KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#28# AKADEMI KESATRIA DAN ALKEMIS GERELIA


__ADS_3

Akademi Gerelia. Siapa yang tidak tahu tempat pendidikan paling terkenal seantero dunia ini. Akademi yang selalu meluluskan kesatria-kesatria hebat setiap tahunya. Akademi yang sudah berdiri sejak 300 tahun ini selalu menjadi pilihan pertama bagi para raja-raja maupun bangsawan yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi setelah perang suci pertama, sangat jarang ada bangsawan diluar kerajaan Gerelia yang menyekolahkan anak mereka disini.


Akademi Gerelia dibagi menjadi beberapa akademi. Biasanya penduduk biasa mendaftar di akademi panah, pedang, dan tombak. Walaupun berfokus pada materi peperangan dan pertarungan, tetapi ketiga akademi itu juga mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dasar kepada para siswanya. Sedangkan akademi yang paling terkenal adalah akademi kesatria dan alkemis.


Akademi alkemis berisi siswa-siswa yang berbakat. Mereka mendapatkan beasiswa dari kerajaan demi mengembangkan bakat mereka sebagai alkemis. Sementara akademi kesatria berisi para anak-anak bangsawan dan saudagar kaya walaupun tidak ada larangan bagi penduduk biasa mendaftar. Di akademi kesatria, mereka ditempa selama 3 tahun agar menjadi kesatria sekaligus pemimpin yang sesungguhnya. Para siswa akademi ini harus menguasai sihir tingkat raja walaupun non elemen. Selain itu mereka harus mendapatkan nilai di atas 8 di setiap ujian. Jika nilai kurang dari 8 maka siswa akan langsung dikeluarkan karena kualitas pendidkan yang ketat inilah membuat banyak penduduk biasa mengurungkan niat untuk masuk akademi ini.


Pembagian kelas di akademi kesatria sendiri juga tergantung pada nilai. Siswa yang meraih nilai sempurna di segala bidang akan masuk kelas A, siswa dengan nilai 9 dimasukan di kelas B, dan nilai 8 dimasukan di kelas C. Selain itu, di akademi kesatria, seluruh siswa dilarang keras menggunakan kasta keluarganya. Jika ketahuan ada yang melanggar maka akan langsung dikeluarkan. Karena itu, tak jarang banyak anak-anak bangsawan yang dirundung oleh para siswa peraih beasiswa. Perundungan ini adalah tindakan balas dendam mereka atas ketidakpuasan terhadap kepemimpinan orang tua dari siswa-siswa bangsawan.


Demi menghindari perundungan, tidak sedikit para siswa-siswa yang membentuk kelompok mereka masing-masing dan tak jarang mereka saling berkelahi di akademi hingga pihak akademi akhirnya membuat turnamen musiman agar perkelahian para siswa tak merusak citra akademi.


Oh ya, akademi kesatria dan alkemis berada 3 km di utara ibukota. Akademi ini luasnya setara dengan istana ibukota. Di dalam akademi terdapat arena pertarungan, gedung-gedung tempat para siswa belajar, gedung asrama, dan berbagai macam kedai-kedai penjual berbagai kebutuhan siswa. Sementara akademi-akademi lainya berada 10 km di timur dengan lahan 3 kali lebih luas dari akademi kesatria. Itu adalah hal wajar mengingat akademi-akademi tersebut siswanya juga bisa mencapai ribuan.


Para siswa akademi kesatria dan alkemis dilarang keras menggunakan uang perunggu, perak, bahkan emas. Saat menjadi siswa akademi, mereka akan diberikan lencana sihir dari perunggu. Mereka bisa berbelanja dengan lencana itu untuk membeli barang-barang di akademi secara gratis. Hanya saja barang yang dapat mereka ambil sangat terbatas. Jika ingin membeli sepuasnya mereka harus mendapatkan lencana perak atau bahkan emas. Untuk lencana perak, mereka cukup belajar giat dan mampu menempatkan nama mereka di 50 peringkat siswa terbaik yang selalu di umumkan setiap musim. Sedangkan untuk lencana emas, mereka harus mengikuti turnamen dan mengalahkan pemegang juara sebelumnya.


