


" Syukurlah kamu tidak meledak. Benar-benar merepotkan sekali, " gerutu Leo.


Licia mengusap mata dan terkejut melihat Leo yang terselimuti es dan dengan sepasang sayap es di punggungnya.

__ADS_1


" Le-Leo? Apa yang sebenarnya terjadi? "


" Energi alam menguasai tubuhmu. Hampir saja energi itu meledak, tapi aku berhasil menyerap semua energi alam itu dari tubuhmu, " jelas Leo sembari mengeluarkan lingkaran sihir yang menyedot es di tubuhnya.


Licia merasa kesakitan dibagian leher. dia pun menyentuh lehernya, " Ah! kenapa leherku sesakit ini? "


" Maafkan aku. Aku terpaksa menggigit lehermu untuk menyerap energi alam, " Leo mengambil saputanganya lalu membersihkan darah di bekas gigitannya pada leher Licia.


" Bagaimana bisa kamu menyerapnya dengan cara seperti itu? " tanya Licia.


" Itu bakatku sejak kecil. Aku memang bisa menyerap energi sihir orang lain dengan menggigitnya, " jawab Leo. Licia terdiam dan sekali lagi dibuat iri oleh Leo. Dia hampir tak percaya jika ada bakat semacam itu pada manusia.


" Kita hentikan meditasi ini! Energi alam menolak dirimu. Lebih baik kamu istirahat. "


Licia masih diam. Dia sangat kecewa tak bisa melakukan hal yang pernah Leo lakukan hingga tak sengaja rasa kecewa itu membuat air matanya menetes.


" Licia? " tanya Leo melihat Licia menangis.


Licia menundukkan kepala. Air matanya menetes di atas daun-daun pohon apel yang jatuh.


" Kenapa aku tak bisa? "


" Hey tak perlu bersedih. lagi pula kamu sudah kuat. Bisa mencapai sihir elemen tingkat kaisar itu sudah prestasi yang hebat. " ujar Leo mencoba menghibur hati Licia.


" Aku hanya ingin sepertimu. Padahal kita selalu berlatih bersama saat kecil, tetapi mengapa hanya kamu yang bisa melakukan ini? " tanya Licia mengusap mata.


" Suatu saat kamu pasti bisa melewatiku. Tetapi harus berjuang lebih keras. Walaupun kamu tak bisa melewatiku dari segi kekuatan, lebih baik lewati aku dari segi pemikiran atau hal lainya. Suatu saat kamu akan menjadi ratu dan kuyakin kamu akan melewati siapa pun termasuk diriku. Jangan kecewa dan menyerah hanya karena kamu gagal di meditasi ini. Lagi pula memang ini meditasi sulit. Di benua timur sendiri dari jutaan orang yang mencoba meditasi ini, hanya kurang dari sepuluh orang saja yang berhasil. Itu pun hanya kapasitas energi sihir mereka yang bertambah bukan mengevolusikan elemen sihir, " jelas Leo.


Penjelasan Leo membuat Licia sedikit tenang. Dia kemudian membersihkan wajahnya lalu kembali ke tenda untuk membantu Leo menyalakan api unggun.


" Mau makan sesuatu? " tawar Leo pada Licia.


Licia menggelengkan kepala, " Apel yang kumakan sudah membuatku kenyang sampai sekarang. Aku tak ingin makan apa-apalagi malam ini. "


" Yah wajar saja, apel di pohon itu memang bisa mengenyangkan perut karena efek energi sihir di dalamnya. Tapi sayang sekali energi sihir pada apelnya hanya bisa mengenyangkan bukan menambah energi sihir dalam tubuh manusia, " ungkap Leo yang berhasil menyalakan api unggun.Licia hanya terdiam beberapa saat seraya mengamati api unggun. Rasa kecewa masih menyelimuti pikirannya.


" Istirahatlah. Besok pagi kita kembali ke kota, " ucap Leo.


Licia melirik Leo. " Hey Leo, "


" Ada apa? "


" Mengapa kamu menyetujui perjodohan kita? Dan apa alasan yang kamu berikan ke kakekku? " Licia tiba-tiba menanyakan hal yang tak diinginkan oleh Leo.


Leo sedikit kaget tetapi dia harus memutar otak mencari alasan lain untuk menjawab pertanyaan itu


" Kenapa diam? " tanya Licia sekali lagi kali ini nadanya sedikit memaksa.


" Alasanya mungkin sama seperti orang yang pernah dijodohkan denganmu dulu, " jawab Leo secara spontan karena tak dapat memikirkan alasan lain.


" Begitukah? Kamu juga ingin takhta kakekku juga ya? "


" Mungkin bisa dikatakan begitu, " jawab Leo sambil menggaruk kepala.


Jawaban Leo mengubah cara pandang Licia. Dia mengira Leo sama seperti bangsawan lainya yang mendekat hanya untuk meraih takhta Gerelia. Putri itu pun berpikir untuk sedikit menjauh dan mengurangi interaksi dengan Leo saat kembali ke kota. Dalam hati dia sangat kesal dan kecewa karena sekali lagi dipertemukan dengan orang yang hanya mendekatinya karena takhta bukan karen cinta.


" Aku tidur dulu. " Licia kembali ke tenda seraya memperlihatkan wajah murungnya.


Leo hanya menganggukkan kepala dan mengira wajah murung Licia karena rasa kecewanya setelah gagal melakukan meditasi. Dia pun memutuskan untuk tidur juga karena besok pagi harus segera kembali ke kota.


***


Setelah pagi tiba, mereka berdua beranjak dari gua untuk kembali ke kota. Di perjalanan, Leo dibuat penasaran oleh sifat Licia yang berubah drastis. Di mana Licia hanya terdiam dan seakan menjaga jarak dari Leo.


Sesekali Leo menawarkan makanan dan sempat mengajaknya bicara, tetapi Licia hanya menjawab dengan singkat dan sedikit acuh. Leo masih mengira itu semua karena kegagalan gadis itu di gua tanpa menyadari bahwa yang membuat Licia seperti itu akibat dari jawaban spontannya semalam.


Sesampainya di kota, tak sepatah kata pun terlontar dari bibir manis gadis itu pada Leo. Dia memacu kudanya begitu saja menuju istana dan meninggalkan Leo di gerbang kota.


^^^To be Continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2