KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#26# KEBENGISAN SANG PANGERAN


__ADS_3

Di penghujung musim panas, Leo mempersiapkan semua kebutuhanya sebelum berangkat menuju ibukota. Sehari sebelum berangkat, dia mengadakan rapat dengan pasukan Yurei untuk membahas misi baru mereka.


Karena kepemimpinan Leo untuk pasukan Yurei sangat terbatas saat di ibukota nanti, dia pun menyerahkan kepemimpinan sementara pasukan kepada Indra. Selain itu beberapa divisi pasukan juga diberikan misi khusus yaitu misi pengintaian di wilayah-wilayah yang berpotensi mengancam Valdia.


Divisi 7 Yurei dikirim ke wilayah count Kara, divisi 3 dikirim ke wilayah kepangeran Sisilia, divisi 10 dikirim ke wilayah archduke Fotia, dan misi paling berat di emban oleh divisi 4 yang akan bertugas di wilayah kerajaan suci Deusia.


Divisi Yurei yang dikirim ke luar Valdia mengemban misi penting sebagai mata-mata dan menjadi pasukan pemukul cepat jika suatu saat salah satu wilayah tempat mereka bertugas mengancam Valdia. Sudah sejak pertemuan bangsawan di musim lalu Leo menaruh kecurigaan terhadap beberapa bangsawan termasuk kerajaan suci Deusia ditambah kedatangan pangeran Theo seminggu lalu memperkuat kecurigaan Leo terhadap mereka. Karena alasan itulah, Leo menyebar pasukannya demi mengantisipasi konflik yang mengancam Valdia pada masa mendatang.


Sementara sisa divisi Yurei selain divisi 6 tetap berada di Valdia. Tugas mereka juga beragam salah satunya sebagai penghubung komunikasi ke semua pasukan Yurei di wilayah misi mereka masing-masing.


Divisi 6 sendiri akan bertugas sebagai pengawal khusus Leo di ibukota sekaligus mengintai istana raja. Leo sengaja memilih divisi 6 karena memang divisi ini rata-rata umur para anggotanya kisaran 15-17 tahun dan masih minim pendidikan saat di Taiyoria berbeda dengan divisi lain yang sudah lulus akademi di Taiyoria. Karena itulah Leo mendaftarkan para anggota divisi 6 termasuk ketuanya yaitu Kiran ke akademi demi melanjutkan pendidikan mereka. Para anggota divisi 6 sendiri akan mengikuti ujian di akademi Gerel untuk menentukan layak atau tidaknya mereka di akademi paling bergengsi dan terkenal di dunia itu.


Selain semua tugas tersebut, ada sebuah misi khusus dan istimewa untuk divisi 6 yaitu menjadi pasangan kekasih para siswi anak saudagar-saudagar kaya di akademi. Alasan Leo memberikan misi ini adalah agar suatu saat para anggota divisi 6 bisa menikahi mereka dan menjadi penerus keluarga saudagar-saudagar kaya lalu menjalin kerja sama perdagangan dengan Valdia. Misi ini jelas sangat menguntungkan karena itu Leo sangat percaya diri dengan misi satu ini karena 20 anggota divisi 6 memang anak-anak yang tampan, kuat, dan pintar sudah pasti mudah bagi mereka menggaet anak-anak saudagar itu.


Rapat di markas Yurei diakhiri dengan pesta meriah yang juga dihadiri para komandan divisi militer Valdia. Isak tangis mengiringi pesta itu karena sebentar lagi pasukan Yurei selalu bersama bertahun-tahun kini harus berpisah. Tak sedikit dari para anggota Yurei yang membawa kekasih mereka ke markas. Walaupun markas Yurei bisa dibilang haram dimasuki warga sipil, tetapi untuk malam ini Leo menghalalkanya.


Keesokan hari, para pasukan Yurei yang mendapat misi mulai berangkat. Begitu juga dengan Leo. Dia bersama divisi 6 Yurei berangkat meninggalkan Valdia di pagi hari.


...***...


Sementara itu di kamar gelap dan hanya tercahayai beberapa lilin, terdengan suara bermacam-macam benda yang dibanting diiringi suara teriakan penuh murka. Teriakan itu adalah amarah pangeran Theo yang sedang mengamuk di kamarnya.


Pangeran Theo sendiri tak berada di ibukota. Dia memisahkan diri dari rombongan Licia dan pergi menuju kastil pribadinya di utara wilayah count Croxia.


" Sialaaaan...! Sialaaaan...! Sialaaaaan...! Andai bocah itu tidak datang, kita pasti sudah mendapatkan tanah suci! " murka pangeran Theo sambil membanting gelas-gelas ke lantai.


Vlad menghela napas sembari berjalan mendekati jendela lalu membuka gorden jendela. Seketika kamar pangeran Theo terterangi cahaya matahari. Terlihatlah kamar yang sudah berantakan dan tak karuan bentuknya berkat amukan pangeran Theo.