Keseluruhan jumlah siswa akademi kesatria dan alkemis adalah 150 siswa dan 154 siswi. Setiap tahunnya lebih dari seribu orang akan mendaftar di akademi ini dan dari ribuan hanya segelintir saja yang diterima. Namun, terdapat praktik busuk di akademi ini dimana para oknum guru akademi mau menerima suap dari para bangsawan dan saudagar agar akademi menerima anak-anak mereka. Karena itu tak mengejutkan jika guru-guru di akademi ini memiliki kekayaan yang melimpah.


...***...


Pagi hari Thalia dibuat kesal oleh Leo yang tak kunjung datang ke akademi. Sudah berjam-jam gadis itu menunggu di depan gerbang bahkan sampai absen di beberapa pelajaran demi menunggu sang adik.


" Nona Thalia, mau sampai kapan anda disitu? " tanya Kiran datang menghampiri Thalia karena melihat Thalia yang tak meninggalkan posisinya sedari tadi.


" Kemana sebenarnya anak itu!! " ketus Thalia yang makin kesal karena Leo tak datang-datang.


Tidak lama setelah percakapan itu, terlihat Leo dengan baju basah kuyub akan keringat berlari ke akademi. Thalia yang sudah kesal melepas sepatu kanannya


" Anak sialaan! dari mana saja kamu! " murka Thalia seraya melempar sepatunya.


...Baak!...


Lemparan itu tepat mengenai wajah Leo dan membuatnya terpelanting karena sepatu yang dilempar Thalia sebelumnya sudah diperkuat dengan energi sihir.


" Dasar kakak durhaka! Seenaknya sendiri menganiaya adiknya! " teriak Leo seraya mengusap wajahnya yang memerah bekas lemparan sepatu.


" Hhh... dari mana saja kamu!? " tanya Thalia berjalan mendekati Leo lalu membantunya berdiri.


" Aku ketidur– "


" Sebentar! " belum selesai Leo berkata, Thalia langsung menyela karena mencium bau aneh di baju Leo. Bau itu adalah bau parfum yang selalu dipakai para wanita penghibur di tempat-tempat prostitusi.


Tanpa pikir panjang Thalia mecengkram erat kedua bahu adiknya dengan tatapan penuh kemarahan. " Hey bodoh, apa semalam kau di tempat prostitusi? "


Leo sangat ketakutan melihat wajah marah Thalia. Dia berusaha memalingkan pandangan dan memilih tak menjawab.


" Sepertinya 100 cambukan raja tak cukup untuk menghukummu! Baiklah Leo sebagai kakak yang tak rela adiknya dicemari oleh wanita-wanita itu, aku akan mensucikanmu disi– "


" Nona Thalia, kepala akademi memanggil anda dan tuan berambut pirang itu, " ucapan Thalia terpotong oleh asisten kepala akademi yang mendatangi mereka.


Thalia melepaskan cengkramanya lalu menghela napas sejenak, " fyuuh... Baik tuan asisten, saya akan segera ke sana. Kita lanjutkan masalah ini di kamarku nanti. Sekarang ikut aku ke ruang kepala akademi. "

__ADS_1


Leo merasa lega dan dalam hati berterimakasih berulang kali pada asisten kepala akademi yang datang di waktu yang tepat.


" Kalau begitu saya kembali ke kelas dulu tuan, nona, " sahut Kiran menundukkan kepala.


" Berhentilah bersifat formal disini Kiran! Oh ya Kiran kau berhasil lolos ujian? " tanya Leo.


" Ya tuan, kami semua berhasil lolos dan masuk kelas B hihi... " jawab Kiran seraya tersenyum.


" Waaah kalian hebat! Sesuai dengan harapanku. Baiklah sekarang lanjutkan misi kalian selanjutnya. Sampai jumpa nanti, " balas Leo yang langsung mengikuti Thalia memasuki gedung akademi. Kiran melambaikan tangan. Dia merasa puas dan bangga mendapat pujian dari tuannya.


...***...


Leo yang berjalan mengikuti Thalia di gedung akademi menjadi pusat perhatian para siswa. Mereka semua bertanya-tanya siapakah pria tampan yang mengikuti nona Thalia itu. Tak sedikit yang berbisik-bisik dan menyebar rumor jika yang di belakang Thalia adalah calon suaminya.


