
Saat tengah malam, para penghuni istana dikejutkan oleh kedatangan seorang pria berjubah hitam dan memakai topeng. Dia membawa Licia pulang walaupun sang putri dalam keadaan pingsan.
Raja Karl begitu bersyukur dan berulang kali mengucap terimakasih pada Leo dibalik topeng dan jubah itu saat ia membawa Licia ke kamar.
Melihat sikap raja Karl semakin membuat Leo penasaran serta menyadari bahwa raja Karl sepertinya juga tau tentang altar kuno itu. Leo pun menutup rapat kamar Licia.
" Kenapa kau menutup pintunya? " tanya raja Karl.
" Aku menemukan tuan putri di altar kuno di timur laut ibukota. Di sana juga ada putra anda dan bahkan ada pendeta suci, "
" Benar ternyata dugaanku, "
" Apa yang mulia tau tentang altar itu dan ritual apa yang mereka lakukan? "
" Ya! Tapi saat kau mengetahui ini, kau wajib menjaga cucuku apapun yang terjadi! "
Leo sejenak melirik Licia di ranjang. " Dari ritual yang kulihat, sepertinya dia menjadi semacam tumbal ya? "
" Untuk mengunduh madu terbaik maka harus memiliki ratu lebah yang terbaik juga dan itulah yang terjadi pada Licia, "
" Apa maksud yang mulia? "
" Yang kau lihat adalah ritual pembangkitan elemen cahaya, "
" Itu kan elemen pemberian dewa? Bukankah tidak bisa dibangkitkan? "
" Dalam kitab suci Deus ada catatan bahwa elemen cahaya bisa dibangkitkan jika keturunan dari 2 pemilik elemen cahaya bersatu maka akan lahir manusia baru yang berelemen cahaya, "
" Dua pemilik elemen cahaya? Tapi pemiliknya hanya Kalius seorang bukan? "
" Itulah yang tertulis disejarah yang diajarkan kepada generasi muda. Tapi, sebenarnya Kalius memiliki seorang adik yang juga berkemampuan elemen cahaya. Hanya saja adiknya tidak pernah menggunakan kekuatan itu dan memilih hidup sebagai ibu rumah tangga biasa. Dan sekarang keturunan dari adik Kalius adalah keluarga Count Randa, "
" Begitu ya. Apa yang mulia sempat berencana juga melakukan ritual itu? "
" Ya, dulu aku memang ingin mencobanya. Dengan lahirnya seorang berkemampuan elemen cahaya maka kerajaan ini akan memiliki senjata hebat untuk melindungi rakyat. Ditambah aku dulu mengira sangat beruntung saat Licia dekat dengan Orka karena tujuanku bisa terpenuhi. Tapi aku sadar, kekuatan itu pasti akan dimanfaatkan putraku dan kerajaan suci untuk memulai kampanye perang suci lagi. Aku pun mengurungkan niat dan memilih menjaga cucuku agar tidak jatuh ke tangan mereka, "
" Kulihat dia meminum 3 cawan berisi darah dan entah tujuanya apa, "
" 2 darah keturunan pemilik elemen cahaya dan 1 darah milik Kalius. Seharusnya setelah peminuman itu ada ritual pembuka segel dan ritual pembuahan. Untung saja kau datang tepat waktu. Aku sangat berterimakasih, "
" Jadi cairan yang kulihat itu darah Kalius? Tapi mengapa harus Licia? "
" Karena dia satu-satunya wanita yang memiliki darah keturunan Kalius. Sejak ratusan tahun keturunan Kalius adalah laki-laki semua dan saat lahir seorang wanita dari darah keturunanya, disitulah kesempatan untuk membangkitkan kembali pemilik elemen cahaya. "
" Saya paham sekarang. Kalau begitu saya pamit kembali dulu yang mulia. Saya takut kakak Thalia cemas, " Leo membenarkan topeng yang ia kenakan lalu berlutut kembali di hadapan raja Karl.
" Hmh... baiklah, " raja Karl menganggukkan kepala. " Kau bersediakan menjaga cucuku? "
" Sesuai kesepakatan, saya akan menjaga Licia dari kejauhan, "
__ADS_1
" Bukan itu maksudku Leo. Aku ingin kau ada di sampingnya lagi, "
Leo menghela napas lalu menggelengkan kepala, " Maaf yang mulia. Hati saya sepertinya belum terbuka untuk menerimanya kembali. "
" Begi– "
Belum selesai raja Karl menjawab, Licia tiba-tiba bangun dengan raut wajah penuh ketakutan.
" Toloong...! Tolooong...! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau! Aku tidak mau...! " pekik Licia.
Raja Karl langsung berlari ke ranjang dan memeluknya.
" Hey Licia! Tenang! Ini kakek..., inii kakek! Kamu aman sekarang tenang! " ucap raja Karl mencoba menenangkan Licia sambil memeluknya.