" Vlad, bagaimana caraku menyingkirkan bocah rambut pirang itu? " tanya pangeran seraya duduk mencoba menenangkan diri di ranjang berantakan itu.


Vlad menghadap pangeran Theo lalu melipat kedua tanganya kebelakang, " Mengapa tuan buru-buru sekali? Waktu kita masih banyak. Masih ada ribuan cara untuk menyingkirkan kekuatan mereka tuan. "


" Bagaimana caranya? Mereka memiliki surat perjanjian Vlad! Tidak mungkin kita bisa mengusik mereka lagi selain lewat jalan peperangan, "


" Terlalu jauh jika anda memilih jalan peperangan tuan. Untuk merebut Valdia, kita hanya perlu menjadikan pemimpin mereka sebagai boneka kita, " Vlad memejamkan mata sejenak lalu tersenyum jahat.


" Apa maksudmu Vlad? "


" Kita bisa lega, putra marquis Aiden mundur dari perburuan takhta Gerelia. Sekarang tugas kita adalah memberikan dukungan penuh kepada Thalia agar dia menjadi pemimpin Valdia, "


Pangeran Theo beranjak dari duduknya, " Kau benar! Thalia adalah wanita yang mudah dihasut. Jika dia menjadi pemimpin, kita bisa menjadi sahabat dekatnya dan menyebar pengaruh di sana. Tapi bagaimana dengan adiknya? "


" Tuan, pelantikan seorang penerus keluarga bangsawan akan dipilih melalui pemilihan oelh raja dan para bangsawan lainya. Kita hanya perlu mengajak para bangsawan lain untuk memilih Thalia. Jika Thalia menjadi pemimpin dan berhasil kita hasut, kita bisa mengadu domba dengan adiknya. Bukankah ini cara yang mudah? Anda tak perlu repot-repot mengotori tangan demi menyingkirkan bocah itu, "


" Haa... " Pangeran Theo menganggukkan kepala, " Kau benar Vlad! Aku terima rencanamu ini! Jadi tugas kita saat ini adalah menyingkirkan si buruk rupa itu agar Thalia segera naik takhta. "


" Jangan buru-buru tuanku. Cepat atau lambat dia juga akan segera mati, "


" Mati karena racun itu? "

__ADS_1


Vlad mengambil serpihan pecahan gelas di lantai lalu mengiriskan pada telapak tanganya hingga berdarah. Pria berambut hitam kecoklatan itu  tiba-tiba menjilati darahnya sendiri. Raut wajahnya seakan memberikan sebuah isyarat kelicikan yang sedang terpikir dalam otak. " Ada seorang raja yang sangat membenci si buruk rupa itu tuanku. Dia bahkan bersumpah untuk membunuhnya dengan tangannya sendiri, "


" Siapa? "


" Raja Axel ke-11 yaitu raja Rayana. Apa tuan lupa? Di perang suci kedua, ayahnya dieksekusi karena dituduh telah membunuh seluruh keluarga Valdius. Karena eksekusi itu, raja Rayana memiliki dendam kesumat pada keluarga Valdius terutama marquis Aiden, "


" Lalu apa rencanamu? "


" Ini adalah rencana sedikit gila tuan karena bisa mengobarkan perang suci lagi. Tetapi jika tuan ingin menyingkirkan orang itu secepatnya, maka inilah cara paling cepat, "


" Cepat katakan! Apa rencananya!? "


" Mengadu domba Valdia dan kerajaan Axel. Jika waktunya sudah tepat, aku ingin tuan bersama pasukan tuan untuk menyerang pasukan Axel di perbatasan sambil membawa panji-panji Valdia. "


Wajah murka pangeran Theo langsung berubah gembira setelah mendengar rencana Vlad. " Vlaad... Kau benar-benar sahabat sejatiku! Semua pemikiranmu selalu bisa menerangi jalanku! "


Vlad tersenyum puas sembari terus menjilati bekas luka irisanya sendiri. " Terima kasih atas pujianya tuanku, "


Setelah perbincangan itu, seorang prajurit menghampiri kamar pangeran Theo yang kebetulan pintunya terbuka.


" Mohon maaf mengganggu waktu yang mulia pangeran, "


" Ada apa? "


" Tiga selir ingin menjumpai yang mulia pangeran, "


Pangeran Theo melirik Vlad beberapa saat. Vlad sendiri seolah menyadari apa yang diinginkan tuannya menganggukkan kepala.


" Baik yang mulia. " prajurit tersebut langsung pergi untuk mejemput 3 selir yang dia maksud.


" Sepertinya salah satu dari mereka hamil, " ucap Vlad seraya melirik pangeran Theo.


" Cih... Mau bagaimana lagi. Aku tidak puas jika tak ku keluarkan di dalam. Kuserahkan dua yang lainya kepadamu. Untuk yang hamil biar ku urus sendiri, "


" Hhh... Entah sudah berapa kali. Semoga nona Licia tidak mengetahui tentang ini, "


" Tenang saja, dia tidak tahu istana ini. "


Tak lama datanglah 3 selir itu. Ketiga selir tersebut berparas cantik dan berdandan rapi layaknya seorang ratu.