Thalia sebenarnya mendengar bisikan-bisikan itu tetapi justru sengaja membiarkanya. Entah kenapa dia justru merasa senang dengan rumor itu dan memperjelas sebenarnya gadis rambut merah panjang itu juga punya rasa lebih ke sang adik di atas rasa sayang saudara pada umumnya.


Setelah beberapa menit berjalan, mereka berdua tiba di ruang kepala akademi dan dipersilakan masuk.


" Selamat datang kalian berdua putra putri marquis Aiden! " sambut seorang pria tua berkacamata dan berambut hitam panjang dengan jenggot tipis yang duduk di kursi mewah sambil menyilangkan kedua tangan di meja yang tak kalah mewah juga. Kepala akademi itu bernama Bernald.


" Terima kasih atas sambutan kepala akademi kepada kami, " balas Thalia seraya menundukkan kepala.


" Baiklah langsung saja ke intinya. Thalia, aku tidak bisa mendaftarkan adikmu dengan marga Valdius karena marquis Aiden terlambat menulis nama putranya di daftar keluarga bangsawan Gerelia. Aku sudah mencoba meminta keringanan pada dewan kerajaan tetapi tetap tak bisa dan harus menunggu satu tahun, "


" Tidak bisa ya, " sesal Thalia.


" Ya dan sesuai rencana awal adikmu akan menggunakan marga kakeknya. Apa tidak masalah? " Bernald melirik Leo untuk meminta jawaban langsung.


" Baiklah silakan kalian pergi ke ruang administrasi untuk mengetes kekuatan sihirmu dan menentukan kelasmu. Karena kau dulu sudah lulus akademi Taiyoria, sekarang kau bisa langsung masuk tahun kedua.


" Terima kasih atas perhatian tuan kepala akademi. Saya dan adik saya mohon pamit, "


" Ya, silakan. Sekali lagi kuucapkan selamat datang di akademi kesatria dan alkemis Gerelia tuan Mizuno Reo cucu archduke dari Mizu, Mizuno Ryuki. " sambut ramah Bernald lagi sebelum Leo dan Thalia meninggalkan ruanganya.


Setelah meninggalkan ruang kepala akademi, Thalia mengajak Leo keluar gedung akademi dan menuju gedung asrama.


Oh ya, gedung asrama siswa dan siswi menjadi 1. Untuk kamar-kamarnya sendiri dibagi berdasarkan lencana yang didapat para siswa maupun siswi. Untuk lencana perunggu mereka akan ditempatkan di kamar yang berisi 5 orang,  lencana perak kamar mereka berisi 3 orang, dan lencana Emas mereka memiliki kamar pribadi yang dapat mereka tinggali sendiri.


" Kakak bukankah ruang administrasi di lantai satu gedung akademi? Lalu mengapa kita ke gedung asrama? "


" Lihat penampilanmu itu. Kamu belum mandi dan bajumu sangat lusuh sekali. Mana mungkin kamu akan bersekolah dalam keadaan berantakan begitu? Bersihkan dirimu di kamarku nanti, "


" Lalu seragamnya? "


" Aku sudah mengambilkanya untukmu kemarin. Seharusnya kamu mengambilnya sendiri bukan justru bersenang-senang di tempat prostitusi, " sindir Thalia.


" Aaa... Maafkan aku! lagi pula aku ke sana bukan untuk bersenang-senang. Ada sesuatu yang terjadi dan memaksaku menetap di sana semalaman, "


" Memangnya pentingkah sampai kamu menginap di tempat haram itu? "

__ADS_1


" Ya! Sangat penting! Aku akan menceritakanya pada kakak nanti. "


Mereka pun sampai di asrama dan sekali lagi menjadi pusat perhatian. Dan rumor makin menjadi-jadi saat Thalia mengajak Leo masuk ke kamarnya disaat jam pelajaran angkatan tahun ketiga sedang berlangsung. Saat di kamar Thalia, Leo langsung membersihkan badan dan memakai seragam akademi. Selanjutnya dia menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi malam.