" Kakek jangan bawa aku ke sana! Aku tidak mau kesana! Aku tidak mau dinodai siapa-siapa! Orka yang kupikir mencintaiku ternyata hanya memanfaatkanku! Tolong aku kakek! " rengek Licia dalam pelukan sang kakek.
Sementara Leo hanya bisa terdiam. Entah kenapa hatinya merasa sakit melihat Licia yang sangat ketakutan.
" Jika yang mulia ingin membalas dendam, mungkin aku bisa melakukanya, " seakan mulutnya berbicara sendiri, Leo secara tak sadar menawarkan bantuan. Hatinya mulai melembut melihat kondisi Licia saat ini.
" Tidak! Aku tidak ingin ada perang saudara di kerajaan ini! Aku sudah tau siapa saja pelakunya tapi mau bagaimanapun caranya, aku tidak akan bisa menghancurkan mereka. Fraksi pendukungku sekarang berkurang, dan mustahil bagiku bisa melawan, "
" Tuan putri memiliki fraksi terbesar di kerajaan. Anda bisa memanfaatkan itu untuk melawan mereka, "
" Aku tidak ingin melibatkan cucuku lagi. Masalah seperti ini biarlah aku seorang yang menghadapinya, "
Tak lama setelah perbincangan, bak seekor nyamuk yang datang tak diundang, pangeran Theo tiba-tiba menendang pintu kamar.
" Aku tau ini semua pasti ulah ayah! " bentak pangeran Theo langsung menodongkan pedangnya.
Raja Karl menghela napas lalu menidurkan Licia dengan sihir penidur. " Maaf Licia, aku tidak ingin kau melihat pertengkaran ini, "
" Jika ayah tidak mengacau, sudah pasti 9 bulan lagi akan lahir seorang pemilik elemen cahaya dan kerajaan ini akan menjadi kerajaan terkuat! "
" Lalu ingin kau gunakan untuk apa kekuatan itu? Melindungi kerajaan? Atau justru memulai peperangan? " raja Karl membaringkan kembali Licia.
" Tentu saja sesuai keinginan ayah! Kekuatan itu akan melindungi kerajaan ini dan para rakyat! "
" Rakyat?! Rakyat yang mana? Apa mereka yang berkulit putih? Atau mereka yang menganut Deus? Lalu bagaimana dengan para rakyat yang berkulit hitam dan menganut Angelus? " raja Karl mengepalkan tangan. Kesabaranya pupus melihat sifat putranya yang seperti ini.
" A-apa maksud ayah? "
" Heh dasar pembohong! Kau pikir aku tidak tau rencanamu dan pendeta suci yang ingin menginvasi timur dan merebut perpustakaan suci di kerajaan Angelusia? Lalu menjadikan para ras kulit hitam sebagai budak. Kalian memang para tikus-tikus biadab! "
" Ayah sudah tua, tidak perlu ikut campur urusanku yang sebentar lagi akan menjadi raja! Lebih baik ayah serahkan putriku karena gerhana sebentar lagi usai, "
" Tutup mulutmu theo...!!! " bentak raja Karl memnangkitkan aura sihir.
Pangeran Theo tersentak saat merasakaan gelombang sihir tekanan tinggi yang menghempasnya. Leo sendiri bahkan takjub saat merasakan aura sihir besar dari raja Karl.
__ADS_1
" Walaupun sudah tua begini, membunuhmu hanya perlu hitungan detik saja bagiku. Sekarang kau lihat putrimu! Wajahnya begitu ketakutan! Apa kau lupa janjimu pada istrimu?! Kau terlalu dibutakan oleh kekuatan dan kekuasaan sampai melupakan kasih sayang pada putrimu sendiri! "
Pikiran pangeran Theo langsung cair mendengar ucapan ayahnya. Dia teringat kembali kenangan-kenangan bahagia bersama mendiang istrinya dan juga Licia kecil.
" Aaaaaaaargh...! " pekik pangeran Theo yang berusaha mengendalikan diri. Seperti ada 2 bisikan yang menyuruhnya melanjutkan rencana dan satu lagi menyuruhnya menghentikan semuanya.
" Jika kau masih menginginkan tahtaku, jangan pernah sentuh Licia dan jangan pernah lakukan ritual bejat itu lagi! Aku bersumpah akan memberikan tahtaku seutuhnya padamu, tapi jika kau melanggar syaratku, aku akan membunuhmu dan seluruh pengikutmu! Sekarang pergi dan jangan injakan kakimu di istana ini sampai ku kirimkan surat pengangkatan dirimu sebagai raja! " tegas raja Karl.
Tidak ada pilihan lain bagi pangeran Theo. Walaupun dia memiliki pengikut banyak, tapi itu tak cukup jika sampai berani menantang ayahnya. Ditambah kekuatan raja Karl sendiri masih 3 tingkat diatasnya.
Tanpa sepatah kata terlintas dari bibir, pangeran Theo langsung keluar meninggalkan istana bersama pasukanya. Untuk sekarang dia lebih ingin mengamankan tahtanya daripada melanjutkan ritual.