Melihat para selir itu, seketika ekspresi pangeran Theo berubah ramah. Dia mendekati ketiga selirnya lalu mencium mereka satu per satu seraya merangkul mereka.


" Baiklah siapa di antara kalian yang hamil? " tanya pangeran Theo dengan nada lembut.


Selir yang berada di tengah pun melirik pangeran Theo. " Sa-saya yang mulia, "


Pangeran Theo melepas rangkulanya lalu berjalan ke depan selir yang hamil. " Waah... Syukurlah sepertinya akan ada calon penerusku yang baru. Semoga dia lahir sebagai laki-laki kuat seperti diriku, "


" Ya... Yaa yang mulia saya juga berharap demikian, "

__ADS_1


Pangeran Theo merangkul selir yang hamil itu lalu mencium bibirnya beberapa detik.


" Vlad, tolong berikan jamuan spesial kepada dua selirku lainya di ruang lain. Aku akan menemui mereka setelah berpesta dengan selirku yang hamil ini, " pinta pangeran Theo dengan sangat ramah.


Vlad pun menganggukkan kepala lalu membawa 2 selir yang lain keluar kamar, " Mari nona-nona sekalian. "


Pangeran Theo menutup rapat-rapat pintu kamarnya. Lalu memojokkan selir itu ke tembok. " Baiklah wanitaku, puaskan lagi aku malam ini, "


Selir tersebut terlihat enggan melepaskan pakaianya. Dia memalingkan matanya dengan wajah yang malu-malu.


" Ya-yang mulia, sebelum kita melakukanya apakah aku boleh meminta satu hal? "


" Tentu saja! Sebutkan apa kemauanmu wanitaku? Perhiasan? Uang? Tanah? Atau menjadi ratu? "


" Ti-tidak yang mulia. Jika suatu saat anak kita lahir, a-aku ingin yang mulia melantiknya sebagai putra mahkota, "


Pangeran Theo mendekatkan bibirnya ke telinga kiri selir tersebut, " Tentu saja kukabulkan. Tetapi sebelum itu tolong layani aku dulu, "


Wajah selir sekejap berubah bahagia. Dia langsung melepaskan pakaianya dan bertelanjang di depan pangeran.


Pangeran Theo membalikkan badan selir itu lalu memeluknya dari belakang. Dia mencumbui leher wanita tersebut sambil meraba-raba bagian bawah tubuhnya.


...Jraak!...


" Ya... Yang mulia? " selir itu melirik ke bawah badannya dan melihat sebilah pisau telah menancap di perut.


Pangeran Theo memperlihatkan senyum puas. Dia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga kiri selir tersebut dan berbisik, " Menjadi putra mahkota? Makhluk kotor sepertimu dan anakmu tak pantas berdampingan denganku! Ingat takhta Gerelia hanya untukku dan putriku saja. "


...Craaaak!...


Tak sampai disitu, pangeran Theo mengambil pisau lain di pinggangnya lalu menggorok leher selir itu sembari menutup mulutnya agar tak bersuara.


" Sekarang tidurlah dan tenang saja akan kujadikan anakmu putra mahkota di alam baka sana. " lanjut bisik pangeran Theo seraya melepaskan pisaunya dari leher selir. Kemudian dia membuang tubuh selir yang sudah tak bernyawa begitu saja.


" Vlaaad...! " teriak pangeran Theo seraya membanting pisaunya.


Vlad pun tiba-tiba membuka pintu kamar pangeran Theo lalu melirik selir yang sudah mati itu. " Hhh... Tuan terlalu berlebihan hari ini. Biasanya anda hanya mencekik mereka, mengapa yang ini justru anda perlakukan sadis? "


" Dia berani meminta takhta Gerelia kepadaku. Itu hukuman yang pantas untuk wanita kotor seperti dia. Lagi pula dia juga masih berguna untuk penelitian para alkemismu bukan? "


" Dengan darah sebanyak ini saya tak begitu yakin. Tapi akan saya bawa dulu ke sana, "


" Ya... Bawalah sana! Bagaimana dengan dua selir yang lain? "


" Mereka masih berguna untuk objek penelitian. Besok akan saya kirimkan selir baru untuk tuan, "


" Baiklah-baiklah segera bawa mayat itu pergi dan suruh pelayan membersihkan lantai ini. Aku mau istirahat. " pangeran Theo berjalan mendekati ranjangnya lalu menjatuhkan tubuh di ranjang tersebut.


Vlad sendiri membawa mayat itu ke suatu tempat rahasia. Dan para pelayan juga langsung membersihkan darah. Para pelayan sendiri terlihat biasa saja saat membersihkan darah tersebut seakan mereka sudah sangat sering melihatnya.

__ADS_1


^^^To be continue.^^^


__ADS_2