" Begitu ya. Aku memang sudah lama mencurigai count Randa. Apa kita perlu memperkuat Valdia? "


" Kakak tidak perlu risau. Aku sudah mengirimkan surat ke Indra untuk mengirim satu divisi ke wilayah Trixia. lagi pula, mau sebanyak apa pun mereka mencoba menyerang, mereka tak akan mampu menjebol tembok Valdia. Jangan lupa kita punya banyak kartu As kak, "


" Kamu benar juga. Apa yang harus kucemaskan jika adikku sendiri sudah menyelesaikan tugas-tugasku. Sekarang aku sedikit mencemaskan Licia, "


" Cih untuk apa kakak mencemaskan wanita itu!? " tanya ketus Leo setelah mendengar nama Licia.


" Yasudahlah sepertinya terlalu sensitif jika kubahas denganmu. Saatnya ke ruang administrasi. Dengan bakatmu itu, kuyakin kamu akan masuk kelas A, "


" Semoga saja. Oh ya kakak, bagaimana caraku mendapatkan lencana emas? "


" Musim depan ada turnamen yang akan diadakan akademi untuk perebutan lencana emas. Kamu dan pasukan Yurei bisa mengikutinya. Ayo berangkat! " Thalia menarik tangan Leo untuk bergegas ke ruang administrasi.


...***...


Di ruang administrasi, mereka berdua juga langsung disambut oleh para pekerja di sana. Mereka semua sudah tahu jika Leo yang berganti nama menjadi Reo adalah adik dari siswi terbaik akademi tahun ini.


" Kemarilah kalian berdua, " ucap wanita paruh baya yang duduk di kursi mewah seperti milik kepala akademi. Wanita itu bernama Urkha. Dia adalah kepala administrasi akademi.


" Guru Urkha, aku memasukkan adikku ke kelas tahun kedua, " sahut Thalia.


Urkha mengambil sebuah bola putih bercahaya biru lalu menaruhnya di atas meja. " Ini adalah bola pengukur energi sihir. Aku sudah melihat semua data adikmu dari akademi Taiyoria. Nilainya memang sempurna semua tapi untuk menentukan kelas, aku harus mengecek energi sihirnya, "


" Leo sentuhlah bola itu, " perintah Thalia pada Leo.


Leo pun menyentuh bola tersebut. Sekejap muncul cahaya pelangi yang bersinar terang menyilaukan seisi ruang administrasi.


" Khukhukhu... Buah memang tak jatuh dari pohonnya. Nilai energi sihirmu 7000 sama seperti ayahmu. Pengguna elemen angin tingkat kaisar dan elemen es. Luar biasa! " kagum Urkha melihat bola itu.


" Sudah kubilang bukan, anggota keluarga Valdius tidak akan ada yang mengecewakanmu, " sahut Thalia percaya diri.


" Baiklah! Mizuno Reo kau akan dimasukkan ke kelas A tahun kedua! Kau akan mulai ikut pelajaran besok! Oh ya, kau belum mendapatkan kamar ya? Aku tidak bisa mencarikanya dalam sehari. Kemungkinan besar besok baru bisa mendapatkan kamar di asrama, "


" Tidak perlu guru Urkha. Selama di akademi, Leo akan tinggal di kamar saya. Karena Leo memakai marga di luar kebangsawanan Gerelia, saya takut dia mendapat perundungan dari siswa lain, "


" Baiklah-baiklah tidak masalah juga karena kalian adalah saudara, " Urkha mengambil lencana perunggu dari sakunya lalu menyodorkan pada Leo.


" Ini lencanamu. Jangan sampai hilang karena benda itu tidak bisa di duplikat, "


" Terima kasih guru! Saya akan menjaganya sebaik mungkin! " balas Leo sembari mengambil lencana tersebut.


" Baiklah kami izin pamit dulu guru Urkha. Terima kasih atas bantuanya, "


" Ya! Sama-sama, sampai jumpa lagi di lain waktu. "

__ADS_1


Leo resmi menjadi siswa akademi kesatria Gerelia. Karena hari ini tidak ada kegiatan untuknya, Thalia menyuruh Leo untuk kembali ke kamar. Sedangkan Thalia sendiri harus kembali ke kelasnya karena sudah bolos setengah hari demi mengurus sang adik.


^^^To be Continue.^^^


__ADS_2