Tak lama setelah kepergian pangeran Theo, lagi-lagi Licia terbangun dan menangis histeris. Dia sangat ketakutan sembari terus berteriak memanggil-manggil ibunya.
Gadis itu seakan dibuat gila karena setiap melihat seseorang dia selalu menganggap dia adalah Orka dan membuatnya teringat kembali tentang kejadian di altar kuno. Karena Licia yang terus berontak dengan terpaksa raja Karl meminumkan obat penenang yang baru saja dibawakan oleh tabib istana.
Licia pun kembali terlelap dengan nafas yang masih sesenggukkan dan dengan wajah pucat sekali. Entah apa yang terjadi di altar sampai membuatnya takut.
" Leo malam ini kumohon kau tetap berada disini, " pinta raja Karl pada Leo.
Rasa iba pada Licia berhasil meluluhkan hati Leo dan membuatnya menyutujui permintaan raja. " Baik, untuk malam ini biar saya yang menjaga. Sebaiknya yang mulia istirahat sekarang, "
" Kuserahkan semuanya padamu. " balas raja Karl seraya menepuk pundak Leo lalu pergi meninggalkan kamar.
Leo berjalan mendekati ranjang mengamati gadis yang pernah menyakiti hatinya itu.
Dalam hati dia berbisik, " Jika saja dia seorang pendendam, mungkin sekarang nyawa tuan putri sudah melayang. "
Tanpa sadar dia duduk di ranjang sambil membelai rambut putih perak Licia. Dia pun terbawa ke masa lalu saat dirinya dan Licia sedang bermain bersama sewaktu masih kecil.
Khayalan nostalgia itu tak sengaja menggiringnya ke alam mimpi. Ya, Leo tertidur sambil menggenggam tangan lembut gadis rambut perak itu.
...***...
Di pagi hari, Leo kaget karena ketiduran disamping Licia tapi untung saja dia masih belum bangun. Leo pun meminta izin ke raja untuk kembali ke asrama.
Saat di asrama dia menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Thalia. Disamping itu, Thalia sendiri mendapat surat pembatalan pertunangan antara dirinya dan Aron dari count Jarwis. Semua ini tak terlepas dari bantuan raja Karl yang ternyata membayar lunas semua hutang Valdia ke Furu.
Sementara di akademi untuk pembelajaran diliburkan sementara dengan alasan keamanan dan memang akhir bulan akan ada pertemuan antar petinggi kerajaan diseluruh dunia untuk memperbaharui perjanjian perdamaian.
Hari libur ini dimanfaatkan Leo untuk kembali menjalankan misinya. Ya, pemuda itu terus mengawasi Licia dari kejauhan. Meski begitu, dia masih sangat khawatir dengan kesehatan mental Licia. Bagaimana tidak, setelah kembali dari altar kuno, Licia sering menangis dan ketakutan ditambah pandanganya yang kosong.
Semua itu juga tak terlepas dari perundungan yang dia alami di akademi. Saat Leo yang menyamar dengan topeng dan jubah hitam mengawasi dari dekat, Licia terus menangis dan menceritakan pada raja tentang bagaimana tidak kuatnya dirinya menghadapi segala perundungan yang terjadi di akademi. Lalu trauma yang dia alami saat Orka memaksanya untuk melakukan ritual di altar sampai dia memberontak lalu pikiranya dikendalikan oleh sihir pengendali tubuh milik pendeta suci. Untung saja Leo berhasil datang sebelum gadis itu ternodai.
Selama seminggu tabib silih berganti berdatangan ke istana demi menyembuhkan kondisi mental Licia tapi hasilnya nihil semua. Licia masih saja menangis dan ketakutan bahkan sesekali dia mengamuk dengan membanting semua barang-barang di kamarnya. Dalam sehari Leo terpaksa menggunakan sihir penidur berkali-kali karena si tuan putri yang sudah tak terkendali.
Melihat kondisi Licia semakin kacau, Leo meminta ke raja Karl agar Licia tidak kembali ke akademi lagi. Dia ingin Licia belajar di istana saja dan meminta raja mencarikan guru-guru yang cocok untuknya karena jika kembali ke akademi perundungan akan tetap berulang. Raja juga tak bisa menghukum para perundung karena bisa memantik kemarahan penduduk dan menambah resiko pemberontakan serta kudeta.
Permintaan Leo disetujui oleh raja Karl. Dia juga meminta agar Leo menjadi guru sihir dan berpedang Licia setidaknya sampai Leo lulus dari akademi.
__ADS_1
Leo tidak bisa menolak. Dia merasa bersalah pada Licia karena berkali-kali membiarkan gadis itu terundung oleh para siswa akademi. Dengan menjadi sosok guru bagi Licia, dia beranggapan itu sudah cukup untuk menebus kesalahannya.
^^^To be Continue.^^^